Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Masih Misteri


__ADS_3

Saat ini Raeshya merasa sakit di seluruh tubuhnya, wanita itu beberapa kali mengerjapkan mata.  Ada perasaan aneh yang ia rasakan, dan ketika matanya terbelalak karena melihat keadaan tempat dirinya berada. 


Ingatan wanita itu kembali ketika ia dan Pak Malik mengikuti mobil yang membawa Liza. Namun tiba-tiba mobil mereka ditabrak dari arah belakang dan menyebabkan mobil yang ia kendarai oleng, lalu menabrak pembatas jalan.


"Emmm," gumam Raeshya yang marah karena mulutnya yang dilakban dan seluruh tubuhnya diikat. 


Dengan sekuat tenaga wanita itu mengarahkan kakinya untuk menendang tubuh Pak Malik. 


Hingga akhirnya ia berhasil menyadarkan lelaki itu.


"Emmm."


Sama seperti Raeshya, Pak Malik hanya mampu bergumam tidak jelas sambil menatap wanita dihadapannya yang tengah menatap dengan tatapan mata yang tajam. 


Namun tidak berapa lama terdengar derap langkah kaki mendekat dan pintu terbuka lalu menampakkan seseorang yang datang dengan senyum yang melingkar sempurna. 


Prok… .


Prok… .


Prok… .


"Apa kalian suka dengan rumah baru yang aku siapkan?" ujar lelaki itu dengan tatapan mencemooh tawanannya. 


Raesya bagaikan dibakar oleh api, amarah wanita itu sudah meledak-ledak seperti tabung gas yang meletup.


"Ada apa, Sayang? Kamu tidak suka dengan rumah barumu?"


Lelaki itu mendekati Raeshya dan melepaskan lakban yang menutup mulut wanita itu dengan kasarnya.


"Sialan! Apa maumu! Hah… !"


Teriakan dan makian Raeshya luncurkan ke lelaki yang kini duduk jongkok di dekatnya. 


"Aku, mau Liza! Kamu tahu bukan? Jika gadis itu adalah aset yang sangat berharga."


Raeshya semakin menjadi, amarahnya seakan tidak bisa terkontrol mendengar ucapan lelaki itu. 


"Sampai mati pun, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan Liza! Dia bukan barang yang bisa kamu dapatkan!" teriak Raeshya dengan mata yang melotot. 


Pak Malik yang berada di dekat Raeshya hanya diam memperhatikan dan mendengarkan dengan baik, apa yang diinginkan oleh lelaki yang menyekap mereka.


"Oh gitu, ya? Tapi, apa kamu tahu? Bahwa malam ini Liza akan datang menyelamatkan kalian!"


Setelah mengatakan hal itu, dia pergi meninggalkan Raeshya dengan segala umpatan dan makian. 


Bagi lelaki itu segala yang keluar dari mulut Raeshya bagaikan nyanyian yang merdu. 


"Tuan," panggil seseorang kepada tuannya.


"Jaga mereka! Aku tidak ingin ada kesalahan," ucapnya dengan tegas sebelum meninggalkan tempat itu. 


"Baik Tuan," jawab anak buahnya. 

__ADS_1


"Aku akan mendapatkanmu Liza, bagaimanapun caranya," batinnya. 


.


.


.


Di Rumah sakit Harapan Bangga terjadi perdebatan hebat antara Dody dan Liza. Karena bagi Liza melayani lelaki di depannya tidak akan berfaedah, akhirnya ia mengakhiri dan lebih memilih untuk menyiapkan diri.


Sebab malam ini ia akan membebaskan tantenya dan Pak Malik, ketika Liza teringat akan hal itu. Liza bertanya kepada Dody, "Dimana Dokter Adit?"


"Bukan urusanmu!" balas Dody ketus. 


Sebenarnya Liza sangat kesal akan Dokter berewokan tersebut, hingga ia mulai melakukan provokasi.


"Oh, bukan urusanku? Baiklah, mungkin hanya aku yang akan membebaskan Pak Malik. Atau mungkin lebih baik, Pak Malik tidak usah ada disini? Supaya Rumah Sakit ini ditutup!"


Dody merinding mendengar kata-kata Liza, ia teringat akan apa yang Adit sampaikan sebelumnya.


"Adit, ada dirumah."


Walaupun kesal dan enggan memberi tahu, akan tetapi Dody harus mengatakan hal itu. 


"Kalau begitu, titip pesan. Minta agar Dokter Adit tidak gegabah."


Setelah mengatakan hal itu, Liza keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan tanda tanya besar di benak Dody akan kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu. 


Akhirnya Dody memutuskan untuk mempelajari penyakit orang tua Adit seperti permintaan kekasihnya. Dody banyak menemukan hal-hal yang mengejutkan hingga ia tidak menyadari akan keberadaan Dokter Asmara yang menatapnya heran.


"My heart," panggil Asmara sambil meletakkan nampan berisi minuman. Dia heran kenapa Profesor Riduwan dan juga Liza, ia yang sudah capek-capek membuatkan minuman. 


"My heart, kamu tidak tugas?" tanya Dody mengalihkan pembicaraan.


"Enggak, my heart. Aku lagi disuruh off oleh Profesor Riduwan, katanya aku jagain orang tua Dokter Adit," jelas Asmara yang mendapatkan tugas khusus dari Profesor Riduwan. 


Dody hanya manggut-manggut mendengar pertanyaan kekasihnya itu, lalu ia melanjutkan membaca dokumen yang dipegang.


Namun tidak berapa lama ponselnya berdering, tertera panggilan dari Wawan. Dody bingung mau mengangkat panggilan tersebut karena ada Asmara disana. 


"My heart, kenapa tidak diangkat?" tanya Asmara yang melihat panggilan seseorang yang kekasihnya dibiarkan begitu saja. 


"Tidak penting! Oh iya, my heart jaga disini ya. Aku mau balik keuanganku dulu," jelas Dody yang menghindari kekasihnya itu. 


Asmara hanya mengiyakan apa yang Dody katakan, karena dirinya yang memang harus stay di ruangan itu. 


Setelah berhasil keluar dari ruangan tersebut, Dody melanjutkan langkahnya menuju ruangan pribadinya. Barulah ia kembali menghubungi Wawan. 


"Halo, ada apa?" tanya Dody ketus. Sebab ia sedang sibuk dan harus diganggu oleh bawahan Adit itu. 


"Halo, Dod. Kamu dimana?" 


Dody hanya mengerutkan dahinya bingung akan pertanyaan Wawan.

__ADS_1


"Dirumah sakit!" ketusnya. 


"Adit sama kamu?"


Dody semakin merasa aneh akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Wawan. Jelas-jelas Adit berada di markas kenapa harus Wawan tanyakan hal itu kepadanya. 


"Memangnya ada apa?" tanya Dody yang mulai curiga akan sesuatu yang tidak beres. 


"Aku tadi telepon Adit, tapi nomornya diluar jangkauan. Makanya aku telpon kamu, siapa tahu kamu tahu dimana Adit?"


Benar apa yang dipikirkan oleh Dody, jika ada yang tidak beres. Walaupun Dody tahu jika Adit sedang  drop  sekalipun, lelaki itu tidak akan pernah mematikan ponselnya. Apalagi Adit yang berada di markasnya, tentu ada penjaga sekaligus asistennya yang akan mengurus segala sesuatu dengan baik. 


"Kamu datangi aja di markas!" perintah Dody yang mendapatkan penolakan oleh Wawan. 


"Ogah aku, kamu aja. Aku titip salam jika anak buah sudah siap bertempur!"


Setelah mengatakan hal itu, panggil diputuskan secara sepihak. Membuat umpatan kekesalan Dody keluar dengan lancar. 


"Sialan, Wawan! Awas kamu!"


Dody memikirkan sesuatu, kemudian ia mengotak-atik ponselnya.


"Halo," sapa Dody. 


Ternyata karena penasaran, akhirnya Dody menelpon penjaga rumah Adit. Guna memastikan jika lelaki itu ada disana. 


"Halo, Tuan!"


Sapaan formal yang sudah biasa Dody terima, tanpa basa-basi ia mengutarakan maksudnya menelpon. 


"Dimana Adit? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?"


Dody melayangkan beberapa pertanyaan. 


"Maaf, Tuan Dody. Tuan Adit sekarang sedang istirahat, seperti anda ketahui? Bahwa malam ini Tuan Adit akan melakukan aksinya."


Dody hanya diam setelah mendengar penjelasan dari Bram tersebut, walaupun masuk akal. Namun ada yang mengganjal di hati Dody. 


"Baiklah, katakan kepada Adit jika anak buah sudah stay. Mereka menunggu perintah untuk beraksi."


Dody menutup panggilan teleponnya setelah mengatakan hal tersebut, tanpa menunggu jawaban dari seberang sana. 


"Apa mungkin sudah terjadi sesuatu? Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja," batin Dody. 


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇...

__ADS_1


__ADS_2