Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Apa Yang Terjadi


__ADS_3

Matahari mulai menyapa penghuni bumi, menampakkan cahayanya dengan malu-malu. Setelah kejadian Liza yang aneh, semuanya mulai kembali ke aktivitas semula. 


Pak Malik kembali ke rumah sakit untuk mengurus semua pekerjaan disana, terlebih Dokter Dody yang masih dirawat setelah ditembak oleh Adit. Lelaki itu harus sibuk-sesibuknya. 


Lain Pak Malik maka lain pula dengan Raeshya, wanita itu harus kembali ke kampus mengurusi segala hal disana. Disaat semua orang sibuk dengan pekerjaan yang telah ditinggalkan karena masalah yang terjadi. 


Liza malah sedang asik menggoda Adit didapur rumah Dokter muda itu. Gadis itu masih tinggal satu atap dengan Adit, karena kontrak lelaki itu masih berlanjut. Profesor Riduwan juga berpesan agar Adit mengawasi putrinya terlebih kejadian aneh yang membuat semua orang panik waktu itu. 


Adit hanya mengiyakan karena iming-iming akan dibuatkan rumah sakit membuat lelaki itu mau menuruti permintaan Profesor Riduwan. 


Ditambah Adit juga memikirkan keadaan kedua orang tuanya, sekesal apapun Adit. Dia tetap memikirkan keadaan kedua orang tua dan memilih vakum dari semua kegiatan kecuali menjadi baby sister buat Liza. 


Saat ini lelaki itu menatap tajam Liza yang cekikikan sambil menjulurkan lidah mengejeknya. 


"Kamu!"


"Dit, sudahlah! Liza masih anak-anak," pinta Hawa kepada putranya yang terlihat marah akan kelakuan Liza yang jahil. 


"Anak-anak? Dia itu sudah bisa mengandung anak," batin Adit menggerutu. 


"Aku nggak bisa mengandung anak, Pak Dokter," celoteh Liza santai sambil mengupas buah apel bersama Ibu Hawa. 


Adit tertegun mendengar ucapan gadis itu, antara penasaran dan keingintahuan Adit. Membuat lelaki itu masih setia berada di dapur untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang gadis bar-bar tersebut. 


Ibu Hawa yang ada disana hanya diam sambil memikirkan apa yang Liza ucapkan.


"Kenapa kamu tidak bisa mengandung, Nak?" tanya Ibu Hawa penasaran, sebelumnya ia sudah diberitahu akan kemampuan Liza yang luar biasa. Wanita itu menerima apa yang gadis itu miliki tanpa mengeluh ataupun mempertanyakan hal lainnya. 


Sebisa mungkin Ibu Hawa tidak terkejut akan kata yang tiba-tiba gadis itu keluarkan. 


"Karena belum punya suami," jelas Liza sambil tersenyum.


Serasa dikomudi putar, perut Adit terasa mulas seketika. 


"Dit, kamu kenapa, Nak?"  tanya Ibu Hawa khawatir melihat ekspresi sang putra.


"Itu 'lah, jangan suka berpikir yang aneh-aneh," celetus Liza.


Entahlah, siapa yang memulai semuanya. Namun, yang pasti rumah Adit menjadi heboh akan tingkah penghuninya.


Ada kehangatan yang selama ini tidak pernah hadir didalam rumah tersebut, Pak Adam dan Ibu Hawa yang selalu membela Liza dan menjadikan Adit seperti anak tiri. 


Keributan dan segala hal terjadi menambah perasaan menjadi nyaman. Hal itu yang Adit rasakan, biasanya setiap hari terasa hampa dan hanya akan diisi oleh pertengkaran kedua orangtuanya. 


Akan tetapi, sejak ada Liza. Gadis itu memberi warna baru dalam keluarga Adit. Sama seperti saat ini, pagi yang seharusnya mereka sarapan harus terjadi perdebatan yang selalu dimulai oleh Liza. 

__ADS_1


.


.


.


Di Lain tempat, saat ini duduk seorang lelaki diatas tempat tidurnya sambil menatap kearah keluar dari jendela kaca yang berukuran besar. 


Helaan nafas berat terdengar, entah apa yang lelaki itu pikirkan, hingga suara pintu terbuka terdengar. 


"Loe mau apa?" tanyanya tanpa melihat kearah siapa yang datang itu. 


Derap langkah kaki terdengar nyaring disebabkan oleh ruangan yang tertutup itu.


"Agak mendingan Loe, Bro?" tanyanya basa-basi. 


"Wan! Elo pikir gue baik-baik saja, hah! Loe lihat sendiri ini," jelas lelaki itu kepada temannya itu sambil menunjuk selang infus yang menempel di lengan kirinya. 


"Hahaha… , makanya! Loe kalau jalankan misi yang bener!" ejek Wawan yang duduk kursi yang berada disamping tempat tidur sahabatnya itu.


Tidak ada gurat iba diwajah Wawan melihat keadaan Hendrik, anak buahnya yang disuruh menjemput Adit. Wawan malahan terang-terangan menyalahkan cara kerja lelaki yang kini menatapnya tajam.


"Gue mau berhenti! Berapapun Loe bayar? Gue nggak tertarik!" jelasnya dengan emosi. 


Hendrik amat dendam akan Adit, sejak pertama kali mereka bertemu ia selalu dijadikan bahan percobaan. 


Hendrik lebih memilih ditembak oleh anggota polisi sekalian daripada Adit, senjata yang dimiliki oleh Adit lebih mengerikan daripada angkatan TNI sekalipun. 


"Loe yakin bisa lepas dari, Adit?" tanya Wawan sambil menatap serius sahabatnya itu. Sejak lama Wawan sebenarnya ingin lepas dari jerat Adit, ia juga takut akan lelaki yang diketahuinya sebagai pembunuh bayaran itu.


Satu hal yang paling Wawan takuti adalah ketika nanti hasrat membunuh Adit muncul dan ia ada disana. Apalagi yang akan dilakukan oleh Adit? Kalau tidak membunuhnya? Saat ini saja mereka harus berada dirumah sakit gara-gara Dokter gila itu. 


Wawan sangat mengenal Adit, terlebih obsesi lelaki itu yang sangat mengerikan. Adit yang sangat suka mengoperasi dirinya tanpa persetujuan. 


Entah sudah berapa kali nyawanya hampir melayang dengan percuma. 


"Loe tahu 'kan, Wan? Gue dulu mau mengikuti Loe karena hutang nyokap gue. Sekarang hidup gue sendirian, nggak ada alasan lagi buat gue bertahan di dekat Dokter gila itu!" katanya dengan raut wajah serius. 


Wawan mengangguk-angguk mencoba berfikir, mencari cara bagaimana bisa lepas dari seorang mister MP. 


"Gue tahu itu semua, Bro! Tapi, kita tidak bisa melawan Adit? Kalau, Loe mau mati konyol?  Silahkan, kalau gue ogah," jelas Wawan. 


Mereka berdua terdiam sesat, memikirkan cara lepas dari Adit memanglah tidak mudah. Sampai, Herik berteriak karena menemukan sebuah ide yang cemerlang.


"Aha… , gue tahu caranya."

__ADS_1


Plak… .


Wawan memukul kaki Hendrik membuat lelaki itu mengeluh kesakitan. 


"Elo bisa gak jangan main tangan!" bentak Hendrik yang tidak suka dengan sikap Wawan. 


"Loe juga bisa gak jangan teriak! Gue kaget beg*o!" maki Wawan. 


Sampai akhirnya cekcok antar kedua orang itu membuat kebisingan, seperti anak kecil yang sedang berebut mainan. Tidak ada yang mengalah antara Wawan ataupun Hendrik. Kedua orang itu sama keras kepalanya dan ingin menang sendiri.


"Rencana Loe tadi apa!" bentak Wawan menghentikan ocehan Hendrik. 


"Gara-gara, Loe! Gue jadi lupa nih!"


Hendrik diam sesaat, seolah-olah sedang berpikiran keras membuat Wawan tambah geram akan sikap sahabatnya itu. 


"Loe mau jawab atau enggak? Gue mau pergi nih!" ancam Wawan seraya bangun dari duduknya. Namun, pergelangan tangannya ditahan oleh Hendrik. 


"Loe yakin nggak mau dengar?" kata Hendrik mempermainkan sahabatnya itu.


"Enggak!" bentak Wawan kesal. 


"Ya, sudah," jawab Hendrik santai membuat kemarahan Wawan menjadi. 


"Loe nggak mau ngomong? Gue panggil Adit buat jahit mulut Loe!" ancam Wawan. 


Hendrik tersenyum kecut mendengar ucapan Wawan. 


"Iya, iya, sini gue bisik," balas Hendrik seraya menyuruh Wawan mendekat ke arahnya. 


Wawan dengan patuh mendekati Hendrik, lelaki itu membisikan sesuatu ditelinga Wawan sampai membuat wajah lelaki itu menjadi pias seketika. 


"Loe mau cari mati!" bentaknya tidak percaya.


"Gue yakin ini pasti berhasil!"


"Gila!"


.


.


.


...Bersambung ••• •...

__ADS_1


...Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇...


__ADS_2