Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Ada sebuah harapan


__ADS_3

"Kau mau apa tidak? Kau punya waktu hingga sampai pagi) Ucap Adit langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Adit benar-benar kesal, namun ketika dia memandang wanita yang ada dihadapannya dia tersenyum.


Adit mendekati wanita itu dan menyiram air mineral yang di bawanya kewajah wanita itu, sehingga Desy tersadar dari pingsan akibat obat bius yang diberikan Adit ketika membekapnya di apertemen tadi.


"Apa kamu menyukai rumah ku ibu Dosen?" Tanya Adit dengan nada menjejek.


Ting...


Suara notifikasi terdengar, Adit segera membuka ponselnya dan melihat ada nominal uang yang masuk ke rekeningnya membuat Adit tersenyum lebar.


"Emmpp..." Gumam Desy dengan mulut dilakban.


"Wah, sepertinya kamu beruntung malam ini ibu Dosen. Karna kamu sebentar lagi akan menjadi bidadari" Ucap Adit sambil menuju kulkas kecil didekat bankar dan mengambil sesuatu dari dalam kulkas tersebut.


Desy yang melihat kelakuan Adit semakin takut, dia melihat Dokter muda itu mengambil sesuatu didalam kulkas kecil itu dan sebuah jarum suntik didalam lemari kecil didekat nakas.


Adit menjentikan jarum suntik tersebut setelah mengisinya dengan serum ciptaan Dody yang akan disuntikannya kepada korbannya.


"Selamat menikmati surga dunia" Ucap Adit sambil menyuntikan serum tersebut.


Setelah selesai menyuntikan serum itu Adit meninggalkan Desy sendirian dengan tidak sadarkan diri.


Ketika Adit keluar dari ruangan bawah tanah dia berpasaan dengan anak buahnya.


"Syam, nanti ada Wawan yang akan mebawa hadiahnya" Ujarnya sambil berlalu menuju mobil, dia lelah dan inggin segera pulang.


Pria itu hanya memandang punggung tuannya yang mulai masuk mobil hingga mobil itu keluar dari pagar meninggalkan rumah.


"Tuan, sampai kapan akan begini?" Gumam Hasyam pengawal Adit.


.


.


.


Dimobil.


Adit melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas normal karna dia inggin segera pulang, waktu sudah menunjukan pukul 12.30 yang berati dia akan tiba dini hari nanti karna butuh waktu kurang lebi 1 jam jika dia mengemudi dengan kecepatan sedang.


Ketika sampai di halaman rumah Adit segera membuka pagar sendiri dan memasukan mobilnya dihalaman, dia tidak inggin memasukan mobilnya dalam bagasi karna besok dia masih inggin menggunakannya.


Adit membuka pintu rumah dengan kunci yang selalu dia bawa, melihat keadaan rumah yang sepi karna semua pengghuninya yang terlelap. Adit langsung naik keatas menuju kamarnya yang ada dilantai 2.


Tanpa membersikan diri, Adit hanya melepas sepatunya dan langsung merebahkan tubuhnya untuk tidur hingga terbang kealam mimpi.


.


.

__ADS_1


.


Trettt....


Trettt...


Trettt...


Suara ponsel Adit bergetar dibawah bantal, membangunkan siempunya. Adit duduk dan mengucek matanya lalu memandang benda pipih itu.


"Uhh, baru juga jam 7" Keluh Adit.


Adit sedikit meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, setelah merasa cukup dia bagun dari kasurnya dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Melakukan rutinitas melelahkan seperti hari-hari sebelumnya.


Ketika dia mengenakan jas kebesarannya, dia merasa aneh. Karna biasanya setiap pagi dia akan mendengar suara gaduh yang ditimbulkan oleh orang tuanya, namun pagi ini dia tidak mendengar lagu gaduh itu.


"Emmm, kenapa tenang sekali? Apa sudah kiamat?" Gumam Adit sambil melangkah keluar kamar.


Adit menuruni tangga perlahan sambil melebarkan pendengaran dan penglihatanya, namun hasilnya nihil. Semua senyam tenang seolah dia tidak berada di rumah orang tuanya.


Teringat orang tuanya, Adit melangkahkan kakinya menuju dapur hingga terdengar suara renyah orang tertawa.


"Hahahaha.... "


Suara yang familiar ditelinga Adit, dia penasaran akan suara tawa siapa itu yang berasal dari dapur.


"Masakan ibu Hawa memang sedap" Pujinya.


"Adit, kamu sudah bangun" Ucap pak Adam kepada sang putra.


Adit melihat pemandangan yang luar biasa, dimana ada gadis bar-bar berada ditengah-tengah orang tuanya.


"Ayah, ibu, Adit berangkat" Ucapnya sambil berlalu meninggalkan mereka bertiga.


"Pak Dokter" Teriak Liza geram akan kelakuan Dokter muda itu.


"Susul dia nak" Ujar ibu Hawa dan diangguki oleh Liza.


"Pak Dokter" Teriak Liza sambil mempercepat langkah kakinya menyusul Adit.


Adit tiba-tiba berhenti didepan mobilnya lalu menatap gadis itu tajam.


"Anda tuli ya pak Dokter" Ucap Liza ketika didepan Adit.


"Apa yang kau lakukan kepada orang tuaku?" Tanya Adit dengan menatap tajam gadis dihadapannya.


Adit berfikir diluar nalar Manusia, dia yakin kalau gadis didepanya telah mengontaminasi orang tuanya.


"Pertanyaan macam apa itu" Ujar Liza sambil masuk kedalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Adit membuat Dokter muda itu naik pitam.


"Keluar dari mobilku" Teriak Adit geram.

__ADS_1


"Pak Dokter, kita akan terlambat"


Tiba-tiba ibu Hawa mendekat kearah Adit yang sepertinya marah.


"Nak, jangan kasar pada Liza, dia masih kecil" Pesan sang ibu membuat Adit hanya diam tertegun.


Tidak biasanya sang ibu berkata lemah lembut kepadanya, tapi kali ini sang ibu berbicara lemah lembut hanya untuk gadis bar-bar yang masih stay didalam mobilnya.


Kali ini Adit benar-benar murka, tanpa menangapi ucapan sang ibu. Adit lanhsung masuk mobil dan tancap gas meninggalkan ibunya yang masih menatap nanar kearah mobilnya.


Ada perasaan kecewa yang dirasakan ibu Hawa melihat tingkah laku sang putra kepadanya. Sebenarnya ibu Hawa menyayangi Adit sama seperti anak kandungnya sendiri, akan tetapi Adit seoranglah yang membuat tembok pembatas antara mereka.


"Semoga kau bahagia nak" Batin ibu Hawa berdoa.


.


.


.


Mobil yang dikendarai Adit melaju dengan kecepatan tinggi membuat Liza berteriak histeris.


"Pak Dokter, aku bisa mati. Aku belum sukses, apalagi punya suami" Teriak Liza disamping telingga Dokter muda itu, membuat Adit mengerem mendadak.


"AKU TIDAK PERDULI" Teriak Adit sama kerasnya.


"Apa ada lupa akan perjanjian kontrak yang sudah anda tanda tanggani?" Teriak Liza yang sukses membuat Dokter muda itu bungkam.


Dirinya teringat kalau dia harus menjaga gadis dihadapannya yang merupakan anak Profesor Riduwan.


Adit mengatupkan giginya hingga bunyi keletuk itu terdengar oleh Liza. Gadis itu merasa aneh akan kelakuan Dokter muda itu yang marah-marah tidak jelas menurutnya.


"Racun apa yang kau berikan kepada orang tuaku?" Tanya Adit sambil menatap tajam gadis dihadapannya.


"Astagfirullah Alazim" Ucap Liza sambil mengelus dadanya karna fitnah kejam yang diberikan kepadanya.


"Mantra apa yang kau baca?"


"Itu istigfar pak Dokter bukan mantra" Ucap Liza sambil menagis seking kesalnya.


"Alah, kamu pasti guna-gunai orang tuaku dengan mantra tadi bukan?" Tanya Adit menuduh Liza terang-terangan membuat gadis itu mengeluarkan kata yang membuat Adit bungkam seketika.


"ANDA TIDAK MENGENAL TUHAN HA???"


.


.


.


...Bersambung......

__ADS_1


Dukung author receh ini dengan like and comen 😇


__ADS_2