Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Membebaskan Biang Masalah


__ADS_3

"Ulangi ucapanmu!"


Teriak Lelaki itu sambil menatap tajam kearah Liza yang duduk di jok belakang, akan tetapi gadis itu juga memberikan tatapan tajam seolah-olah dia tidak takut. 


"Makanya, ikuti permintaanku!"


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari belakang, lelaki itu kembali keposisi sebelumnya dan melajukan kendara beroda empat tersebut.


Liza tersenyum puas melihat tingkah lelaki itu. 


Ketika mereka sudah sampai di tepi pantai dimana pertemuan dengan Adit, Liza meminta Desy agar pulang dengan membawa mobilnya karena ia tidak ingin wanita itu terbawa masalah lagi. 


Terlebih kasus Tantenya Raeshya yang masih disekap, membuat Liza tidak ingin menambah korban. 


Setelah itu mereka berpisah, karena Liza akan kerumah sakit. Dia bisa merasakan jika saat ini sangat diperlukan disana. 


Dia juga memikirkan keadaan kedua orang tua Adit, Pak Adam dan Ibu Hawa. 


Mobil yang dikendarai oleh penjaga rumah Adit melaju dengan kecepatan tinggi, setelah namanya disebut oleh Liza. Lelaki itu hanya diam dan menuruti permintaan Liza tanpa membantah.


Ketika hendak keluar dari mobil karena telah sampai di depan rumah sakit, Liza kembali memberi perintah kepada lelaki yang masih duduk di kursi kemudi. 


"Cepat pulang! Jangan keluyuran!" perintahnya. Namun tidak ada tanggapan apapun dari lelaki itu hingga Liza keluar dari mobil.


"Dasar lelaki!" batin Liza. 


Setelah melihat kepergian mobil itu, Liza melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit. 


Liza menggunakan kemampuannya, ia berjalan sambil mencari ruangan orang tua Adit. Tanpa sengaja, ia berpasan dengan Dokter Asmara. 


"Liza," panggil Asmara seraya menghampiri gadis itu. 


"Bu Dokter, bisa bantu aku?" pinta Liza ketika Asmara berada di hadapannya. 


"Boleh, tapi kamu harus menemui Profesor Riduwan dulu," jelas Asmara. 


Liza hanya tersenyum dan mengikut langkah Asmara menuju ruangan laboratorium.


Dokter Asmara mengetuk pintu sebelum masuk, setelah itu mereka baru masuk dan mencari keberadaan Profesor Riduwan.


Ternyata lelaki itu tengah duduk sambil membaca sebuah berkas dengan serius. 


"Assalamualaikum." Liza mengucapkan salam sambil mendekati lelaki itu. 


Profesor Riduwan tersenyum lebar melihat sang putri, dia meletakkan dokumen yang tadi dipegang ke atas meja dan menyuruh kedua orang wanita itu untuk duduk. 

__ADS_1


"Silahkan duduk disini," pintanya ramah. 


Liza mengangguk kecil dan menatap Dokter Asmara sekilas, kemudian menatap Profesor Riduwan seolah-olah keberadaan Dokter Asmara tidak diinginkan. 


Profesor Riduwan yang paham akan kode tersebut, memberi tugas untuk Dokter Asmara agar wanita itu pergi dari sana. 


"Dokter Asmara, tolong berikan berkas ini kepada Dokter Dody," jelasnya yang mendapatkan anggukkan kepala. 


Dokter Asmara mengambil berkas yang diberikan Profesor Riduwan dan pamit undur diri. 


Kini tinggal Liza dan Profesor Riduwan yang tertinggal di tempat itu, setelah kepergian Dokter Asmara. 


Tatapan mata Profesor Riduwan sangat serius, ia ingin mendengar berita apa yang akan disampaikan oleh putrinya.


Liza yang paham akan tatapan mata itu, akhirnya menjelaskan duduk perkara yang menimpa Tantenya dan Pak Malik. Serta negosiasi yang terjadi tadi, tanpa ada yang disembunyikan. 


Profesor Riduwan mengangguk-angguk memahami apa yang tengah terjadi, sampai sebuah asumsi ia kemukakan. 


"Tidak mungkin mereka dengan semudah itu mengabulkan permintaanmu! Bisa jadi ini sebuah jebakan, apalagi nilai yang ditukar tidak sesuai," kelasnya. 


Liza membuang nafasnya kasar, dengan kemampuan yang ia miliki. Apa yang dipikirkan oleh lawan bicaranya bisa diketahui. 


Gadis itu menerangkan sesuatu yang membuat Profesor Riduwan terkejut. 


"Mereka ingin melakukan sebuah eksperimen, kita tidak boleh terlambat menyelamatkan Tante dan Pak Malik. Karena bisa saja mereka yang akan dijadikan bahan uji coba mereka."


Profesor Riduwan mencoba untuk tenang agar bisa memecahkan semua masalah ini dan meminta pendapat putrinya.


"Apa rencanamu?" 


Liza tersenyum merekah mendengar pertanyaan itu. 


"Ini rahasia antara kita… ."


************************************************


Adit melaju dengan kecepatan tinggi hingga tidak terasa dia sudah sampai di markas rahasianya. Lelaki itu masuk kedalaman dengan tergesa-gesa, tujuan utamanya adalah ruang rahasia.


Ruangan itu masih sama seperti waktu ditinggalkan, tidak ada yang mencurigakan. Adit membawa langkahnya menuju ruangan dimana ia menyekap Pak Darma. 


Keadaan Pak Darma juga masih sama seperti sebelumnya, Adit mengambil air mineral dan menyiram wajah Pak Darma membuat lelaki itu terbagun.


"Emmm."


Pak Darma mengumpat kesal kepada Adit, akan tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Karena  tubuhnya yang diikat dan mulut yang dilakban oleh Adit, membuat lelaki itu kesulitan untuk bergerak dan berbicara. Hanya gumaman tidak jelas yang terdengar. 

__ADS_1


"Bersiaplah! Anda akan bebas!"


Setelah mengucapkan hal itu, Adit keluar dari ruangan tersebut. Ia membawa langkahnya ke dapur, lelaki itu mengambil segelas air dan membuka kotak obat miliknya. Lalu mengambil beberapa jenis obat dan meminumnya.


Nafas Adit mulai tidak beraturan setelah meminum beberapa butir obat, saat ini pikiranya sedang linglung. Dia bingung harus melakukan apa? Tidak mungkin ia melepaskan Pak Darma begitu saja. Namun ua juga tidak bisa membiarkan Pak Malik disekap oleh anak buah Pak Darma. 


Adit hanya memikirkan Pak Malik saja, sedangkan Raeshya tidak ada artinya untuk Adit.


"Adit!"


Tiba-tiba Adit dikejutkan oleh panggilan Wawan yang membuat lelaki itu menatap tajam kearah orang kepercayaannya itu. 


Bagi Adit Wawan sangatlah berarti, bukan hanya rekan bisnis yang baik. Namun lelaki itu juga bagian dari dirinya. Karena tanpa Wawan mungkin sudah lama identitas rahasianya terbongkar.


Wawan yang ditatap tajam oleh Adit hanya mampu tersenyum pahit, walaupun takut akan berangai Adit. Namun bagi Wawan, lelaki itu sangatlah baik. 


Namun tiba-tiba tubuh Adit terjatuh, lelaki itu kehilangan kesadaran membuat Wawan menjadi panik. 


"Adit!"


Wawan segera membawa tubuh Adit ke dalam kamar lelaki itu bingung harus bagaimana.


"Sial! Ponselku sama lelaki itu, Adit seperti ini!"


Umpatan kekesalan terus Wawan ucapkan, ditengah keadaan yang tidak menguntungkan seperti sekarang ini. Namun suara ponsel terdengar nyaring, mengalihkan perhatian Wawan. Dia mencari asal suara tersebut, ternyata ponsel Adit yang berada di dalam saku celana.


Tertera nama Dody disana, Wawan bernapas lega dan segera mengangkat telepon tersebut.


"Halo,"  sapa Dody ketika sambungan teleponnya telah diangkat. 


"Halo, Dod! Bantuin aku! Adit pingsan sepertinya nih!" jelas Wawan kepada Dody. 


Terdengar suara hembusan nafas panjang dari Dody, dia yakin jika tubuh Adit sedang ngedrop. Bukan tanpa alasan, Adit itu juga Manusia. Bisa sakit dan juga butuh istirahat. Namun sifat Adit yang suka memaksakan kehendak membuat tubuhnya menjadi korban keegoisan.


"Baiklah, aku akan kesana!"


Setelah mengatakan hal itu, sambungan teleponnya terputus. Setidaknya Wawan bisa bernapas lega. 


"Ternyata kamu bisa sakit juga?" batin Wawan. 


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung ••• •...


...Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇...


__ADS_2