
Brakkk....
Suara bantingan pintu.
"Liza menghilang" Teriak Raeshya dengan nafas ngos-ngosan seperti habis berlari membuat yang berada di dalam ruangan menatap Raeshya dengan tajam.
...Adit yang geram langsung mendekat dan mencekik leher wanita itu membuat pak Malik yang melihat aksinya menarik tanggan Adit supaya melepaskan cengkramannya....
"Kamu gila ya Dit" Ucap pak Malik sambil menarik tubuh Adit mundur kebelakang memberi ruang untuk Raeshya menghirup udara.
"Kalau kau bukan adik Profesor Riduwan sudah lama aku bunuh" Ucap Adit sambil menatap tajam Raeshya.
"Dia itu memang gila pak, sudah sekian kali mencekik ku untung belum mati" Balas Raeshya sengit.
...Malihat keadaan yang memanas membuat Profesor Riduwan menghela nafas kasar, sebenarnya bukan keinginan beliau melibatkan Adit dalam hal ini. Namun permintaan sang istri lah yang membuat beliau terpaksa melakukannya....
"Shya, kamu tinggal otak kamu dimana? " Tanya Profesor Riduwan yang kesal dengan sang adik yang selalu panik hinga tidak sempat berfikir logis.
"Otak gak bisa ditinggal bang" Jawab Raeshya sewot sambil melangkahkan kakinya masuk dan duduk santai disova yang tersedia di ruangan tersebut.
"Lalu kenapa kamu bisa kehilangan Liza? " Tanya sang kakak yang mulai terpancing amarah akan jawaban nyolot wanita itu.
"Ketika kami bagun kesiangan karna tuan rumah yang sudah pergi tanpa pamit apa lagi mau memberi tumpangan" Ucap Raeshya menyindir Adit, namun yang disindir cuek bebek malahan memilih mengecek keadaan orang tuanya sapa tahu dia menemukan penyebab penyakit yang di derita orang tuanya yang masih belum sadarkan diri.
...Raeshya yang melihat tingkah Adit makin geram sendiri, jika tidak ada abang dan pak Malik dia sudah menghajar lelaki menyebalkan itu....
"Jadi bagaimana kamu kehilangan Liza? " Tanya pak Malik penasaran.
"Karna takut terlambat, setelah mandi dan bersiap kami langsung keluar, namun cacing dalam perut yang tidak bisa dikompori kan dengan kondisi, kami menepi untuk singah di tempat makanan siap saji disaat aku tinggalkan Liza sebentar saja untuk mengambil pesanan dan kembali dalam mobi tiba-tiba gadis itu sudah tidak ada" Jelas Raeshya dengan satu tarikkan nafas seking geregetnya.
"Lalu kamu kemari tanpa mencarinya terlebih dahulu? " Tebak Profesor Riduwan yang mendapat nyegir kuda dari sang adik.
"Dasar kamu Shya" Ucap pak Malik yang seolah tahu akan jawaban dari Raeshya yang nyegir-nyegir.
"Pak Malik kenapa darah ayah dan ibu saya seperti tersumbat?" Tanya Adit tiba-tiba setelah membaca hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pak Malik dan Dokter Dody.
"Itu masalahnya Dit, kami tidak tahu penyebab penyumbatan darah yang terjadi, maka dari itu baik dari saya pribadi sekalipun tidak berani melakukan operasi karna titik temu dari pembekuan darah tidak ditemukan" Jelas pak Malik.
...Adit mengangguk-anggukan kepala setelah mendegar penuturan pak Malik....
"Raeshya kita tidak memiliki waktu, segera cari keberadaan Liza" Perintah Profesor Riduwan.
"Dimana carinya bang? " Lirih Raeshya binggung.
__ADS_1
"Makanya pakai otak mu sebelum berindak" Hardik Profesor Riduwan yang geram akan sang adik.
"Kalau memang mau mencari Liza, aku bisa lacak dia" Ucap Adit tiba-tiba membuat mereka menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Aku menyelipkan alat lacak ditubuh Liza tanpa sepengetahuannya sebab aku belum pernah mengurus anak orang sebelumnya makanya untuk jaga-jaga saja" Jelas Adit yang membuat Profesor Riduwan mendekat kearahnya.
"Alat pelacak seperti apa yang kamu berikan? " Tanya Profesor Riduwan penuh selidik, takut Adit telah melakukan hal di luar batas.
...Paham akan tatapan itu Adit pun menjelaskannya, takut nanti salah paham berlanjut....
"Aku memasukan alat pelacak kecil seperti biji cabe kedalam makanan Liza, itu hanya bertahan sementara karna kalau dia BAB benda itu pun akan keluar" Jelas Adit.
"Kalau begitu cepat lacak Liza sebelum dia melakukan PUP nya" Ucap Raeshya bersemangat.
...Adit pun mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atik benda pipih itu beberapa saat hinga dia memperlihatkan layar ponselnya kepada mereka yang sudah menunggu penasaran....
"Sudah ketemu"
"Kirim kordinatnya" Pinta Raeshya.
...Adit hanya menganggukan kepala menagapi ucapan Raeshya....
"Oh iya pak Malik ikut aku ya. Untuk jaga-jaga" Pinta Raeshya sambil menyeret tubuh lelaki paruh baya itu keluar.
...Setelah kepergian Raeshya dan pak Malik, kini hanya ada Adit dan Profesor Riduwan yang masih tertinggal didalam ruangan tersebut....
...Adit yang masih menyibukan diri dengan ponselnya terkejut akan ucapan profesor Riduwan yang duduk disova menatapnya....
"Nak Adit, kita menunggu Liza dulu datang ya baru melakukan operasi. Aku juga sudah memberitahukan kepada Dokter Dody untuk menyiapkan staf kesehatan untuk stay jika diperlukan"
...Mendegar penuturan lelaki yang dia segani itu membuat dahi Adit mengkerut bingung. Sebab apa hubunga Liza dengan operasi yang akan dilakukan kepada orang tuanya....
...Cukup lama mereka berteman dengan sunyi hinga suara getar ponsel Adit menggangu konsentrasi. Namun setelah melihat layar ponselnya yang tertera nama Raeshya membuat Adit mengangkat telpon tersebut....
(Halo)
...Seperti biasa Adit hanya diam tidak menjawab sapaan tersebut....
(Hay Dokter gila)
...Adit geram akan ucapan Raeshya, namun dia berfikir logis. Hinga menyerahkan ponselnya kepada Profesor Riduwan yang masih menyibukkan dirinya dengan membaca hasil Labotarium orang tua Adit....
...Profesor Riduwan terkejut melihat Adit memberikan ponsel miliknya....
__ADS_1
"Raeshya" Ucap Adit yang seolah tahu akan maksud dari tatapan lelaki dihadapannya.
...Ketika Profesor Riduwan mengambil dan mendekatkan ponsel milik Adit ketelinganya, dirinya langsung disuguhi omelan tak berfaedah dari Raeshya....
(Raeshya) Ucap Profesor Riduwan marah.
(Oh ternyata abang)
(Kami membuntuti mobil yang membawa Liza, apa abang bisa kesini? Sebab sepertinya Liza diculik kayaknya)
(Kamu jangan asal ngomong shya) Ucap pak Malik menimpali ucapan Raeshya.
(Kamu kirim lokasi kordinatnya) Ucap Profesor Riduwan menutup telepon.
"Nak Adit, kita jemput dulu Liza" Ucap Profesor Riduwan bangun dari duduknya.
"Maaf prof, saya tidak bisa" Ucap Adit dingin, karna baginya keadaan orang tuanya lebih penting dari mengurusi gadis bar-bar seperti Liza yang selalu membuat susah orang disekitarnya.
...Profesor Riduwan menghembuskan nafas kasar setelah mendegar penolakkan Dokter muda itu....
"Nak Adit, hanya Liza harapan satu-satuya untuk kita" Jelasnya.
"Dia bukan seorang Dikter prof, saya masih ingin disini memantau keadaan orang tua saya" Ucap Adit yang masih tidak habis fikir akan ucapan lelaki dihadapannya yang mengatakan kalau Liza adalah harapan satu-satunya.
...Hatinya sangat tersinggung akan kata itu, sebab yang Dokter disini adalah dia bukan Liza....
Apa yang bisa dilakukan oleh gadis bar-bar yang baru masuk fakultas kedokteran pikir Adit.
"Nak Adit" Belum selesai Profesor melanjutkan ucapannya ponsel milik Adit bergetar lagi dan tertera nama Raeshya disana.
(Halo)
(Serahkan pak Darma atau kalian akan menerima kiriman mayat)
.
.
.
......Bersambung... ......
Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇
__ADS_1