
"Siapakah dia? " Batin Adit penasaran.
"Apa anda tidak mendegar apa yang saya ucapkan Mister MP?"
Sekali lagi Adit dibuat tidak percaya akan wanita didepanya, dan tanpa sadar dia melepaskan cengraman tangannya dari Desy.
Merasa cengraman tangan Adit sudah melonggar Desy langsung bergerak cepat, dia melepaskan diri dari Dokter yang mengerikan itu dan langsung kabur meninggalkan mereka berdua. Dirinya tidak mau ikut campur dalam urusan Dokter itu dengan wanita yang ada didalam disana.
.
.
.
Setelah kepergian Desy dari ruangan itu, tiba-tiba saja keadaan terasa mencekam. Sebab Adit merasa terancam akan wanita yang masih duduk manis dihadapannya tanpa membuka suara setelah kepergian Dosen menyebalkan tadi.
Hingga pintu terbuka dan menampakkan Profesor Riduwan dengan senyum yang mengembang.
"Apakah kalian sudah lama menunggu disini? " Tanyanya ramah sambil mendekat kearah wanita itu dan duduk disampingnya.
"Dokter Adit, silahkan duduk" Pintanya dan aneh Adit hanya menurut tanpa membantah.
Setelah cukup lama hening Profesor Riduwan mulai membuka suara.
"Dokter Adit sudah tahu bukan kalau putri saya Liza akan tinggal dengan anda? "
"Iya, itu pun sebab Pak Malik yang meminta kalau tidak saya bakalan gak mau" Jawab Adit ketus.
"Eh,, Kamu pikir saya juga mau? " Tanya wanita itu sama ketus nya.
"Jangan kasar sama Dokter Adit sayang" Ujar Profesor Riduwan mengingatkan.
"Tapi, bang dia itu pembunuh masa iya kamu biarkan keponakanku tinggal dengannya? " Tanya Raesyha yang tak lain adalah adik profesor Riduwan.
"Karna dia pembunuh, Liza akan aman bersamanya" Ujar Profesor Riduwan santai.
Adit menyeridkan keningnya binggung, bagaiman dua orang didepannya bisa tahu akan rahasianya dengan begitu mudah pikirnya.
"Mereka pasti bukan orang sembarangan" Batin Adit.
"Maaf Prof, saya tidak mengerti akan maksud anda?"
"Saya tahu identitas anda Dok, karna anda adalah anak angkat pak Malik. Saya ingin menitipkan Liza kepada anda karna ada seseorang yang ingin membongkar identitas sebenarnya putri saya. Kebanyakan orang hanya mengetahu kalau putri saya Liza adalah anak angkat bukan kandung, padahal sebenarnya dia adalah anak kandung saya dengan Ibunya Nur Hayati" Jelas Profesor Riduwan panjang lebar.
Teringat akan nama itu Adit semakin penasaran akan drama yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Nur Hayati yang menjadi OB disini? " Tanya Adit mancing reaksi Profesor Riduwan.
"Hey, jaga mulut mu" Hardik Raesyha tidak terima kalau kakak iparnya direndahkan.
"Bisa kamu diam sebentar Shya? " Tanya Profesor Riduwan geram akan sang adik yang memotong pembicaraan.
Mendengar hardikan sang kakak, Raesyha langsung bungkam. Sang kakak yang lemah lembut jika marah akan mengerikan lebih baik menurut dari pada mendapatkan amukannya.
Hufff....
Helaan nafas Profesor Riduwan terasa berat, menandakan beban yang dia pikul juga berat.
"Begini Dokter Adit, istri saya menyamar menjadi OB disini untuk mencari musuh dalam selimut dan untuk sementara putri kami akan kami titipkan kepada anda dengan bayaran yang setimpal tentunya. Semuanya sudah saya siapkan tinggal anda tanda tangan diberkas ini dan menuliskan nomilal uang yang anda ingginkan" Jelas Profesor Riduwan panjang lebar.
Adit tidak langsung mengiyakan dan tidak pula langsung menolak permintaan lelaki yang rambutnya mulai memutih itu.Dia kini mempermainkan teknik tarik ulur dalam bisnis.
Bisnis yang menggiurkan tentunya karna bukan rahasia lagi kalau Profesor Riduwan termasuk kedalam orang terkaya dinegara ini. Semua pundi-pundi kekayaannya didapatkan dari berbagai cabang obat herbal yang beliau miliki yang sudah memiliki hak paten tentunya.
"Emmm.... Bagaiman ya Prof, menurut saya menjaga gadis kecil bukan hal yang sulit akan tetapi saya disuruh vakum dari dunia kedokteran yang membuat saya merasa berat untuk menerima permintaan anda" Ujar Adit sambil tersenyum devil.
"Jadi apa yang anda ingginkan?" Tanya Profesor Riduwan dinggin, dirinya sudah mencium bau tidak enak dari pernyataan Dokter muda didepanya.
"Ohhh... Tidak banyak dan sulit ko, saya hanya inggin dibangunkan RS atas nama saya yang berati milik pribadi saya. Apa anda sanggup melakukannya? " Tanya Adit.
"Kamu gila ya? " Teriak Raeshya yang tidak tahan lagi dengan negosiasi yang tidak menguntungkan ini.
"Baiklah kalau begitu saya akan kabulkan dengan syarat anda harus menjaga putri saya hingga kami menemukan siapa dalang dibalik bocornya identitas putri saya" Jawab Profesor Riduwan menyanggupi permintaan Dokter muda itu.
"Bang.... Kamu sudah ikutan gila?" Ujar Raeshya tak habis pikir akan pikiran abangnya itu.
Seolah tuli akan teriakkan sang adik, Profesor Riduwan malah menyuruhnya menyiapkan berkas yang diingginkan.
"Shya siapkan berkasnya, dan besok harus ada karna abangmu ini tidak suka melalaikan tanggung jawab." Jawab Profesor Riduwan sambil bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan kedua orang itu.
"Bang.... "Lirih Raeshya mengiba pada sang kakak.
"Jalankan perintahku, jagan banyak membantah" Jawab Profesor Riduwan sebelum menghilang dari balik pintu.
Setelah kepergian Profesor Riduwan, kini Adit bersama wanita yang baru dia ketahui adik dari Profesor Riduwan yang mungkin tidak pernah dipublikan. Sebab berita yang beredar bahwa kehidupan pribadi Profesor Riduwan sangat privasi dan tidak boleh dipublikasikan. Kalaupun ada yang berani maka siap-siap masuk bui.
"Apa anda merasa puas Mister MP? " Tanya Raesyha ketus.
"Belum" Jawab Adit singkat.
Mendengar jawaban orang dihadapannya membuat Raeshya melonggo. Dibanggunkan sebuah RS dan lelaki didepannya itu bilang belum puas memang Manusia tidak pernah merasa puas.
__ADS_1
"Memang gila ini orang, semoga saja Liza bisa menghadapinya" Batin Raeshya.
"Apa urusan disini sudah selesai? " Tanya Adit dinggin, dirinya malas berduaan dengan wanita tidak jelas didepanya.
"Belum" Jawab Raeshya enteng, inggin melihat reaksi Dokter muda itu.
"Jangan bermain-main dengan saya" Ujar Adit sambil menatap tajam wanita didepannya.
"Siapa yang bermain? Anda belum menandatangani kontrak menjadi Dosen pembimbing disini Dok" Ejek Raeshya.
Adit terdiam sesaat, betapa dodohnya dia yang lupa akan tujuan utamanya ke Universitas ini.
"Dasar menyebalkan, sudah ditipu Dosen menyebalkan sekarang wanita menyebalkan. Mungkin harus aku bunuh satu persatu untuk mengurangi produksi mereka supaya cepat punah" Batin Adit geram.
"Mana berkasnya? " Tanya Adit ketus.
"Ini.... Silahkan dibaca dulu"
Mendengar ucapan wanita itu Adit tersenyum devil.
"Tadi anda menyuruh saya menandatangani? Sekarang membaca? Anda orang yang pimplan ya? " Ejek Adit sambil mengambil berkas yang ada di tanggan wanita itu dan menaburi tanda tangannya disana dengan cepat.
"Anda..... " Ucap Raeshya geram.
"Sudah selesai" Ucap Adit sambil bangkit dari duduknya dan menuju pintu keluar meninggalkan wanita menyebalkan itu.
Adit terus berjalan menjauh dari Fakultas kedokteran itu menuju pakiran. Setelah sampai di mobil dia tersenyum teringat sesuatu.
Didalam Mobil Adit mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik pesan.
(kirimkan aku biodata Dosen bernama Desy Purnamawati)
Tidak lama kemudian notifikasi masuk keponselnya.
Ting....
(Apa kamu mau membunuh perempuan itu?)
.
.
.
...bersambung... ...
__ADS_1
Dukung author receh ini dengan like end comen