
wawan hanya mampu menggelengkan kepalanya, menolak rencana busuk Hendrik yang menurutnya akan mendatangkan bencana besar. Jika, hal itu dilakukannya.
"Gue nggak ikut, loe aja. Gue masih mau hidup," jelas Wawan merasa takut.
"Loe gimana sih? Katanya mau lepas dari Adit? Kenapa Loe ngomong kayak gitu?" tanya Hendrik kesal akan sikap tidak setia kawan Wawan.
Walaupun dalam hatinya ia sangat takut dengan Adit, akan tetapi jika bukan sekarang? Maka kapan lagi mereka bisa lepas dari dokter gila itu.
"Coba Loe pikirkan baik-baik? Saat ini, Loe ada dimana? Terus bagaimana cara Loe jalankan ide busuk itu jika seperti ini?" terang Wawan mengingatkan Hendrik seraya menunjuk selang infus yang masih menempel di lengan lelaki itu.
Keadaan Hendrik setelah ditembak oleh Adit memang bisa dibilang parah, sebab jika tim rumah sakit yang diperintahkan oleh Profesor Riduwan terlambat datang ke tempat Hendrik berada saat itu? Mungkin saat ini Hendri hanyalah tinggal nama saja.
Sebab, racun yang ditembakkan oleh Adit telah menyebar hampir keseluruhan tubuh lelaki itu. Untuk racun nya bisa dikeluarkan dan segera diberi penawar.
"Loe sih!"
Hendrik kesal ketika baru ingat jika dirinya saat ini berada dirumah sakit. Lelaki itu berbaring sambil menatap langit-langit ruangannya. Dia berpikir keras bagaimana caranya agar bisa cepat keluar dari sana.
Rumah sakit adalah tempat yang tidak enak buatnya, ranjang yang ia tempati membuat tubuhnya sakit. Hal itu disebabkan kasur busa yang digunakan sangatlah tipis, berbeda dengan kasur miliknya yang berada di rumah.
Hendri terbilang lelaki yang cukup mapan, dia bukan hanya bekerja sebagai anak buah Wawan. Namun, lelaki itu juga memiliki usaha sendiri. Walaupun usaha yang ia jalankan sama kotornya dengan Wawan, akan tetapi ada perbedaan.
Jika, Wawan menjajakan wanita penghibur. Maka Hendrik menjajakan minuman yang memabukkan. Sama-sama usaha malam yang kelam. Namun, disitulah mata pencaharian mereka untuk bertahan hidup. Semua karena terseret oleh Adit, lelaki itu yang membuat dua orang itu menjadi seperti sekarang.
Merasakan uang yang mudah tanpa bekerja terlalu keras membuat mereka terlena dan enggan meninggalkan dunia itu. Namun, memiliki rencana meninggalkan orang yang telah mengajak mereka.
"Loe kenapa diam aja, Bro?" tanya Wawan heran melihat sahabatnya itu. Tadi, bersemangat sekali ingin menjalankan rencana busuknya. Namun, sekarang lemas dan tidak berdaya.
"Gue lagi berfikir, bagaimana cara menjalankan rencana ini? Tapi, yang paling mengganggu gue? Apa mungkin gue bisa melakukannya?"
Ada keraguan didalam hati Hendrik akan apa yang direncanakan bisa dijalankan dan berhasil. Sebab, ia tahu jika Adit adalah lelaki yang sangat sulit untuk didekati. Apalagi mendapatkan perhatian dari lelaki itu.
"Gue akan bantu, tapi Loe janji. Setelah rencana ini selesai dan berhasil? Loe tetap jadi anak buah gue."
Hendrik terkekeh mendengar pernyataan sahabatnya itu, Hendrik bukanlah lelaki yang bodoh. Dia juga tidak mau selamanya menjadi anak buah Wawan. Sebab, ia sudah memiliki rencana lain. Namun, penghalang terbesarnya adalah Adit. Jika, Wawan? Terlalu mudah untuknya menghadapi.
"Gue nggak bisa janji? Tapi, loe beneran mau bantuin gue?" tanya Hendrik ingin memastikan.
"Ya, itu sih fleksibel. Semua tergantung kamu, gue juga nggak mau rugi," jelas Wawan bernegosiasi. Bukan Wawan namanya jika tidak bisa membaca peluang, ia juga seorang pebisnis.
Hendrik tersenyum kecut mendengar penuturan sahabatnya itu, walaupun ia tahu tidak ada yang gratis didunia ini. Apalagi dunia malam yang mereka geluti.
__ADS_1
"Gue 'kan minta tolong, Wan! Elo ko' jadi teman nggak care gitu."
"Bisnis or bisnis. Money or money," celetus Wawan seraya bangun dari posisi duduknya dan mulai melangkah pergi.
Hendrik yang melihat sahabatnya yang akan pergi segera mencegah langkah lelaki itu.
"Loe mau kemana, Wan? Tega bener tinggalin gue disini!"
"Siapa suruh pesan kelas VIP!"
Setelah mengatakan hal itu, Wawan menghilang dari balik pintu. Hendrik hanya mampu membuang nafas kasar, dirinya juga tidak tahu bagaimana bisa masuk kelas VIP.
"Siapa yang memasukkanku ke sini?" batin Hendrik.
Lelaki itu mengingat-ingat apa yang terakhir terjadi kepadanya, sebab ia belum mengetahui jika Liza yang menyuruh petugas rumah sakit untuk menjemputnya.
Lamunan Hendrik semakin lama, semakin ia berusaha mengingat dan memikirkan sesuatu. Kepalanya semakin terasa sakit.
Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Hendrik tidak menghiraukannya karena ia berpikir jika itu palingan suster atau Dokter jaga yang datang untuk mengecek selang infus. Pikirnya.
Akan tetapi, diluar dugaan Hendrik. Ternyata yang datang adalah seseorang yang sangat ia kenal. Dengan canggung ia tersenyum dan menyapa lelaki itu yang kini mendekat ke arahnya lalu duduk di kursi samping ranjang.
Keringat mengucur deras di pelipis Hendrik, antara grogi dan merasa tidak nyaman. Namun, entah bagaimana? Lelaki dihadapkannya mampu membuat Hendrik ingin terjun dari gedung rumah sakit, seking menghindari lelaki itu.
"Bagaimana keadaanmu?" lelaki itu mengulang pertanyaannya membuat Hendrik menelan silvernya kasar. Dia mengumpulkan keberanian dan kekuatan untuk menjawab pertanyaan lelaki itu.
"Sudah mendingan," lirih Hendrik seolah-olah kekuatannya lenyap.
"Apa anda akan kembali bekerja dengan Tuan Adit?" tanya lelaki itu serius membuat jantung Hendrik seakan ingin berhenti berdetak.
Entah bagaimana Hendrik menjawabnya, akan tetapi nyalinya benar-benar menciut.
"Bagaimana, dia ada disini?" batin Hendrik.
"Apa anda akan kembali bekerja dengan Tuan Adit?" lelaki itu mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab Hendrik.
"Gue, masih sakit. Jadi, belum bisa bekerja," jawab Hendrik selogis mungkin agar lelaki dihadapkannya tidak menaruh prasangka yang aneh-aneh kepadanya.
Lelaki itu diam sambil menatap lekat wajah Hendrik, membuat yang ditatap menjadi pucat pasih. Karena saking tegangnya.
"Anda bisa mati kalau tidak bernapas," jelasnya.
__ADS_1
Hendrik seakan-akan dicekik dan bernafas dengan perasan gelisah.
"Bagaimana gue bisa bernafas dengan baik jika ada loe!" batin Hendrik.
"Saya mendengar apa yang anda bicarakan dengan Tuan Wawan."
Seakan dunia ingin kiamat, Hendrik benar-benar ingin memilih bunuh diri setelah mendengar penuturan lelaki dihadapkannya. Lelaki yang lebih mengerikan daripada tuannya menurut Hendrik.
"Gue---," seakan banyak duri di tenggorokan Hendrik. Dia seolah kesulitan untuk berbicara.
"Saya hanya ingin membantu Anda."
Mulut Hendrik terbuka lebar saking terkejutnya mendengar penuturan lelaki yang ia tahu merupakan tangan kanan Adit itu.
"Loe beneran?" tanya Hendrik masih merasa tidak percaya.
Lelaki itu mengangguk sambil mengulurkan tangannya yang disambut ragu oleh Hendrik.
"Panggil saya Bram," jelasnya.
Untuk pertama kalinya Hendrik mengetahui nama lelaki yang selalu berada didekat Adit itu.
"Gue, Hendrik!"
Ada perasaan canggung yang dirasakan oleh Hendrik ketika berkenalan dengan lelaki dihadapkannya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Deg… .
"Sial!"
.
.
.
...Bersambung ••• ...
...Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇...
__ADS_1