
"Bunda memang salah! Bunda memang tidak bisa dimaafkan!" maki Adit marah.
"Hentikan!"
Liza berteriak di depan ibu dan anak itu, sebagai seorang anak. Liza tidak bisa memaafkan kelakuan Adit kepada Ibu Hawa.
"Keluar kalian! Jangan ganggu aku!" bentak Adit yang mulai kehilangan akal sehatnya.
"Dit, Bun--," kata-kata Ibu Hawa dipotong oleh Adit.
"Bun! Tolong biarkan aku sendiri!" perintah Adit yang seolah tidak ingin dibantah.
Namun, hal itu membuat Liza semakin marah. Ketika Ibu Hawa menarik tangan gadis itu untuk keluar, dengan gelengan kepala Liza menolak ajakan wanita tersebut.
Liza menatap nyalang kearah Adit yang membuang wajahnya, seolah tidak ingin melihat keberadaan dua wanita itu.
"Pak Dokter! Apa anda yakin ingin sendirian?" tanya Liza dengan nada serius.
Adit hanya diam, dia enggan menjawab pertanyaan Liza. Membuat gadis itu mengulangi pertanyaannya.
"Apa anda yakin ingin sendirian?"
"Aku bilang tadi apa? AKU INGIN SENDIRIAN!" bentak Adit dengan marah kepada Liza.
Namun, tidak ada perasaan gentar sama sekali di diri seorang Liza untuk menghadapi Adit.
"Baiklah, ayo Bun. Ikut aku dan tinggalkan Pak Dokter sendiri agar dia MATI!" jelas Liza sambil menarik pergelangan tangan Ibu Hawa untuk menjauh.
Adit yang mendengar pertanyaan Liza tertegun seketika, dirinya terlalu marah dan gengsi untuk menanyakan keadaan sang ibu.
Namun, disisi lain hati kecilnya ingin dimengerti oleh semua orang. Akan tetapi, mereka seolah tidak peduli akan dirinya. Membuat Adit semakin terpuruk.
Setelah kepergian Liza dan Ibu Hawa, Adit hanya diam meratapi hidupnya yang selalu dikhianati dan dijauhi oleh semua orang. Padahal tanpa Adit sadari bahwa semua itu gara-gara dirinya sendiri.
Temperamental Adit yang membuat semua enggan untuk mendekatinya, terlebih kebiasaan buruk Adit yang suka menyiksa orang yang tidak disenanginya hingga tewas. Membuat siapa saja tidak ingin mengenal seorang Aditiya, pembunuh bayaran yang tidak mengenal rasa kasihan dan iba kepada mangsanya.
Krek… .
Suara pintu terbuka membuat Adit menatap kearah pintu dan melihat seseorang yang sangat dihormati tersenyum dan mendekat ke arahnya.
"Kamu sudah makan, Nak?" tanyanya sambil memperhatikan mangkuk yang telah kosong di atas naskah.
__ADS_1
"Bapak ingin apa?" tanya Adit dengan malas. Jika, lelaki yang kini tengah duduk ditepi ranjangnya bukanlah orang yang selalu mendukung karirnya di dunia kedokteran. Mungkin Adit akan mengusir lelaki itu sama seperti Liza dan ibunya.
"Bapak mau berterimakasih sama kamu," ujarnya sambil menatap nanar Adit.
"Aku tidak melakukan apa-apa," balas Adit dengan ketus. Jika, ia teringat akan transaksi antara Pak Malik, Raeshya dan Pak Darma. Kemarahan Adit kembali memuncak.
Pak Malik hanya tersenyum mendengar jawaban Adit, ia baru tahu akan sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh lelaki itu.
"Nak, apa kamu masih ingin menjadi seorang MP?" tanya Pak Malik tanpa ragu-ragu. Sebab, ia ingin mendengar secara langsung dari mulut Adit. Mau bagaimanapun ia telah menganggap Adit seperti anaknya sendiri.
Adit tertegun mendengar pertanyaan itu, pikiran Adit kini berkeliaran. Dia kembali mengingat kegilaannya malam tadi.
"Bagaimana nasib mereka?" batin Adit.
Ketika kemarahan menguasai diri seorang Adit, dia tidak memikirkan apa sebab dan akibat dari apa yang telah dilakukan. Akan tetapi, jika ia telah sadar dan kembali normal. Tidak bisa dipungkiri jika ia memikirkan cara bagaimana lepas dari masalah yang telah diperbuatnya.
"Nak, Bapak boleh meminta sesuatu kepadamu?" tanya Pak Malik membuyarkan lamunan Adit.
"Apa itu?" tanya Adit penasaran.
"Bapak ingin kamu bertanggung jawab atas perbuatanmu selama ini," jelas Pak Malik dengan sorot mata serius akan ucapannya.
Pak Malik membuang nafasnya panjang, sebenarnya ia kecewa. Sangat-sangat kecewa kepada Adit anak didiknya. Kekecewaan yang sangat mendalam dan sulit sekali ia sembunyikan.
"Berhenti menjadi master MP, lalu akui semua perbuatanmu!"
"Hahahaha …, apa yang anda ucapkan Pak?"
Adit masih berusaha berkilah dan tidak mau mengakui kejahatannya, walaupun dihadapkan Pak Malik sekalipun. Sebab, bagi Adit. Menjadi pembunuh bayaran sangat menguntungkan dan mendatangkan uang dengan cepat.
"Liza telah menjelaskan semuanya kepada Bapak! Orang-orang yang menyekap Bapak dan Raeshya adalah musuh kamu! Bukan orang-orang dari Pak Darma."
Adit mencerna baik-baik ucapan Pak Malik, sebenarnya ia merasa ada yang menjanggal ketika Liza bernegosiasi kemarin. Menukar Pak Darma dengan Pak Malik dan Raeshya. Sekarang Adit baru tahu jikaa tujuan mereka bukan Pak Malik atau Raeshya, akan tetapi dirinya.
"Adit, Bapak berharap kamu bisa berubah menjadi lebih baik," pinta Pak Malik berharap agar lelaki itu mau mendengarkan kata-katanya.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang Bapak harapkan dariku," tanya Adit heran.
"Nak, Bapak sudah tahu semuanya! Bapak ingin kamu mengakui kesalahanmu dan bertanggung jawab atas semuanya."
Pak Malik masih bersikeras ingin supaya Adit mengakui kesalahan yang selama ini telah dilakukannya dan mau menebus semuanya dengan cara yang baik tentunya.
__ADS_1
Adit membuang wajahnya menghindari tatapan Pak Malik, Adit merasa Pak Malik tidak boleh ikut campur terlalu dalam akan semua yang ia lakukan. Toh, ia melakukan semua ini ada sebabnya.
Semua gara-gara orang tuanya yang tidak pernah berpihak kepada Adit. Mereka hanya menuntut ini dan itu tanpa memikirkan perasaanya.
Menurut Adit, orang tuanya hanya menginginkan uang darinya. Sebab, selama ini tidak pernah melihat kehadirannya. Seolah-olah Adit tidak ada artinya buat mereka.
"Nak, Bapak mohon sekali lagi," pinta Pak Malik membujuk Adit.
"Mohon maaf, aku menghargai Bapak sebagai orang yang telah berjasa dalam hidupku. Akan tetapi, jangan memaksa aku melakukan hal yang tidak akan pernah aku lakukan," jelas Adit yang masih bersikeras dengan pendiriannya.
"Baiklah, jika itu pilihanmu! Nanti, jangan salahkan siapapun atas apa yang akan terjadi kepadamu!"
Setelah mengatakan hal itu, Pak Malik keluar dari kamar Adit. Ketika diambang pintu ia melihat sahabatnya, profesor Riduwan yang tengah berdiri didepan pintu.
"Wan, mungkin kamu bisa membujuk anak itu," jelas Pak Malik berharap agar profesor Riduwan bisa meluluhkan hati Adit yang keras seperti baja.
Riduwan hanya mengangguk dan masuk kedalam kamar Adit, Liza yang sudah menjelaskan semuanya membuat Profesor Riduwan terkejut akan fakta yang selama ini disembunyikan oleh Adit.
"Anda mau apa?" tanya Adit dengan nada tidak bersahabat kepada Profesor Riduwan.
Namun, lelaki itu hanya tersenyum dan duduk ditepi ranjang Adit. Dia telah siap dengan argumen yang akan membuka pikiran Dokter muda itu.
"Berikan saya satu alasan, kenapa kamu mempertahankan pekerjaan sebagai pembunuh bayaran?" tanya Riduwan dengan tenang.
"Aku sangat membenci Manusia yang menyebalkan! Dan aku ingin memusnahkan mereka, agar populasi Manusia menyebalkan musnah dimuka Bumi ini!" ujar Adit dengan semangat menggebu-gebu.
"Daripada kamu musnahkan orang lain? Lebih baik kamu musnahkan ambisimu dulu."
Deg… .
"Jawaban apa yang bisa aku katakan?" batin Adit.
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...Dukung author ini dengan like end comen ya 😇...
__ADS_1