Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta

Ketika Pembunuh Bayaran Jatuh Cinta
Kemampuan Liza.


__ADS_3

"Ternyata kamu bisa sakit juga?" batin Wawan. 


Wawan hanya menatap penuh perihatin kearah Adit, walaupun selalu dihantui oleh perasa tidak nyaman di markasnya Adit. Namun Wawan berusaha bertahan disana sampai Dody datang. 


Tidak berapa lama terdengar suara mobil berhenti didepan halaman, Wawan segera keluar dari kamar Adit dan menuju pintu keluar.


Wawan mengira yang datang adalah Dody, ternyata penjaga rumah Adit. 


"Dimana tuan Adit?" tanyanya dengan tatapan dingin seolah siap menguliti orang yang ditatap. 


Wawan sebenarnya ngeri jika berhadapan dengan lelaki yang kini tengah berdiri dan menatapnya. 


"Anak buah sama tuannya sama saja! Sama-sama mengerikan," batin Wawan. 


"Dimana tuan Adit," lelaki itu mengulangi ucapannya. 


Wawan yang melamun sampai tergagap, "Ah--di kamar!"


Seakan mau copot jantung Wawan karena terkaget. 


Tanpa menghiraukan Wawan lelaki itu masuk dan meninggalkan Wawan sendirian. 


Tujuannya melihat keadaan Tuanya Adit, karena dipikiran lelaki itu Adit adalah segalanya.


Kini sang penjaga duduk disamping tuannya, dirabanya dahi Adit. 


"Ternyata anda demam," batinnya. 


Lelaki itu mengambil ponselnya dan betapa terkejutnya ia ketika baru menyadari bahwa ponsel  milik Wawan masih padanya. 


"Nanti, aku kembalikan," batinnya. 


Tut… .


Tut… .


"Halo," sapa Dody yang masih mengendari mobilnya. Kini lelaki itu tengah menuju markas Adit.


"Tuan Dody, Tuan Adit sekarang sedang demam," jelasnya memberitahu Dody. 


Namun tidak ada jawaban, yang ada hanya panggilan teleponnya yang diputuskan. 


"Dia akan kesini," jelas Wawan yang sebenarnya mengikuti penjaga rumah Adit. Kebetulan ia mendengar jika nama Dody disebut, pikirannya tertuju pada satu Dody yang sama. 


Tidak ada jawaban dari lelaki itu membuat Wawan kesal.


"Penjaga rumah Adit ini sangat menyebalkan," batin Wawan. 

__ADS_1


"Aduh," keluh Adit yang mulai sadarkan diri dari pingsannya. 


"Tuan," panggil penjaga rumah Adit yang merasa khawatir.


"Bram! Tolong panggilan Dody!  Aku butuh dia," pinta Adit dengan suara yang lemah. 


"Bram? Jadi nama dia Bram?" batin Wawan. 


Untuk pertama kalinya Wawan baru mengetahui nama dari penjaga rumah Adit, lelaki yang merupakan orang yang paling Adit percayai untuk menjaga markasnya. 


"Sabar Tuan, Tuan Dody akan segera datang," jelasnya memberitahu.


Benar saja, tidak berapa lama terdengar suara mobil berhenti. Lalu terdengar suara derap langkah kaki mendekat. 


"Adit, kamu oke?" tanya Dody sambil mendekati tempat tidur dimana Adit terbaring lemah. 


"Dod, suntikkan aku serum itu," pinta Adit dengan suara yang kemah. 


Dody paham apa yang dipinta oleh Adit, lelaki itu segera membuka tasnya dan mengambil sebuah botol kaca berukuran kecil serta jarum suntik.


Wawan yang memperhatikan hal tersebut merasa nyilu sendiri, apa lagi ketika Dody menyuntikan cairan bening yang katanya serum. Entah apa kegunaannya, akan tetapi bagi Wawan sesuatu yang berharga. 


"Apa sudah lebih baik?" tanya Dody yang mendapatkan anggukkan kepala Adit. 


"Bram! Tolong siapkan Pak Darma, dia akan dibawa malam ini," perintah Adit kepada penjaga rumahnya atau bisa dikatakan asisten pribadi buat Adit. 


Setelah kepergian penjaga rumah Adit, Wawan mendekat dan menanyakan maksud dari ucapan Adit tadi.


Adit menjelaskan apa yang terjadi tadi ketika ia mencari keberadaan Liza, dan menjelaskan jika malam ini mereka akan melakukan pertukaran. 


Dody hanya manggut-manggut mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Adit, sampai ia menanyakan sesuatu yang menurutnya agak aneh. 


"Dit, apa nilai tukar Pak Darma sangat mahal? Sampai mereka mau menukarkan dengan Pak Malik dan Raeshya?"


Hal itu yang menjadi pertimbangan Adit sebenarnya,  sebagai orang yang telah menjalankan bisnis kelam. Adit merasa ini sebuah jebakan saja, karena nilai yang ditukar tidak sesuai. Terlebih lagi permintaan mereka yang sangat mudah untuk dikabulkan tanpa hambatan menambah kesan yang sangat mencurigakan.


"Aku juga merasa seperti itu, Wan. Siapkan pasukan, nanti kita atur siasat jika mereka berani macam-macam," jelas Adit sambil tersenyum devil.


Ide membunuh mangsanya berkeliaran tidak terkendali, terlebih ia akan mencari serum penawar untuk kedua orang tuanya. Hal ini menambah kebiasaan seorang MP. Jiwa psikopat yang dimiliki Adit meronta-ronta untuk segera disalurkan. 


Bagi seorang Adit membunuh bukan perkara suka atau kesenangan belaka. Namun harus ada nilai materinya, karena Adit bukanlah Manusia bodoh yang membunuh tanpa bayaran.


Sebab itulah Adit menjadi pembunuh bayaran, karena ada nilai yang dipertaruhkan. 


"Dit, Liza sudah menemui Profesor Riduwan," jelas Dody tiba-tiba. Ketika dirinya tadi  sedang di perjalanan ingin ke markas Adit menerima pesan dari kekasihnya yang mengatakan hal tersebut.


Adit terdiam sesaat, entah magnet apa yang dimiliki oleh Liza. Sehingga mampu mengendalikan orang yang berhadapan dengannya, semakin Adit memikirkan hal itu. Semakin dia tidak menemukan jawabannya. 

__ADS_1


"Dit," panggil Dody membuyarkan lamunan Dokter muda itu.


"Aku tidak peduli akan hal itu, intinya selama kedua orang tuaku masih di rumah sakit. Aku akan berusaha mencari serum penawar untuk mereka dan kamu harus membantuku," pinta Adit dengan wajah serius. 


"Aku bagian apa?" tanya Wawan yang masih berada disana. 


"Kamu arahkan anak buah kita! Pergi sana, jangan sampai aku operasi lagi kepalamu!" hardik Adit kesal karena Wawan yang belum menjalankan tugas yang ia berikan. 


Wawan segera mengambil langkah seribu, dari pada masuk kedalaman daftar jam operasi Adit. 


Setelah kepergian Wawan, Dody masih diam sambil berpikir. Mengira siapa dalang dibalik ini semua. 


"Dit, kamu memiliki daftar musuh yang mungkin ingin membalas dendam?" tanya Dody dengan sorot mata serius.


"Banyak! Bahkan jika semua korbanku tahu tentang diriku ini? Aku yakin mereka akan balas dendam," jelas Adit dengan penuh penekanan.


Dody hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Adit, walaupun ia tahu bahwa lelaki yang kini tengah duduk sambil bersantai di tempat tidur itu telah membunuh banyak sekali wanita. Entah apa alasannya Adit memilih wanita sebagai mangsa, akan tetapi yang sangat Dody ketahui bahwa Dokter muda itu tidak pernah terlibat dalam percintaan dengan lawan jenis. 


Kadang Dody merasa takut di dekat Adit,  Kalau-kalau Adit mengalami mengidap gangguan yang membuatnya menyukai sesama jenis. 


"Jangan diliatin terus! Nanti naksir!"


Hampir saja jantung Dody mau copot mendengar ucapan Adit, andai saja jantung miliknya hanya sangkut seperti umpan di mata kail. Mungkin saat ini sudah terlepas dari tempatnya.


"Apa benar dia menyukai sesama jenis," batin Dody. 


Segera Dody membuang wajahnya kelain arah asalkan jangan menatap Dokter muda yang memiliki gelar sebagai seorang pembunuh tersebut. 


Tiba-tiba ponsel Dody berdering menandakan ada panggilan masuk, ternyata kekasihnya yang menelepon.


"Halo, my heart," sapa Dody kepada Asmara membuat wanita itu berbunga-bunga setiap kali kekasihnya memanggil dengan panggilan itu. 


Adit hanya menyipitkan matanya mendengar ucapan Dody yang sangat menjijikkan menurutnya. 


"Apa? Liza sudah menemukan penyebab komanya Pak Adam dan Ibu Hawa! Beserta penawarnya juga!" teriak Dody tidak percaya. 


"Tidak mungkin!"


.


.


.


...Bersambung ••• •...


...Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇...

__ADS_1


__ADS_2