
"Mati saja kau!"
Adit tertawa lepas setelah menembak orang yang menyebalkan itu dan mengambil alih mobil lelaki tersebut yang kini dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Awas kau! Aditiya!" teriak lelaki itu sebelum kehilangan kesadaran.
Adit hanya tersenyum devil melihat lelaki yang dia tinggalkan begitu saja dipingir jalan, tidak ada rasa kasihan atau pun iba didalam diri seorang Adit.
"Kau mamang pantas menerimanya!" ujar Adit sambil terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Sudah menjadi kebiasaan buruk seorang Aditi menembak orang yang menyebalkan dan meninggalkannya begitu saja. Entah bagaimana hukum di Negara ini yang tidak bisa mengendus perbuat Adit. Dokter muda itu masih saja berkeliaran bebas dan menjadi pembunuh yang mengerikan.
Mobil yang dikendarai oleh Adit kini mulai memasuki tempat yang dituju, dengan perasaan marah, kesal dan yang pasti dendam akan Bram penjaga rumah sekaligus asisten pribadinya. Kini puncak emosi Adit sudah diambang batas normal.
Lelaki itu keluar dari mobil dan mempercepat langkah kakinya untuk memasuki gedung tua tempat dimana Raeshya dan Pak Malik di sekap.
Namun, setelah masuk. Adit mendapatkan keadaan yang kosong tidak ada seorang pun disana, dengan perasaan semakin kesal Adit terus menyelusuri setiap sudut diruangan gedung itu. Akan tetapi, hasilnya nihil.
"Berengsek! Kalian memang benar-benar akan kulenyapkan!" maki Adit dengan kesal dan akhirnya memilih kembali ke dalam mobil.
Tiba-tiba saja Adit dikagetkan akan ponsel yang berdering. Seringai mengerikan nampak di wajah lelaki itu.
"Memang cari mati kalian!"
Adit segera mengangkat telepon, akan tetapi ponsel tersebut terkunci.
"Dasar bed*bah!"
Sumpah serapa serta makian tidak henti-hentinya keluar dari mulut lelaki itu hingga ia mencoba mengotak-atik benda pipih yang kini ada ditangannya.
"Kau pikir aku siapa, hah?"
Adit telah berhasil membuka kode ponsel itu, selain sebagai seorang Dokter. Adit juga menguasai dunia IT tentunya, sebagai Mister MP. Seorang Adit harus bisa multi-talenta tentunya.
Drettt… .
Ponsel tersebut berdering lagi dan kali ini Adit bisa mengangkat telpon dari orang yang menyebalkan.
"Halo, Bro. Loe ada di mana?"
Seperti kebiasaan Adit, dia hanya diam dan mendengarkan lawan bicaranya.
"Bro! Loe udah lihat keadaan Adit? Loe jangan sampai membuat lelaki itu menggila!"
__ADS_1
Tut… .
Adit mematikan panggilan tersebut secara sepihak, seking kesannya lelaki itu memukul stang mobil sambil mengeluarkan umpatan kasar.
"Brengsek! Kalian memang tidak bisa aku maafkan!"
Adit yang masih memegang ponsel segera berselancar di benda pipih itu dan tersenyum devil.
"Tunggu aku! Kalian akan melihat kemarahan seorang MP!"
Setelah mengatakan hal itu Adit mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukan kendaraan beroda empat tersebut dengan kecepatan tinggi. Tujuan lelaki itu ke rumah miliknya, ia yang tadi melacak keberadaan penelpon menyebalkan itu yang terjadi nyata berada di rumahnya segera meluncur.
Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu, akan tetapi wajahnya menampakkan aura yang sangat mengerikan.
Sittt… .
Suara rem mobil yang diinjak dengan mendadak, kini Adit telah sampai di rumahnya dan segera keluar dari mobil.
Namun, betapa terkejutnya lelaki itu melihat beberapa mobil yang tidak ia kenal terparkir cantik di halaman rumahnya.
"Oh, kalian berpesta tanpa aku ya?"
Kata-kata Adit menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan tersebut. Mereka dibuat terkejut hingga pucat melihat kedatangan Adit di dini hari seperti prediksi Liza.
"Adit!" tariak Dody yang tidak menyangka akan tindakan Adit.
"Apa! Kamu juga ikut campur dalam masalah ini?" tanya Adit sambil mengarahkan senjatanya ke Dody. Lelaki itu menggelengkan kepala dan menatap Liza seolah meminta bantuan.
"Dimana Pak Darma! Jangan katakan kalian melakukan transaksi tanpa aku!" hardik Adit yang sudah benar-benar marah akan semua orang yang ia rasa menghianatinya.
"Tuan," panggil Bram seraya mendekat. Namun, baru beberapa langkah dia ditembak oleh Adit.
"Tuan," lirih Bram sebelum kehilangan kesadarannya.
"Hentikan Adit! Kamu sudah gila?" tariak Dody tidak habis pikir.
"Iya! Aku memang sudah gila! Semua gara-gara kalian! PENGHIANAT!"
Teriakan Adit menggelegar mengisi seluruh ruangan, kecewa dan marah menjadi teman karib untuk lelaki itu. Tidak ada rasa cinta dan kasih sayang yang pernah ia rasakan membuat kepribadian seorang Adit amat tidak bisa disentuh oleh siapapun 'tak terkecuali orang tuanya sendiri.
"Pak Dokter, tidak ada yang mengkhianati anda," jelas Liza yang sedari tadi diam memperhatikan tingkah Adit yang tempramental.
"Berhenti! Kamu lihat lelaki itu?" ujar Adit sambil menunjuk Wawan dan Bram yang terkapar dengan senjata yang ia pegang.
__ADS_1
Liza hanya mengangguk kecil sambil tersenyum kecut, ia bisa membaca apa yang ada dipikiran lelaki yang kini tengah dikuasai oleh amarah. Tidak ada cara buat Liza kecuali bernegosiasi terlebih dahulu dengan Adit sebelum melumpuhkannya.
"Mereka menghianatiku! Aku dikunci dan ditinggalkan oleh Bram! Terus anak buah Wawan datang dan menghadang aku! Kamu tahu gadis bar-bar? Anak buah Wawan sudah aku tembak dan aku yakin tubuhnya sudah membiru akibat racun yang aku tembakkan!"
Dody menelan silvernya kasar, ia tidak menyangka jika Hendrik anak buah Wawan yang mereka suruh menjemput Adit malah di tembak oleh lelaki itu.
Walaupun Dody tahu jika Adit tidak menyukai Hendrik karena mulut lelaki itu yang bagaikan racun. Merusak dan mencemarkan perasaan orang yang berhadapan dengannya.
"Dimana Hendrik?" tanya Dody dengan perasaan tidak menentu, ia takut nyawa anak buah Wawan itu akan hilang dengan sia-sia.
"Diam! Kamu masih memikirkan anak buah Wawan? Kamu juga ikut berkhianat!"
Dor… .
Adit menembak Dody teman karib dan orang yang sangat penting bagi kesuksesannya dengan begitu saja.
Kini hanya tinggal Liza, gadis itu mencoba mendekati Adit yang sudah melampaui batas menurutnya.
"Berhenti!" teriak Adit sambil mengarahkan senjatanya ke Liza.
Gadis itu dengan tenang terus melangkahkan kakinya, tidak nampak raut ketakutan diwajah Liza. Pelan dan pasti ia mencoba mencari cela dihati Adit agar bisa diluluhkan.
"Kau tuli, ya!" teriak Adit yang sudah murka akan Liza yang terus mendekat dan tidak mengindahkan perintahnya.
"Aku mohon, hentikan 'lah hal ini. Perbuatan Pak Dokter tidak baik, akan banyak korban yang mati sia-sia akibat kebiasaan buruk Pak Dokter, yang tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain."
Entah magis apa yang Liza miliki, akan tetapi Adit menurunkan senjatanya. Lelaki itu melunak mendengar kata-kata lembut yang keluar dari bibir mungil Liza.
"Penjelasan apa yang harus aku dengar? Mereka mengkhianatiku! Padahal aku sudah membayar mereka dengan uang yang banyak," jelas Adit yang merasa kecewa dengan orang-orang yang telah ia kerjakan. Namun, akhirnya menusuknya dari belakang.
"Uang bukan segalanya! Namun, segalanya menggunakan uang. Namun, ada yang lebih berharga daripada uang," jelas Liza dengan senyum yang mengembang.
"Apa itu?"
.
.
.
...Bersambung ••• •...
...Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇...
__ADS_1