
...Adit dikejutkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh seseorang di seberang telepon, yang digunakan oleh Raeshya....
...Begitupun dengan Riduwan, dia juga mendegar ancaman yang diutarakan oleh seseorang yang tidak mereka kenal, ketika Raeshya menelpon. Rasa was-was menghantuinya, sebab sebelumnya Raeshya sempat mengatakan akan mengikuti mobil yang membawa sang putri. Lalu berpesan agar datang menyusul mereka....
"Saya akan menyusul mereka, tolong Prof tunggu di RS! "pinta Adit sambil bergegas menuju pintu keluar.
"Saya ikut," pinta Riduwan yang merasa khawatir akan keadaan Raeshya dan Liza.
...Adit menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Profesor Riduwan....
"Anda disini saja, sebab tidak ada pak Malik! Akan membuat RS menjadi kacau nanti," jelas Adit yang berfikir realitis.
...Riduwan menyadari akan hal yang juga sama pentingnya dari sang putri, yaitu tanggung jawab akan RS Harapan Bangsa. Sebab kepergian pak Malik amat besar dampaknya terhadap RS, jika tidak ada yang mengantikan....
"Tolong, bawa kembali mereka dengan selamat! "pinta Riduwan sambil menatap Adit, dengan penuh harap.
...Adit hanya menganguk dan berlalu menangapi ucapan Profesor Riduwan, sebab dia tidak bisa menjanjikan apapun. ...
...Adit melangkah lebih cepat, hingga di pakiran. Dia langsung masuk mobil dan tancap gas. Mobil yang dikendarai oleh Adit melaju dengan kencang. Namun, Adit melupakan hal yang paling penting....
"Sial!" umpatnya, lalu memperlambat laju mobilnya dan menepi di bahu jalan.
...Adit mengeluarkan ponsel miliknya, mengotak-atik benda pipih itu dengan jeli. ...
"Hufff ... !" helaan nafas Adit terasa berat, setelah melihat kordinat Raeshya dan Liza yang berbeda.
...Adit segera menenangkan pikirannya, mengambil keputusan yang tepat....
...Adit akhirnya menelpon seseorang, yang bisa dia andalkan disaat seperti ini. ...
__ADS_1
"Halo."
Seperti biasa, ketika sambungan telepon itu telah diangkat. Adit hanya diam.
"Kalau, tidak penting? Jangan ganggu, aku sibuk nih!"
"Datang, ke koordinat yang aku kirim!" ucap Adit lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
.
.
.
Diseberang telepon.
"Dasar, gila!" maki Wawan kesal, sebab dia yang baru sadar dari obat bius. Setelah di operasi Adit. Kini harus menjalankan perintah yang tidak masuk akal.
"Bosmu, menyuruhku mendatangi koordinat yang dia kirimkan. Kepalaku masih pusing!" keluh Wawan.
"Kalau begitu, biar saya saja Tuan!" ucapnya mengajukan diri.
"Kalau begitu, pergilah. Ini ponselnku!" ujar Wawan seraya menyerahkan ponselnya kepada penjaga rumah Adit, yang sampai saat ini tidak dia ketahui namanya tersebut.
...Setelah kepergian penjaga itu, Wawan kembali tidur lagi. Kepalanya masih cenat-cenut. ...
.
.
__ADS_1
.
Kembali di mobil Adit.
...Setelah menelpon Wawan, Adit kembali mengendari mobilnya. Dibantu ponsel pintarnya, dia melacak keberadaan Liza....
...Adit mengamati pergeraan Liza yang menuju tepi pantai, Adit amat penasaran. Hingga pinselnya bergetar, menandakan ada panggilan masuk. ...
...Tertera nama Wawan disana, Adit segera mengangkat telpon tersebut....
"Halo, Tuan. Saya hanya menemukan mobil Raeshya."
...Adit mengenali suara itu, dia adalah penjaga rumahnya. Berati bukan Wawan yang meleponnya, namun Adit fokus kepada yang disampaikan penjaga tersebut. ...
"Cari keberadaan mereka!" perintah Adit lalu memutuskan sambungan telepon.
...Belum selesai dengan urusan Raeshya, Adit kembali dikejutakan akan kejadian yang tidak terduga. ...
...Adit yang sedari tadi mengikuti mobil sedan hitam yang sama persis dengan mobil yang ditumpangi oleh orang tuanya ketika kecelakan. Karna, alat pelacak yang mengarah ke mobil tersebut. Dan betapa terkejutnya Adit, melihat Liza keluar bersama dengan orang yang amat dia kenal. ...
"Tidak mungkin?" ucap Adit dengan mengatupkan giginya, karna marah.
.
.
.
...Bersambung .......
__ADS_1
*Dukung author receh ini dengan like end comen ya 😇*