Kopi Dan Gula

Kopi Dan Gula
15. RAFANZA (Part 2)


__ADS_3

Diandra merasa waktu seakan terhenti, ia mematung di tempat. Matanya tak berkedip melihat sosok yang tengah berdiri di depannya.


Ini pasti mimpi, ia ini mimpi ... Sadar Di, kenapa Lo bisa mimpi di Kamar Mandi Lana sih? Tapi, tunggu ... Gue kan udah di luar? Ia bener, tapi kok Gue bisa mimpi?


"Maaf, boleh Saya masuk?" suara pria yang ada di depannya menyadarkan Diandra dari bahasa kalbunya yang membuatnya terlihat aneh.


Ini bukan mimpi yaa? Kok bisa? Kenapa Dia bisa sekeren ini sih? Sekali lagi Diandra disibukkan dengan fikirannya sendiri sambil menatap takjub sosok yang menatapnya bingung.


"Maaf ... permisi ya dek, Saya harus segera menggunakan Kamar Kecilnya," sekali lagi pria yang sepertinya sudah tak sabar untuk masuk ke Kamar Kecil itu, memberikan isyarat dengan menunjuk pintu yang ada di belakang Diandra. Agar Diandra segera menyingkir dari tempatnya sekarang.


Sepertinya kali ini berhasil isyarat yang diberikan pria bermata coklat itu, dilihat dari bergeraknya Diandra ke arah samping kamar mandi. Tapi masih dengan ekspresi yang hampir sama. Setelah Pria yang berpostur tinggi tegap itu menghilang di balik pintu, seketika Diandra bernafas lega. Entah dengan yang dirasakannya tadi. Untuk meyakinkan dirinya, Diandrapun segera mencubit pipinya sendiri..


"Aww ... sakit ... bentar, berarti ... what? itu beneran dia? Kok bisa ada di sini? Di Rumah Lana? Jangan-jangan Lana emang sengaja ngasih novel itu, karena mau ngenalin Gue sama cowok itu? Tapi, untungnga buat Lana apa coba? Terus yang nulis buku itu siapa dong?" sekarang Diandra bicara dengan dirinya sendiri sambil berjalan bolak-balik di depan pintu Kamar Mandi.


"Oke, tenang Di, semua pasti ada jawabannya ... Gue harus ta ... " belum selesai Diandra dengan pembahasannya sendiri terdengar suara di belakangnya, "Ekhm ... masih mau ke dalam lagi atau?" sontak Diandra kembali mematung mendengar suara berat di belakangnya.


"Eng ... enggak ... kok ... permisi!" secepat mungkin, tanpa berbalik ke arah suara pria di belakangnya, Diandra kembali ke tempat teman-temannya berkumpul. Sepanjang ia berjalan Gadis berambut lurus sebahu itu terus merutuki dirinya sendiri yang pasti terlihat bodoh di depan pria misterius tadi.


Saking sibuknya dia dengan pikirannya sendiri, saat Risya memanggilnya ia tak mendengar. "Di ... Diandra ... Lo mau kemana sih?" sambil berlari kecil Risya pun akhirnya bisa mengejar Diandra yang sedang berjalan seperti orang linglung, "Emm ... Gue ... Gue mau ... mau apa ya?" sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, Diandra menatap sahabatnya yang semakin bingung dengan tingkahnya.


"Lo kenapa Di? Kok jadi aneh gitu? Lo kayak abis liat Hantu tahu gak? Muka ampe pucat gitu lagi ... " sambil menempeelkan telapak tangannya secara bergantian pada dahi Diandra dan dirinya sendiri, seperti sedang memastikan keadaan Diandra baik-baik saja.


"Apaan sih Sya! Hantu ... oh iya ... Gue ingat ... parah ... ini mah beneran lebih parah tau gak dari yang namanya hantu ... Sya ... Gue ... emm ... Lo ... Lo harus ketemu sama Dia ... Dia ..."

__ADS_1


Sambil menunjuk ke arah Kamar Mandi, namun jarinya membeku di udara kala mata lentik itu menangkap sosok yang dianggapnya lebih menakutkan dari Hantu.


"Di, Lo kok jadi matung gitu? Lo kenapa sih? hei" sambil menjentikan jarinya di depan mata Diandra, Risya mengikuti arah tatapan mata Diandra yang diam membeku.


Namun, sebelum ia menemukan apa yang membuat sahabatnya jadi semakin aneh, Risya dikejutkan dengan Diandra yang sudah kembali normal itu, menggandeng tangannya dan menyeretnya ke arah Lana yang sedang bercanda dengan teman-temannya.


Sesampainya mereka ke hadapan Lana, Diandra langsung menculik Gadis mungil dengan rambut berponi tersebut dari teman-teman sekelas mereka yang tengah menikmati cemilan. Saat mereka cukup jauh dari yang lain, Diandra segera memberikan pertanyaan beruntun pada Gadis yang tengah merayakan ulang tahunnya tersebut.


"Lan, Gue mau nanya dong? tadi Gue ketemu sama ... emm ... Cowok yang mirip banget Rafanza. Iya, mungkin kedengarannya gak masuk akal. Tapi serius, Gue yakin banget itu Dia. Lo kenal sama Dia Lan? berarti selama ini Lo bohongin Gue dong? Lo kan tahu sendiri gimana gilanya Gue sama Sosok dalam novel yang lo kasi itu? Atau jangan-jangan Lo ... " belum selesai Diandra berbicara, Lana langsung memanggil Kakaknya, Lani.


"Sekarang gini deh, Lo nanya langsung ke yang punya novel. Lo kan tahu sendiri Gue sukanya Manga bukan Novel? jadi jujur aja Gue belum baca novelnya dan sebenarnya itu emang dikasih Kakak Gue buat Elo. Gue bener-bener minta maaf ya Di, semua itu atas perintah Kakak Gue. Alasannya Gue gak tahu kenapa, mending Lo tanya sendiri. Tuh Orangnya udah dateng .... " sambil menjelaskan pada Diandra, matanya menunjuk ke arah seorang Gadis yang mirip dengan Lana, namun berambut panjang dan lebih tinggi serta seorang Pria yang misterius tadi.


"Kak, Diandra pengen ngomong sama Kakak nih. Katanya penting."


"Mau ngomongin apa Dek? oh iya, kakak hampir lupa nih kenalin teman sekampus Kakak sekaligus Sepupu Kakak dan Lana, namanya Kak Rafa. Ini teman-teman dekatnya Lana, Diandra dan Risya." setelah diperkenalkan Lani, Diandra dan Risya pun secara bergantian berjabatan tangan dengan Rafa.


pada Diandra yang kini tengah memikirkan seauatu, "Emm ... bisa gak kita ngomongnya nanti saat teman-teman udah pulang aja kak?" akhirnya ia pun memberikan saran pada Lani, setelah memikirkan hal itu dalam waktu yang singkat, "It's ok honey, Kakak gak masalah kok ... tapi Kamu yakin bakal bisa nunggu selama itu?" sambil tersenyum pada Diandra yang terlihat ragu.


"Maaf udah nyela Kak, dari pertanyaan Kak Lani sepertinya Kakak udah tahu yaa, Diandra mau nanya apa? Kalo emang bener, supaya lebih nyaman ngobrolnya, gimana kalo Kak Lani ngobrol berdua aja sama Diandra? Lo mau kan Di?" setelah merasakan keraguan dari sahabatnya, Risya pun memberanikan diri untuk bersuara. Dia tahu betul, Diandra sedang merasa tak nyaman sekarang.


"Terserah Diandra aja sih, Kamu gimana Raf?" kini tatapan Lani beralih pada Rafa yang tenang, tanpa suara itu, "Aku mau ngobrol sama Om dan tante, Kamu di sini saja dulu," jawab Rafa sambil memandang Diandra dengan tatapan yang membuat jantung Gadis itu semakin cepat berdetak.


Setelah Rafa pergi menemui Orangtua Lana Lani, Risya dan Lana pun pergi bergabung dengan teman sekelas mereka yang lain. Tinggallah Diandra yang merasa sedikit lega, namun ada perasaan gugup yang tidak ia tahu alasannya kenapa.

__ADS_1


"Sekarang tinggal berdua nih Kita, Duduk di sana yuk. Capek nih berdiri terus, biar lebih nyaman juga ngobrolnya ya ... " sambil menunjuk kursi santai di Ruang Depan, Lani mengajak Diandra yang hanya bisa mengangguk tanda setuju.


"Nah sekarang Diandra mau nanya apa ke Kakak?" tanya Lani pada Gadis di depannya yang sedang sibuk mempermainkan jari jemarinya, tanda ia sedang berfikir. Lani yang melihatnya hanya bisa tersenyum.


"Emm ... Kak, Diandra mau tanya soal novel Rafanza ... kata Lana itu Kakak yang sengaja ngasih buat Di? Alasannya Kakak ngasih itu apa? Terus soal tokoh Rafanzanya sendiri kok Diandra kayak kenal? Atau lebih tepatnya baru melihatnya ... hari ini? Rafa itu Rafanza kan Kak?" Akhirnya Diandra bisa mengungkapkan pertanyaannya dengan sukses, meski debaran jantungnya semakin tak menentu.


Lani yang mendapatkan pertanyaan beruntun hanya tersenyum misterius yang semakin membuat Diandra bingung dan penasaran.


"Kakak jawabnya satu-satu yaa ... Iya, itu novelnya memang Kakak yang ngasih ke Lana untuk Diandra. Tapi novel itu bukan punya Kakak, ada Seseorang yang maksa Kakak untuk di kasih ke Kamu. Alasannya adalah ... katanya Kamu bakal tahu sendiri, kalo Kamu bisa baca novelnya dengan hati. Soal Tokoh dalam novel, Kakak gak tahu pasti. Orang yang ngasih novel ini cuma ngasih pesan ke Kakak, Kamu pasti bakal tahu semua pertanyaan Kamu kalo Kamu bisa melihat maksud dari ceritanya."


Setelah mendapatkan jawaban dari Lani, bukan ketenangan yang didapat Diandra tapi semua makin membuatnya bingung, "Maksud Kakak? Diandra kenal sama Rafanza? Atau sama yang nulis novelnya? Atau gimana Kak? Diandra jadi makin bingung nih," dengan sedikit memelas, Diandra berharap bisa mendapatkan jawaban dari Lani.


"Sepertinya begitu ... Kamu kenal sama yang nulis novelnya. Jadi kalo Kamu ingin dapat jawaban dari semua pertanyaan Kamu soal novel itu, yaa ... Kamu harus baca kembali novelnya, tapi bukan hanya tentang sosok Rafanza melainkan seluruh cerita di dalamnya. Hanya itu yang bisa Kakak bilang ke Kamu." kembali Lani tersenyum pada Diandra yang menatapnya dengan bingung, namun mulai percaya dengan apa yang Lani katakan. Karena Diandra tak menemukan ada kebohongan pada mata bulat itu.


"Baik Kak, Diandra akan coba baca kembali. Tapi ini serius beneran untuk Di Kak? Atau jangan-jangan Kak Lani salah orang lagi ... " kembali coba Diandra memastikan kebenaran atas cerita Lani.


"Percaya sama Kak Lani, Kakak gak mungkin ngebohongin Kamu kali ini ... " setelah berfikir sejenak, Diandra mengambil keputusan, "Baik Kak, Diandra percaya sama Kakak. Tapi jika Diandra sudah tahu jawabannya? Apa yang akan terjadi? Maksud dari semua ini apa kak?"


Lani hanya tersenyum mendengar pertanyaan Diandra yang seolah tak terbatas itu, "Kamu akan tahu semuanya nanti, jawabannya ada dalam novel. Baca saja, dan Kamu akan tahu."


Sambil menatap dalam mata Diandra dan tersenyum hangat Lani berhasil meyakinkan Diandra yang kini hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecil, meski dalam hatinya ia masih mencari kebenaran dari semua misteri soal novel yang kini ada dalam tas yang sering ia bawa kemanapun.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


-------------------------


Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar author lebih semangat nulisnya🤗. Serta tolong sampaikan kritik dan sarannya juga jika ada kesalahan dalam penulisan. Di tunggu dalam kolom comentarnya yaa… happy reading😊


__ADS_2