
Aku sangat suka dengan boneka. Kemana pun Aku pergi, hal yang tak pernah lupa Aku beli adalah boneka. Setiap ulang tahun kado yang selalu Aku minta adalah boneka.
Tak ada batasan atau kriteria khusus mengenai boneka yang kusukai, dari yang berbentuk Hewan, hingga bentuk Bayi yang terlihat lucu dan ... ada beberapa yang membuat orang lain takut dengan bentuknya, tapi Aku tetap suka.
Saking banyaknya koleksi boneka yang kupunya, Aku bahkan memiliki lemari khusus untuk menyimpan bonekaku. Tak tanggung-tanggung koleksiku bisa memenuhi lemari kaca yang lebar dengan tiga pintu. Aku letakan di ruang tamu.
Belum lagi yang ada di lemari kaca dalam kamarku dan yang memenuhi tempat tidurku. Lebih tepatnya, jika ada yang masuk ke kamarku serasa berada di Dunia Boneka. Dan Aku suka itu.
Orangtuaku tak pernah melarangku dengan kesukaanku pada boneka yang boleh dibilang 'ekstrim' ini, selama tak membahayakan bagiku mereka tak masalah. Bahkan setiap Papa atau Mama ke Luar Kota karena ada urusan, mereka akan membelikanku boneka.
Semua orang terdekatku tahu dengan 'kegilaanku' pada boneka ini, termasuk teman-teman sekelasku.
*
"Lola, Kamu masih suka sama boneka kan?" tanya Rara sahabat kentalku pagi ini lewat panggilan telepon, karena hari ini masih libur kenaikan kelas.
"Masih dong Ra ... emang kenapa?" ujarku pada Rara sambil menata deretan boneka kesayanganku.
"Ini La, kemarin Tante Aku ke sini ... bawa satu boneka yang .... " suara Rara terhenti sesaat, "Kenapa Ra, dengan bonekanya?" tanyaku penasaran dengan kalimat Rara yang menggantung.
"Gak tahu ya La, tapi menurut Aku bonekanya tuh terlihat ... menyeramkan!" Rara berkata sambil berbisik, suaranya terdengar seperti bergidik ngeri di telingaku.
"Kamu tuh aneh deh Ra, masa sama boneka aja takut ... pake acara berbisik segala lagi .... " ucapku sambil tersenyum, membayangkan ekspresi wajahnya yang chuby itu sedang ketakutan.
"Kamu belum lihat sendiri sih bonekanya, makanya bisa meledek Aku seperti itu. Aku bisik-bisik gini, takut kedengeran bonekanya. Tante Aku tuh aneh deh, ngasih boneka nyeremin gitu. Katanya ini tuh boneka yang nemenin Tanteku dari masih kecil dulu, terus sekarang kayak diwarisin gitu ke Aku."
__ADS_1
"Kalau menurut Aku ya, Kamu yang aneh Ra ... kalo emang tu boneka nyeremin, kenapa diterima? Terus jadi parno sendiri lagi, takut boneka denger ngomong? Gimana caranya?"
"Aku terima karena awalnya boneka ini terlihat menggemaskan La. Tapi baru semalem tidur bareng Aku, udah banyak kejadian aneh yang Aku alamin La. Aku merasa ada yang ngomong di samping Aku, padahal hanya Aku dan boneka ini yang ada di Kamarku. Terus, yang paling anehnya lagi saat Aku pindahin bonekanya di Ruang Tamu, tapi pas Aku bangun pagi tadi Bonekanya sudah ada di sampingku lagi .... "
"Dipindahin Mama Kamu kali Ra ...?"
"Aku udah tanya ke Mama, dan Mama bilang enggak La ... serius, bahkan beribu-ribu rius, pake banget deh La ... boneka ini tuh nyeremin parah!"
"Kalo Kamu emang udah gak mau sama bonekanya ... buat Aku aja deh ... gimana?"
"Kamu yakin La? Aku udah cerita lo ke Kamu seberapa menyeramkannya boneka ini ... Kamu beneran masih mau terima?" tampak jelas ada kekagetan dari suaranya.
"Yakin banget lah Ra. Kebetulan Aku belum punga koleksi boneka 'serem' kayak gitu. Siapa tahu beneran bisa ngomong, bisa jadi temenku kan? Tapi beneran gak apa-apa nih Aku minta bonekanya? Kalo Tante Kamu nanya gimana?"
"Sekarang Kamu yang aneh La, pengen temenan sama boneka. Tapi kalo emang berani sih gak apa-apa. Masalah Tante, Kamu gak usah pikirin, kan bonekanya udah jadi milik Aku? Jadi suka-suka Aku mau diapain .... "
"Sekarang juga. Kamu ada di Rumah kan?"
"Iya ... nih, baru aja selesai merawat koleksi bonekaku yang berharga. Bentar lagi nambah koleksi deh ... ya udah, Aku tunggu ya .... "
"Okey ... bye .... "
"Bye .... "
Sambungan telepon terputus dengan menyisakkan rasa penasaran yang besar dalam hatiku. Tiba-tiba ada rasa ingin segera memiliki boneka yang katanya Rara 'seram' itu.
__ADS_1
*
Tak perlu menunggu waktu yang lama untuk bertemu 'calon' koleksi baruku ini. Karena jarak Rumah yang hanya sekitar 15 menit dengan kendaraan beroda dua, Rara pun sampai dengan membawa boneka yang dimasukkannya dalam tas ransel yang cukup besar.
"Mana bonekanya Ra?" tanyaku tak sabar, sesaat setelah Rara duduk di kursi, "sabar bentar La. Ada nih di tas, tapi Kamu beneran langsung mau lihat bonekanya dulu? Bukannya ambil minum dulu, atau ... apa gitu?" tanya Rara sambil pura-pura mikir.
"Udah ... ambil aja sendiri di dapur. Anggap saja Rumah orang .... " selorohku pada Rara yang langsung tertawa. Aku dan Dia memang sudah terbiasa bercanda seperti ini. Tak ada rasa sungkan lagi diantara Kami. Baik saat Rara di Rumahku, maupun sebaliknya saat Aku ke Rumah Rara.
Setelah membawa jus sendiri dari Dapur, Rara langsung mengeluarkan boneka yang ada di dalam tas ransel birunya.
Boneka itu terlihat sangat mengemaskan, mirip seperti bayi perempuan yang lucu. Mengenakan pakaian yang indah lengkap dengan penutup kepalanya yang berwarnah baby pink senada dengan gaunnya yang berenda. Rambutnya hitam dan panjang terkepang dua dengan rapi. Tak ada kesan menakutkan sama sekali. Aku langsung jatuh cinta.
Setelah berbincang sejenak tentang rencana awal masuk Sekolah nanti, Rara pun pamit pulang ke Rumahnya. Tak lupa sekali lagi ia mewanti-wanti Aku agar waspada terhadap boneka manis yang kini sedang kupeluk dengan erat.
Aku bahkan sudah memberikan boneka ini nama, Baby Doll (boneka bayi), seperti bentuknya. Aku merasa seperti mendapatkan teman baru. Terlebih karena sekarang Orangtuaku sedang menghadiri acara di Luar Kota. Aku hanya berdua dengan Bik Siti, Asisten Rumah Tangga Kami. Yang sudah terasa seperti keluarga sendiri.
Sebenarnya semua boneka ini mengingatkanku pada Kak Lala, Kakak perempuanku satu-satunya dan yang pertama memberikanku hadiah boneka saat Aku berusia lima tahun. Dari hasil menang lomba membuat cerpen di sebuah Majalah.
Boneka beruang berwarnah coklat itu hingga hari ini masih menemaniku tidur di sampingku. Sebagai pengganti sosok Kakakku yang telah tiada empat tahun yang lalu, karena tertabrak sebuah mobil. Sampai hari ini Keluargaku tak tahu siapa Pengemudi yang dengan tega meninggalkan Kak Lala di jalan yang sepi dan kehujanan.
Aku sangat merasa kehilangannya, hingga selama beberapa hari Aku sakit panas dan selalu mengigau memanggil Kak Lala.
Hanya dengan memeluk boneka beruang pemberian Kak Lala Aku merasa tenang. Setelah itu Aku mulai merasa nyaman dengan semua boneka-boneka itu. Orangtuaku juga paham dengan perasaanku, dan memberikan kebebasan untuk membeli boneka apa pun.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
-----------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊