Kopi Dan Gula

Kopi Dan Gula
38. Turun Ranjang (Dua)


__ADS_3

Semakin dekat jarak antara Raga dengan dirinya, detak jantung Hani semakin berpacu. Gadis itu sangat gugup, ingin rasanya ia lari.


Beberapa langkah lagi Raga dan Tami sampai, tapi Hani semakin gelisah dibalik senyum yang ia tampilkan pada setiap Tamu yang datang memberi ucapan selamat.


Bram yang berdiri di sampingnya, menyadari ada yang tidak beres pada Adik Ipar yang telah berganti status menjadi Istrinya itu.


Dengan pelan Bram meraih telapak tangan Hani yang tanpa sadar ia gunakan untuk meremas gaun yang tengah ia kenakan.


Gadis itu tersentak, namun dengan isyarat matanya Bram berhasil membuat Hani paham akan maksud genggaman itu.


Karena fokus pada Bram, tanpa sadar kini di depannya telah berdiri Raga dan Tami. Tampak jelas bagaimana kesedihan tergambar pada wajah Raga, terlebih saat ia melihat tangan Bram yang tengah menggenggam tangan Hani.


"Selamat ya ... Hani ku Sayang ... Semoga langgeng sampe Kakek-Nenek dengan Mas Bram .... " ucap Tami dengan ceria sambil ber-cipika-cipiki dengan Hani.


"Makasih ya Tam .... " jawab Hani dengan tersenyum. Setelah itu giliran Tami menjabat tangan Bram. Sedangkan Raga kini tengah berhadapan dengan Hani.


Dengan tangan yang bergetar karena perasannya yang hancur, Raga mengucapkan kalimat yang sangat sulit untuk ia ungkapkan pada Gadis yang ia cintai, "Selamat Hani, semoga ... semoga ... Kamu bahagia .... "


"Terimakasih Mas, Doa yang sama untuk Mas juga .... "jawab Hani sambil menahan agar air matanya tak tumpah. Beruntung sudah ada Tamu lain yang tengah mengantri untuk memberi ucapan selamat pada Hani dan Bram, hingga Hani bisa bernafas lega, tak perlu menahan sesaknya lebih lama lagi.


***


Usai acara pernikahan yang cukup menguras tenaga dan perasaan, terutama untuk Hani. Gadis itu merasa sangat lelah dengan semua perasaan yang harus ia tahan.


***


"Putri udah tidur?" tanya Bram pada Hani saat keduanya sudah berada di Kamar Pengantin mereka.


Usai acara, Hani masih ke Kamar sebelah untuk menidurkan Putri yang memang sering terbangun saat larut malam. Putri tidur bersama Neneknya malam ini.


"Iya Mas, tadi juga sudah sekalian Hani buatin susunya .... "


"Syukurlah ... Hani, ada yang Mas mau Mas omongin sama Kamu .... " ucap Bram pada Hani dengan sedikit ragu.


"Soal apa Mas?" tanya Hani dengan wajah yang penasaran, melihat sikap Bram yang terlihat kikuk.


"Begini Hani ... Mas tahu bagaimana perasaan Kamu sekarang. Kamu masih kencintai Raga, dan mau menikah dengan Mas karena ... Putri .... " Bram menghentikan ucapannya sejenak, menarik nafasnya dalam dan menatap Hani yang semakin menunduk.


"Kamu jangan merasa bersalah, justru Mas yang mau minta maaf sudah merenggut kebahagiaan Kamu .... " Hani langsung mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya, "Tidak Mas, jangan berkata seperti itu. Hani sudah menerima pernikahan ini, dan Hani berjanji untuk menjalaninya dengan sepenuh hati."


"Mas tidak ingin lebih menyiksa Kamu Hani. Mulai sekarang, Kita akan tidur terpisah. Biar Mas tidur di Sofa yang ada di Kamar ini saja. Tidak perlu beritahukan pada Ibu, biar jadi rahasia Kita saja. Nanti Ibu kepikiran .... "


"Tapi Mas .... " Hani merasa bersalah pada Bram, "Tidak masalah Hani, tolong jangan bebani diri Kamu. Bisa merawat dan mencintai Putri saja, Mas sudah bahagia .... "


"Tapi Hani kan sudah jadi Istri Mas sekarang ... Hani akan berdosa jika tidak menunaikan kewajiban Hani Mas .... "

__ADS_1


"Silahkan laksanakan kewajiban Kamu sebagai seorang Istri, tapi untuk malam pertama Kita ... Mas akan tunggu ... sampai Kamu siap ... Kamu sekarang istirahat saja ya, pasti rasanya capek sekali ... setelah menjalani hari yang panjang dan melelahkan ini, Mas juga akan istirahat sekarang."


Hani hanya bisa mengangguk dengan semua tanya dalam benaknya. Gadis itu hanya bisa menatap Bram yang mulai mengatur posisinya di kursi sofa panjang yang ada di Kamar tidur Mereka.


Tak bisa dipungkiri bahwa perasaannya sekarang masih berkecamuk. Satu sisi ia memang belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan ini, tapi di sisi lain ia sangat merasa bersalah pada Bram yang harus menanggung sakitnya.


Hani hanya bisa menarik nafas dalam, tak jauh dari posisi duduknya sekarang Pria yang hari ini telah resmi menjadi Suaminya itu sudah tertidur pulas. Mungkin Bram merasa sangat kelelahan, hingga mudah tertidur secepat itu.


Dalam hatinya Hani berjanji untuk belajar dan berusaha mencintai Bram seutuhnya kelak. Lebih cepat lebih baik, tekad Hani dalam hatinya.


***


"Hani ... " Gadis itu membuka matanya pelan, dan ia sempat tersentak saat yang terlihat pertama dalam penglihatannya pagi ini adalah Bram. Setelah sedikit tenang, Gadis itu baru tersadar bahwa sekarang ia memang sudah menikah dengan Bram. Hani langsung bangkit dari tidurnya.


"Maaf ya Hani, Mas sudah bangunin Kamu sepagi ini .... " ucap Bram dengan pelan.


"Ada apa Mas?" tanya Hani yang sudah mulai pulih seutuhnya dari kantuknya, "Kamu mandi sekarang ya ... harus ... keramas .... " ucap Bram terbata, "Keramas? Sepagi ini?" tanya Hani dengan heran pada Bram, sambil melihat jam dinding di Kamar yang baru menunjukan jam setengah enam pagi.


"Iya Hani, karena ... semalam kan, malam .... " belum usai ucapannya, namun hani langsung menyahut, "Oh iya benar, maaf Mas ... Hani baru ngerti sekarang maksudnya Mas ... iya Mas, Hani sekarang Mandi .... " Bram hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum.


Begitulah hari pernikahan Mereka lalui sejak hari pertama. Hani menjalankan kewajibannya sebagai Istri yang mengabdi pada Suami dan Anaknya. Namun hingga dua bulan pernikahan Mereka, Gadis itu masih belum menjalankan kewajibannya sebagai Istri untuk malam pertama mereka.


Bram juga tak pernah menuntut Hani, tapi sejak seminggu pernikahan mereka, Hani mengajak Bram untuk tidur di ranjang. Karena ia merasa kasian dengan kondisi Bram yang harus tidur di sofa.


Hari-hari Bram terasa semakin berwarna, ia mulai marasa hidup lagi. Karena itu Bram bisa bertahan, meski belum bisa memberikan nafkah batin pada Istrinya.


Hani sudah mulai terbiasa dengan perannya sebagai seorang Isri dan Ibu, ditambah lagi sikap Bram yang selalu hangat dan tak pernah menuntut apa pun pada Hani.


***


Hingga pernikahan itu diuji dengan Raga yang masih mencoba menghubungi Hani. Gadis itu selalu menolaknya, namun Raga tak pernah menyerah. Dengan alasan masih sangat mencintai Hani, ia ingin bertemu sekali lagi.


"Tolong temui Aku sekali lagi Hani, untuk terakhir kalinya. Setelah itu Aku janji tak akan ganggu Kamu .... " ucap Raga disambungan telepon dengan putus asa.


"Baik, ini terakhir kalinya .... " jawab Hani pada akhirnya.


Akhirnya Hani pun menemui Raga di tempat biasa, ternyata Raga sudah sangat berubah.


Pria itu terlihat berantakan, sangat berbeda dengan dirinya yang dulu. Ada rasa prihatin dalam hati Hani saat melihatnya.


"Hani ... tolong kembalilah ... Aku tidak bisa hidup tanpa Kamu .... " ucap Raga dengan memelas, sambil menggenggam tangan Hani.


Gadis itu melepaskan genggaman tangan Raga, "Maaf Mas, Hani gak bisa .... " Raga terlihat marah, "Kenapa Hani? Jadi Kamu sudah tak cinta Mas lagi?" Hani menggeleng, "Aku sudah nikah .... "


"Soal itu Aku tahu Hani, tapi Kamu gak cinta kan sama Mas Bram? Kamu itu cintanya cuma sama Aku Hani. Ayolah ... atau Kita kawin lari saja?" Hani tersentak dengan tawaran Raga, "Kamu ngaco Mas! Aku gak mungkin .... "

__ADS_1


Hani langsung berdiri dari kursinya dan keluar, Gadis itu tak menyangka Raga bisa mengusulkah hal yang tak pantas seperti itu.


Kemana Raga yang ia kenal sabar dulu? sangat berbeda dengan Mas Bram, tunggu Mas Bram? Kenapa sekarang .... ?


Karena sibuk dengan semua tanda tanya dalam benaknya, Hani tak menyadari ada kendaraan yang melaju ke arahnya. Gadis itu tak sempat mengelak, sepersekian detik ada seseorang yang menyelamatkannya. Hani terjatuh ke samping jalan bersama Orang itu, saat ia bangkit Hani langsung melihat Pria yang kini masih terbaring di jalan. Betapa kagetnya Hani saat menyadari bahwa yang menolongnya adalah Bram.


"Mas ... Kamu?"


"Maaf Hani, Mas lihat Kamu tadi sedang bersama Raga. Lalu Kamu terlihat seperti Orang linglung, tak sadar ada kendaraan yang melintas."


"Bagaimana Mas ada di sini?"


"Mas ada meeting dengan Klien di sekitar sini."


Saat Bram bangun, ternyata ada luka lecet di bagian lengannya. Hani sangat khawatir karenanya.


"Mas, ayo kita ke Rumah Sakit. Nanti akan infeksi lukanya .... " ucap Hani panik, Bram hanya tersenyum dan menggeleng, "Mas baik-baik saja. Luka sekecil ini tidak akan membuat Mas tersiksa."


"Tapi Mas ... atau sekarang Kita ke Rumah saja, agar Hani bisa membersihkan lukanya, terus memberi obat, lalu .... " belum selesai Hani mengucapkan kalimatnya, Bram langsung memeluk Hani. Gadis itu hanya bisa terpaku dengan pelukan tiba-tiba Bram.


"Terimakasih sudah sekhawatir ini Istriku. Ayo pulang ke Rumah," ucap Bram sambil menggandeng tangan Hani yang hanya bisa mengangguk. Mereka pun pulang ke Rumah dengan naik mobil Bram yang terparkir tak jauh dari tempat mereka sekarang.


Gadis itu masih tidak bisa mengerti dengan perasaannya, entah mengapa sekarang jantungnya semakin berdebar saat bersama Bram. Terlebih saat Bram memeluknya tadi, ia hanya bisa terdiam.


Sesampainya di Rumah, Hani langsung mengobati luka Bram. Gadis itu masih merasa khawatir.


"Hani, tolong pelan-pelan ya .... " ucap Bram pada Hani yang sedang membersihkan luka dengan sangat terburu-buru dan gemetar.


"Tapi Mas, Hani takut ... takut ... Mas, kenapa-kenapa .... " jawab Hani dengan bergetar, ia benar-benar takut kehilangan Bram sekarang.


Pria itu langsung menahan tangan Hani dan memeluk Gadis itu, Hani hanya bisa menangis.


"Hani ... takut Mas ... takut kehilangan Mas Bram .... " ucap Hani dalan tangisnya.


"Terimakasih Hani, Mas senang mengetahui Istri Mas ini sangat menghawatirkan Mas .... "


"Hani ... Hani Cinta sama Mas .... " ucap Hani terbata, tapi Gadis itu sangat yakin dengan ucapan dan hatinya sekarang.


"Mas juga Hani .... " jawab Bram dengan tersenyum, "Jadi ... apakah malam ini malam pertama Kita?" tanya Bram pada Hani yang hanya bisa tersenyum malu dan kini semakin memeluk Bram. Suami yang ia cintai.


SELESAI


----------------------


Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊

__ADS_1


__ADS_2