
Kehilangan adalah sebuah rasa yang tak cukup hanya diungkapkan dengan sebuah kata. Terlebih saat Kita kehilangan Pasangan terkasih, Itulah yang dirasakan Bram.
Bram harus kehilangan Arinda, sang Istri tercinta tepat setelah melahirkan Anak pertama mereka.
Seorang Bayi mungil yang cantik, diberi nama Putri seperti keinginan Arinda saat ia masih mengandung.
Bayi mungil yang belum mengerti apa yang terjadi pada Ibunya itu, selalu menangis setiap saat.
Hanya pada pelukan Hani, Adik Arinda, Putri merasa tenang. Hani juga sangat menyayangi Putri.
***
"Hani, Ibu tahu ini mungkin terdengar kejam untuk Kamu. Tapi ini adalah satu-satunya cara agar Putri bisa tumbuh dan besar dengan cinta," ucap Buk Laila dengan hati-hati pada Hani malam ini, saat Hani baru selesai menidurkan Putri.
Sejak kepergian Arinda untuk selamanya, Hani dan Buk Laila memang memutuskan untuk tinggal di Rumah Arinda agar bisa merawat Putri.
Sedangkan Bram sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya di Kantor, Pria yang biasanya ceria itu kini lebih pendiam.
Bahkan sudah jarang terlihat senyum hangat diwajahnya yang kian hari terlihat makin kusut. Bram sangat kehilangan Arinda.
Hanya saat menggendong Putri, wajah itu bisa sedikit tersenyum. Tapi tak akan lama, karena saat melihat Putri ia kembali teringat Arinda.
Malam ini Buk Laila hendak menyampaikan maksudnya pada Hani, sebuah permintaan yang berat untuk Gadis muda itu.
"Hani, Ibu ingin Kamu menjadi Ibu sambung dari Putri Nak. Hanya Kamu yang bisa membuat Putri merasa nyaman. Dan Ibu jadi lebih tenang Jika Putri bisa dijaga sama Kamu Nak .... " meski pelan suara Buk Laila menyampaikan pada Hani, namun terasa sangat menusuk di hati Gadis yang sudah memiliki kekasih hati itu.
__ADS_1
"Hani memang sangat mencintai Putri Buk, Tapi ... Ibu kan tahu sendiri, Hani itu sudah punya Mas Gara di hati Hani? Ini terlalu ... berat Buk .... " dengan suara yang hampir tak terdengar, Hani menyampaikan isi hatinya pada Sang Ibu yang terlihat sedih.
"Ibu tahu Nak, tapi Kamu tahu sendiri kalo Putri itu hanya mau sama Kamu? Bukankah lebih baik sekalian saja Kamu jadi Ibunya? Apa Kamu mau Putri nanti dirawat seorang Perempuan yang belum tentu bisa menerima Putri dengan seutuhnya? Ini semua demi Putri Nak .... "
Hani menarik nafasnya dalam, menghilangkan sesak yang ada di hatinya, "Mas Bram sudah tahu rencana Ibu ini?" tanya Hani masih dengan suara pelan, nyaris tak terdengar.
"Sudah Nak, Dia juga menolak. Karena tak ingin menyakiti Kamu. Tapi Ibu sudah yakinkan Bram, ini semua demi Putri. Kamu mau kan Nak? Ibu hanya punya Kamu dan Putri sekarang. Ibu hanya ingin bersama Kamu dan Cucu Ibu Nak ... tapi ... jika Kamu masih berat dan mungkin Ibu yang terlalu egois .... " Buk Laila mulai terisak, Hani jadi makin merasa bersalah.
"Hani mau Buk. Tapi semua ini Hani lakukan demi Putri dan Ibu. Tapi, tolong beri Hani waktu untuk menjelaskan pada Mas Gara tentang semua ini. Semoga Dia ... mau mengerti .... " lirih suara Hani herucap dengan diiringi isak tangisnya, Buk Laila langsung mendekap Putri Bungsunya. Mereka berdua pun menangis dalam kesedihan yang mendera keduanya.
***
"Apa Kamu bilang? Siapa yang akan menikah? Tolong Kamu jangan bercanda Hani, ini gak lucu!" ucap Gara saat Hani menyampaikan permintaan Ibunya.
"Ibu yang minta Mas, ini juga sangat berat bagiku. Tapi, Aku tak punya pilihan lain. Ini semua untuk Putri dan Ibu .... "
"Jika ada pilihan lain Mas ... tapi ... Kamu tahu sendiri di hidup Aku, Ibu adalah prioritas Mas ... ditambah lagi ini untuk Putri. Aku tak mau Ibu sedih, kehilangan Mbak Arinda untuk selamanya sangat menyakitkan. Aku tak mau menambah kesedihan Ibu sekarang Mas, Kamu juga kan tahu sendiri, kondisi kesehatan Ibu seperti apa? Maafkan Aku Mas ... tapi, hubungan Kita harus berakhir .... " sambil melepaskan genggaman tangan Gara yang semakin terlihat frustasi, mendengar keputusan Hani.
"Kamu Pria yang baik Mas, Aku yakin Kamu akan menemukan Pasangan yang baik pula. Maafkan semua kesalahanku selama Kita pacaran 3 tahun ini, dan terimakasih untuk semua waktu yang indah. Selamat tinggal Mas, Aku pergi .... " ucap Hani sambil menahan tangisnya yang hampir tumpah.
Belum sempat Gara menjawab, Gadis bertubuh ramping itu segera pergi dari Restoran tempat mereka bertemu sekarang.
Gara terdiam di tempat duduknya dengan perasaan hancur. Gadis yang ia cintai harus lepas dari genggaman, dengan sebuah alasan yang tak bisa ia terima namun juga tak bisa ia tolak.
Rasanya Gara ingin berteriak sekencang-kencangnya melampiaskan semua rasa yang tengah berkecamuk dalam hatinya sekarang.
__ADS_1
Tak jauh berbeda dengan Gara Kekasihnya Hani kini tak dapat menahan air matanya lagi. Gadis itu menumpahkan perasaannya saat duduk di dalam taksi. Hatinya benar-benar hancur lebur sekarang.
***
"Kamu yakin Hani? Mas gak akan pernah memaksa Kamu jika memang ini terlalu berat untuk dijalani .... " ucap Bram pada Hani, saat Gadis itu mengungkapkan kesiapannya untuk menikah. Tepat tiga hari setelah ia memutuskan hubungannya dengan Gara.
"Hani tak bisa pungkiri bahwa ini memang berat Mas, tapi Hani akan melakukan yang terbaik untuk Putri .... " jawab Hani dengan tersenyum, namun dalam hati ia menjerit.
"Iya Nak, Kamu tenang saja ... " ucap Buk Laila sambil memegang telapak tangan Putrinya.
"Tapi, nikahnya sederhana saja ya Mas ... " ujar Hani pada Bram yang langsung mengiyakan, "Mas, terserah Kamu saja Hani ... "
***
Seperti permintaan Hani, Pernikahan yang boleh disebut sebagai 'turun ranjang' itu berlangsung sederhana dan tertutup. Hanya di hadiri oleh Kerabat dan Sahabat dekat saja.
Diantara para Tamu yang hanya bisa dihitung dengan jari itu, mata Hani hanya terpaku pada satu sosok ... yaitu, Gara yang tampak hadir sambil digandeng Tami, Sepupu Hani yang memang sejak dulu terlihat jelas menaruh hati pada Gara.
Gadis itu tampak sangat bahagia sambil menggelayutkan tangannya mesra pada Gara yang tampak jelas memaksakan senyumannya.
Hani hanya bisa menatap ke arah lain, hatinya sangat sakit melihat Gara dengan Wanita lain. Tapi yang lebih membuatnya hancur adalah posisi Dirinya yang kini sedang bersanding dengan Pria lain, Kakak Iparnya sendiri.
Tapi sekali lagi, hatinya bisa kuat saat melihat Ibu dan Putri. Kamu pasti bisa menjalani ini Hani. Semua akan indah pada waktunya. Ini semua untuk Ibu dan Putri. Kamu pasti bisa. Batin Hani untuk menguatkan hatinya agar tak goyah dan bisa tersenyum pada Tamu, terutama pada Gara dan Tami yang kini tengah berjalan ke arah mereka ....
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊