
"Tolong Aku Sa, Aku ... Aku takut ... Dia ada di sini ... Aku tak ingin melakukan apa pun yang Kakakku perintahkan. Tolong Aku Sa ... Tidak, Aku tidak mau Kak ... Aku .... " tut ... tut ... tut ....
"Fi ... Fiona Halo ... Kamu ada di mana sekarang Fi? Aku akan segera ke sana .... " tak ada jawaban. Sambungan telepon terputus.
Entah apa yang menimpa Sahabatku itu, ini sudah jam dua belas malam. Aku baru saja akan memejamkan mataku, setelah menyelesaikan tugas kuliah yang mulai menumpuk.
Tapi deringan handphone mengagetkanku. Fiona yang menelpon, dengan suara yang ketakutan. Aku tak tahu apa yang menimpa Gadis pendiam itu. Aku mengenal Fiona baru beberapa bulan yang lalu, tepatnya karena Kami mengambil kelas yang sama pada salah satu mata kuliah.
Meski baru kenal, namun Aku merasa nyaman dengan Gadis yang seperti menarik diri dari lingkungan tersebut. Butuh usaha ekstra untuk akhirnya Dia mau berteman denganku. Aku selalu berusaha untuk membantunya dalam hal apa saja, ia sangat cerdas tapi tak berani mengungkapkan pendapatnya. Maka Aku yang akan mewakilkannya.
Dari panggilan telepon tadi, Aku baru tahu jika Fiona memiliki seorang Kakak. Setahuku selama ini ia tinggal sendiri, atau mungkin Kakaknya sedang berkunjung? Entahlah ... Aku tidak tahu. Tapi yang cukup mengganggu Fikiranku sekarang adalah tentang permohonannya untuk bisa kutolong, entah dari apa? Atau dari Siapa?Aku juga bingung harus menolong dengan cara apa.
Kuputuskan untuk menelponnya kembali. Panggilanku masuk, tapi tak diangkat. Akhirnya kukirim pesan singkat padanya. Dibaca, tapi tak dibalas. Aku tak tahu lagi harus bagaimana.
Kuhabiskan malam dengan gelisah, berharap tak terjadi hal yang buruk pada Fiona. Aku bisa peduli padanya karena Fiona mengingatkanku pada Adikku Syila yang telah tiada, membuatku ingin melindunginya.
*
"Salsa, bangun Nak ... " suara Ibu membangunkanku pagi ini.
"Kenapa Buk? Hari ini kan Salsa libur? Bentar lagi ya Buk bangunnya .... " masih dengan mata terpejam kujawab Ibu yang sudah duduk di sampingku.
"Bangun Sayang, di depan ada teman Kamu ... Fio ... Fiona namanya. Kok Ibu belum pernah lihat Sa? Teman baru Kamu ya?"
Mendengar nama Fiona mataku langsung terbuka lebar. Segera Aku bangkit dari tempat tidurku, "Buk, bilang ke Fio Sasa cuci muka dulu ya ... " sambil beranjak ke Kamar Mandi yang ada di dalam Kamar tidurku. Aku bahkan tak sempat menjawab pertanyaan Ibuku, namun seperti biasa Ibu tak pernah marah apa pun yang kulakukan.
Usai membersihkan diriku sebentar, segera Aku ke Ruang tamu dimana Fiona telah menunggu. Namun Aku sedikit kaget dengan penampilannga yang terlihat berbeda hari ini. Tapi sikap kikuknya, masih sangat terlihat jelas.
"Fi, Kamu gak apa-apa kan?" tanyaku pada Fiona yang terlihat sedikit tak nyaman.
"Aku ... Aku baik-baik saja Sa ... "
__ADS_1
"Tapi semalam .... " Fiona langsung mengangkat wajahnya dan menatapku, "Aku mendapatkan perintah dari Kakakku untuk menjemput Kamu, tapi Aku tak mau." jawabnya ragu tanpa melihatku, kali ini ia lebih memilih melihat kearah kakinya.
"Kakakmu mengenalku? Tapi Kami kan belum pernah bertemu?" tanyaku heran atas pernyatannya.
"Katanya ia ingin berkenalan dengan Sahabatku! Aku tak ingin Kamu bertemu dengannya .... " kini ia tampak gelisah.
"Mengapa tidak bisa Fi? Tapi Aku tak pernah mendengar soal Kakakmu sebelumnya .... "
"Kakakku hanya datang saat Aku telah memiliki seorang Sahabat, iya ... karena itulah, Aku tak ingin berteman denganmu lagi. Tolong jauhi Aku Sa .... " Gadis berambut ikal itu, kini terlihat putus asa.
"Apa salahku? Mengapa Kamu tak ingin berteman denganku lagi?"
"Pokoknya jangan! Aku tak ingin Kamu terluka. Sudah ya Sa ... Aku pergi dulu!" Fiona langsung berdiri dari kursinya, lalu meninggalkanku yang tak mampu berkata apa-apa. Aku hanya bisa terdiam saat melihatnya pergi menjauh dengan berlari. Ya ... Gadis mungil itu sedang berlari kencang, seperti sedang dikejar Seseorang.
Sejak hari kedatangan Fiona di Rumahku, Kami seperti terpisah. Fiona menghindariku, bahkan nomor teleponku diblokir olehnya. Aku tak bisa memaksa seseorang untuk berteman denganku hanya karena Aku peduli.
*
[Ada apa ingin menemuiku?]
[Ini tentang Fiona! Bukankah kalian berteman?]
[Sekarang tidak lagi!]
[Tapi Kau peduli padanya kan? Jika masih, temui Aku sekarang di Jl. Anggrek, Rumah No. 32. Kamu akan tahu semua tentang Fiona. Jika tidak peduli, abaikan pesan ini!]
Aku tak membalas pesannya, tapi pikiranku sekarang tengah berkecamuk. Kulihat jam pada layar handphoneku, baru jam delapan malam. Sepertinya Aku bisa pergi, tapi entah mengapa hatiku terasa berat.
Ibuku juga masih menonton sinetron favoritnya, Bapak bahkan belum pulang dari Kantor. Jika Aku pergi sejam, masih belum terlalu larut saat pulang. Baiklah, Aku akan pergi. Rasa ingin tahuku terlampau besar untuk kutahan, setelah pamit pada Ibu Aku mengambil jaketku di kamar dan langsung mengendarai motor matic ku ke jalan Anggrek.
Rumah No. 32. Akhirnya kutemukan juga, setelah melewati jalan yang cukup panjang tadi. Karena letaknya yang berada cukup jauh dari Rumah yang lain, Sejenak Aku berfikir untuk berbalik arah saja.
__ADS_1
Bangunannya yang sudah terlihat nampak tua, dengan dikelilingi pepohonan yang cukup lebat. Membuat bulu kudukku merinding, saat Aku tengah bimbang. Pintu Rumah terbuka, seseorang berdiri dipintu, tengah menatapku.
"Fiona? Kamukah itu?" tanyaku sedikit lega, sambil turun dari motor.
"Untuk apa Kamu kemari? Bukankah sudah kuperingatkan untuk jangan pernah menemuiku lagi? Kamu benar-benar keras kepala Sa!" Fiona tampak marah padaku.
"Tapi Fi, Aku khawatir denganmu ... "
"Masuklah jika itu yang Kamu ingin," ucap Fiona sambil menyingkir dari pintu, seperti sedang memberikanku ruang untuk lewat ... dan ... Buuuk!!! penglihatanku gelap seketika.
Entah berapa lama Aku tak sadarkan Diri. Saat membuka mata, Aku sudah duduk disebuah kursi ... dengan seluruh tubuh dalam keadaan terikat. Kucoba menggerakkan badanku, namun percuma tak ada hasil. Aku tak bisa bergerak.
"Fiona ... Kamu ada di dalam? Tolong Aku ... " ucapku dengan panik, seingatku tadi Aku bersama Fiona. Dimana Gadis itu sekarang?
"Kamu sudah bangun rupanya?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke Kamar ini.
"Fiona? Kamukah itu?" tanyaku pada seseorang yang kini telah berada dibelakangku.
"Fiona sudah pergi, Dia marah karena Kau tak mendengarkannya. Aku sangat senang, akhirnya bisa melihatmu langsung. Orang yang peduli pada Adikku!" Aku tak bisa melihat Orang itu, hanya suaranya yang tak asing ditelingaku.
"Lepaskan Aku! Mengapa Kau mengikatku?" tanyaku dengan sedikit memberontak, berharap ikatan ini lepas. Meski Aku tahu itu sia-sia. Gadis yang mengaku Kakaknya Fiona itu masih berdiri dibelakangku, tiba-tiba ia tertawa dengan keras.
"Kau fikir Aku mengikatmu untuk kulepaskan? Kau sendiri yang memilih untuk datang kemari, maka nikmatilah saat-saat ini Salsabilah Hermawan!" kini tangannya sedang menggariskan sebuah benda keleherku. Aku ingin bergerak, tapi benda itu terasa perih menyentuh kulitku. Sedikit demi sedikit darahku menetes dari sana.
"Apa yang Kamu lakukan Wina? Apa salahku?" Aku bertanya sambil menangis, karena takut dan karena perih yang kurasakan akibat goresan tipisnya di kulitku.
Aku mendengar langkah kakinya kini mulai beralih kedepanku. Dengan penerangan yang kurang, Aku masih bisa melihat wajah itu. Betapa terkejutnya Aku dengan apa yang kulihat.
BERSAMBUNG ....
----------------------------
__ADS_1
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊