
Memiliki tiga Putra ditambah lagi Suami yang kadang bisa sangat kekanakan, bukan hal yang mudah. Aku bisa pastikan itu, karena Aku salah satu Anak dari ketiga Putra yang sering membuat repot Mama. Perempuan yang paling cantik di Rumah Sederhana kami.
"Ma ... dokumen Papa yang kemarin, Mama liat gak?" itu suara Papa yang setiap pagi ada saja yang Papa lupakan.
"Ma, kunci motor?" kalo yang ini suara Kak Aldo, Putra pertama. Umur 20 tahun. Mahasiswa Teknik Elektro. Lagi sibuk-sibuknya Praktek Kerja Lapangan, suka lupa naroh barang di manapun dan kapan pun.
"Ma, liat jam tangan baru Arga gak?" ini suara Arga si Bungsu. Umur 14 tahun. Kelas dua SMP. Koleksi jam tangan, tapi suka lupa waktu kalo main Game.
"Ma, hari ini Mama masak apa buat sarapan?" kalo suara yang serak-serak ambyar ini adalah suaraku. Raka. Umur 17 tahun. Kelas dua SMK Jurusan Mesin. Tapi suka error kalo lagi berurusan sama Cewek.
Setiap hari seperti itulah suasana di Rumah. Empat masalah yang berbeda, dengan satu Solusi. Mama tahu semua yang Kami butuhkan. Mama itu Googlenya Rumah ini. Meski sudah diingatkan Mama berulang kali, tetap saja setiap hari pasti ada yang terlewatkan atau terlupakan.
*
Akhir Pekan adalah hari bersantai bagi Kami berempat, tapi bagi Mama justru hari yang paling sibuk. Lebih tepatnya sibuk memarahi kami. Agar tidak membuat Rumah berantakan. Memastikan semua aman terkendali, dan yang paling penting menyediakan makanan yang berbeda sesuai dengan selera kami. Semua itu Mama lakukan seorang diri.
Tapi soal bersih-bersih sebenarnya kadang Aku turut membantu Mama jika libur, begitu pun Kakak dan Adikku. Tapi seperti biasa, sebersih apa pun pekerjaan kami pasti dimata Mama masih ada yang kurang. Jadilah Mama juga yang mengerjakan.
Mama itu ibaratnya seperti Power Bank yang bisa menambah energi bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Semarah-marahnya Mama, tapi Mama akan selalu memasak makanan terenak di Dunia.
*
"Pa, Aldo, Raka, dan Arga. Mama harus pergi ke Rumah Tante Reni untuk membantunya membuat kue persiapan Pernikahan Anaknya nanti. Sepertinya Mama akan menginap selama dua hari di sana," ucap Mama pagi ini saat Kami sedang sarapan.
"Harus nginap ya Ma?" tanya Arga dengan polosnya pada Mama.
"Iya Sayang, kan Rumahnya Tante Reni di Desa. Rencananya Mama akan menginap di Rumah Nenek, sekaligus membawa obat dan beberapa bahan makanan untuk Nenek."
__ADS_1
"Terus Papa dan Anak-anak gimana Ma? Kita pesen makanan online aja ya?" tanya Papa pada Mama yang langsung menggelengkan kepala dengan pasti.
"Kalo masalah itu Papa gak perlu khawatir. Mama sudah menyiapkan segalanya, setelah sarapan Mama akan jelaskan."
Seperti kata Mama tadi, usai Kami sarapan Mama langsung menjelaskan semuanya.
"Pertama. Makanan, Mama sudah memasaknya untuk dua hari. Mama sudah simpan di freezer tinggal dipanaskan jika akan makan nanti. Sudah ada catatan untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Semua sesuai kebutuhan," sambil memperlihatkan isi Freezer pada Kami berempat.
"Kedua. Mama sudah siapkan Cemilan di tempat biasa, jadi tak perlu beli lagi."
Kami mengikuti Mama yang berkeliling rumah, Seperti sedang melakukan tour dengan Mama sebagai tour guidenya. Semuanya Mama jelaskan dengan lengkap, tentang mencuci baju dan mengaturnya di lemari masing-masing. Membersihkan Rumah dan meletakkan barang pada tempat-tempat yang sudah Mama sediakan. Bahkan sudah ada catatan untuk setiap tempat penyimpanan yang berisi tentang daftar barang yang disimpan disitu.
Usai menjelaskan segalanya secara terperinci dan penuh penekanan, Mama pun bersiap-siap dan setelah itu Mama pamit pergi ke Desa. Dengan naik Mobil Rental yang sudah menjadi Langganan, jika Kami pergi ke Rumah Nenek. Tak Lupa sebelum pergi, Mama kembali berpesan agar Kami semua bisa mandiri tanpa Mama. Hal yang sulit untuk dilakukan, tapi Kami meyakinkan Mama bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah mobil berangkat dan hilang dari pandangan, kami berempat yang berdiri di jalan depan Rumah langsung berlari dan masuk ke dalam Rumah. Bebas, satu kata yang menggambarkan suasana di Rumah ini sekarang.
Kak Aldo mulai mengekspresikan kebebasannya dalam menggunakan Kamar tidurnya untuk merakit Alat yang sedang dipersiapkannya untuk tugas akhir nanti. Bisa dipastikan Kamar Tidur yang tadinya tertata itu, jadi seperti kapal Titanik yang sudah menabrak bongkahan es.
Makan siang dan makan malam, Kami mengkreasikan masakan spesial. Campuran antara mie instan dan lauk yang sudah Mama siapkan. Tak perlu langsung mencuci piring sehabis makan. Benar-benar indah suasana di Rumah yang sudah seperti Arena Bermain Anak TK itu. Bahkan untuk tidur saja, Kami sudah menggunakan Ruang televisi. Hanya Kak Aldo yang tertidur di Kamarnya, dengan Alat yang belum selesai dibuat.
Hari Kedua, sarapan dengan mi instan dan menu yang dipanaskan lagi. Lemari baju semakin berantakan, karena kebiasaan Kami yang main cabut saja pakaian yang sudah disusun rapi Mama. Pergi ke Sekolah dan ke Kantor jadi semakin kacau, tapi tetap teratasi. Setelah bongkar sana-sini, benda-benda yang biasanya telah disusun Mama dengan rapi itu, akhirnya bisa ditemukan juga.
Dengan Rumah yang sama, namun tanpa hadirnya Mama jadi terasa berbeda. Tak bisa dipungkiri Kami berempat menikmatinya, tapi siapapun yang melihat kondisi Rumah sekarang mungkin tak ada yang ingin tinggal di sini.
*
Hingga sore harinya, Papa mendapatkan telepon dari Mama yang mengatakan bahwa Mama sepertinya akan pulang lebih cepat dari rencana, lebih tepatnya malam nanti mungkin Mama sampai. Semua langsung bergegas untuk bersih-bersih Rumah, lebih rajin dari biasanya.
__ADS_1
Sesuai perkiraan, Mama sampai di rumah jam delapan malam. Beruntung semua pekerjaan Kami selesai dua puluh menit yang lalu, hampir saja. Saat Mama sampai, Mama langsung melakukan inspeksi dadakan. Papa, Kak Aldo, Aku dan Arga berpura-pura santai sambil nonton televisi dengan tenang dan tanpa cemilan.
Setelah acara inspeksi Mama selesai, "Bersih!"
Hanya itu yang Mama ucapkan pada Kami berempat, dengan ekspresi datar. Papa langsung menghampiri Mama yang sedang berjalan dengan gontai dari Kamar Kak Aldo.
"Ma, tadi pulang kerja Papa beliin Mama Malabar di tempat langganan Kita. Masih panas Ma, Papa ambilin ya .... "
Masih tanpa ekspresi, Mama mengangguk pada Papa lemah. Aku bingung dengan sikap Mama yang seperti tak senang dengan yang Kami lakukan. Tiba-tiba Aku mendapatkan ide ....
Segera Aku berlari ke Kamar Aku dan Arga, mengacak semua pakaian yang sudah Kami rapikan tadi. Ku keluarkan semuanya dari tempatnya. Begitupun di Kamar Kak Aldo, kulakukan hal yang sama.
"Ma, liat nih ... lemari pakaiannya Raka dan Arga berantakan banget, Raka lupa naroh jaket Raka di mana. Lemari Kak Aldo juga Ma, Kak Aldo lupa naro kaos yang Mama beli seminggu yang lalu. Gimana nih Ma?" sambil memasang wajah memelas Aku beritahukan semua pada Mama yang kini langsung sumringah.
"Benarkah itu Raka? Ya ampun, mau jadi apa kalian kalau Mama tidak ada? Ngatur baju aja gak bisa!" segera Mama bangkit dari kursinya dengan semangat dan mulai merapikan kembali pakaian yang sudah kuacak tadi.
Aku memberikan kode pada Papa, Kak Aldo dan Arga yang langsung mengerti, "Iya nih Ma ... gak tahu mau jadi apa Papa dan Anak-anak tanpa Mama. Makanya Mama jangan pergi sendiri lagi ya ... " jawab Papa pada Mama yang masih mengomel, namun terlihat lebih bahagia.
"Ma, yuk makan malabar dulu ... nanti dingin lo ..." ujar Papa sambil menggandeng Mama dari Kamar.
Mama hanya mengangguk sambil tersenyum, akhirnya malam itu pun berakhir dengan makan malabar bersama dan berbagi cerita tentang kabar Nenek dan Kerabat di Desa.
Dua hari tanpa Mama, bebas tapi hampa. Karena Mama adalah Nyawa dari Rumah Kami. Begitu pun Mama, yang sedih jika merasa tak dibutuhkan.
SELESAI
-----------------------
__ADS_1
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊