
Namaku Murni. Umur 18 tahun. Semester satu Jurusan Kedokteran. Aku besar di Panti Asuhan. Di asuh oleh Keluarga Pak Danu dan Buk Rini yang jadi Orangtua Angkatku sejak Aku berumur sepuluh tahun.
Orangtua Kandungku? Aku tidak pernah tahu siapa. Aku hanya tahu, Ibu Pengurus Panti Asuhan menemukan Aku yang masih Bayi di depan pintu Panti Asuhan dalam sebuah box bayi.
Tak ada surat atau keterangan tentang siapa yang meletakkan Aku di situ. Akhirnya Aku tumbuh dan besar di Panti Asuhan, bersama puluhan Anak lainnya. Aku sudah lupa berapa jumlah tepatnya, karena Anak-anak di Panti akan selalu berganti. Ada yang datang dan ada pula yang pergi, karena di asuh.
Termasuk Aku, yang pada usia sepuluh tahun akhirnya mendapatkan Orangtua Asuh yang sangat baik. Pak Danu dan Buk Rini. Pasangan yang sudah 11 tahun menikah, namun belum di Karuniai Anak itu memilihku untuk jadi Anak Angkat Mereka.
Aku termasuk Anak Panti yang cukup lama dapat Orangtua Asuh. Mungkin karena sikapku yang dingin dan tak suka berkumpul dengan Anak-anak yang lain.
Alasan lainnya adalah karena Aku bisa menyakiti siapa pun yang berani menggangguku. Aku tak segan menyakiti mereka. Karena itulah tak ada yang berniat mengangkatku jadi Anak Mereka, terlebih saat usiaku sudah semakin bertambah.
Semakin sulit menemukan Pasangan Suami Istri yang mau menjadikan Aku Putri Mereka. Penolakan demi penolakan Aku terima, sampai Aku sudah terbiasa dan mengubur impian untuk segera keluar dari Panti Asuhan jauh dalam hati dan pikiranku.
***
"Nama Kamu Siapa Cantik?" tanya Buk Rini saat melihatku hari itu. Setiap ada Calon Orangtua Asuh, Kami semua Anak Panti akan dikumpulkan di Aula.
Aku sudah tak punya semangat lagi untuk terpilih, maka Aku sengaja berdiri di belakang. Tapi Buk Rini ternyata lebih tertarik padaku.
"Namanya Murni Buk .... " jawab Buk Siska, Pengurus Panti Asuhan. Aku hanya menunduk, tak berani menatap Wanita menawan di depanku.
"Murni ya ... umur Kamu berapa?" tanya Buk Rini sekali lagi, Aku mengangkat wajahku dan memandang wajah Buk Siska yang mengangguk sebagai isyarat agar Aku menjawab.
"Gak perlu takut sama Ibu, atau ... Kamu ingin ngobrol berdua dengan Ibu? Gimana?" usul Buk Rini Padaku. Aku hanya mengangguk. Akhirnya, Aku bersama Buk Rini ke Ruangan yang lain.
"Baik, sekarang Kamu bisa cerita ke Ibu ... salah, Murni bisa panggil Ibu dengan sebutan Bunda ... mau gak?"
"I ... iya Bunda ... " jawabku gugup. Ini pertama kalinya ada yang mau bicara denganku sedekat ini.
"Murni mau gak jadi Anak Bunda?" Aku langsung menatap wajah Wanita di depanku yang dijawabnya dengan senyuman.
"Bunda ... yakin? mau jadi Orangtua Angkat Murni?"
"Iya Sayang ... Ayah juga .... " ucap Ayah yang baru bergabung dengan Aku dan Bunda.
__ADS_1
"Ayah baru saja selesai surat-surat untuk mengasuh Murni." sambung Ayah.
"Tapi ... kenapa Ayah dan Bunda milih Murni? Diantara Anak-anak yang lain, Murni lebih besar, terus Murni itu gak ada temennya, kadang kalo dijahatin ... Murni bisa nyakitin Mereka. Teman-teman Murni gak ada yang mau main sama Murni."
"Justru karena itu Sayang, Murni itu spesial dari Anak yang lain. Gimana ... mau kan, jadi Putri Ayah dan Bunda?" tanya Bunda Padaku.
"Iya Bunda .... " jawabku sambil mengangguk. Bunda langsung memelukku.
***
Sejak hari itu, Aku tinggal di Rumah yang sebenarnya. Memiliki Kamar Tidurku sendiri di Lantai dua. Ayah dan Bunda tidur di Kamar Utama di Lantai satu.
Aku mendapatkan kasih sayang yang besar dari Ayah dan Bunda. Ayahku Seorang Dokter Bedah dan Ibuku seorang Desainer ternama. Keduanya sangat aktif dan ramah pada semua Orang. Pergaulan Mereka juga sangat luas.
Alasan mengapa Mereka sangat menyayangiku adalah karena Aku tak pernah takut pada hobby Pasangan Suami Istri yang hanya Aku dan Mereka ketahui.
***
"Kamu gak takut sama darah kan Murni?" tanya Ayahku saat pertama kali Aku masuk ke Rumah Mereka.
Ayah dan Bundaku lalu mengajak Aku ke Ruang Bawah Tanah milik Mereka, dan di sana sudah ada Seorang Wanita yang sudah tak dikenali lagi wajahnya karena penuh dengan luka sayatan.
"Ini Sayang, kalo lihat ini Murni takut tidak?" tanya Bundaku sambil menunjuk ceceran darah di lantai. Bau anyir sangat menusuk hidung. Tapi Aku tak peduli. Aku sudah lama ingin pergi dari Panti Asuhan. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Mereka berdua langsung tersenyum lebar.
"Murni memang ditakdirkan untuk jadi Putri Ayah dan Bunda .... " ujar Bunda sambil memelukku.
"Tapi ... itu Siapa Bunda?" tanyaku sambil menunjuk Wanita yang ada di atas sebuah meja yang mirip seperti meja operasi. Satu-satunya meja besar di Ruangan yang agak gelap itu.
"Itu Pasien Ayah Sayang .... Ayah lagi latihan, Bunda bantuin Ayah di sini. Nanti Murni bisa kok bantuin Ayah dan Bunda ... tapi cukup Murni yang tahu ya ... soal Ruangan ini," jawab Ayah padaku. Aku hanya bisa menjawab, "Baik Ayah .... "
***
Seminggu sekali setelah hari itu, Aku selalu mendengar suara jeritan dari Ruangan itu. Tapi bisa dipastikan, tak akan ada yang mebdengarnya dari Luar Rumah. Karena letak Rumah ini yang jauh dari Rumah Warga Lainnya dan dari Jalan Utama.
Tahun terus berlalu, Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan Orangtua Angkatku itu. Tapi, kadang Aku merasa terganggu dengan jeritan-jeritan Korban Mereka. Terutama saat Aku sedang belajar untuk ujianku.
__ADS_1
Seperti Malam ini, Aku masih harus belajar hingga larut karena tugas yang menumpuk. Tapi Aku tak bisa konsentrasi belajar, akhirnya Aku putuskan untuk pergi ke 'Ruang Praktek' Mereka.
Saat Ku buka Pintu, tampak seorang Gadis bergaun merah sedang memohon untuk dilepaskan. Ayah dengan santainya menyayat inci demi inci kulit Gadis yang sudah tak bisa banyak bergerak itu. Karena tangan dan kakinya terikat pada meja besar.
"Sayang, Kamu ngapain ke sini? Mau bantuin Ayah sama Bunda ya .... ?" tanya Bunda sambil menggandengku masuk.
"Enggak Bunda ... Murni merasa terganggu dengan suara jeritannya. Murni bisa konsentrasi belajarnya."
"Oh gitu ya Sayang ... iya deh, Ayah sama Bunda janji gak akan ganggu Kamu belajar lagi. Kami janji tak akan ada suara jeritan dan semacamnya."
"Iya Ayah ... Bunda ... makasih ya, Murni balik ke Kamar dulu .... " ucapku sambil mengecup pipi Bunda.
Beberapa hari setelahnya, Aku memang tak mendengar suara jeritan lagi. Akhirnya ....
***
Siang ini Dosenku tak masuk, akhirnya Aku pulang cepat ke Rumah. Saat Aku masuk, Aku tak menemukan Bunda atau pun Ayah di Rumah. Tapi anehnya pintu Rumah tak terkunci.
Aku pun mencari Mereka ke Kamar, ternyata tak ada ... Aku ke Dapur untuk minum air karena haus. Ayah dan Bunda ternyata ada di sana.
"Ayah ... Bunda ... ada di sini rupanya, Murni kirain kemana?" ujarku dengan ceria.
Mereka hanya tersenyum, saat Aku mendekat, tepat di balik meja makan seorang Gadis berambut panjang tengah terbaring di lantai sambil terkejang-kejang dan mulutnya penuh busa.
"Ayah ... Bunda ... ini?" tanyaku sambil menunjuk Gadis yang sebagian badannya sudah membiru itu.
"Kata Murni kan tanpa suara?" jawab Bunda sambil tersenyum.
"Iya Sayang, tanpa ... suara .... " sambung Ayahku.
SELESAI
----------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊
__ADS_1