
Hari pertama dengan baby doll adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku. Betapa tidak, sekarang Aku menganggapnya temanku. Boneka yang lain juga sama, tapi dengan baby doll terasa lebih ... nyata.
Seperti saat ini, Aku tengah menonton Running Man Variety Show Korea yang sangat Aku sukai. Kadang jika ada tingkah Lee Kwang Soo yang menggelikan tengah berlaku di layar laptopku, Aku merasa Dia ikut tertawa. Bukan dengan suara yang keras, tapi cukup terdengar olehku.
Mungkin hanya perasaanku saja, entahlah Aku memilih untuk melanjutkan menonton lagi sambil memeluk baby doll.
Malam ini, Aku mengatur posisi boneka beruang Kak Lala di samping kanan dan baby doll di samping kiri. Tidurku terasa lebih nyenyak.
Dalam tidurku, Aku bertemu Anak kecil yang menggunakan baju yang sama persis dengan baby doll. Anak kecil itu tersenyum ke arahkku, manis sekali. Aku memang sangat suka dengan Anak-anak, mereka sangat menggemaskan.
Anak Kecil itu tak bersuara, hanya mengayunkan tangannya ke arahku. Seperti memberi isyarat agar Aku mengikutinya. Aku pun berjalan di belakangnya.
Ku ikuti langkah kaki kecilnya yang kadang berlari riang dan tertawa itu, suara tawanya terdengar nyaring di telingaku. Tapi Anak kecil itu tak pernah berbicara, hanya tertawa.
Aku terus mengikuti langkahnya, semakin lama semakin jauh Kami berjalan. Entah mengapa, walaupun ini dalam mimpi tapi udara dinginnya terasa sangat nyata menyentuh kulitku.
Aku hanya bisa mengatupkan lebih rapat lagi sweeter yang sering Aku gunakan saat tidur. Aku memang tak tahan dengan udara dingin, dan sekarang udaranya terasa semakin menusuk ke dalam tulangku. Aku bahkan seperti akan membeku saja.
Bukan hanya merapatkan sweeter, tapi kini Aku menggigil. Semakin lama, Aku semakin sulit melangkah. Aku ada dimana sekarang? Anak Kecil itu sudah tak ada. Hanya tinggal Aku seorang di sini.
Di sebuah jalan yang asing dan sepi. Tak ada siapa pun yang melewati jalan ini. Bahkan tak ada bangunan satu pun di sini. Tapi udaranya ... terasa semakin dingin. Tidak, Aku sudah tak kuat lagi ... saat pandanganku mulai melemah, tiba-tiba terasa ada yang menarik tanganku dengan paksa.
Aku tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi Aku tetap mengikutinya. Rasa dingin ini semakin menyiksa. Hingga ....
*
"Lola ... bangun Sayang, Kamu kenapa? Kayak kedinginan gitu? Lola .... "
Aku langsung membuka mata, tapi anehnya udara itu masih bisa kurasakan. Aku langsung menatap Mama yang terlihat khawatir. Kulihat jendela kamar yang terbuka lebar, sinar mentari yang sudah cukup terik itu masuk ke dalam kamarku. Tapi, kenapa Aku masih merasa dingin?
"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Mama lagi. Aku mencoba bersuara, tapi tak bisa. Suaraku tertahan di tenggorokan.
Ada apa ini? Belum sadarkah Aku? Tapi Aku sudah bangun sekarang. Lalu bagaimana bisa?
Kulihat Mama sibuk menekan ponselnya, seperti sedang mencoba untuk menghubungi seseorang.
"Halo Pa, masih lama gak? Mama udah di Rumah ni, iya ... Papa langsung pulang ya ... iya Pa ... Mama tunggu ya ... " Mama kembali menatapku, kini Mama mulai terisak.
Aku mencoba bangun dari tidurku, akhirnya berhasil juga. Tapi, Aku sulit bergerak. Masih dalam mimpikah ini? Tapi Mama?
Tiba-tiba, Aku melihat Anak Kecil dalam mimpiku. Ia sedang tersenyum bahagia, "Kamu Siapa Dek? Kenapa Kamu bisa di sini?" tanyaku pada Anak Kecil itu, yang anehnya Mama tak merespon suaraku. Sepertinya Aku bisa bersuara hanya saat bertanya pada Anak Kecil itu.
Anak Kecil yang menggunakan baju yang sama persis dengan baby doll itu dengan gerakan yang sangat cepat mendekatiku lalu menutup mataku dengan tangannya. Aku tak bisa menolak, setelah Anak Kecil itu menyingkirkan tangannya dari mataku ....
Tiba-tiba Aku berpindah tempat, sudah bukan di Kamarku lagi. Kini Aku berada di sebuah Rumah yang sangat Besar. Aku melihat seorang Anak sedang bermain bahagia, banyak sekali boneka di kamarnya yang luas itu.
Lalu seorang Perempuan masuk ke Kamarnya, Perempuan yang mirip dengan wajah Anak Kecil yang rambutnya di kepang dua itu.
"Sayang, Mama punya kejutan untuk Manda .... " ucap Perempuan itu, sambil memperlihatkan benda di balik punggungnya.
ternyata benda itu adalah boneka yang sama persis dengan baby doll. Anak Kecil itu sangat gembira, dia langsung memeluk Mamanya.
"Makasih ya Ma .... " bisik Anak Kecil itu, lalu mengecup pipi sang Mama yang hanya bisa mengangguk dan tersenyum bahagia.
Aku berdiri di samping mereka, tapi seperti tak terlihat. Seperti masuk ke Dunia yang lain, tak ada yang bisa kulakukan selain mengikuti alurnya saja.
Anak Kecil yang ternyata bernama Manda itu, kembali sibuk bermain dengan boneka-bonekanya. Kali ini ia juga mengikut sertakan baby doll dalam permainannya.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum melihat tingkah Manda yang menggemaskan, seperti melihat diri sendiri. Karena waktu masih kecil dulu Aku juga sering melakukan hal yang sama.
Tiba-tiba suasana yang ceria dan hangat itu berubah menjadi gelap, dingin dan terasa mencekam.
Kamar Manda yang tadinya terang dan penuh warnah, berubah jadi gelap. Seorang Pria yang tak bisa kulihat wajahnya menerobos masuk ke dalam kamar. Pria itu melakukan hal yang tak 'beradab' pada gadis kecil itu.
Amanda menangis kesakitan, Pria 'be*ad' itu membungkam mulutnya. Meneruskan kembali perbuatan be*adnya hingga Manda tak sadarkan diri.
Aku tak melihat Mamanya, hingga Pagi menjelang Mamanya masuk ke Kamar Manda dan menemukan sang Putri dalam kondisi mengenaskan.
Anehnya Mamanya Manda tak membawa Manda ke Rumah Sakit, melainkan ke sebuah Gubuk Kecil di tengah Hutan.
Di depanku terbaring Manda yang tak sadarkan diri, dan Mamanya yang tengah berhadapan dengan seorang Nenek Tua yang terlihat ... seram.
"Kamu yakin melakukan ini?" tanya Nenek itu pada Mamanya Manda. Wanita itu mengangguk pasti, sambil menatap Putrinya yang masih tak sadarkan diri.
"Tapi Kamu sudah tahu resikonya kan?" tanya Nenek itu kembali, yang dijawab dengan anggukan oleh Mamanya Manda.
"Baiklah, Kamu sudah bawa bonekanya?"
"Sudah Nek, ini boneka yang Nenek beri waktu itu .... " sambil menyerahkan boneka yang sama persis dengan baby dollku.
Setelah boneka itu di serahkan pada Nenek yang seluruh rambutnya berwarna putih tersebut, sang Nenek langsung merafalkan kalimat-kalimat yang aneh di telingaku.
Tiba-tiba ... baby doll bergerak. Sedangkan tubuh Manda menghilang. Apa yang terjadi? Aku hanya bisa menutup mulutku dengan kedua tanganku. Terkejut dengan apa yang ku saksikan.
"Sekarang Manda sudah hidup di dalam boneka ini. Kamu tak perlu khawatir lagi kehilangan Manda. Tapi ingat! Kamu harus menyerahkan jiwa yang lain setiap setahun sekali. Jika tak mampu, Kamu bisa menyerahkan boneka ini pada Siapa pun yang mau menerimanya. Tapi Jiwa Manda akan tersesat. Karena jiwa yang baru akan menggantikannya. Kamu juga bisa mengorbankan jiwa Suami Kedua Kamu yang telah melakukan hal buruk pada Putrimu."
"Baik Nek, Terima kasih .... " ucap Mamanya Manda sambil menyerahkan sebuah amplop, "Nenek hanya bisa bantu sampai sini. Sisanya terserah Kamu, jika suatu hari nanti Kamu ingin menyerahkan boneka ini pada orang lain, harus yang masih ada hubungan darah denganmu. Jika Orang itu menyerahkan bonekanya pada Orang lain yang tidak ada hubungan darah dengan Kalian, maka ... jiwanya akan langsung menggantikan jiwa Manda dan Putrimu akan tersesat di Dunia Lain. Kecuali .... "
"Maksud Nenek, Manda bisa menolong orang lain?" tanya Mamanya Manda, sambil memandang babby doll yang kini sedang tersenyum, "Iya, itu terserah pada Manda. Resikonya adalah, jiwamu yang akan terganggu! Kau akan hidup tapi mati!" kini wanita itu hanya bisa menutup mulutnya, "Baiklah, Aku akan pastikan untuk menyerahkan jiwa orang yang tak ku kenal setiap tahun."
Tiba-tiba Aku sudah berada di jalan yang sepi lagi, tapi kali ini hujan lebat ... Aku melihat seorang Gadis tengah berjalan dengan santai sambil memayungi dirinya, dengan payung yang tak asing bagiku. Wajah Gadis itu tak terlihat, namun dari arah berlawanan sebuah mobil melaju dengan kencang dan ... menabrak Gadis kecil itu. Aku kini bisa melihat wajahnya. Kak Lala ... tak salah lagi itu Kakak ku. Orang yang mengendarai mobil itu keluar, tapi ia hanya membawa sesuatu di sebuah tas. Sebuah boneka, baby doll ... ia menyentuh kepala Kak Lala yang berdarah dengan boneka itu, lalu beranjak dengan dingin. Aku bisa melihat wajah wanita itu, yang tak lain adalah Mamanya Manda.
*
Sekarang Aku sudah mulai mengerti semuanya, tapi yang belum Aku tahu apakah Aku bisa kembali pada tubuhku atau Aku akan terjebak di sini selamanya.
"Lola ... Kamu bisa memegang tanganku?" Aku terkejut seketika, Manda kini berdiri tepat di depanku. Dengan rambut panjangnya yang terkepang dua, ia tersenyum.
"Manda ....?" ucapku memastikan.
"Iya, ini Aku Manda. Aku senang bisa menemukan Kamu. Bawa Aku pulang Lola, Aku tak ingin berada dalam boneka itu selamanya. Tolong bantu Aku."
"Bagaimana caranya Aku membantumu, sedang jalan kembali saja Aku tak tahu? Bukankah Kamu yang membawa Aku kemari?"
"Bukan Aku, tapi Kakakmu. Dia selalu menolongmu ... di sampingmu," ucap Manda sambil menunjuk ke arah samping kananku.
Aku memalingkan wajahku ke samping kanan dan ... benar saja, di sana Kak Lala sedang tersenyum. Lalu dia mendekat ke arahku dengan wajah pucatnya, Kak Lala mengenggam tanganku yang sebelah kanan. Lalu Manda juga menggenggam tanganku yang sebelah kiri.
Saat Aku membuka mata, kini Aku bisa melihat dengan jelas Mama sedang menangis. Begitu pun Papa yang langsung memeluk Mama.
"Kamu sudah sadar Sayang? Syukurlah ... tadinya Mama mau bawa Kamu ke Rumah Sakit, tapi Papa tak mengizinkan. Ternyata Kamu hanya mimpi buruk."
"Mimpi? Skarang jam berapa Ma?" tanyaku heran pada Mama.
"Ini baru jam 10 pagi Sayang. Mama sudah sangat khawatir tadi, Kamu mengigaunya cukup lama. Sekitar 30 menitan. Untungnya Papa sudah sampai."
__ADS_1
Ternyata semua mimpi itu hanya berlangsung singkat? Aku kira saat terbangun nanti Aku sudah berada di Rumah Sakit. Syukurlah ....
"Sakit gak badan Kamu Sayang? Apa perlu kita ke Rumah Sakit sekarang?" Papa bertanya dengan wajah yang khawatir, "Gak perlu Pa, Lola baik-baik saja kok. Cuma mimpi buruk, gara-gara nonton film horor ... hehe .... " ucapku sambil tertawa lebar pada Papa dan Mama yang hanya menggelengkan kepala.
"Makanya mulai sekarang stop nonton film horor lagi ya .... " ujar Mama sambil mencubit lembut hidungku, "Iya Ma, janji ... Lola gak akan nonton horor lagi."
Tiba-tiba Aku baru ingat baby doll ... tak ada di samping kiriku, "Ma, Mama liat baby doll gak?" tanyaku pada Mama seraya bangun dari tempat tidurku dan melihat ke sekelilingku.
"Baby doll apa Sayang? Kamu mau pake baby doll apa gimana?" tanya mama bingung.
"Bukan baju Ma, tapi boneka baru Lola ... yang di kasi sama Rara ... ada di sini, tapi sekarang kok gak ada .... "
"Dari pertama Mama ke kamar Kamu, gak ada boneka baru Sayang. Atau Kamu salah naroh kali."
"Enggak Ma, baby doll itu ada di sini .... " sambil menggeledah tempat tidurku yang penuh dengan boneka. Tapi tetap tak bisa ku temukan boneka bayi itu.
"Ya udah, nanti di cari lagi ya ... Kita sarapan bareng yuk. Papa harus cepat ke Kantor nih. banyak yang harus di kerjakan." ajak Papa.
Meski berat, kuikuti juga langkah Mama dan Papa. Dengan tetap menyapukan pandanganku keseluruh ruangan, berharap menemukan baby doll. Namun tetap nihil hasilnya.
*
Tak terasa sudah seminggu Aku mengalami mimpi yang aneh itu, dan kehilangan baby doll. Sudah Aku cari ke seluruh koleksi boneka, hingga ke ruangan-ruangan lain di Rumah ini tetap tak ketemu.
Saat Aku hampir menyerah, Aku baru teringat sahabatku Rara. Karena sibuk mencari baby doll, Aku bahkan lupa pada Rara yang memberikan boneka itu padaku.
Segera kuhubungi ponsel Rara yang memang sudah seminggu ini tak ada kabar itu. Beberapa kali kuhubungi, namun tak ada jawaban. Tumben Rara tak mengangkat teleponku.
Akhirnya kuputuskan untuk berkunjung ke Rumahnya. Ternyata Rara tengah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat. Tapi kulihat wajahnya terlihat kusut, seperti orang yang sudah berhari-hari tak tidur.
"Kamu kenapa Ra?" tanyaku pada Rara yang masih bersedia duduk sebentar.
"Selama seminggu ini Aku sama Orangtuaku harus bolak-balik ke Rumah Sakit La .... " jawab Rara lemas, "Siapa yang sakit Ra?"
"Tante Fira, kasian tanteku itu ... gak ada yang nemenin Dia ... Suaminya udah meninggal, Putrinya juga. Satu-satunya sudara Tante Fira, ya ... Mama."
"Aku boleh ikut jenguk gak?"
"Kamu beneran mau La? Kebetulan Papa dan Mama harus kerja hari ini, jadinya Aku sendiri nemenin Tante. Bisa kebayang gimana rasanya. Kalo Kamu mau, sekarang Kita perginya."
*
"Tante Kamu sakit apa Ra?" tanyaku pada Rara saat Kami sudah berada di Rumah Sakit, dan tengah menuju ke ruangannya di deretan ruang VIP.
"Koma La, persisnya Aku gak tahu. Tapi Tanteku ditemukan ARTnya sudah tak sadarkan diri di Kamarnya. Sampai sekarang Tante Fira belum membuka matanya."
"Ada riwayat penyakit jantung mungkin Ra?"
"Gak ada, Dokter juga bingung dengan kondisi Tante. Penyebab ia tak sadarkan diri masih jadi misteri, lebih tepatnya Tante itu sekarang koma."
Tak terasa Aku dan Rara telah sampai di depan Ruangannya Tante Fira. Saat Masuk, betapa terkejutnya Aku melihat Tante Fira yang ternyata adalah Mamanya Manda dan baby doll yang kucari selama ini sedang menatapku dan Rara sambil tersenyum lebar di sudut kamar.
SELESAI
-------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊
__ADS_1