Kopi Dan Gula

Kopi Dan Gula
49. LIBURAN (Dua)


__ADS_3

Gadis dengan wajah mengerikan itu semakin mendekat, Zefanya langsung berteriak dengan kencang. "Tidaaaak!"


Secara refleks Wanda menghentikan mobilnya, ketiga Gadis tersebut langsung terantuk ke depan, "Kenapa lagi sih Ze?" tanya Wanda pada Zefanya yang kehilangan keseimbangannnya.


"Itu Wan, Vi ... di sampingku ada ... sambil menunjuk ke sampingnya yang diikuti dengan tatapan Livia dan Wanda secara bersamaan ... namun di sana tak ada siapa pun.


"Ada apa Ze? Kamu jangan halu deh, Kita udah deket nih," ucap Wanda kesal pada Zefanya yang hanya bisa menutup mulutnya, lalu mengucek matanya berulang kali.


Tak ada siapa pun di sana, tapi Gadis itu yakin dengan penglihatannya sebelumnya. Hanya saja ia tak ingin membuat Wanda dan Livia yang hanya bisa menggelengkan kepalanya semakin kesal.


***


Akhirnya mereka sampai juga di tempat yang dituju. Sebuah Rumah yang sangat besar, sangat menonjol karena hanya berdiri kokoh sendirian.


Dalam gelapnya malam, bangunan itu terlihat semakin angkuh dan ... menyeramkan. Entah mengapa, Zefanya terasa merinding.


Wanda membuka pintu gerbangnya yang cukup besar tersebut, dengan di bantu Livia. Zefanya tak ingin sendirian di mobil, karena kejadian yang sebelumnya ia alami.


Setelah pintu terbuka, Wanda kembali ke belakang kemudi. Livia dan Zefanya memilih untuk berjalan kaki saja, menuju ke Rumah yang sudah di depan mata.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya Tante Intan keluar juga. Wanda langsung memeluk Wanita yang menggunakan piama tersebut. Livia dan Zefanya menjabat tangan, wanita paruh baya yang sepertinya baru saja bangun dari tidurnya.


"Maaf ya, Tante ... Kita bangunin Tante selarut ini," ucap Wanda saat mereka semua duduk di Ruang Tamu Tante Intan.


"Gak apa-apa Sayang ... Kalian pasti capek ya, istirahat aja dulu. Atau mau makan juga boleh, Tante sudah siapin makan malamnya di Dapur. Tinggal dipanasin aja."


"Gak usah repot-repot Tante. Kita kayaknya mau langsung istirahat aja. Ya kan Ze? Atau Kamu gimana Wan?" tanya Livia pada Zefanya dan Wanda secara bergantian.


"Istirahat!" jawab keduanya bersamaan. Membuat mereka semua tertawa.

__ADS_1


"Ya udah, Kalian istirahat aja ya ... Kamar tidurnya juga udah siap, mau bersih-bersih dulu juga bisa. Ada Kamar Mandi di dalam. Tante tinggal dulu ya, soalnya Tante lagi kurang sehat. Semoga tidur nyenyak semuanya."


"Iya Tante, makasih ... " jawab Livia pada Tante Intan yang mulai beranjak ke Kamar Tidurnya, yang terletak agak jauh dari Kamar Tamu yang akan mereka tempati.


"Jadi, sekarang langsung ke Kamar aja guys?" tanya Wanda pada Livia dan Zefanya yang langsung mereka jawab dengan anggukan.


Sesampainya mereka di Kamar Tidur yang cukup luas, dengan tempat tidurnya yang besar itu. Zefanya dan Livia langsung menghempaskan tubuh mereka yang kelelahan di atasnya.


"Kalian tidur di sini aja berdua ya ... Aku mau tidur di Kamar tengah, yang memang biasa Aku tempati kalo ke sini," ucap Wanda pada Livia dan Zefanya.


"Kamu gak apa-apa sendiri Wan?" tanya Zefanya pada Wanda yang langsung tersenyum, "Gak apa-apalah Ze ... kan Aku emang udah biasa di sini. Udah, Kalian berdua langsung istirahat aja, biar besok pada fresh buat bikin kontennya. Okay ... " Livia dan Zefanya hanya memberikan isyarat dengan tangan mereka.


Setelah Wanda pergi, Zefanya langsung bangkit dari tempat tidur dan memastikan Wanda masuk ke Kamar tengah, tepat di samping Kamar Mereka sekarang, lalu menutup pintu kamar mereka dan menguncinya.


"Livia, bangun Vi ...." ucap Zefanya sambil menggoyangkan tubuh Livia yang mulai terlelap.


"Kenapa sih Ze ... Aku capek banget nih, mau tidur," ujar Livia sambil menepis tangan Zefanya yang terus mengguncang tubuhnya.


Walaupun enggan, Livia tetap membuka matanya dan duduk di atas tempat tidur.


"Kamu gak merasa ada yang aneh Vi?" tanya Zefanya dengan berbisik.


"Apanya yang aneh sih Ze? Kamu tuh yang aneh, dari perjalanan aja Kamu udah halu parah!"


"Aku gak halu Vi, serius ... Aku sekarang takut banget!" Gadis itu, kini terlihat sangat ketakutan, wajahnya benar-benar menjelaskan semuanya.


"Apa yang membuat Kamu takut?" Livia kini juga mulai merasa takut, seperti Zefanya.


"Aku merasa Wanita yang menyambut Kita tadi bukan Tantenya Wanda Vi, Aku lihat Dia sebelumnya ... di Mobil! Meski wanita yang kulihat sebelumnya berlumuran darah, tapi Aku yakin itu Dia. Ditambah lagi dengan wajahnya yang pucat dan tangannya yang sangat dingin saat berjabat tangan dengan Kita. Aku semakin yakin, makanya tadi Aku lebih banyak diam."

__ADS_1


"Terus kalo itu beneran bukan Tantenya Wanda, siapa itu Ze? Wanda kayaknya biasa aja ... Aku emang ngerasa ganjil juga soal tangan dinginnya Tante Intan, tapi Aku pikir itu karena emang cuaca yang dingin banget di sini. Terus soal wajahnya yang pucat, kan tadi kata Tante Intan Dia emang ngerasa kurang sehat Ze ... "


"Terus soal Perempuan yang ada di mobil gimana Vi? Aku yakin itu Dia!" Zefanya seperti ingin menangis, agar Livia percaya dengan perkataannya.


"Itu cuma halusinasi Kamu aja Ze. Kamu kan baru bangun tidur juga tadi? Udah ah, Kita tidur aja yuk ... Kamu harus banyak istirahat juga tuh, biar lebih tenang. Besok Kita harus fresh seperti kata Wanda tadi. Aku cuci muka dulu ya, Kamu juga Ze biar lebih seger juga."


Zefanya menyerah untuk meyakinkan Sahabatnya dan masuk ke Kamar Mandi untuk membersihkan wajah dan tubuhnya, setelah Livia selesai menggunakan Kamar Mandinya. Agar Zefanya merasa lebih segar, meski tak bisa dipungkiri, perasaannya masih merasa tak tenang.


Usai membersihkan diri, Livia langsung tertidur dengan nyenyak. Sedangkan Zefanya dengan susah payah membuat dirinya bisa tidur, dengan banyaknya lolongan Anjing yang saling bersahutan. Tapi akhirnya rasa takutnya mampu dikalahkan oleh kantuk yang mendera, karena tubuh yang terlampau penat.


***


Pagi menjelang, Zefanya membuka matanya enggan. Saat Livia membangunkannya.


"Ze, bangun. Udah pagi nih ... yuk Kita sarapan, terus ke Air Terjun!" ajak Livia pada Zefanya.


"Hmmm ... bentar lagi ya Vi .... " ucap Gadis itu masih dengan menutup matanya, "Ayo mandi sana, biar seger badannya. Yuk ... entar kalo mataharinya udah panas, Kita bakal malas jalannya. Ayo ... Ze ... " sambil menarik tangan Zefanya, Akhirnya Livia berhasil membuat Gadis itu membuka matanya.


"Aku tunggu di depan ya, Wanda juga udah bangun tuh. Tadi Dia ke sini." Zefanya hanya menjawab Livia dengan anggukan.


Dengan langkah berat, akhirnya Zefanya sampai juga ke Kamar mandi dan mengguyur tubuhnya yang lelah dengan air yang sangat dingin. Matanya langsung terbuka dan merasa segar.


Sambil mengguyur air ke seluruh tubuhnya, Zefanya teringat kejadian kemarin. Gadis itu bergidik ngeri, sambil memikirkan taktik agar bisa keluar dari Rumah ini secepatnya.


Dengan gerakan cepat, Zefanya segera berganti pakaian yang lebih santai dan hangat. Segera Zefanya membawa tas ransel yang bisa memuat beberapa barang penting miliknya.


BERSAMBUNG ....


----------------------------

__ADS_1


Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊


__ADS_2