
"Baik ... Aku janji ... tolong percaya sekali lagi, besok. Ya ... besok Aku akan katakan pada Orangtuaku. Jangan malam ini, mereka baru saja ada masalah. Aku mohon Kamu mengerti ya ... Riani Sayang .... " ucap Dino seraya memeluk Riani yang semakin terisak. Meski berat, gadis itu mengangguk juga.
***
"Apa? Kamu menghamili Pembantu Kita? Mau taruh di mana muka Mama sama Papa?" suara Buk Anggi menggelegar marah. Matanya tajam menatap Riani dan Dino yang menunduk takut.
"Kamu ... Saya kira Kamu itu Gadis polos! Tak tahunya Kamu tak lebih dari seorang PENGGODA!" ucap buk Anggi sambil menunjuk marah pada Riani yang mulai terisak.
"Maafkan Saya Nyonya ... Tapi Kami saling mencintai .... " ucap Riani di sela tangisnya.
"Mencintai harta Anak Saya maksud Kamu? Dino itu Anak Tunggal, satu-satunya Pewaris kekayaan Papanya, Majikan Kamu! Dasar Perempuan mata duitan! Saya jadi ragu, Bayi yang ada di perut Kamu itu memang Anak Dino!"
"Ma, itu gak mungkin ... Riani Gadis baik-baik. Dia melakukannya hanya dengan Dino. Benar kata Riani tadi Ma, Kami saling mencintai .... "
Plaak !!!
Keras buk Anggi menampar Putranya. Riani terlonjak dari duduknya, segera membantu Dino bangkit dari posisinya yang sedikit terjatuh.
"Ini balasan Kamu atas semua yang sudah Mama dan Papa beri selama ini Dino? Kamu hanya membuang kotoran ke wajah Kami. Kamu itu masih terlalu muda untuk mengerti arti cinta yang sebenarnya! Kamu hanya tergoda Wanita ini! Dia hanya ingin harta Kamu saja!"
"Tidak Nyonya ... Saya ... "
"Tutup mulut kotormu itu Riani! Saya semakin muak melihat wajah Kamu. Segera angkat kaki dari Rumah ini!"
Riani bersiap untuk bangkit dari posisinya, tapi ditahan oleh Dino, "Bagaimana dengan Anak Dino Ma?" tanya Dino mengiba pada Mamanya.
"Gugurkan! Mama tak sudi punya Cucu dari Pembantu! Sudah Mama bilang tadi, kalo Mama ragu itu Anak Kamu!"
"Tapi Ma .... " Dino semakin kalut melihat Riani yang menarik tangannya dari genggaman Dino.
"Kamu Pilih Wanita penggoda ini atau Mama dan Papa? Beruntung Papa tak ada sekarang, jika Papa ada di sini ... Mama tak tahu apa yang akan Papa perbuat. Ingat masa depan Kamu Dino. Jika Kamu lebih memilih Wanita ini, maka tinggalkan Rumah ini dan semua mimpi Kamu!"
Perlahan tapi pasti, genggaman tangan Dino mulai melemah dan terlepas. Riani segera lari ke Kamarnya. Dino hanya menangis di tempat. Ia mencintai Gadis itu, tapi tak bisa dipungkiri juga betapa ia tak bisa melepaskan mimpi-mimpinya. Terutama kehidupannya sekarang.
Riani keluar dari Kamar dengan sebuah tas besar di tangannya. Saat ia melewati Dino dan Anggi, Riani menatap lama Pria yang ia cintai itu. Namun kini cinta itu telah jadi benci. Riani tak menyangka ia bisa percaya pada Pria pecundang seperti Dino.
"Ini gaji Kamu dan untuk menggugurkan kandungan Kamu!" ucap buk Anggi sambil melemparkan sebuah amplop tebal.
Riani mengambilnya, dan menyerahkannya kembali pada Majikannya.
"Maaf Nyonya, Saya tidak berniat menambah dosa Saya. Meski Saya tak berpendidikan, tapi Saya masih punya hati nurani. Saya tahu telah melakukan dosa besar, tapi Saya tak ingin lebih menyesal lagi karena membunuh darah-daging Saya sendiri. Saya rasa sebagai seorang Ibu harusnya Nyonya lebih tahu rasanya kehilangan Anak seperti apa. Satu-satunya penyesalan Saya sekarang adalah mencintai Putra Nyonya yang ternyata seorang pengecut dan pecundang. Semoga hidup Nyonya Sekeluarga selalu bahagia. Maafkan atas semua kesalahan Saya dan Terimakasih untuk Kebaikan Nyonya selama ini. Saya permisi ... "
Anggi hanya terdiam di tempat. Ada rasa marah dihatinya, tapi ada rasa sakit di hatinya saat mendengar ucapan yang menusuk dari Gadis yang kini melangkah pergi dari Rumahnya dengan luka yang ia torehkan.
__ADS_1
Tapi bagi Anggi, kehormatan dan nama baik lebih utama dibanding hati-nuraninya yang sempat tersentuh.
***
Riani meninggalkan Rumah yang memberinya kebahagiaan dan luka yang sulit untuk sembuh. Gadis itu melangkah dengan gontai ke arah yang tak tahu kemana.
Riani hilang harapan, sempat terfikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun saat memegang perutnya yang belum terlalu besar, ia hanya bisa menangis. Gadis itu tak ingin menjadi Pembunuh. Seberapa sakitnya pun hatinya sekarang, tak membuatnya gelap mata.
Lembaran kehidupan yang baru Riani buka dengan penghasilan selama bekerja di Rumah buk Anggi yang ia kumpulkan. Belum lagi sejumlah uang yang pernah Dino berikan, Riani sempat menolaknya beberapa kali namun tetap dipaksa Dino. Akhirnya Gadis itu mengalah dan menerima uang itu, tapi untuk ia tabung.
Kini sepertinya uang itu cukup untuk ia bertahan hidup dengan calon Anaknya nanti.
Riani memutuskan pulang ke Desanya. Ia tak peduli dengan tatapan menyelidik penduduk Desa, ia hanya menjawab sudah menikah dan Suaminya meninggal. Mereka percaya dengan ucapannya, malah jadi kasihan dengan keadaannya.
Riani mendapatkan pekerjaan yang bisa dilakukan Ibu hamil, yaitu menjahit beberapa souvenir pernikahan. Seperti bros dan sebagainya. Kadang ia bawa pulang ke Kontrakannya, lalu diserahkan keesokan harinya. Penghasilannya tergantung jumlah souvenir yang berhasil ia jahit.
***
Bulan terus berganti, hari kelahiran pun tiba. Dengan dibantu tetangganya, Gadis itu melahirkan secara normal di Puskesmas di Desanya. Betapa bahagianya Riani melihat dua putri cantik dalam gendongan Bidan dan Suster.
Air mata haru tumpah dari matanya yang bening, sebuah kebahagiaan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Riani telah menjadi Ibu dari dua Putri yang ia beri nama Shafa dan Marwah.
FLASH BACK OFF
Wanita yang kini telah memasuki usia 25 tahun itu hanya bisa bersyukur atas karunia yang sangat berharga bagi hidupnya. Shafa dan Marwah yang tak pernah menuntut banyak hal. Seolah dua Putri kecilnya itu mengerti kesulitan hidup mereka. Tapi Shafa dan Marwah selalu terlihat bahagia, mereka bahkan sangat tenang di Rumah jika ditinggal Riani untuk kerja.
Shafa dan Marwah pernah bertanya mengenai sosok Bapak mereka, tapi saat dijawab Riani telah meninggal keduanya tak bertanya lagi. Atau bahkan menuntut untuk melihat wajah Bapak, mereka tak pernah.
Bagi kedua Putri Kecilnya, memiliki Riani dalam hidup Mereka itu sudah lebih dari cukup. Benar-benar Anugerah terindah yang dimiliki Riani dan ia Syukuri di setiap harinya.
***
Hujan belum juga reda, Riani semakin gelisah di tempat duduknya, "Ibu belum pergi kerja?" Shafa sudah bangun tidur rupanya, dan menghampiri Riani. Wanita itu langsung menoleh pada Putrinya dan tersenyum.
"Iya Sayang, hujannya masih sangat deras. Shafa bobo aja lagi. Ibu sudah siapkan sarapannya di meja yaa ... ada telor ceplok kesukaannya Shafa dan Marwah ... "
"Shafa mau temenin Ibu aja. Kalo ujannya reda, baru Shafa bangunin Marwah buat sarapan. Boleh ya Buk?" tanya Gadis kecil itu polos.
"Terserah Shafa aja Sayang .... " jawab Riana sambil memeluk Putri Kecilnya agar tak kedinginan.
Saat keduanya tengah asyik bercanda, terdengar keributan di jalan tak jauh dari Rumah. Beruntung hujan tak terlalu deras lagi, sehingga Riana bisa mengecek apa yang telah terjadi. Tapi Shafa tetap di Rumah, menemani Marwah yang masih tidur.
Semakin dekat Riana dengan asal suara yang cukup keras tadi, entah mengapa jantungnya berdetak sangat keras. Riana bahkan harus memegang dadanya yang bergemuruh.
__ADS_1
Sudah banyak warga yang berkumpul, Riana berjalan perlahan. Wanita itu ingin tahu apa yang tetjadi, tapi langkahnya terasa berat.
"Kasian sekali Orang itu ... "
"Sepertinya gangguan Jiwa .... "
"Bukan Warga sini kelihatannya .... "
"Belum ada kendaraan yang bisa digunakan untuk membawanya ke Puskes .... "
"Atau amankan saja dulu ke Rumah terdekat ...."
"Rumah terdekat ... Riani ... ia, hanya Kontrakan Riani yang ada di dekat sini ... itu orangnya. "
Demikianlah suara-suara Warga yang ditangkap Riani dengan indra pendengarnya. Tapi Wanita itu masih tidak mengerti dengan perasaannya sekarang.
Saat seorang Warga menyebut namanya, gadis itu hanya mengiyakan saja.
Rupanya telah terjadi sebuah kecelakaan, seorang Pria tak dikenal jatuh di selokan besar yang sementara perbaikan. Kepalanya terbentur pada pinggiran selokan yang sudah di cor kemarin.
Entah karena tak melihat, atau seperti dugaan Warga Pemuda tersebut mengalami gangguan jiwa. Dilihat dari penampilannya yang tidak terurus dan bahkan aroma tubuhnya masih menyengat, walaupun sudah basah oleh air hujan. Entah sudah berapa lama Pria itu tak mandi.
Semua Warga Pria mengangkat tubuh yang sudah tak sadarkan diri dan tak bisa dikenali wajahnya itu karena penuh dengan darah ke Rumah Riani.
Karena badannya yang kotor, mereka membaringkannya di lantai teras. Sambil menelpon Puskesmas di Desa, yang jaraknya cukup jauh dari sini. Agar bisa dijemput dengan Ambulance.
Riani mendekat pada tubuh yang mulai bergerak itu, pelan tapi pasti bibir pria itu terbuka dan mengucapkan satu kata ... Riani ... sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
***
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Dino. Pria yang mengorbankan Gadis yang ia cintai karena keegoisannya sendiri. Tapi Pria itu nyatanya tak pernah merasa bahagia.
Pernikahannya gagal, Istrinya selingkuh dengan temannya sendiri dan membawa lari semua asetnya. Perusahaannya bangkrut. Orangtuanya meninggal karena serangan jantung, dan akhirnya Dino mengalami depresi hingga benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Selama ini ia terus berjalan tanpa arah, yang ada dalam benaknya hanya Riani. Satu-satunya nama yang ada dalam hati dan pikirannya bahkan saat ia tak sadar sekalipun.
Takdir membawa Dino pada Riani, saat ia menghembuskan nafas terakhirnya. Untuk pertama dan terakhir Shafa dan Marwah melihat Bapak mereka.
SELESAI
------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊
__ADS_1