
Setelah membereskan semua peralatan
kerjanya, Rizki pun segera pulang ke Rumah dengan begitu banyak pertanyaan dalam benak yang belum menemukan jawabannya. Setelah membersihkan Diri, Rizki pamit pada Bapaknya yang sedang duduk di Teras.
"Pak, Rizki pamit ke Kota dulu yaa Pak ... Doakan agar Anak Bapak ini tidak melakukan hal yang buruk, entah kenapa perasaan Iki gak enak Pak ... "
"Bapak pasti akan selalu Mendoakan Kamu Nak, selalu ingat pesan Bapak ini. Apapun keputusan Kamu, Ikhlaslah dalam menjalaninya. Seberat apapun Rintangan di depanmu, jangan pernah menyerah. Lakukan yang terbaik, selanjutnya serahkan pada Allah. Libatkan Allah dalam setiap Keputusan yang Kamu ambil dalam hidup Kamu."
"Baik Pak, Rizki akan selalu ingat Pesan Bapak .... Makasih yaa Pak," sambil mencium punggung tangan Bapaknya dengan Hikmat, Rizki pun pamit pada Bapak dan kedua Adiknya. Beruntung hari ini adalah hari minggu, jadi Rizki bisa dengan tenang meninggalkan Bapak di Rumah.
***
Arunika menunggu dengan gelisah, entah ini benar atau salah. Gadis ini sebenarnya tak yakin dengan apa yang ia lakukan sekarang, tapi sebagian besar dari Hatinya menuntunnya untuk melakukan ini. Akh ... kenapa harus sesulit ini? batinnya dalam hati. Kembali ia meminum Jus Jeruk yang sudah dipesannya tadi.
Kembali Arunika coba menghubungi Rizki, tapi sebelum panggilannya tersambung Pria itu sudah sampai di Pintu masuk Cafe 'R' yang jadi tempat mereka bertemu sekarang. Pria tinggi tersebut menyapu seluruh Ruangan dengan pandangan matanya untuk mencari Arunika. Runi segera melambaikan tangannya pada Rizki, saat matanya memandang ke tempat Arunika duduk.
"Terimakasih Ki, Kamu sudah mau datang menemuiku," ucap Arunika pada Rizki, setelah Pria itu duduk.
"Tidak maslah Runi, tapi kalo boleh Aku tahu ada masalah penting apa sampai Kamu menyuruhku kesini? Apa ini tentang Bapak?" tanya Rizki dengan nada khawatir pada Arunika yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan Ki, ini bukan tentang Bapak Kamu ... Ini tentang Putra Sulungnya ...." sambil menatap sedikit malu pada Rizki yang tak mengerti dengan ucapan Arunika.
"Maksud Kamu?.... "
"Iya .... ini tentang Kamu dan ... Aku. Lebih tepatnya tentang perasaan Kita. Aku tahu ini ... Ini terdengar gila. Tapi Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku akan dijodohkan Ayahku Ki, dan Aku tak mau! Karena Aku telah mencintai Seseorang!" dengan tatapan yang berbeda Arunika menumpahkan kegelisahannya pada Rizki yang tampak tersentak.
"Maafkan Aku Runi, tapi apa hubungannya dengan ... -" belum selesai Rizki bicara, Arunika langsung berdiri dan mendaratkan telapak tangannya pada Pipi Rizki, yang membuat Pria tersebut kaget dan kehabisan kata. Beberapa pasang mata sontak langsung melihat ke arah mereka, namun tak melakukan apapun. Mereka hanya berfikir itu pertengkaran sepasang kekasih.
"Sakit Ki? Kamu tahu gak sesakit apa Perasaanku sekarang? Aku bahkan seperti sudah kehilangan Akal, dan ... Diriku sendiri. Aku tidak tahu lagi dengan apa yang tengah Aku lakukan sekarang. Aku hanya tahu bahwa Aku akan tersiksa jika tak mengatakan ini! Jika Aku hanya menunggu seseorang yang tidak jelas Perasaannya Padaku seperti apa. Biarlah ini jadi yang pertama dan terakhir bagiku. Untuk apa Aku memperjuangkan hal yang sia-sia! Aku sudah menahan perasaanku tapi tak bisa, Aku semakin tersiksa karenanya. Aku tersiksa dengan Perasaan Cintaku untukmu, yang selama ini diam dan seperti menghindar dariku! Sakit Ki ... Aku ...-" sambil menangis, Arunika menumpahkan semua perasaannya selama ini.
"Maafkan Aku Runi ... Selama ini Aku menghindar, karena Aku merasa tidak pantas berada di sampingmu .... "
"Kamu fikir Aku peduli dengan itu semua? Jika Kamu merasa tidak pantas. Pantaskan Diri Kamu! Aku tidak bisa berjuang sendiri Ki! Aku seperti Orang Bodoh ... Aku bahkan tak tahu bagaimana perasaanmu Padaku!"
"Aku mencintai Kamu lebih dari yang Kamu tahu Arunika! Sangat! Kamu tidak tahu bagaimana rasanya memiliki perasaan yang bahkan tak bisa Kamu ungkapkan karena takut semuanya hanya Mimpi yang akan hilang saat terbangun nanti. Aku sudah terbiasa dengan menahan keinginanku akan segala hal. Tapi tidak untuk Perasaanku Padamu. Seberapa keras Aku berusaha, Aku tidak bisa! Bapak sudah tahu dengan perasaanku dan mendukungku. Bapak selalu tahu yang terbaik untuk Anaknya." terhenti sejenak kalimat yang di ucapkan karena pesanan minuman dan makanan Mereka telah disajikan.
__ADS_1
"Kamu tahu Runi, sekarang bahkan Aku tengah berusaha lebih keras untuk bekerja. Aku sedang mencoba untuk memantaskan Diri ini agar bisa mendampingi Arunika Putri Darmawan. Bukan dengan kata, tapi dengan bukti. Karena itu, Aku tak ingin hanya mengumbar janji untukmu. Jika sudah tiba waktunya, Aku akan memintamu sebagai Pendampingku," sambil menatap dalam Arunika yang kini makin terisak.
"Soal perjodohan Kamu ... Apa kamu kenal dengan Pria yang akan dijodohkan denganmu?"
"Iya Ki, Aku sangat mengenalnya ... Tapi selama ini Aku hanya menganggapnya Teman. Orangtua Kami berteman, itulah alasannya .... " belum selesai Arunika menyelesaikan kalimatnya, tampak seseorang menepuk pelan punggung Rizki. Sontak Pria yang perasaannya sedang beradu ini menoleh.
"Dion?" kaget dan tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Rizki menatap Dion dengan banyak tanya dalam pandangannya, yang hanya dijawab dengan senyuman dan anggukan oleh Dion.
"Sudah Lama Ki?" tanya Dion pada Rizki, saat ia turut Duduk di samping Rizki yang masih belum hilang dari rasa kagetnya.
"Belum ... Kamu .... Runi?" terbata Rizki bertanya pada Dion dan Arunika sambil menatap keduanya bergantian. Seolah mengerti, Mereka menjawabnya dengan anggukan.
"Benar Ki, Aku dan Runi memang akan dijodohkan Orangtua Kami. Tapi Kamu tenang saja, Aku dan Runi tidak saling mencintai. Benar kan Arunika?" ujar Dion pada Rizki yang di Amini oleh Runi, "Karena itu, Aku dan Runi sepakat untuk bekerja sama membuat acara Perjodohan ini batal. Tapi Kami tidak bisa melakukannya berdua, Arunika juga ingin memastikan perasaanmu padanya," sambil menatap Rizki yang hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.
"Aku akan berjuang, jika memang harus dilakukan untuk mendapatkan Runi. Tapi apa benar Kamu tak punya Perasaan apa-apa pada Arunika?" tanya Rizki pada Dion yang langsung tertawa mendengarnya.
"Kalo Aku punya perasaan pada Runi, untuk apa Aku repot-repot membatalkan perjodohan ini? Pertanyaan Kamu lucu! Aku sudah punya seseorang yang Aku cintai. Kamu tenang saja, ini tidak akan mengubah apapun diantara Kita. Sekarang yang paling penting adalah mencari cara agar rencana ini berhasil!"
"Syukurlah jika memang seperti itu. Apa yang bisa Aku lakukan?" ujar Rizki akhirnya, yang kini mulai terlihat tenang.
"Dion dan Aku akan langsung mengatakan pada Orangtua Kami masing-masing untuk membatalkan perjodohan ini, Orangtuaku pasti akan marah besar. Tapi Aku akan mengatakan pada Mereka, bahwa Aku sudah memiliki Orang yang Aku Cintai. Kamu harus bisa membuktikan Kesungguhanmu Padaku."
"Masalah itu kamu tenang saja, Aku bisa bantu Ki. Anggap saja Aku sedang berinvestasi, lagipula Aku ada diPosisiku yang sekarang berkat bantuan Kamu. Dan karena Kecakapan Kamu dalam membuat Laporan kemarin, Aku yakin Bisnis Kita ini akan lancar. Kebetulan Aku kenal Suplier Alat Pertanian yang berkualitas namun dengan harga dibawah Ki. Karena langsung dari tangan pertama. Gimana?"
"Kamu yakin, Di?" tanya Rizki ragu pada Dion, yang langsung tersenyum, "Tentu saja. Hari ini bisa langsung kita mulai, untuk Tempatnya kebetulan di Desa ada Toko Nenekku yang sudah tidak terpakai. Hanya tinggal dipoles sedikit bisa langsung digunakan. Aku juga akan menghubungi Temanku yang sudah Aku sebutkan tadi."
"Terimakasih ya Di, Aku tak tahu jika tak ada Kamu .... -"
"Jangan sungkan begitulah Ki, ini pertama kalinya Aku punya kesempatan untuk bantu Kamu. Selama ini Aku yang selalu merepotkan. Harusnya Aku yang bilang makasih." kedua Sahabat itu kini berpelukan. Mereka yang dulu hanya sekedar teman SMA, Kini jadi Sahabat yang saling mendukung. Aruni tersenyum lega dan Bahagia melihatnya.
"Jadi saat hari yang direncanakan tiga bulan lagi, semuanya sudah siap kan Di?" tanya Aruni pada Dion, yang langsung mengangguk dengan yakin.
"Tentu saja, semua bisa diurus. Dan Kamu Ki, harus bisa meyakinkan Ayah dan Bundanya Arunika. Rencana soal Pertunangan Kami memang tiga bulan lagi, Aku pikir itu adalah waktu yang cukup untuk membuktikan bahwa Kamu memang Layak untuk Arunika. Yakinlah pada Cinta Kalian Berdua, Aku hanya bisa menolong sampai sini dan yang pasti saat memutuskan Perjodohan Kami nanti," kini Dion menatap dengan tulus pada Arunika dan Rizki yang terharu mendengarnya.
"Itu sudah lebih dari cukup Di ... Sekali lagi Terimakasih atas semuanya," kini semua tersenyum bahagia sambil menikmati hidangan Mereka.
__ADS_1
***
Usai membahas rencana Mereka dalam mengembangkan Usaha tersebut, Rizki pulang ke Rumah dengan harapan baru. Sesampainya di Rumahnya, Rizki menceritakan semuanya pada Sang Bapak yang mendengarkan dengan serius. Bapaknya hanya bisa mendukung langkah Anaknya, tak lupa Pak Rahman berpesan agar Rizki selalu Ikhlas dalam menjalani semuanya.
Semua persiapan untuk membuka Toko yang menyediakan Kebutuhan Pertanian yang cukup Lengkap ini sudah selesai dalam waktu dua hari saja. Semua berkat bantuan Dion, dan kerja keras Rizki yang juga dibantu Aruni di sela tugasnya. Toko yang di beri nama 'Merajut Mimpi' akhirnya Resmi dibuka pada hari keempat. Meski begitu Rizki tetap menanami Kebunnya, namun sudah dibantu oleh Tetangganya. Dengan memberikan Upah yang pantas, Tetangganya dengan senang hati bekerja.
Toko yang cukup besar ini, dalam waktu singkat sudah memiliki pelanggan. Rizki juga menerapkan sistem 'Menjemput Bola' dalam menjalankan Usahanya. Dengan menyediakan Jasa Pesan Antar, dan dipasarkan lewat media Online. Pelanggan Rizki bukan hanya Petani yang ada di Desanya saja, tapi juga Seluruh Petani yang ada di Kecamatan.
Boleh dibilang Toko Merajut Mimpi jadi Pemasok terbesar di Kecamatan. Memasuki bulan kedua, Rizki membuka Cabang Tokonya di Dua Kecamatan yang berbeda. Bahkan sekarang Ia juga sudah menjadi Pembeli hasil Panen Warga di Desanya, dengan harga yang cukup tinggi. Ia hanya mengambil untung sedikit, karena sebagai Orang yang pernah menjalani Pekerjaan itu, Ia tahu bagaimana Kondisi yang harus dijalani para Petani.
Secara tak terduga, Kehidupannya berubah. Rizki sudah Bisa membantu banyak orang dengan Bisnisnya. Salah satunya adalah membuka Lapangan Pekerjaan yang luas bagi Warga di Desanya. Selalu ia Bersyukur atas Pencapaiannya selama ini. Dion sebagai Investor juga merasa Bangga pada Sahabatnya, tak salah keputusan yang ia ambil dulu. Arunika, selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung. Selain membantu Rizki dalam menjalankan usahanya, juga untuk memastikan Pak Rahman baik-baik saja.
***
Tak mudah meyakinkan Orangtua Arunika untuk Merestui Rizki dan Putri Mereka, namun bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Dengan tekad dan keberanian yang sudah tertanam dalam Dirinya, Rizki pun menyampaikan Niat baiknya untuk menjadi Pendamping Hidup bagi Arunika.
"Saya tidak ingin menjanjikan Kehidupan yang Mewah bagi Arunika, tapi Saya akan selalu Berusaha untuk Melindungi dan Mencintai Runi dengan Segenap Jiwa dan Raga Saya."
"Tapi dalam Hidup bukan hanya mengandalkan Cinta!" tantang Ayah Arunika pada Rizki.
"Dengan Cinta Semua akan terasa mudah, dengan Cinta semua hal yang mustahil bisa jadi kenyataan. Karena Cinta Bapak dan Ibu juga, hingga sulit menerima Saya. Tapi itu membahagiakan Hati Saya, karena mengetahui Arunika benar-benar diCintai. Jadi pengingat Diri ini untuk bisa menjaga Putri yang Bapak dan Ibu Cintai kelak," Arunika yang mendengarnya langsung memeluk Bundanya.
"Tolong terima Rizki Yah, Bund ... Runi mencintai Rizki. Ayah dan Bunda juga tak perlu khawatir lagi soal Perjodohan Runi dan Dion, karena bukan hanya Runi yang tak setuju namun Dion juga Yah. Ayah dan Bunda rela membiarkan Runi menjalani Pernikahan tanpa Cinta?" sambil menangis Arunika menatap Ayah dan Bundanya yang kini mulai Luluh.
Tak lama Dion dan Kedua Orangtuanya pun datang, untuk menyampaikan pembatalan Perjodohan. Kedua belah pihak sepakat untuk mengikuti kemauan Putra-Putri Mereka yang kini terlihat Bahagia.
Rizki yang hadir pun turut jadi Perbincangan, Ayah Arunika menjabat tangan Pria itu sambil tersenyum. Mereka semua makan malam dengan bahagia, setelah melewati masa yang sedikit sulit. Semua sadar pada akhirnya Kebahagian yang sejati adalah yang berasal dari dalam hati, bukan karena dipaksakan.
Seperti yang dirasakan Dion saat berniat untuk menjenguk Pak Rahman di Rumah Sakit, Ia mendengar semua yang Mereka bicarakan. Tentang Rizki yang ternyata mencintai Arunika, dan tentang semua Mimpinya yang sempat Pupus. Dion yang juga tahu jika Arunika memiliki Perasaan yang sama, hanya bisa membantu Gadis tersebut untuk bisa mengambil langkah yang cukup berani dengan mengungkapkan isi hatinya pada Rizki.
Dengan Kesanggupan Arunika, semakin meyakinkan Dion untuk mundur dari Perjodohan Mereka. Semakin memantapkan Hatinya untuk merelakan Cinta Pertamanya pada Sahabatnya sendiri.
Karena ia tak ingin menjalani Hubungan yang dipaksakan. Meski sakit, nyatanya ia bisa tersenyum Bahagia melihat Arunika dan Rizki tertawa. Bahagia karena Dirinya jadi bagian di dalamnya. Dion Mahardika berjanji dalam hatinya, untuk hidup lebih baik lagi dan akan Merajut Mimpinya Sendiri. Tanpa Penyesalan.
SELESAI
__ADS_1
------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊