
Setelah Shalat Subuh, Dina segera melakukan tugasnya sebagai Ibu dari dua putra dan satu putri. Memasak untuk sarapan mereka, sekaligus bekal untuk Erik yang bekerja sebagai Kuli Bangunan.
Meski hidup dengan sederhana, tapi Keluarga mereka selalu bersyukur. Anak-anak yang hanya berbeda dua tahun itu juga tak pernah menuntut macam-macam pada Orangtua mereka. Ketiganya adalah Siswa berprestasi di Sekolah.
Putra pertama Alif kelas tiga SMA, Putra kedua Arif kelas kelas satu SMA, dan si Bungsu Anisa kelas dua SMP. Dina dan Erik memang belum bisa membangun Rumah impian mereka, namun keduanya bertekad untuk menyekolahkan Putra-Putri mereka hingga jadi Sarjana.
Karena kecerdasan mereka pula, ketiganya mendapatkan beasiswa dari Sekolah mereka masing-masing. Tak jarang ketiganya menjadi perwakilan Sekolah untuk ikut dalam lomba Sains di tingkat Kabupaten hingga Provinsi. Benar-benar membanggakan.
Selain itu, Anisa juga sering membantu Dina membuat dan menjual aneka macam kue. Biasanya kue buatan Dina akan dititipkan di salah satu Warung Kompleks dan di Kantin Sekolah Anisa. Walau untungnya tak seberapa, setidaknya bisa membantu ekonomi keluarga. Sekali lagi semua dijalani dengan Ikhlas dan penuh rasa Syukur.
Namun semua kebanggaan dan kebahagiaan keluarga mereka, dipandang sebelah mata oleh keluarga Dina yang sebagian besar adalah orang-orang sukses. Terutama jika ada hajatan di salah satu kerabat, terlihat dengan jelas bagaimana mereka memperlakukan Dina dengan sangat berbeda.
Namun Dina tetap sabar dan tak pernah menolak untuk membantu jika diperlukan. Baginya yang namanya Keluarga, tetap harus saling menolong apa pun keadaannya.
Seperti hari ini, rencananya Dina akan ke Rumah Bibinya di Kota sebelah untuk membantu bekerja dalam mempersiapkan pernikahan Tari Anaknya buk Rina, Bibinya Dina.
"Pak, mungkin Ibu pulangnya malam ya Pak ... kalo Bapak gak capek, nanti bisa kan jemput Ibu?" tanya Dina pagi ini saat mereka sarapan.
"Iya Buk, Insya Allah ya ... semoga motornya gak ngambek lagi. Bapak akan cek ke Bengkel siang nanti, biar aman ke Rumahnya Bibi."
"Iya Pak," jawab Dina sambil tersenyum.
"Nisa, nanti pulang Sekolah bisa kan masak Nak? Ibu udah siapin bumbunya dan Ikannya juga tinggal di masak aja," ujar Dina pada Putrinya.
"Iya Buk. Tenang Nisa kan udah belajar dari Ibu .... " jawab Anisa dengan ceria.
__ADS_1
"Jangan keasinan ya Nis, awas lo. Nanti gak bisa dimakan lagi, ya gak Kak?" tanya Arif sambil melirik kakaknya yang hanya mengangguk.
"Tenang Kakak-kakak yang tercinta, Adik tercantik Kakak berdua ini calon juara Master Chef, jadi pasti enak. Ya kan Pak, Buk?" kali ini Anisa yang meminta dukungan dari Orangtua mereka.
"Kalo nanya ke Bapak sama Ibu, ya pastilah jawabannya iya. Gak objektif, tapi yang jadi korbannya Kita," Arif meledek Adiknya yang langsung disambut tawa Dina dan Erik. Anisa yang memang selalu jadi bulan-bulanan kedua Kakaknya hanya bisa cemberut, namun langsung ikut tertawa bersama Arif.
Begitulah pagi Keluarga harmonis ini selalu disambut dengan candaan ringan, namun hangat di meja makan sederhana mereka dengan menu ala kadarnya namun terasa nikmat karena penuh cinta.
Usai sarapan, ketiganya pamit sambil mencium punggung tangan Dina dan Erik, hal yang tak pernah mereka lupakan. Karena Sekolah mereka adalah Sekolah Madratsah yang masih satu Yayasan. Sehingga ketiganya berangkat dan pulang bersama ke Sekolah. Jaraknya juga tak terlalu jauh dari Rumah Kontrakan mereka, sehingga ketiganya memilih untuk berjalan kaki.
***
Setelah membersihkan Rumah, Dina pergi ke Rumah Bibinya dengan naik Angkot ke Kota sebelah. Tak terlalu jauh jarak yang harus ditempuh, hanya sekitar tiga puluh menitan dari tempat tinggal Dina. Tapi ongkosnya cukup mahal, jika harus naik ojek.
*
"Dina, Kamu baru datang ya?" tanya Rina saat Dina menemuinya di dalam Rumah.
"Iya Bi, tadi bersihin Rumah bentar." jawab Dina dengan senyum, namun ditanggapi Bibinya dengan wajah masam.
"Kayak punya Rumah Gedongan aja. Rumah Kontarakan sempit begitu kok jadi alasan untuk dateng jam segini. Bilang aja kamu itu gak suka kerja lama-lama di sini!"
Dengan hati yang sabar, Dina menanggapi cibiran Bibinya dengan senyum, "Iya Bi, soalnya Saya harus masak dulu. Maaf ya, baru bisa datang jam segini. Sekarang Saya bisa bantu apa dulu Bi? ini hanya untuk Akad nikah besok kan Bi? Untuk Resepsinya jadi di Gedung?" tanya Dina untuk mencairkan suasana.
"Iyalah di Gedung! Nanti Kamu datang sama Suami dan Anak-anakmu besok jangan malu-maluin ya ... terus kerjaan sekarang itu banyak! Sekarang langsung aja ke dapur! Kamu itu keluarga, bukan Tamu yang taunya cuma datang, duduk dan makan!" ucap Bibinya masih dengan nada ketus dan berlalu dari hadapan Dina, yang hanya bisa mengelus dada atas perkataan Bibinya barusan.
__ADS_1
Jika bukan karena mengingat kebaikan Orangtua Bibinya pada Keluarganya dulu, mungkin Dina lebih memilih angkat kaki dari Rumah ini sekarang. Tapi ia memilih untuk tetap bersabar, sambil terus melafaskan Istighfar berulang kali dalam hatinya.
Saat tiba di dapur Rumah Bibinya yang luas itu, Dina langsung menyatu dengan beberapa tetangga yang tengah membersihkan bumbu dapur, setelah itu dilanjutkan dengan membersihkan daging ayam dan daging sapi untuk diungkep dulu.
Satu jam kemudian, satu-persatu tetangga mulai berpamitan pulang ke Rumah masing-masing. Sesuai dengan kedatangan mereka, karena memang ada yang datang sejak jam tujuh pagi. Hiingga tinggallah Dina dan tiga tetangga buk Rina yang baru datang beberapa menit yang lalu melanjutkan pekerjaan yang ada.
Pada jam tiga sore, Rani dan Rini yang merupakan adik dari Rina sampai. Mereka berdua hanya sibuk berbicara dengan Rina, tanpa mempedulikan Dina yang sedang sibuk di Dapur. Mereka hanya mengerjakan pekerjaan yang sederhana, seperti melap peralatan makan dan melipat tisu.
Beberapa menit kemudian, saat pekerjaan di Dapur hampir selesai kerabat yang lain mulai berdatangan. Mereka sudah mulai heboh dengan acara akad nikah besok, dan banyak obrolan lainnya tanpa melibatkan Dina. Hanya beberapa yang berbasa-basi menegurnya. Dina hanya menjawab dengan senyuman.
Dina merupakan Anak tunggal dari Orangtuanya yang hanya bekerja sebagai Petani di Kampung asal mereka. Buk Tini (Ibu Dina) merupakan Adik dari Ayahnya Rini pak Danu. Saat Dini lulus SMP, pak Danu menawarkan untuk Dini melanjutkan SMA di Kota dan tinggal di Rumah Mereka.
Orangtuanya mengizinkan, dan Dina pun menamatkan Sekolahnya lalu memlilih menikah dengan Erik. Pemuda yang baik dan Soleh. Dina percaya Erik akan jadi Imam yang baik untuknya kelak.
Hal ini lah yang membuat Dina dibenci hampir semua kerabatnya yang sebagian besar menikah dengan Pria yang Kerja Kantoran atau Pengusaha. Mereka selalu mencibir Dina atas pilihannya, tapi ia selalu sabar. Waktu awal ia menikah, Dina selalu menjawab cibiran mereka dengan emosinya yang memang masih menggebu.
Namun Erik selalu menyadarkan Dina bahwa melawan semua cibiran tersebut dengan argumen tak akan ada manfaatnya dan tak akan merubah apa pun. Selain itu Erik selalu mengingatkan pada Dina untuk selalu Bersyukur dengan apa yang mereka punya dengan terus Ikhtiar.
Tutup mata dan telinga dari semua hal buruk, pandanglah yang baik saja. Agar Kita selalu baik di mana pun Kita berada. Itu lah yang tertanam di hati dan fikiran Dina hingga hari ini. Telinganya bahkan sudah kebal dengan cemoohan kerabatnya.
BERSAMBUNG
---------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊
__ADS_1