
Pria berambut lurus dan sedikit panjang itu terlihat gelisah. Semua kesibukkan di Rumahnya akhir-akhir ini tak terlalu ia pedulikan.
Berbagai pertanyaan yang dilontarkan Ibunya tak sempat ia gubris. Hanya kadang menoleh jika namanya disebut. Tubuhnya ada di Rumah Orangtuanya, tapi hati dan dipikarannya berada jauh di sebuah Desa.
"Dika, Kamu bawa ini juga ya buat Mita ... " ucap Ibu dari Pria tersebut, sambil mengangkat sebuah gamis berwarnah hijau untuk dimasukkan kedalam tas yang akan dibawa Dika pulang ke Rumahnya di Desa.
Dika hanya melihat sekilas dan mengangguk pada sang Ibu yang langsung tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang putih.
"Kue nastarnya juga ya Dik ... " kali ini setoples kue nastar yang diangkat Ibunya, "Gak perlu sebanyak itu Buk. Atau dibungkus plastik aja Buk. Dika gak mau terlalu banyak bawa barang." ucap Pria yang sebentar lagi akan berusia 36 tahun itu.
"Iya Dik, nanti Ibu plastikin aja ya .... " ucap sang Ibu sambil tersenyum hangat. Lalu mendekati Putranya yang sangat terlihat rasa gundah memenuhi wajahnya yang tak seceria biasanya.
"Kamu yang sabar dan tenang ya, semoga Kamu besok bisa pulang sampe ke Desa dengan aman. Ibu dan Bapak selalu mendoakan yang terbaik untuk Kamu Nak .... " ucap Ibunya sambil menepuk pundak Dika lembut.
"Iya Buk, terimakasih sudah mau mengerti Dika. Akhir-akhir ini gak bisa terlalu fokus di sini. Karena masih kepikiran dengan kondisi sekarang Buk. Maaf ya, kalo Dika kadang seperti tak peduli saat Ibu atau Bapak lagi memberitahukan sesuatu .... "sambil menatap Ibunya yang menjawab dengan anggukan dan tersenyum menghangatkan hati Dika yang tengah gamang.
*
Sudah memasuki bulan keenam Dika berada di Rumah Orangtuanya, jauh dari Mita sang Istri tercinta dan Fattah Putra tunggal mereka yang baru berusia dua bulan. Maksud hati ke Kota untuk mencari kerja, namun sesampainya di Kota rencana tak berjalan mulus.
Pernah Dika mendapatkan tawaran dari salah satu Kerabatnya untuk jadi Buruh pada salah satu proyek di Kota sebelah, sudah Dika terima.
Untuk upah kerja dan cara kerjanya sudah jelas, Dika akan di gaji per Minggu dan ada ongkos makannya juga. Kerjanya sangat sederhana, hanya mengatur tanda stop di jalan jika kendaraan proyek tengah beroperasi. Seperti pengatur lalu lintas Kendaraan Proyek di jalan raya.
Mita juga sudah diberitahu akan hal ini, Pasangan yang memang baru saja dikaruniai keturunan itu selalu menjalin komunikasi untuk hal apa pun. Terlebih saat harus terpisah jarak seperti sekarang ini.
Mereka sepakat untuk mengumpulkan gaji yang akan diterima Dika pada proyek tersebut, untuk nanti digunakan sebagai tambahan modal usaha di Desa. Mita yang sekarang baru saja menjadi seorang Ibu diusia pernikahan mereka yang sudah memasuki tahun kedelapan tersebut, saat ini tengah menjalankan usaha kecil-kecilan mereka.
Membuka Kios PPOB atau Loket Pembayaran berbagai macam tagihan secara online. Tapi sebagian besar produk yang terjual atau yang dilayani adalah pembelian pulsa handphone dan token listrik.
Selain PPOB juga mereka membuka Rental Playstation Tiga. Usaha yang memang mereka rintis dari awal menikah, dari yang hanya Rental PS2 dan hanya 2 unit hingga sekarang Rental PS3 sebanyak 3 unit.
Jika hanya untuk makan berdua, penghasilan Rental yang naik-turun itu masih bisa mencukupi. Begitu pun untuk PPOB yang untungnya juga tak terlalu banyak itu, masih bisa dipakai untuk menambah biaya kebutuhan lain.
Tapi dengan hadirnya Fattah, tentu bukan hanya sekedar kebutuhan makan saja yang harus dipikirkan. Tapi sudah ada kebutuhan tambahan yang wajib terpenuhi.
Akhirnya Dika dan Mita setuju untuk berpisah sementara, Dika akan mencari kerja di Kota. Tempat kelahirannya, dan Orangtuanya berada sekarang.
Mita harus tinggal di Desa, untuk meneruskan usaha mereka di Kios yang mereka bangun tepat setahun mereka menikah. Selama Dika di Kota, Mita tinggal di Rumah Orangtuanya bersama Fattah yang ikut dirawat Ibunya Mita.
__ADS_1
*
Karena Lokasi Proyek yang cukup jauh dengan Rumah Orangtuanya, yakni di Kota sebelah. Akhirnya Dika memutuskan untuk tinggal di tempat yang sudah disediakan oleh pemilik proyek tersebut.
Semua persiapan untuk tinggal di lokasi proyek selesai diurus, berangkatlah Dika dengan ditemani Sahabatnya. Sesampainya di Lokasi, sudah banyak Pekerja yang berkumpul.
Setelah berkenalan dengan beberapa Pekerja, Dika jadi tahu bahwa hanya dirinya sendiri yang merupakan warga lokal, semua Pekerja tersebut berasal dari Luar Kota.
Tapi Dika tak masalah dengan itu, sudah hal yang biasa bergaul dengan siapa pun bagi Pria yang pernah bekerja di Luar Daerah untuk waktu yang cukup lama tersebut.
Masalah yang sebenarnya muncul adalah saat mereka bersiap untuk istirahat malam. Tempat yang tersedia ternyata berupa beberapa Ruangan yang kosong. Tak ada apa pun di dalamnya, Kantor hanya menyiapkan tikar untuk alas mereka tidur.
Dika juga tak masalah walau harus tidur beralaskan tikar, yang penting masih terlindungi dari angin malam yang kadang menusuk tulang.
Namun sayangnya, semua ruangan telah penuh terisi para pekerja yang lain. Ada beberapa Pekerja yang mengambil inistiatif untuk tidur di luar ruangan. Dika yang juga tak kebagian tempat tidur, akhirnya mengikuti mereka.
Beberapa Pekerja tersebut memilih untuk istirahat pada beberapa alat kerja yang cukup besar di luar. Dika juga terpaksa ikut. Satu alat kerja ditempati satu orang untuk tidur.
Sekali lagi bagi Dika tak masalah tentang tempat tidur ini. Masalah yang sebenarnya adalah udara dingin yang masuk dari kedua sisinya yang kosong. Pertanyaan yang pertama timbul dalam benak Dika adalah 'Sampai kapan?' selama jumlah Pekerjanya masih sama, bisa dipastikan mereka akan tidur di tempat yang ini.
Dika langsung menghubungi Orangtuanya dan Mita. Diceritakannya mengenai kondisinya di lapangan. Dika bisa tahan dengan panasnya mentari yang bisa membakar kulit, tapi tidak untuk udara dingin yang masuk sampai ke tulang. Badannya akan terasa sakit, mungkin karena dulu Dika pernah mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup parah.
"Benar gak apa-apa Dek?" tanya Dika memastikan pada Istrinya, ada rasa sesal menyelinap dalam sanubari kala harus menyerah sekarang. Tapi tubuhnya tak memberikan kompromi untuknya bertahan di tempatnya ini.
"Iya Kak, Insya Allah nanti ada Rezekinya. Kerja keras boleh, tapi jangan sampai sakit karenanya Kak."
"Terimakasih Dek, atas pengertiannya."
"Iya Kak, yang kuat ya ... Insya Allah semua ada jalannya. Belum Rezeki Kita aja di situ Kak .... " sambungan telepon ditutup dengan rasa sesak memenuhi ruang hatinya.
Jawaban Orangtuanya juga sama, mereka tahu bagaimana kondisi fisik Dika yang memang tak tahan dengan udara dingin. Jadilah Dika mengambil keputusan untuk tak jadi kerja di Proyek tersebut. Tapi malam itu harus dihabiskan dengan berjuta mimpi dalam sadarnya. Karena matanya enggan tertutup.
Hingga pagi menjelang, saat pekerja yang lain masih terlelap Dika beranjak dari tempatnya. Pria itu pamit pada Satpam yang sedang berjaga di pintu masuk. Dika pun pulang ke Rumah dengan perasaan yang tercampur aduk.
*
Setiap kejadian pasti ada hikmah dibaliknya. Selang beberapa hari Dika pulang dari Lokasi Proyek tersebut, Sahabatnya yang bekerja di salah satu Perusahaan Swasta menawarkan pekerjaan pada Dika. Tentu saja dengan senang hati ia terima.
Mulailah Dika bekerja dengan giat sambil menantikan saat untuk bertemu Istri dan Putra tercinta.
__ADS_1
Saat yang ditunggu pun tiba, Dika mendapatkan libur kerja pertamanya. Namun entah kenapa hatinya gelisah, semoga tak terjadi apa-apa di Desa.
Setelah melalui perjalanan panjang, yakni sekitar 10 jam. Akhirnya Pria jangkung tersebut, tiba juga di Rumah Mertuanya. Tak sabar untuk melihat Istri dan Fattah.
*
Sesampainya Dika di Rumah Mertuanya, perasaannya semakin tak karuan. Di depan Rumah terpasang terpal biru. Apa yang terjadi? Mengapa Mita tak memberi kabar apa pun? Dika segera mengecek handphone nya.
Mati. Dika lupa mengisi daya benda pipih tersebut. Tapi Dika sudah memberitahu Mita semalam akan pulang. Lagi pula ini sudah larut malam.
"Assalamualaikum .... " ucap Dika, di depan Rumah sang Mertua.
"Waalaikumsalam .... " jawab seorang Perempuan dari dalam.
Ceklek .... Pintu terbuka, dan betapa terkejutnya wanita yang berambut panjang sebahu tersebut melihat Pria di depannya.
"Kak Dika .... " seru Mita sambil menghambur kepelukan Dika. Airmatanya mengalir deras, akhirnya ia bisa memeluk Suami tercinta.
"Maaf Dek, Kakak baru bisa pulang sekarang," jawab Dika pada Istrinya.
"Iya Kak, gak apa-apa ... ayo masuk," ajak Mita pada sang suami. Dika pun masuk sambil mengangkat barang bawaannya.
"Fattah Dek?" tanya Dika pada Mita.
"Masih tidur Kak .... " jawab Mita masih dengan tangisan di wajahnya.
"Ada apa Dek? Kenapa ada tenda di depan? Bapak sama Ibu ....?" Mita langsung menangis, namun tanpa suara, "Kenapa Dek?" Dika mendekat pada Istrinya.
"Bapak Kak ... Bapak ... meninggal ... Karena kecelakaan tadi sore!" sontak jawaban Mita membuat tubuh Dika lemas seketika. Ternyata yang membuat hatinya gelisah selama beberapa hari ini adalah firasat akan kepergian Bapak Mertua untuk selamanya.
Mita dan Dika berpelukan dalam tangis. Dika tak bisa membohongi perasaannya yang merasa menyesal tak berada di samping Bapak Mertua yang sangat dicintai itu saat Beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
Dari peristiwa ini Dika belajar bahwa betapa pun hebatnya rencana Manusia, tak bisa melupakan keputusan Yang Maha Kuasa. Demi mengejar kehidupan yang lebih baik, Dika harus sabar jauh dari Keluarga Kecilnya. Bahkan dihari kepulangannya ia tak bisa bertemu dengan Bapak Mertua yang sangat dikaguminya untuk selamanya.
SELESAI
-------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊
__ADS_1