
Matahari Terbit menandakan hari yang baru, harapan baru dan cerita yang baru. Setidaknya begitulah makna yang bisa diungkapkan tentang sebuah peristiwa indah yang terjadi setiap hari, meski dengan atau tanpa ada yang menyadari atau bahkan peduli akan kehadirannya. Nyatanya Matahari yang kemarin tenggelam akan kembali terbit esok harinya. Itulah keindahan sebenarnya dari Matahari Terbit yang bisa dirasakan oleh Pemuda yang kini tengah merajut mimpi yang sempat pupus.
Berangkat ke Kebun saat matahari terbit adalah aktifitas yang harus Rizki jalani setiap hari. Semua karena terpaksa, namun harus tetap di syukuri. Saat teman-teman seumurannya telah sibuk bergelut dengan dunia kerja, di Kantor atau jadi Pengusaha. Namun tidak bagi Rizki yang cerdas sejak masih Sekolah ini, harus merelakan mimpinya untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena harus menggantikan Bapaknya jadi Tulang Punggung Keluarga.
***
"Maafkan Bapak Nak, karena harus merawat Bapak dan menyekolahkan Adik-adikmu Kamu tak bisa melanjutkan Kuliah ... " ucap Bapaknya pada Rizki di suatu malam saat mereka tengah duduk berbincang, seperti yang kerap keduanya lakukan selama ini.
Bukan kali pertama Bapaknya mengungkapkan hal yang sama, bahkan saat pertama kali Iki (panggilan Rizki) mengungkapkan keinginannya untuk menggarap Kebun mereka, dikarenakan Bapaknya yang sakit diabetes dan tak bisa beraktifitas normal seperti biasa lagi. Pak Rahman juga sudah mengatakan rasa bersalahnya pada Putra sulungnya yang cerdas dan berbakti dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar ungkapan hati sang Bapak, Rizki segera beralih dari tempat duduknya di kursi pindah ke bawah. Sambil memijat pelan kaki sang Bapak, Rizki yang duduk di lantai Rumah sederhana yang hanya beralaskan perlak tipis itu hanya tersenyum sambil menengadah pada Bapaknya yang mulai terlihat raut kesedihan di wajahnya.
"Bapak jangan minta maaf ya Pak, sudah seharusnya Iki melakukan ini. Bisa lulus di SMA saja Iki merasa bersyukur. Sekarang sudah saatnya untuk Riska dan Randi yang harus sekolah, dan Iki akan berusaha agar keduanya bisa Kuliah Pak. Bapak juga tidak perlu menghawatirkan Iki, karena Iki senang menjalani ini semua. Yang penting Bapak sehat-sehat saja, harus tenang pikirannya. Insya Allah semua baik-baik saja."
"Terimakasih Nak, Bapak tak tahu harus bagaimana jika tak ada Kamu. Ibu pasti sangat bangga seperti Bapak saat ini, hanya doa terbaik yang bisa Bapak beri untuk Kamu dan Adik-adikmu Nak ... " ucap Pak Rahman kali ini sambil menghapus setitik cairan bening yang keluar dari matanya yang sudah mulai kabur. Terasa sesak di dadanya teringat akan sang isteri yang telah berpulang beberapa tahun lalu, meninggalkan luka yang mendalam dan berpengaruh pada kesehatannya.
"Amiiin ... Bagi Iki doa Bapak adalah kekuatan terbesar Pak, itu sudah cukup sebagai penguat langkah Iki. Doakan Panen Kita kali ini bisa melimpah ya Pak, Riska Tahun ini lulus SMP dan Randi lulus SD jadi semoga lancar semuanya ya Pak ... " sambil tersenyum dan tetap memijat kaki Bapaknya, Rizki mengungkapkan harapannya yang juga di Amini sang Bapak yang tersenyum haru pada sang Anak.
***
Jika harus memilih, bisa saja Rizki egois dan tetap melanjutkan Kuliahnya karena Ia mendapatkan beasiswa. Tapi dengan resiko Adik-adiknya Putus Sekolah, karena Kampusnya ada di Kota tentu tetap membutuhkan biaya tambahan.
Karena yang tertanggung dalam beasiswa hanya Iuran Kuliahnya saja, ditambah lagi kesehatan Bapaknya yang kian hari semakin menurun. Sungguh Rizki tak bisa melakukannya, ia lebih memilih mengorbankan mimpinya untuk mewujudkan mimpi Adik-adiknya dan agar ia bisa merawat Bapaknya.
Pagi hari Rizki pergi ke Kebun yang merupakan harta satu-satunya yang dimiliki sang Bapak dan yang menjadi penyambung hidup bagi Keluarga mereka selama ini. Siangnya ia pulang untuk istirahat dan makan, biasanya Bapaknya akan menunggu Rizki untuk makan bersama.
Meski Bapaknya tak pernah berpesan agar ia segera pulang, untuk mereka makan bersama, namun sebisa mungkin Rizki cepat kembali dari Kebun agar Bapaknya tidak telat makan. Sore balik lagi ke Kebun untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai di pagi hari. Pada malam hari ia akan duduk berbincang bersama Bapaknya tentang semua hal.
Seperti itulah hari-hari yang ia jalani, tentu dengan rasa Syukur dan Ikhlas dalam hati. Tak pernah ia lupa untuk berbicara, menumpahkan semua perasaannya pada sang Maha Pencipta. Menangis dalam Sujud di sepertiga malam adalah hal yang biasa ia lakukan seperti Lima Waktu yang tak pernah lalai ia Tunaikan.
Riska dan Randi juga tak jauh berbeda, keduanya tumbuh menjadi Anak yang berbakti seperti Rizki. Sebagai Putri satu-satunya, memasak dan mengerjakan semua pekerjaan perempuan sudah hal yang biasa ia lakukan.
Usai melaksanakan Shalat Subuh, Riska akan memasak makanan untuk mereka berempat sarapan. Sederhana namun terasa nikmat karena kebersamaan.
Randi si Bungsu juga tak segan melakukan pekerjaan bersih-bersih Rumah mereka, dan saat libur sekolah Ia akan menyempatkan diri untuk membantu Rizki di Kebun.
Tak pernah Rizki meminta apalagi memaksa Adiknya untuk membantunya di Kebun, namun Randi sendiri yang ingin melakukannya. Rizki mengizinkan dengan syarat semua tugas sekolahnya sudah diselesaikan. Beruntung keduanya sama cerdasnya dengan Rizki, sehingga mendapatkan beasiswa juga dari Sekolah. Jadi untuk keperluan Sekolah bisa tertanggulangi sebelum menunggu hasil Panen dari Kebun.
__ADS_1
***
[Rizki, apa kabar?] sebuah pesan masuk di handphone Rizki. Dari Nomernya Rizki tahu pesannya dari teman SMAnya, Dion.
[Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar?] balas Rizki, setelah membersihkan tangannya dari tanah yang menempel dengan air yang sudah ia sediakan dari sungai di dekat Gubuk kecilnya.
[Aku juga baik, Kamu sibuk gak sebentar malam?]
[Sepertinya tidak. Kenapa Di?]
[Aku bisa minta tolong gak?]
[Apa yang bisa Aku tolong untuk orang sukses seperti Kamu Di?]
[Jangan merendah begitulah, semua orang juga tahu bagaimana cerdasnya Kamu ... Ayolah bantu Aku ya ... dengan pekerjaanku]
[Itu cerita lain Di, Kamu Sarjana Aku hanya lulusan SMA. Kamu sudah kerja Kantoran sedangkan Aku hanya seorang Petani.]
[Tapi Aku yakin Kamu bisa! Sorry Aku cuma bisa mengirim pesan teks seperti ini soalnya Aku sedang ada rapat sekarang. Dan ini tugas yang penting. Jadi tolong Aku kali ini saja ya ... Nanti Aku jemput Kamu deh. Ok ... Bye!]
Seperti biasa, Dion akan memaksakan kehendaknya pada Rizki. Seperti waktu masih Sekolah dulu, Ia selalu meminta bantuan Rizki tentang tugas Sekolahnya dan Rizki selalu tak bisa menolak untuk membantunya.
Kabar terakhir yang Rizki dengar dari Teman-teman yang kadang berjumpa, jika Dion Sudah bekerja di Perusahaan Ayahnya di Kota. Namun dengan posisi yang harus memulai dari bawah, bukan sebagai Manager atau Kepala Bagian.
Dion memang sekolah di SMA yang sama dengan Dion di Desa, sepertinya Ayahnya sengaja mengirim ke Desa di Rumah Neneknya selama SMA untuk menjauhkan Putra tunggalnya dari pergaulan Dion dengan Teman-temannya yang 'Kurang Beres'.
Tampaknya langkah yang diambil Ayahnya memang tepat, karena Dion akhirnya menjauh dari teman-temannya tersebut dan bertemu dengan Rizki serta Teman mereka yang lain ia pun mulai menjalani masa remajanya dengan selayaknya.
Seperti itulah yang Rizki dengar, tapi tak pernah ia mencari tahu tentang kebenaran kabar tersebut. Karena bagi Rizki itu bukanlah urusannya, ia hanya teman SMA Dion.
Tapi setelah mendapatkan pesan singkat dari Dion, sekali lagi ia hanya berfikir positif. Jika memang bisa membantu, akan ia lakukan. Setidaknya ia merasa dibutuhkan dan semoga bisa menyambung kembali tali Silaturrahmi yang sempat terputus.
***
Malam harinya, Dion datang untuk menjemput Rizki. Setelah mengobrol dengan Pak Rahman, mereka berdua pun pergi ke Warung Kopi atau biasa di singkat 'Warkop' yang jadi tempat tongkrongan Anak muda di Desa.
"Gimana Ki? Kamu bisa kan membuat hitung-hitungannya?" tanya Dion sambil memperlihatkan laporannya di laptop yang ia bawa, setelah mereka duduk di Warkop dan memesan minuman serta cemilan.
__ADS_1
"Tapi harusnya Kamu lebih tahu lah Di, Aku kan sudah lama tidak berurusan dengan angka-angka yang ada di atas kertas seperti ini. Kalo Kamu tanya harga jagung sekarang berapa, itu baru Aku tahu betul."
"Kamu kan tahu sendiri Ki, Aku paling males sama yang beginian. Kalo tinggal ngecek salah atau benar Aku bisa, tapi ini harus mulai dari awal loh Ki. Males Aku, ribet!"
"Baiklah jika Kamu maksa, tapi Aku gak bisa janji benar-benar bisa menyelesaikan dengan tepat ya Di?"
"Iya gak apa-apa, terserah kamu deh Ki. Yang penting perhitungan dasarnya udah ada."
Akhirnya Rizki pun mengerjakan Laporan tersebut, dengan ilmu yang masih ada di kepalanya. Selain itu, sebenarnya dalam setiap waktu luangnya ia banyak membaca berbagai macam referensi tentang Ekonomi dan Bisnis melalui satu-satunya hape pintar yang ia dan kedua saudaranya punya. Itu pun boleh terbeli karena ditawarkan temannya yang dulu sangat butuh uang, sehingga ia mau menjual Handphonnya dengan harga murah. Jadilah Rizki membelinya, mengingat tugas sekolah Riska yang sekarang sudah banyak mengharuskan untuk mencari literatur lewat internet.
Untuk masalah penggunaan hape ini pun, ketiganya bisa saling menahan ego masing-masing. Tak ada yang ingin mengusai sendiri, sudah ada waktunya masing-masing. Untuk Rizki, tentu saat kedua Adiknya di Sekolah. Bukan untuk mencari hal-hal yang tidak penting, Rizki menggunakannya untuk mecari hal yang bermanfaat. Termasuk mengenai teknologi terkini tentang dunia bisnis dan ekonomi yang akhir-akhir ini mulai ia tekuni.
Tak heran jika laporan keuangan bagi Dion yang meraih gelar Sarjananya dengan mengucurkan dana yang cukup besar untuk membayar tugas akhirnya itu, bisa Rizki selesaikan dengan cepat. Dion merasa takjub pada temannya yang punya otak cerdas, namun kurang beruntung itu.
Dengan bahagia, Dion mengucapkan terimakasih pada Rizki berulangkali. Bahkan ia memberikan beberapa lembar uang berwarnah merah, namun Rizki menolaknya dengan halus. Dion pun paham akan prinsip temannya ini, dan Dion menggantinya dengan berjanji akan membantu Rizki jika dibutuhkan. Rizki hanya tersenyum menanggapi perkataan Dion.
Tiga bulan telah berlalu sejak pertemuan Rizki dan Dion, sempat beberapa kali Dion menelpon dan mengirim pesan singkat untuk sekedar bertanya kabar. Beberapa kali pula Dion mengirimkan Rizki pulsa untuk membeli paket data, agar lebih mudah bertemu di 'dunia maya' katanya. Rizki tak bisa mengelak dari pemberian Dion yang satu ini, karena Dion akan melakukannya kapanpun Dia mau.
***
Semua doa dan harapan terkabul, tak sia-sia kerja keras Rizki selama ini. Dengan bermodalkan tutorial yang ia lihat di hapenya, sedikit demi sedikit Rizki praktekan pada Kebunnya dan hasilnya panen kali ini melimpah, lebih banyak dari panen sebelumnya.
Akhirnya ia bisa membelikan Bapaknya insulin dan alat untuk mengontrol diabetes. Begitupun untuk kedua Adiknya, bisa ia belikan perlengkapan sekolah yang mereka butuhkan. Termasuk satu buah handphone yang bisa digunakan untuk mencari tugas sekolah. Tapi penggunaannya tetap dalam pengawasan Rizki, Adik-adiknya pun mengerti tak mempermasalahkan soal itu.
Untuk dirinya sendiri, melihat Bapak dan kedua Adiknya bahagia itu sudah cukup. Tak ada barang pribadi untuk kesenangannya yang ia beli, Rizki lebih memilih untuk menyimpan sebagian hasil dari panen tersebut di Bank untuk bisa digunakan nanti. Persiapan untuk proses menanam selanjutnya pun sudah ia siapkan, semuanya tanpa kendala. Benar-benar saat yang membahagiakan.
Meski telah merasa lebih baik, ternyata Pak Rahman belum benar-benar sembuh. Selain penyakit diabetes, Pria yang sejak mudanya bekerja dengan keras dan berganti-ganti pekerjaan ini telah mengidap penyakit yang lainnya. Komplikasi kata Dokter yang merawatnya. Jadilah Pak Rahman dirawat inap di Rumah Sakit di Kota.
Karena menjaga Bapaknya, Rizki belum bisa mengurus Kebunnya. Baginya, Laki-laki terhebatnya ini adalah segalanya dan jadi hal utama. Riska dan Randi datang hanya setiap akhir pekan, karena harus Sekolah.
"Permisi, Saya mau memeriksa kondisi Bapak sebentar ya Mas ... " suara seorang Perawat mengejutkan Rizki yang tengah menyuapi Bapaknya bubur. Segera Rizki memberikan Bapaknya minum dan mengelap mulutnya dengan tisu.
Setelah itu Rizki pun memberikan ruang pada Perawat yang bertugas pagi itu untuk melakukan cek up rutin. Betapa terkejutnya Dia, saat tahu siapa Perawat yang tengah memeriksa tekanan darah Bapaknya sekarang ....
BERSAMBUNG...
--------------------------
__ADS_1
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊