
Baru jam sepuluh pagi, tapi Wanita Paruh Baya itu masih tak tenang. Wajahnya terlihat gelisah, selalu menengok ke luar Rumahnya yang megah.
Menanti yang ditunggu tak kunjung tiba.
Wanita yang sebagian besar rambutnya telah berwarna putih itu, hanya bisa duduk di kursi teras lalu akan berdiri lagi dan melihat ke arah jalan. Siapa tahu yang ditunggu akan terlihat. Namun, hingga beberapa kali hal yang sama ia lakukan tetap tak nampak juga bayangan yang di nanti.
Saat Wanita itu akan menyerah dan masuk kembali ke dalam Rumahnya, ia terkejut dengan suara yang sangat ia rindukan.
"Assalamualaikum Buk .... " Wanita paruh baya itu berbalik badan dan langsung tersenyum lebar.
"Waalaikumsalam Nak, Alhamdulillah Kamu sampai juga. Ibu kira Kamu tak akan datang hari ini. Ayo langsung masuk Nak," ucap Wanita Paruh Baya sambil menggandeng tangan Perempuan muda itu, ke dalam Rumah setelah perempuan yang berkerudung itu mencium punggung telapak tangannya.
Setelah mereka berdua duduk di kursi, Wanita Paruh Baya itu masih memegang tangan Perempuan Muda dan mulai terlihat ada cemas di wajahnya, "Ibu khawatir terjadi apa-apa sama Kamu Nak," Perempuan itu tersenyum dan menjawab, "Dinda baik-baik saja Buk, maaf Dinda agak terlambat hari ini soalnya Kak Riko sudah mulai curiga. Jadi terpaksa Dinda harus pastikan Dia berangkat kerja dulu, baru bisa kemari.
"Tak apa Nak, walaupun telat. Bisa melihat Kamu datang saja Ibu sudah bahagia .... "
"Maafkan Dinda ya Buk .... " ucap Dinda dengan sedikit cairan bening di sudut matanya yang mulai mengalir.
"Maaf untuk apa Nak?"
"Dinda belum bisa meluluhkan hati Kak Riko, tapi Dinda akan terus berusaha agar Ibu bisa bersama Kak Riko lagi .... " sambil memeluk buk Ningrum, Wanita Paruh Baya yang kini juga tengah larut dalam haru.
"Tidak apa-apa Nak, Ibu yang harus minta maaf sama Kamu dan Riko atas perbuatan Ibu dulu. Terutama sama Kamu .... "
"Tidak perlu mengenang yang dulu lagi Buk, Saya sudah melupakannya. Yang penting itu adalah sekarang dan esok. Bagi Saya, yang Ibu sehat selalu dan bisa berkumpul lagi dengan Kak Riko dan Lila .... "
"Oh iya Nak, Lila apa kabar?" tanya Wanita Paruh Baya yang bernama Buk Ningrum itu semangat mendengar nama Cucunya.
"Lila sekarang makin cerdas Buk, .... " dengan lancar Dinda menjelaskan tentang aktifitas Lila, beserta foto terbarunya pada Buk Ningrum.
Ada bulir bening bening di sudut matannya kala melihat potret Sang Cucu yang sampai hari ini belum bisa bertemu langsung. Semua itu karena peristiwa lima tahun silam.
__ADS_1
***
"Tidak Riko! Bapak tidak akan merestui Kamu menikah dengan Gadis yang tak jelas asal-usulnya itu! Bapak sudah pilihkan Jodoh terbaik untuk Kamu! Seperti Kakak-Kakakmu dulu!"
"Tapi Dinda Gadis yang baik Pak. Riko cinta sama Dinda karena kebaikan hatinya ...."
"Baik saja tidak cukup Riko! Keluarga Kita ini juga ada karena dari perjodohan! Tak mengenal yang namanya cinta sebelum menikah! Kamu mau durhaka pada Orangtua hanya karena Gadis dari Panti Asuhan yang di bangun Keluarga Kamu sendiri?" Ibu Ningrum berkata dengan tajamnya kala itu.
"Riko tidak ingin menikah dengan yang lain Pak, Buk, Riko mencari Gadis yang bisa menemani Riko dalam keadaan apa pun. Paling utama adalah Agamanya Buk. Dinda adalah Gadis Sholeha yang menyadarkan Riko dari perbuatan buruk Riko dulu dan membuat Riko belajar kembali mengenal Allah dan Diri Riko sendiri."
"Kamu kan bisa bimbing Calon Istri Kamu nanti! Pokoknya Bapak dan Ibu tetap tidak setuju!"
"Tapi Pak, Buk .... " ucap Riko dengan putus asa pada Ibu dan Bapaknya yang tak bergeming. Tetap pada keputusan mereka.
"Kalo Kamu tetap mau menikahi Gadis itu, silahkan angkat kaki dari Rumah ini! Karena Kamu sudah tidak memandang Orangtua Kamu lagi, untuk apa tetap di sini! Jika Kamu melepaskan Dia, dan memilih Jodoh Pilihan Bapak dan Ibu Kamu tetap di sini!"
"Baik jika memang seperti itu, Riko akan angkat kaki dari Rumah ini sekarang juga!"
"Tapi Nak, Kamu gak Sayang pada Bapak dan Ibu yang sudah Tua ini?" tanya Buk Ningrum pada Putra Bungsunya sambil menangis.
***
Sejak hari itu, Riko meninggalkan Rumah Orangtuanya. Dia memilih untuk menikahi Dinda, Gadis manis yang membuatnya sadar akan perbuatan buruknya dulu.
Riko memang pernah menjalani kehidupan yang jauh dari kata 'baik'. Dunia malam adalah tempatnya, gonta-ganti perempuan sudah jadi hal yang biasa baginya. Tapi beruntung Riko masih sadar akan kesehatannya dari penyakit 'laknat' hingga ia selalu setia membekali dirinya dengan 'pengaman'.
Meski begitu, tak bisa dipungkiri semua kesenangannya hanya semu. Tak pernah ia merasa damai apalagi bahagia.
Putra Bungsu dari 4 bersaudara itu selalu mendapatkan apa pun yang ia mau sejak kecil. Tak pernah mengenal yang namanya Agama di Rumahnya yang besar. Hanya sebatas pelajaran di Sekolah 2 jam dalam seminggu.
Tapi semua berubah sejak ia mengenal Dinda, Gadis Panti Asuhan milik Yayasan Keluarganya. Dinda lah yang membuka matanya tentang Dunia yang sebenarnya, bukan hanya kesenangan semu tapi juga ketenangan dan kebahagiaan.
__ADS_1
Setelah menikah dengan Dinda, Mereka memilih tinggal di Kota lain. Merintis usaha dari bawah. Riko yang meski hidupnya 'kacau' dulu, tapi Dia tetaplah seorang Sarjana yang cerdas.
Sehingga mudah mendapatkan pekerjaan, tapi dengan gaji yang ia peroleh digunakan untuk merintis usaha sendiri.
Semakin lama usaha yang ia bangun semakin besar, hingga menjadi sebuah perusahaan kecil. Tapi apa pun keadaannya Riko dan Dinda selalu Bersyukur.
***
Selama Mereka menikah, Dinda selalu membujuk Riko untuk berdamai dengan Orangtuanya. Namun Pria itu tetap bersikukuh pada keputusannya.
Sebelum Orangtuanya menghubungi mereka, maka tak ada alasan baginya untuk berbagi kabar.
Di sisi lain, Sang Bapak yang juga memiliki Sifat yang 'keras' seperti Dirinya, tak pernah mau menghubungi Riko sekali pun meski Buk Ningrum selalu membujuknya.
Sampai Bapaknya menghembuskan nafas terakhir, Riko tak kunjung datang menengok.
Hingga akhirnya, Dinda berusaha keras menghubungi Buk Ningrum dan berhasil.
Tepatnya baru 5 bulan yang lalu, Dinda tak sengaja bertemu Wanita Paruh Baya tersebut di tempat Praktek seorang Dokter. Saat itu Dinda hendak mengambil nomor antrian untuk cek up kesehatannya dan Riko, ternyata Buk Ningrum juga sering berobat ke Dokter yang sama.
Dinda yang langsung mengenali, langsung memeluk Buk Ningrum yang seketika menangis pada Dinda dan meminta maaf.
Dari pertemuan yang tak sengaja itu, Dinda rutin menemani hari-hari Buk Ningrum di Rumahnya.
Meski sampai hari ini belum bisa bertemu dengan Putra dan Cucunya, tapi kehadiran Dinda selalu dinanti Buk Ningrum yang kesepian dihari Tuanya.
Tiga menantu perempuannya yang menikah karena dijodohkan itu, enggan berkunjung apalagi menemaninya. Ibu Ningrum tinggal di Rumah yang megah itu hanya berdua dengan Putri Asisten Rumah Tangganya yang dulu.
Saat yang sangat membahagiakan baginya sekarang adalah saat menanti Dinda, menantu yang dulu tak dianggap kini jadi yang paling dinanti.
SELESAI
__ADS_1
--------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊