
Saat Kania membuka matanya, betapa terkejutnya ia melihat semua masih lengkap termasuk Pak Rahman yang tersenyum hangat ke arahnya.
"Buk, Kania sebenarnya kenapa? Kania gak ngerti dengan semuanya ... ini mimpi atau?" Kania akhirnya bisa menenangkan dirinya, dan kembali bertanya pada Ibunya setelah keluarga pak Rahman pulang.
"Kamu mengalami kecelakaan saat hendak ke Rumah Buk Kanti untuk membayar Kost Kamu yang bulan lalu, sekaligus mengantar pesanan kue Buk Kanti Sayang. Maafkan Mama yang gak bisa nemenin Kamu, karena harus membuat pesenan kue Pelanggan ya Nak."
"Celaka? Ini ... telat bayar Kost? Ini kan? Buk, sekarang Kania kelas berapa?" terbata Kania bertanya pada Ibunya.
"Sepertinya benturan di kepala Kamu cukup keras Sayang, tapi kata Dokter itu gak apa-apa reaksi wajar. Nanti juga akan normal kembali. Kamu itu sekarang udah kelas tiga SMU Sayang. Kemarin kan kenaikan kelasnya," sambil mengelus lembut kepala Putrinya Yuni menjelaskan pada Kania yang langsung tersentak.
"Ternyata benar firasat Kania, Ma ... Kania tahu apa yang terjadi sekarang. Sepertinya Kania Koma dan mengalami mimpi yang ... aneh Ma ... Kania pergi ke masa depan. Pak Rahman ... Kania gak mau terjadi apa-apa dengan Pak Rahman. Kita harus ke Rumah mereka secapatnya Ma ...."
Dengan cepat Kania Bangun dari tempat tidurnya, yang tentu saja di tahan oleh buk Yuni. Ia masih tak mengerti dengan penjelasan Putrinya.
"Sabar Sayang, tenang dulu ... maksud Kamu apa? Ibu gak ngerti .... "
"Nanti Kania jelaskan Buk, tapi waktu kita tak banyak. Paling Lambat besok Buk, kalo tidak akan terjadi hal buruk pada pak Rahman. Kania gak tahu ini benar atau tidak, tapi setidaknya Kita harus mencobanya. Siapa tahu ini cara Allah agar Kania bisa menolong Pak Rahman."
"Tapi Kondisi Kamu .... " sambil menggenggam tangan ibunya, Kania coba meyakinkan, "Kania baik-baik saja Buk, yang terpenting sekarang adalah Kita harus segera ke Rumah Pak Rahman!"
Meski tak sepenuhnya percaya dengan ucapan Putrinya, namun akhirnya buk Yuni mengabulkan permohonannya yang sangat putus asa tersebut. Setelah meminta persetujuan Dokter, Ibu dan Anak itu segera pergi ke Rumah Pak Rahman dengan menggunakan Taksi Online.
Sesampainya di Rumah, buk Kanti dan pak Rahman menyambut mereka hangat dan dengan tanda tanya yang besar tampak pada wajah mereka atas kehadiran Kania yang baru sadar dari komanya.
"Maaf Buk, Pak ... Jika kedatangan Kania membingungkan Bapak dan Ibu. Tapi Kania harus melakukan ini, karena ... karena Kania gak mau ada hal buruk yang akan menimpa keluarga Bapak. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal. Tapi selama Kania koma, Kania seolah mendapat penglihatan tentang yang akan terjadi beberapa hari kedepan. Dan terus terang saja itu bukan hal yang baik, ada Seseorang yang berniat buruk pada Pak Rahman."
__ADS_1
Pak Rahman dan buk Kanti kaget dengan penjelasan panjang Kania. Suami-isteri itu langsung menatap pada Yuni yang menjawab dengan anggukan, "Karena itu Pak, Kania mohon percaya pada Kania. Jika memungkinkan, tolong undang pak Ustad juga agar bisa menolong untuk mengilangkan benda yang berbahaya di sekitar Rumah ini, sesuai dengan mimpi Kania."
Masih dengan rasa yang sedikit tak percaya, namun mengingat kemampuan khusus Kania yang berhubungan dengan 'dunia lain', pak Rahman segera mengundang Ustad Abdullah.
Setelah Ustat Abdullah sampai di Rumah dan mendengar penjelasan Kania seperti yang ia jelaskan sebelumnya, mereka pun memutuskan untuk mengecek kebenaran dari mimpi tersebut.
Setelah menunjukkan tempat yang Kania lihat dalam mimpinya, yaitu di samping Rumah, Pak Rahman pun mulai menggali tanah. Betapa terkejutnya mereka atas apa yang ditemukan dalam tanah yang cukup dalam tersebut. Jika menyerah sesikit saja, mungkin mereka tak akan menemukannya. Tapi berkat paksaan Kania, kantong kecil yang terbungkus plastik itu tak akan ditemukan.
Ustad Abdullah membuka kantong tersebut dan melihat isi dalam kantong berwarnah putih itu membuat semua yang melihatnya tercengang. Mereka serentak berucap ....
"Astagfirullahhaladzim!"
Di dalamnya berisi beberapa paku dan silet yang berlumuran sedikit darah. Sangat menakutkan, dan membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya merinding.
Buk Kanti langsung menangis melihatnya, ia tak tahu siapa yang melakukan ini. Buk Yuni yang mengerti akan perasaannya langsung memeluk Kerabatnya tersebut. Karena terlalu fokus memperhatikan benda yang tengah di pegang Ustad Abdullah, tak ada yang tahu tentang Seseorang yang melihat apa yang tengah terjadi di balik pagar Rumah.
Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara teriakan seorang Perempuan yang meraung kesakitan. Perempuan itu berlari ke arah mereka yang kaget dengan penampilan Perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah tetangga baru pak Rahman dan buk Kanti terlihat mengenaskan.
Rina namanya. Kulitnya seperti melepuh dan tertusuk benda tajam. Ia berteriak kesakitan. Berlutut di kaki Ustad Abdullah yang masih melantunkan Ayat Suci Al-Qur'an dengan Khusyu. Perempuan itu semakin kesakitan, hingga Ustad Abdullah menyelesaikan Doanya. Teriakannya pun terhenti. Namun Rina tetap marasakan sakit yang tak terperih. Anehnya kulitnya kini terlihat normal kembali.
"Kenapa Kamu melakukan ini Rina? Apa salah Kami? Selama ini Kami tak pernah merasa berbuat salah pada Kamu!" Buk Kanti berteriak histeris pada Rina yang masih meraung kesakitan.
"Bu ... kan Pa ... da ... ku, tapi pa .. da Su ... a ... mi ... ku. Ka ... Ka ... Lian Jahat Pa ... da ... nya .... Ia sa ... sangat men ... derita ... hi ... ngga a ... khir ha ... yat ... nya!" semakin tercekat suaranya ditenggorokan. Ustad Abdullah langsung berjongkok di samping Perempuan yang kesakitan tersebut.
"Istighfar Rina ... Ucapkan Syahadat ..." namun lidah Gadis itu terasa kelu. Dengan susah payah, ia mengeluarkan sebuah kertas dari kantongnya. Dan menyerahkannya pada Pak Rahman. Setelah itu tubuhnya bergetar hebat, dan berhenti seketika. Seiring dengan detak jantungnya yang terhenti. Rina menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata yang terbuka dan mulut yang menganga.
__ADS_1
Buk Yuni dan buk Kanti langsung menangis, begitupun dengan Kania. Ustad Abdullah segera membaca Ayat Suci sambil mengusap mata wanita tersebut hingga tertutup. Mereka segera membawa jenazahnya ke dalam Rumah, pak Rahman segera menelpon Rumah Sakit. Anehnya setelah diperiksa, Rina dinyatakan meninggal karena serangan jantung.
Fakta yang tak bisa dipungkiri adalah kematiannya yang misterius. Hanya mereka yang ada di tempat kejadian yang tahu. Tapi semuanya mengambil keputusan untuk merahasiakan hal tersebut, sebagai hal terakhir yang bisa dilakukan untuk wanita yang hidup sebatang kara itu dalam menutupi aibnya.
Pemakaman jenazah dilaksanakan sepenuhnya oleh keluarga pak Rahman. Meski Rina pernah berniat buruk pada mereka, namun tetap ada rasa kasihan untuk wanita yang gelap mata hanya karena salah paham.
Kertas yang sempat dititipkan Rina sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, telah dibaca pak Rahman. Kertas itu ternyata berisi tentang surat dari Suami Rina, Ardi yang merupakan Adik tiri pak Rahman.
Dalam suratnya, Ardi mengatakan pada Rina bahwa ia selama ini mendapatkan perlakuan tak adil dari Keluarganya. Bahkan untuk harta warisan dia hanya mendapatkan sebagian kecil saja, selebihnya untuk Rahman. Ardi menulis surat itu saat Rina masih bekerja jadi Asisten Rumah Tangga di Kota sebelah. Ardi juga mengatakan jika ia sekarang sakit karena santet yang dikirimkan oleh Rahman.
Rina yang sangat percaya pada Suami yang ia cintai, langsung gelap mata dan langsung menemui Dukun sakti di desa terpencil. Untuk membalaskan dendam pada keluarga pak Rahman.
Tepat setelah Suaminya meninggal, ia mulai menjalankan rencananya. Langkah pertama adalah dengan mengontrak Rumah, tepat di sebelah Rumah pak Rahman. Setelah itu mencoba mengakrabkan diri dengan mereka, lalu mengubur benda-benda santet tersebut dimalam hari.
Wanita naif itu tak tahu maksud dari surat Suaminya adalah hanya untuk memanfaatkan dirinya untuk menghancurkan Rahman karena iri dan dengki atas kehidupan Rahman yang lebih baik dari dirinya.
Ardi hanya menipu Rina soal santet itu, yang tidak Arsi tahu bahwa dirinya tengah mengidap penyakit yang parah dalam tubuhnya yang kotor dengan semua sifat irinya pada Rahman.
*
Apa yang Kita tabur, maka itu pula yang akan kita tuai. Sesuatu yan diawali dengan hal yang buruk, maka akan berakhir dengan keburukan juga.
SELESAI
-----------------------
__ADS_1
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊