
Mapan. Tampan. Keluarga Konglomerat. Siapa yang tak ingin mendapatkan semua itu? Berapa banyak orang yang memiliki ketiganya sekaligus? Jawabannya hanya beberapa, terutama di Kota yang kecil seperti tempat tinggalku ini. Bisa dihitung dengan jari. Tapi Aku mengenal Orang yang memilikinya, namanya Niel. Tepatnya Daniel Putra Atmaja.
Aku bertemu dengannya pertama kali, dalam acara resepsi pernikahan Sepupuku. Kami bedua dikenalkan oleh Dera, Sahabatku yang ternyata adalah Adik Sepupunya. Sejak pertama bertemu, jujur Aku sudah tertarik pada Daniel.
Keramahannya, sopan santunnya, senyumannya, dan yang tak kalah pentingnya penampilannya. Tinggi 185 cm, kulit putih bersih, badannya yang atletis sangat pas dengan outfit apapun yang ia kenakan pada tubuh yang selalu terjaga kesehatannya dengan fitnes rutin setiap akhir pekan. Aku bahkan mendaftar jadi member di Fitnes Center yang sama dengannya.
Tentu saja Aku pura-pura kaget melihatnya di sana, namun Daniel dengan ramahnya menyambutku bahkan bersedia menemani dan membimbing pada gym perdanaku. Tak sia-sia pengorbanan Diri ini untuk latihan fisik yang tak pernah kulakukan sebelumnya hanya untuk dekat dengan Daniel. Aku bahagia karena kami semakin dekat, meski setelah itu seluruh badanku rasanya seperti remuk, karena tak terbiasa dengan alat olahraga apapun.
Meski jarang olahraga, tapi Aku termasuk salah satu Perempuan yang beruntung dengan kelebihanku, yang Aku yakin membuat banyak Perempuan iri. Salah satu hal yang bisa kubanggakan adalah, berat badanku yang tetap stabil tak peduli sebanyak apa makanan yang masuk ke tubuhku.
Dengan tinggi 160 cm, dan kulit kuning langsat yang bersih terawat, serta ditunjang dengan wajah yang cukup menawan, tanpa sentuhan alat canggih apapun. Banyak yang bilang Aku mirip dengan Aktris Korea Selatan, Jun Ji-hyun.
Tentu akan jadi paduan yang menarik jika Aku bisa menikah dengan Daniel. Usiaku juga sudah cukup matang untuk menikah, 29 tahun. Sudah ada desakan dari Orangtuaku, agar Aku segera menikah. Mengingat hanya tinggal Aku yang belum menikah dari ke empat Saudaraku. Bahkan tahun kemarin, Adik bungsuku Tiara, telah menikah mendahului Aku yang masih betah sendiri setelah dihianati Darren.
Bukan Trauma, tapi boleh dibilang Aku sekarang lebih berhati-hati memilih pasangan, terutama Aku tak lagi sedang mencari seorang Kekasih. Tapi mencari seorang Suami, pencarian panjang yang berhenti di Daniel.
Pria yang kini tengah tersenyum kepadaku. Hari ini Kami janjian untuk pergi menengok Maminya yang sedang sakit. Ya, setelah enam bulan saling mengenal Aku sudah cukup dekat dengan Keluarganya. Begitu pun sebaliknya. Kami janjian di Cafe 'S' seusai pulang kerja. Karena Kantor Kami yang berbeda arah, hingga Daniel menungguku di Cafe yang berada tepat di depan Kantorku ini.
"Maaf ya Niel, Aku telat. soalnya tadi meetingnya agak lama," cecarku pada Daniel sesaat setelah Aku duduk di kursi, depan Daniel.
__ADS_1
"Santai aja lah Ki, Aku juga belum lama kok nunggunya. Kamu pasti haus karena lari-lari dari Kantor, minum dulu gih. Aku sudah pesankan Strawberry Milk Juice favorit Kamu," sambil melirik pada minuman berwarna pink di depanku, Daniel tersenyum hangat. Ah rasanya dahagaku sudah hilang dengan senyumannya.
"Ki ... Kiara ... kok bengong? Ada masalah dengan meetingnya? Atau ada sesuatu yang salah di wajahku?" sembari menggoyangkan telapak tangan Daniel di depan mataku, yang langsung menyadarkan Aku dari lamunan bodohku.
"Sorry Niel, eng ... enggak kok ... gak ada masalah apa pun. Wajah Kamu juga baik-baik aja, gak ada yang salah. Aku cuma baru kepikiran tadi, belum siapin apa-apa buat Mami Kamu," jawabku sedikit gugup dan langsung meminum strawberry milk juice.
"Udah, gak apa-apa ... Kamu gak usah khawatir masalah itu. Aku udah beli kok tadi, Mami itu paling suka makan buah Pir. Jadi no problem Kiara ... Mami juga gak nuntut Kamu buat bawa apa pun kok, yang paling penting itu Kamu udah bisa datang jengukin Mami. Okay? Senyum dong ..." sambil menggenggam tanganku dengan hangat, dan sekali lagi memperlihatkan senyumnya yang membuat jantungku memompa lebih cepat dan Aku sangat yakin dengan wajahku yang sudah berubah warna sekarang, karena Aku merasakan panas yang menjalar ke sana.
****, calm down Kiara, Kamu itu cewek. Walaupun suka, Kamu gak boleh terlihat mudah di matanya. Santai ... okay, itu sudah cukup. Batinku saat Niel masih menatapku hangat. Sial Aku tak bisa berkata apa-apa lagi saat harus menatap mata itu. Apa yang harus Aku lakukan?
Beruntung, saat Aku tengah bingung dengan suasana yang terasa aneh ini, handphone Niel berbunyi. Segera ia melepaskan genggaman tangannya.
Selama tiga bulan ini, Aku masih belum mendengar ungkapan perasaan dari Daniel padaku seperti apa. Tapi semua perhatian dan perlakuan lembutnya, membuatku yakin bahwa ia juga memiliki rasa yang sama denganku.
Meski begitu ada sebagian dari hatiku meragukan kesungguhannya, karena semua 'kode' yang kuberikan seperti tak dihiraukan. Entah Dia memang tidak tahu, atau pura-pura tak mengerti. Semua itu membuatku bingung dan tak berani melangkah lebih jauh.
"Yuk, berangkat Ki ... Mami udah bangun tuh ... tadi Papi nelpon, Mami nanyain Kita." sambil tersenyum dan mengangguk kujawab ajakannya.
***
__ADS_1
Setelah sampai di ruangan Maminya di Rawat, Aku segera mencium punggung tangan Papinya Daniel, kemudian langsung mendekat ke arah Mami Danel. Wanita yang masih terlihat cantik dengan wajah pucatnya itu. Daniel juga langsung mencium kening Maminya yang sangat ia cintai.
"Makasih ya Kiara, sudah mau jenguk Mami ... " ucap Mami Daniel sambil mengenggam tanganku yang duduk di samping ranjangnya. Aku memang sudah biasa memanggil Tante Viona, dengan sebutan Mami seperti Anaknya memanggilnya. Begitupun Daniel yang menyebut Mama pada Mamaku.
Aku hanya membalas genggaman tangannya dan tersenyum dengan senyuman paling hangat yang bisa ku berikan pada wanita yang sangat lembut hatinya ini. Ibu dari empat putra ini, sudah memiliki cucu dari ketiga putranya. Hanya Daniel, putra bungsunya yang belum menikah. Namun sebagai seorang Nenek, tante Viona masih terlihat cantik.
"Iya Mi, Kiara senang bisa jenguk Mami. Mami cepet sehat ya Mi ... Kiara kangen ingin masak bareng Mami lagi .... " jawabku pada Mami yang langsung mengangguk meski dengan gerakan yang lemah.
"Iya Sayang ... Mami janji, jika sudah sehat nanti Kita masak bareng. Tapi, nanti di Rumah Kamu dan Niel ya ...?" sambil menatap padaku dan Daniel secara bergantian. Setelah itu Mami memberikan isyarat pada Daniel untuk mendekat, Mami memegang tangan Daniel dan menyatukannya dengan tanganku yang sudah terasa dingin karena gugup.
"Mami ingin Daniel dan Kiara menikah!" satu kalimat dari Mami, yang membuatku dan Daniel langsung menatap satu sama lain.
Terus terang Aku tak bisa gambarkan bagaimana perasaanku sekarang, bahagia tapi takut. Bahagia karena akan menikah dengan orang yang Aku cinta, tapi takut Daniel akan menolak. Karena Aku melihat raut wajahnya yang diam tanpa ekspersi apa pun yang membuat perasaanku makin beradu. Entahlah .....
BERSAMBUNG ....
---------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊
__ADS_1