
"Dina, Kamu kok bisa tahan sih dicuekin sama keluarga begitu?" tanya Tika, salah satu tetangga Rina sambil mengiris wortel.
Dina hanya tersenyum menjawab pertanyaan Tika, sambil sesekali melihat ke Ruang depan yang ramai dengan kerabatnya.
"Kalo Saya yang dicuekin padahal kerja di acaranya mereka, sudah pulang Saya sejak tadi. Udah kerja capek-capek, tapi hanya ditegur sekedar basa-basi." sambung Tika yang mendelik kesal ke arah Ruang depan yang semakin ramai dengan gelak tawa.
"Gak apa-apa Tik, Saya kan memang datang ke sini untuk kerja?" jawab Dina masih dengan senyumannya yang tulus, Tika hanya bisa geleng kepala dengan jawaban Dina.
"Eh iya Tik, kentangnya udah siap belum? Itu harus dibersihkan juga kan?" tanya Dina pada Tika untuk mengalihkan perhatian perempuan itu dari Kerabatnya yang makin heboh.
"Belum kayaknya Din, coba Kamu tanya ke Buk Rina. Itu kentangnya mau dibersihkan sekarang apa tidak? Kayaknya harus digoreng hari ini deh, biar besok gak repot lagi."
"Iya benar, baiklah ... Saya tanya Bibi dulu ya ...." ujar Dina pada Tika, yang dijawabnya dengan anggukan.
Dina pun segera beranjak ke ruang depan yang semakin ramai itu. Saat Dina semakin dekat, satu-persatu keluarganya yang baru sampai menyapanya.
"Dina udah lama ya?" tanya Rita, Sepupu Dina.
"Baru juga berapa jam, Dina kan memang harus datang lebih awal. Karena dari Kalian semua, Dina itu yang paling gak ada kesibukan. Betul kan Dina?" jawab Rini, atas pertanyaan Rita, bahkan sebelum Dina membuka suara. Dina pun hanya bisa mengangguk, sambil menguatkan hatinya.
"Oh iya, ngapain Kamu ke sini Dina? Kerjaan di Dapur udah beres semua?" ketus Bibinya bertanya pada Dina, seolah merasa terganggu dengan kehadiran Dina di tengah Mereka.
"Begini Bi, Dina mau tanya ... kentangnya dibersihkan dan digorengnya sekarang aja atau?.... " Rina langsung mendengus kesal, " Iya lah Dina. Kamu nih kayak gak pernah kerja aja, masalah segampang itu aja pake nanya. Bilang aja kalo Kamu tuh gak mau kerja lagi. Kamu kan udah biasa kerja kayak gitu!"
"Mungkin Dina hanya ingin mastiin aja lah Rin. Kamu kok bisa ketus begitu sama Dina? Udah bagus Dina mau bantu Kamu!" bela Tante Bela, salah satu Tantenya Dina yang memang paling peduli padanya.
"Dia udah biasa kok digituin. Kamu pake acara bela Dia lagi. Orangnya aja diam begitu, kenapa Kamu yang sewot?" Dina jadi merasa tak enak dengan kehadirannya yang membuat Bibi dan Tantenya bersitegang. Akhirnya Dina pun langsung berkata, "Dina gak apa-apa kok Tant, ya sudah ... Dina lanjutin kerjaan Dina di belakang ya ... permisi semua." sambil berlalu dari hadapan semua Keluarganya, Dina semakin kencang merafalkan Istighfar dalam hatinya.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, akhirnya Erik datang menjemput Dina. Keluarganya yang lain masih berkumpul, Erik hanya sebentar di sana. Dina langsung pamit pulang, bahkan tak terdengar ucapan terimakasih dari bibir Rina. Hanya Bela yang mengantar Dina dan Erik ke depan, sambil memberikan amplop pada Dina yang heran atas pemberiannya.
"Apa ini tante?" tanya Dina pada Bela yang hanya tersenyum, "Itu untuk Kamu dan Keluarga Kamu untuk beli baju buat Akad besok ya ... tolong terima. Hanya ini yang bisa Tante kasih buat Kamu. Tante gak mau Kamu jadi bulan-bulanan lagi Dina," ucap Tante Bela dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tante gak usah repot-repot. Dina udah biasa digituin Tant, apa yang mereka bilang juga benar kok. Gak ada gunanya buat marah."
"Enggak Sayang, tolong Kamu terima ya ... Erik, Kamu jangan tersinggung Ya, Tante gak ada maksud untuk menyepelekan apalagi menghina Kamu. Tante hanya ingin Kalian juga dihargai. Jika berat menerima ini sebagai pemberian, anggap saja ini pinjaman. Tapi tanpa batas waktu, kapan pun Kalian ada rezeki silahkan diganti," ucap Tante Bela dengan putus asa sambil memegang tangan Bela dan memandang Erik dengan pandangan yang seperti sedang mengiba.
"Baiklah Tante, jika Tante Bela memaksa. Tapi Kami akan terima ini sebagai pinjaman saja, Insya Allah jika ada rezeki akan Kami ganti. Terimakasih atas perhatiannya Tante, Saya tidak tersinggung. Saya mengerti perasaan Tante," jawab Erik sambil tersenyum. Tante Bela langsung memeluk Dina dengan haru.
*
Saat menjelang tidur, Dina mencurahkan semua isi hatinya pada sang Suami. Hal yang selalu mereka lakukan setiap hari.
__ADS_1
Erik hanya memeluk Istrinya dengan erat, mengecup pucuk kepalanya sambil berkata, "Sabarlah Sayang, Bersikaplah seperti Gula."
Dina langsung menengadahkan wajahnya pada Erik dengan keheranan, "Gula? Maksud Bapak?" sambil mengangguk, Erik menjawab, "Iya Buk, Gula yang selalu memberika rasa manis pada kopi. Namun jika kopinya pahit, maka gula yang akan disalahkan. Jika kopinya manis, kopi yang akan dipuji. Gak ada kan yang bilang 'Wah, gula ini enak sekali. Atau wah, gula ini manis sekali' yang ada orang pasti akan bilang 'Kopi ini manis sekali, atau Kopinya enak sekali'. Begitu Buk."
"Terus Pak, bersikap seperti gula ... maksudnya Kita harus tetap bersikap baik apa gimana Pak? Ibu masih bingung."
"Maksudnya Buk, walau pun Kita tak pernah dianggap. Tetaplah bersikap baik pada orang lain, seperti gula yang selalu setia memberikan manisnya pada kopi meski tak pernah ada yang menganggapnya. Mereka akan mencari gula saat butuh, tapi setelah digunakan yang terlihat hanya kopi," sambil mengacak pelan rambut Dina, Erik melanjutkan, "Tapi percayalah Buk, setiap kebaikan dan keburukan yang Kita lakukan akan ada timbal-baliknya. Jika buruk yang Kita perbuat, maka buruk pula yang akan Kita terima. Jika baik yang Kita lakukan, maka yang Baik pula yang akan Kita dapatkan."
Dina mengangguk dan tersenyum mendengarkan penjelasan Erik. Dalam hati selalu terbersit rasa Syukur yang tak terhingga karena memiliki Erik di sampingnya. Yang selalu menguatkan dan membimbingnga dalam menghadapi apa pun.
Semua hal yang dikatakan Erik, bukan sesuatu yang ia peroleh dari bangku sekolah. Karena Pria yang terpaut enam tahun dengan Dina itu hanya mengecap pendidikan di Sekolah Dasar, tapi pengalaman hidup yang keras lah yang menempanya jadi pribadi yang kuat dan sabar.
*
Akad Nikah Tari di laksanakan dengan cukup meriah, meski hanya di Rumah. Dina dan Keluarganya datang dengan menggunakan pakaian yang dibeli semalam saat perjalanan pulang dari Rumah buk Rina. Dina langsung mengantarnya di Loudry agar cepat kering dan bisa digunakan hari ini.
Beruntung akad nikahnya dilaksanakan pada jam 10 jadi masih ada keaempatan untuk ambil loundrian dulu. Jadi mereka ke Rumah buk Rina setengah jam sebelum akad nikah berlangsung.
Meski telah menggunakan pakaian yang layak, namun perlakuan Rina dan Saudaranya yang lain tak lebih baik. Ditambah lagi Dina yang datang agak telat dari yang lain itu jadi bahan cibiran mereka. Berbagai macam celetukan yang bisa membuat kuping panas dilontarkan mereka.
"Dateng telat! Kayak tamu aja!"
"Mentang-mentang pakai baju baru, sampai lupa diri!"
Dan masih banyak cibiran mereka pada keluarga Dina, meski dengan suara pelan tapi Dina bisa mendengarnga dengan jelas. Ingin rasanya Dina pulang ke Rumah saat ini juga, jika tidak ditahan Erik. Suaminya itu hanya berbisik, "Kopi dan Gula Buk, ingat kan?" Dina hanya mengela nafasnya dalam, dan mencoba untuk tersenyum saat erik membuat lelucon tentang minum kopi saat pulang nanti. Tapi Erik berkata untuk memuji gula dan yang membuat kopinya kali ini.
Beruntung ketiga Anak mereka tak tahu soal ini, mereka sudah berbaur dengan keluarga yang seumuran dengan ketiganya. Begitu pun Tante Bela yang datang sesaat sebelum akad nikah berlangsung, tak tahu soal cibiran mereka.
Acara Akad Nikah pun berjalan dengan lancar. Mereka melangsungkan acara foto bersama keluarga, mungkin karena cukup banyak tamu yang datang, Dina diperlakukan dengan baik.
Keluarga kecil Dina tidak menghadiri acara resepsi yang diadakan di Gedung. Saat pamit pulang pada Rina usai akad nikah, tak ada paksaan juga yang keluar dari bibirnya untuk keluarga Dina bisa menghadiri Resepsi Anaknya.
Sebaliknya dengan lemah lembut Rina berkata pada Dina dan Erik, "Sayang sekali Kalian tidak bisa hadir, tapi kasian juga jika harus pulang larut. Anak-anak kan sekolah besok? Nanti bolos lagi karena telat pulang dari sini," Dina dan Erik hanya tersenyum menanggapinya.
Setidaknya Dina merasa diperlakukan dengan baik, meski ia sendiri sadar itu hanya sebagai cara untuk mengusir mereka secara halus. Bahkan sebelum pulang, Rina masih sempat membukuskan beberapa lauk yang tersisa dari acara akad tadi. Dina menerimanya dengan rasa Syukur.
*
Waktu terus berlalu dan seperti perputaran Bumi, kehidupan pun seakan ikut berotasi. Seperti hari-hari yang dijalani Keluarga Dina dan Erik yang penuh rasa Syukur itu, mulai menampakkan masa depan yang cerah.
Memiliki Anak-anak yang cerdas dan Sholeh/Shaliha, nyatanya membawa keberkahan dalam hidup mereka. Usaha kue yang dirintis dari Warung ke Warung, sudah mendapatkan tempat di hati pelanggan yang sering membeli kuenya.
__ADS_1
Hingga sebagian besar pembeli langsung ke Rumah untuk memesan kue jika ada hajatan atau hanya untuk sekedar acara arisan. Dina bahkan sudah mulai kerepotaan dengan pesanan yang membludak. Erik sudah mulai fokus membantu bisnis sang Istri dengan menjadi Kurir untuk mengantar pesanan Kue.
Sedikit demi sedikit tabungan mereka mulai terkumpul, tapi masih digunakan untuk Pendidikan ketiga Anak Mereka. Erik juga mulai merintis usaha tambal ban sederhana, yang ternyata memiliki Rezekinya sendiri. Bisnis kue Dina membuka lapangan pekerjaan bagi para wanita yang tak punya keahlian dan pengalaman kerja di Kompleksnya
*
Lima Tahun Kemudian
"Assalamualaikum .... " terdengar Seseorang memberi salam di sebuah Rumah yang Minimalis, namun terlihat bersih dan sejuk dengan banyaknya tanaman yang menhiasi pekarangannya.
"Waalaikumsalam ... " jawab seorang Perempuan, yang tampaknya pemilik Rumah minimalis tersebut.
"Maaf ganggu, ini benar Rumahnya Dina?" tanya Wanita yang bertamu tersebut, "Iya, Saya sendiri. Silahkan duduk dulu ... " jawab Dina sambil mempersilahkan Wanita itu duduk di kursi kayu yang terletak di teras Rumah.
"Maaf ganggu, Saya tetangganya Buk Rina. Beliau sekarang sedang sakit, dan hanya ada di kontrakan. Saya dapat Rumah Ibu dari tetangga Saya yang langganan kue di tempat Ibu. Saya sampai kemari, karena Ibu Rina selalu menyebut nama Ibu. Anaknya tak bisa dihubungi."
"Astagfirullah Bi Rina? Saya memang sudah lama tak ada komunikasi dengan Beliau. Kami pindah ke Kota ini karena Anak yang meminta. Sempat Saya mencari Beliau di Rumahnya. namun kata Tetangganya, Rumahnya telah dijual. Tak ada kontak Anaknya juga. Bi Rina seakan ditelan Bumi, tak ada satu pun yang tahu keberadaannya ... Ya Allah .... Dimana Bibi Saya sekarang?" Air mata Dina mulai menetes, seberapa buruknya perlakuan Bibinya pada Dina, ia sudah melupakannya.
Setelah pamit pada Suaminya via telepon, Dina segera pergi dengan Wanita yang bernama Nia tersebut.
Saat sampai di tempat yang dituju, Dina hanya bisa menutup mulutnya tak percaya. Bibinya yang dulu tinggal di Rumahnya yang besar itu kini hanya tinggal di sebuah petak. Rumah Kontrakan yang lebih sempit dari Rumah Kontrakan Dina dulu.
Wanita yang dulu selalu terlihat glamour itu, kini terbaring lemah dan badannya kurus tak terawat. Wanita itu langsung menangis tersedu saat melihat Dina, Ponakan yang selalu ia benci. Kebenciannya yang tak bisa ia tahan hanya karena iri pada Dina, yang selalu terlihat bahagia meski kehidupannya sangat sederhana.
Sedangkan dirinya hanya terlihat bahagia dari luar, nyatanya adalah setiap hari ia menderita atas tingkah Suaminya yang selalu gonta-ganti perempuan. Kadang tangannya melayang menghantam tubuh Rina, jika terlalu banyak bertana ini-itu. Namun Rina bertahan karena gengsinya yang terlalu besar.
Puncaknya adalah setahun yang lalu, Suaminya selingkuh dengan perempuan malam dan lebih memilih perempuan yang lebih muda 10 tahun dari Rina itu untuk dinikahi. Rina lebih memilih lari dari pada harus menerima cibiran dari tetangga dan kerabat.
Anak semata wayang yang dicintai dan selalu dibanggakan nyatanya tak peduli dengan kondisi Rina. Hanya dua kali Tari mengirimkan Uang untuk Ibunya berobat, setelah itu tak ada kabar sama sekali. Semua uang tabungan Rina, dan perhiasan yang sempat ia bawa sudah habis terjual. Tinggallah dirinya meringkuk seorang diri di dalam petak kontrakan yang hanya berdinding tripleks ini.
Beruntung ada Nia, tetangga barunya yang prihatin dengan kondisi Rina. Hingga mampu membawa Dina ke kontrakan ini sekarang.
Dina segera membawa Bibinya ke Rumah Sakit tempat Alif bekerja sebagai Dokter. Kondisi Rina mulai membaik. Namun takdir berkata lain, Rina harus menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman diwajah. Setiap hari ia meminta maaf pada Rina yang sudah memafkannya.
Meski telah Sukses dalam hidup dan dalam membimbing Ketiga Anaknya yang kini jadi seorang Dokter, Pengacara dan Dosen tersebut, namun Dina dan Erik tetap berusaha untuk menjadi gula dalam kehidupan mereka. Nyatanya diakui atau tidak, gula yang telah membuat Kopi dan bahan makanan lainnya menjadi manis.
Karena itulah dengan penghasilan mereka yang sekarang, Dina dan Erik tetap memilih hidup sederhana dan sebisa mungkin bermanfaat bagi orang di sekitar mereka.
Kopi dan Gula ibarat kehidupan yang selalu terasa pahit dan membutuhkan gula sebagai pemanisnya. Itulah rasa Syukur yang kadang sering terlupakan kala Kita telah bahagia.
SELESAI
__ADS_1
------‐-----------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊