Kopi Dan Gula

Kopi Dan Gula
34. Elegi Hati Riani (Satu)


__ADS_3

Pagi yang mendung, hujan mulai turun dengan lebat membawa kesedihan di hati seorang Wanita muda yang sejak tadi bersiap untuk pergi bekerja.


Jika hujan turun seperti ini terus, akan makan apa nanti kedua Anaknya yang masih kecil. Wanita yang bernama Riani itu sudah terbiasa menahan lapar. Tapi ia tak akan membiarkan kedua Putrinya kelaparan.


Wanita itu menatap Putri-putrinya yang masih tertidur pulas, di atas kasur yang sudah tua dan terdengar bunyi derit saat salah satu Putrinya menggerakkan badan. Tapi itulah tempat tidur paling nyaman bagi mereka selama ini.


Sambil duduk di depan pintu Kontrakan mereka, menatap pada deraian hujan yang turun dengan derasnya, Wanita itu seperti terbawa kembali ke masa lalu.


FLASH BACK ON (Lima Tahun Lalu)


"Riani, Kamu mau kan menikah dengan Aku?" tanya Dino, Pemuda tanggung berusia 19 tahun. Tapi jatuh cinta pada Riani si Kembang Desa, yang hidup sebatang kara. Mencoba peruntungannya ke Kota jadi seorang Asisten Rumah Tangga.


"Tapi Dino, Aku ini hanya Pembantu di Rumah Kamu. Orangtua Kamu, pasti tak akan merestui," jawab Riani yang usianya sama dengan Dino.


"Aku akan yakinkan Mereka agar merestui Kita," ucap Dino sambil menggenggam tangan Riani, Kekasih hati yang ia rahasiakan dari kedua orangtuanya.


"Kita saja selama ini pacarannya sembunyi-sembunyi Din, apa Kamu yakin bisa mengungkapkan hal sebesar ini pada Tuan dan Nyonya?" tanya Riani yang mulai merasa gundah.


Tak bisa dipungkiri, Gadis berkulit bersih ini memang sangat mencintai Dino. Putra Majikannya yang memacarinya sudah 5 bulan ini secara rahasia.


Riani menerimanya, tanpa berharap lebih. Tapi malam ini, saat Orangtuanya tak ada di Rumah Dino masuk ke Kamar Riani. Gadis itu sangat terkejut, Dino tak pernah melakukan hal ini sebelumnya.


Entah setan apa yang telah merasukinya, ia langsung memeluk tubuh sintal Riani erat. Gadis itu menolak, karena merasa ini tak benar. Akhirnya Dino melepaskannga. Tapi sebagai gantinya Dino malah mengajaknya menikah.


Hal yang paling Riani damba, tapi ia sadar diri bahwa itu tak akan mungkin terjadi. Mengingat status sosial mereka, terlebih Dino sekarang tengah menempuh pendidikannya di bangku Kuliah.


"Riani, kenapa diam saja Sayang? Aku janji, kali ini akan mengatakan pada Mama dan Papa ya ... tapi Kamu mau kan nikah dengan Aku? sambil mengangkat dagu Gadis itu agar menatap wajahnya.

__ADS_1


"Kuliah Kamu gimana Din?" tanya Riani dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Gadis itu tak bisa menyembunyikan kegamangan hatinya.


"Aku akan tetap kuliah, walaupun Kita sudah menikah. Setelah lulus Kuliah, Aku akan kerja di perusahaannya Papa ... dan Kita akan hidup bahagia dengan Keluarga kecil Kita nanti. Kamu mau kan, membina keluarga dengan Aku, Riani? Jadi Ibu dari Anak-anak Aku nanti?" tanya Dino sambil menatap sayu pada Riani yang mulai menangis.


"Kenapa Kamu nangis Sayang? Kamu gak suka ya, sama Aku? Jadi ... ini cinta bertepuk sebelah tangan?" ujar Dino langsung melepas genggamannya pada Riani dan membelakangi Gadis yang mulai terisak itu.


Karena melihat Dino yang sepertinya marah, Riani langsung memeluk Pemuda itu dari belakang, "Aku mau Din, Aku mau nikah sama Kamu. Karena Aku juga cinta sama Kamu. Aku hanya takut, Kita tak akan direstui."


Mendengar pengakuan Riani, Dino langsung berbalik dan memeluk erat kekasihnya yang makin menangis.


"Kamu percaya kan sama Aku?" tanya Dino, setelah Riani mulai tenang, "Iya Din, Aku percaya Kamu. Kenapa?"


"Aku mau Kamu membuktikan keseriusan Kamu sekarang. Agar Aku bisa lebih mudah meyakinkan Orangtuaku untuk merestui Kita."


"Maksud Kamu? Aku serius menjalin hubungan dengan Kamu. Bukti apa lagi yang Kamu minta dari Aku Din?" tanya Gadis itu bingung sambil menatap wajah Dino yang mulai memerah.


"Tapi Din ... Aku takut. Ini tidak benar. Bagaimana kalau Kamu minta restu dulu?"


"Sepertinya Kamu memang tidak serius Riani. Baiklah kalau begitu, lupakan saja. Aku juga akan mundur, ternyata Kamu tidak serius."


"Bukan begitu Din ... Aku ... " belum selesai Riani menyelesaikan kalimatnya, Dino langsung memagut bibirnya. Gadis itu tersentak dengan gerakan tiba-tiba Dino yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Riani ingin melepaskannya, tapi Dino sudah tak terkendali. Bahkan tangannya kini sudah bergerilya ke bagian sensitif yang ada di tubuh Riani, Gadis itu tak bisa menahannya lagi.


Ada penolakan dalam dirinya, namun karena cintanya pada Dino, dan ini adalah sentuhan pertama Riani yang didapatkannya dari lawan jenis. Maka Gadis itu hanya bisa memejamkan mata, menikmati sensasi yang baru pertama kali ia rasa. Hingga terjadilah perbuatan yang 'terlarang itu'. Riani hanya bisa menangis.


"Aku janji akan memperjuangkan cinta kita. Terimakasih, Kamu sudah mau membuktikan keseriusan Kamu. Aku cinta Kamu Riani ... " ucap Dino sambil mengecup lembut kening Riani. Gadis itu masih menangis, hanya berharap Dino bisa menepati janjinya.

__ADS_1


Selama Orangtua Dino belum kembali, entah sudah berapa kali kedua insan yang dimabuk asmara itu melakukan perbuatan terlarang mereka. Dino juga semakin perhatian dan menyayangi Riani.


***


Hari yang dinanti tiba, kepulangan Orangtua Dino. Namun Pemuda itu seperti terkunci mulutnya. Berat bibirnya untuk berucap, sangat berbeda dengan yang ia janjikan pada Riani dulu.


Gadis itu mulai gelisah, ia menuntut Dino untuk menepati janji. Tapi beribu alasan Pemuda itu ungkapkan pada Gadisnya yang terpaksa menerima alasan yang kadang terdengar dipaksakan.


Tak terasa dua bulan telah berlalu, Riani merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Badannya semakin cepat merasa lelah, meski bekerja tak seberapa. Penciumannya sudah mulai sensitif dengan aroma rempah, yang sebelumnya hal biasa bagi hidungnya.


Gadis itu melihat kalender yang tertempel di kamarnya, ia baru sadar telah terlambat sebulan. Gadis itu segera memastikannya dengan membeli alat tes kehamilan di Apotik. Benar dugaannya, ia kini tengah mengandung.


"Dino ... Aku hamil, 1 bulan ... " ucap Riani pada Dino, saat mereka berada di Dapur. Sambil berbisik, takut Orangtua Dino yang sedang menonton TV tahu.


"Mungkin Kamu salah Riani?" ujar Dino meragukan ucapan Riani yang mulai gelisah.


"Aku mungkin salah, tapi tes kehamilan tak akan meleset. Ditambah lagi, Aku merasakan perubahan pada tubuhku. Kamu harus segera menepati janjimu Dino! Kamu harus tanggungjawab!" ucap Riani sambil menyerahkan tespack pada Dino.


"Baik, akan Aku katakan pada Orangtuaku ... nanti. Aku cari waktu yang tepat."


"Sampai kapan Aku harus menunggu? Sampai perutku membesar? Atau sampai Bayi ini lahir? Katakan Dino! Jika Kamu tak mau bicara, maka biar Aku saja," ucap Riani sambil bersiap hendak pergi ke Ruang Keluarga. Tapi langkahnya terhenti karena ditahan Dino.


BERSAMBUNG ....


--------------------------


Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊

__ADS_1


__ADS_2