
Akhirnya hari yang dinanti semua Mahasiswa itu datang juga. Libur Semester. Terutama untuk dua sahabat yang selalu lulus di semua mata kuliah yang mereka ambil, tak ada lagi hal yang membuat mereka harus menunda liburannya. Livia dan Zefanya, dua Sahabat yang selalu bersama sejak masih sekolah dulu.
Mereka berdua mengambil kelas yang sama dan bahkan tinggal bersama di sebuah Kost Putri yang dekat dengan Kampus. Karena keduanya berasal dari Kota 'X', yang memiliki jarak tempuh sekitar 6 jam dari Kota di mana Kampus mereka berada sekarang.
Selain itu Mereka berdua baru 15 bulan ini serius menjadi content creator di chanel youtube yang mereka beri nama ZeVi. Berbagai macam konten menarik seputar Lifestyle Anak Milenial mereka kemas jadi lebih menarik, sehingga chanel mereka kini bisa menjadi penghasilan yang cukup menjanjikan bagi keduanya.
"Vi, Kamu ada rencana liburan kemana kali ini?" tanya Zefanya saat mereka sedang menikmati pangsit di Warung Makan depan Kampus.
"Belum ada si Ze ... Kamu ada ide gak? Bosen ni kalo liburannya ke tempat yang sama, pengen nyoba yang anti mainstream gitu ... biar bisa dibuat konten keren, kayak sebelumnya."
"Bener juga sih kata Kamu ... kemana ya bagusnya?" ujar Zefanya sambil menyeruput es teh manisnya.
Saat keduanya tengah memikirkan lokasi yang cocok untuk liburan sekaligus untuk konten mereka nanti, Wanda datang mendekati keduanya. Setelah memesan bakso dan es teh manis pada Pemilik Warung, Gadis yang selalu ceria itu langsung duduk di depan Zefanya dan Livia.
"Lagi pada bahas apaan nih? Kayaknya serius banget?" tanya Wanda, teman seangkatan mereka tapi beda jurusan.
"Kita berdua lagi pengen liburan, tapi bingung kemana? Selama ini tempatnya itu-itu aja. Kalo gak ke Pantai, ya ke Puncak. Atau enggak ke Daerah yang lagi jadi tranding. Kita berdua tuh, lagi pengen liburan ke tempat yang anti mainstream ... biar seru dan ... bisa buat
konten youtube juga. Lumayan kan? Liburan tapi menghasilkan?"
"Bener juga sih ... sebenarnya ... Aku punya satu tempat yang sangat ... rahasia. Tapi gak tahu deh, kalo kalian bakal mau kesana?" ujar Wanda pada dua temannya yang langsung bertatapan satu sama lain.
"Serius Wan? Dimana tempatnya?" tanya Zefanya antusias, yang diiyakan oleh Livia.
"Tapi tempatnya jauh lo ... kalian beneran masih mau?" tanya Wanda sekali lagi, sambil mulai menikmati bakso pesanannya.
"Yang penting aman di sana, seberapa jauh tempatnya buat Kita gak masalah sih. Benar kan?" ujar Livia sambil menatap pada Zefanya yang diAmini Gadis tersebut dengan anggukan pasti.
__ADS_1
"Soal tempatnya sih, Kalian gak perlu khawatir. Kebetulan ini tuh di dekat Rumah Tante Aku. Jadi ini tuh kayak Villa gitu, cuma bedanya bukan di puncak. Tapi lebih ke pedalaman, yang jauh dari Rumah Penduduk lain di Desa itu. Terus ini nih yang spesial. Rumah ini di kelilingi pemandangan yang keren banget. Apalagi buat di bikin konten. Pasti banyak yang bakal suka. Sekalian jadi promosi juga sih buat tempat yang belum banyak orang tahu ini." jelas Wanda panjang lebar pada Zefanya dan Livia yang semakin tertarik dengan penjelasan Wanda.
"Ada apa aja di sana Wan?" tanya Zefanya penasaran.
"Ada Air Terjun yang tingginya 20 meter, Airnya benar-benar jernih dan dingin. Bukan cuma satu Air Terjunnya, tapi ada lima. Terus Ada Bukit yang hijau, kaya Bukitnya Teletubbies. Nah kalo Kita naik ke Bukit itu, Kita bisa lihat pemandangan yang lebih keren lagi, yaitu Kita bisa liat Pantai pasir putih yang masih belum 'terjamah' manusia. Kalo masih ada waktu, Kita bisa kok ke Pantai itu." ucap Wanda dengan semangat, setelah itu Gadis berambut pendek itu melanjutkan makan baksonya dengan santai.
"Beneran ini Wan? Tapi kalo emang sekeren itu tempatnya, kok belum ada yang tahu? Apalagi di Zaman sekarang?" tanya Livia pada Wanda yang langsung menyeruput es teh manisnya.
"Makanya itu, ini jadi kesempatan Kalian berdua. Untuk jadi yang pertama mempromosikan Tempat ini. Satu-satunya kekurangan dari Tempat ini adalah ... di sana tak ada yang namanya sinyal handphone apalagi internet ... "
"What?" seru Livia dan Zefanya bersamaan, karena saking kagetnya dengan penjelasan Wanda, "Terus gimana Kita bikin kontennya? Terus gak bisa ngabarin Keluarga dong pas di sana?"
"Makanya Kalian harus butuh persiapan yang lebih dari biasanya ... ini sih, kalo emang beneran serius pengen pergi. Kalian cuma bisa merekam video sebanyak-banyaknya di sana, terus edit dan postingnya nanti saat udah balik aja. Kalo ngehubungin keluarga, bisa sih ... di Rumah Tante Aku ada telepon satelit gitu ... jadi bisa dipake buat nelpon. Gimana?" tanya Wanda pada Livia dan Zefanya sambil memandang keduanya secara bergantian.
"Kita pikir-pikir dulu deh, kan harus izin juga sama Orangtua Kita? Kalaupun jadi, mungkin hanya 5 hari Kita berdua di sana. Soalnya harus Pulang Kampung juga. Kangen Rumah. Benar kan Ze?" tanya Livia pada Sahabatnya yang langsung mengiyakan.
"Oke deh, nanti Kita pasti bakal kasi kabar secepatnya!" ujar Zefanya dan Livia bersamaan.
***
Setelah minta izin ke Orangtua masing-masing via telepon, Zefanya dan Livia menghubungi Wanda untuk memberitahukan kesediaan mereka berlibur bersama di Rumah Tantenya.
Di hari yang telah disepakati bersama, Wanda menjemput Zefanya dan Livia di Kost Mereka. Karena bukan hanya sekedar liburan, tapi juga untuk membuat konten. Sehingga bawaan mereka cukup banyak. Wanda hanya tersenyum melihat kerepotan mereka berdua.
Jarak yang harus ditempuh untuk ke tempat liburan mereka cukup jauh dari Kota sekarang. Beberapa kali mereka istirahat sejenak, untuk makan siang dan meregangkan seluruh persendian ketiganya yang terasa kaku.
Terutama Wanda dan Livia yang bergantian menyetir, tapi tetap terasa sangat lelah.
__ADS_1
Tiga belas jam, total waktu yang harus mereka habiskan untuk bisa sampai di Desa yang mereka tuju. Tepat tengah malam, mereka sampai di Tempat tujuan.
Zefanya yang sudah tertidur di kursi belakang, merasa ada yang duduk di sampingnya dan menyentuh tangan gadis itu, yang membuatnya terlonjak kaget dari tidur lelapnya, "Awww ... "
Livia yang juga sudah menahan kantuknya sejak tadi, langsung membuka matanya lebar. Wanda yang masih fokus menyetir hanya bisa bertanya pada Gadis berambut panjang tersebut.
"Kamu kenapa Ze?"
"Aku ... tadi ada yang memegang tanganku. Rasanya dingin banget," jawab Zefanya sambil bergidik, karena merasa seluruh tengkuknya merinding.
"Perasaan Kamu aja kali Ze ... Kita kan udah mau sampe ini, di sini emang dingin sih Ze ... " jawab Wanda yang di iyakan oleh Livia, yang masih melihat ke belakang.
Meski masih merasa debaran jantungnya tak beraturan, Zefanya terpaksa mengiyakan perkataan temannya.
"Mungkin kali ya ... Aku emang sempat mimpi aneh gitu tadi ... oh iya Wan, masih jauh ya Rumah Tante Kamu? Kayaknya udah gak ada lagi deh Rumah di jalan ini?" tanya Zefanya pada Wanda.
"Bentar lagi kok, nih tinggal satu belokan. Emang Rumah Tante Aku kan jauh dari Rumah Penduduk di Desa ini? Tapi kalian tenang aja, aman kok di Rumah Tante Aku."
Zefanya kini mulai membuka jendela mobilnya, ingin melihat langsung jalanan yang mereka lalui. Hanya ada deretan pepohonan yang menjulang tinggi dikedua sisinya, tak ada satu pun Rumah atau bangunan yang lain.
Hanya gelap malam dan sedikit kabut tipis yang bisa dilihat sepanjang mata memandang, udara yang masuk semakin dingin. Zefanya langsung menutup kaca mobilnya. Saat ia menoleh ke samping kananya, seorang perempuan berambut panjang dengan mukanya yang hancur tengah tersenyum lebar ke arahnya ....
BERSAMBUNG
---------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊**
__ADS_1