
"Kalian udah sarapan?" tanya Zefanya santai pada dua Sahabatnya yang sedang berbincang di Ruang Tamu.
"Belum nih, kan masih nungguin Kamu?" ucap Livia, yang juga dijawab dengan anggukan oleh Wanda.
"Emm ... Wan, Tante Intan mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Zefanya pada Wanda.
"Tante Intan, ada kok di Kamarnya. Soalnya Tante masih merasa kurang sehat ... "
"Udah minum obat belum? Atau ... gimana kalo Kita beliin obatnya?" ajak Zefanya pada Livia dan Wanda. Keduanya tampak sedang mempertimbanhkan ajakan Zefanya, sampai akhirnya Wanda langsung setuju. Karena setahu Dia Tantenya belum minum obat apa pun.
"Terus Kita beli obatnya di mana?" tanya Livia, setelah mereka keluar dari Rumah Tante Intan. Wanda sudah pamit pada Tante Intan yang masih terbaring lemah di Kamar Tidurnya. Sebelumnya, Wanda sudah mengajak Tantenya ke Puskesmas di Desa. Namun Wanita itu menolak untuk pergi, dengan alasan tak terlalu sakit. Mungkin hanya kelelahan katanya.
Dengan berjalan kaki, Ketiga Gadis tersebut pergi ke Perkampungan Warga untuk membeli obat. Di bawah sinar mentari yang bersinar terang, namun belum panas menyengat itu terlihat jelas pemandangan yang sangat indah. Berbeda dengan yang mereka lihat semalam. Udara yang sejuk, menyentuh kulit mereka saat menapaki jalanan yang terlihat sunyi.
"Kok sepi sih Wan? Orang-orang pada kemana?" tanya Livia pada Wanda, saat Mereka melihat Rumah-rumah Warga yang tertutup rapat.
"Ada Toko obat gak di sini?" tanya Zefanya, sambil melihat ke segala arah.
"Gak tahu juga sih Aku, Kita tanya dulu yuk. Tuh ada Kios di depan sana," ujar Wanda, sambil menunjuk ke seberang jalan. Zefanya dan Livia melihat ke arah Kios yang di tunjuk Wanda, dan segera berjalan ke arahnya.
"Oh iya, sekalian cari sarapan juga yuk ... perut Aku keroncongan nih," ujar Livia pada kedua sahabatnya.
"Ya udah, kalo gitu Kita bagi tugas aja. Aku yang beli obatnya, Kamu sama Wanda yang cari sarapannya. Gimana? Nanti ketemunya di Kios itu aja." usul Zefanya yang langsung disetujui keduanya.
"Wan, Tante Kamu demam atau?"
"Iya, beli obat pereda demam aja Ze. Kalo bisa sama vitamin juga. Mungkin Tante kelelahan ngurusin kerjaan Rumah. Soalnya kan Bibi yang kerja di Rumah, masih pulang ke Kampungnya karena Anaknya sakit."
"Oke deh, nanti Aku beliin Vitamin sama pereda demamnya," ucap Zefanya sambil tersenyum. Sekaligus melambai pada kedua sahabatnya yang berpisah ke arah yang lain, untuk membeli sarapan.
Saat mendekati Kios Kelontong, yang juga tampak sepi itu Zefanya langsung bertanya pada pemilik Kios yang sedang menyapu.
"Permisi Buk, Di sini ada Toko Obat gak?" tanya Zefanya pada Wanita paruh baya yang menghentikan aktifitas menyapunya itu.
"Toko Obat? Jauh Neng. Kalau boleh tahu, Neng ini Siapa dan dari mana ya? Soalnya baru liat Ibu?" tanya Ibu itu sambil menatap Zefanya dengan penasaran.
"Oh iya, Buk. Perkenalkan, nama saya Zefanya. Saya dan dua orang teman Saya dari Kota sebelah Buk," jawab Zefanya sambil menjulurkan tangannya yang disambut jabatan hangat Oleh Ibu tersebut.
__ADS_1
"Panggil saja Saya Bi Teti. Oww ... dari Kota? Terus Temannya mana Neng? Ada keperluan apa kemari? Maaf yaa, Saya banyak nanya ... silahkan duduk dulu Neng, Bi Ambilin minum sekalian yaa ... " sebelum sempat Zefanya menjawab Bi Teti langsung mengambilkan kursi plastik untuk Zefanya duduk di teras Kios. Lalu segera ke dalam untuk membuatkan minuman sekaligus cemilan.
"Tidak usah repot-repot Bi, jadi gak enak Saya," ucap Zefanya merasa sungkan pada Wanita itu saat membawakan minuman dan cemilannya, "Tidak merepotkan Neng, Bibi senang ada temannya."
"Makasih Bi," ucap Zefanya saat Wanita itu duduk di depannya.
"Oh iya, jadi lupa soal yang tadi. Teman Neng yang dua lagi mana? Terus ada perlu apa kemari?"
"Teman-teman Saya pergi membeli sarapan Bi, terus Kita di sini buat liburan. Kata Teman Saya di sini ada Air Terjun yang keren ya Bik, jadi Kita penasaran."
"Iya Neng, gak jauh kok dari sini. Silahkan diminum Neng tehnya. Terus di sini tinggal sama siapa?" ujar Bi Teti pada Zefanya yang langsung meminum tehnya.
"Kita tinggal di Rumah Tante Intan Bik," jawab Zefanya pada Bik Teti yang tampak tercengang.
"Intan ... Intan yang mana Neng?" tanya Wanita Paruh baya itu sedikit bergetar. Seketika Zefanya merasa tak enak dalam hatinya.
"Tante Intan, yang Rumahnya ada di sebelah sana Bik" jawab Zefanya, sambil menunjuk ke arah Rumah Tante Intan.
"Kalian sampai di sini kapan?" tanya Bik Teti yang terlihat makin gugup.
"Semalam Bik, Tante Intan kurang sehat. Makanya sekarang Saya mau beli obatnya ... kalo boleh tahu, kenapa Bibi Teti terlihat ... gugup sekarang?" tanya Zefanya sedikit takut, melihat ekspresi Wanita di depannya yang sudah tampak pucat.
"Maksud Bibi? Tidak ada ...?"
"Dia sudah ... MENINGGAL kemarin sore!" ucap Wanita itu bergidik ngeri.
"Tapi, kenapa rumahnya sepi Bik? Terus ... kenapa Teman saya Wanda, tidak tahu?" tanya Zefanya pada Bi Teti heran.
"Intan meninggal di Rumah Saudaranya. Mana Teman Kamu itu?"
"Kini Zefanya merasa semakin takut. Livia sedang bersama Wanda. Sedangkan di sini tak ada signal. Bagaimana ini?"
"Nanti mereka akan ke sini Bi. Saya akan tunggu mereka di sini."
"Lebih baik Kalian langsung balik ke Kota saja sekarang. Sudah tak ada orang di Rumah itu."
"I ... iya Bi, Saya nungguin Teman Saya dulu."
__ADS_1
"Kalian ke sini naik apa?"
"Mobil teman Saya Bik,"
"Mobilnya di mana?" sebelum dijawab Zefanya, datang seorang Pemuda yang hendak belanja di Kios, "Ada Tamu Bi? Siapa?" tanya Pemuda yang hendak belanja tersebut.
"Ini ... Nengnya dari Kota, mau liburan kemari. Oh iya, Kamu baru pulang dari Kota kan semalam? Barangkali sempat melihat mobil mereka waktu dalam perjalanan?" tanya Bi Teti kepada Pemuda yang tampak berfikir tersebut.
"Seingat Saya, tak terlalu banyak kendaraan dari Kota ... Kamu jam berapa sampai ke Desa?" tanya Pemuda itu pada Zefanya.
"Aku lupa persisnya, yang pasti sudah tengah malam. Karena saat sampai, semua Rumah di sini sudah tertutup."
"Kamu ke sini dengan Siapa? Terus naik mobil atau ... " tanya Pemuda itu penasaran, "Aku ke sini bertiga dengan Temanku dan kami mengendarai mobil Teman Aku itu."
"Kamu ... Kamu Zefanya bukan?" Pemuda itu seperti tercengang melihat Zefanya.
"Kamu kenal Aku?" kini Zefanya yang kaget, begitupun dengan Bi Teti.
"Aku temukan ini di mobil kalian, ini punya Kamu kan?" tanya Pemuda itu bergetar, sambil meyerahkan sebuah kartu nama. Zefanya mengenalinya, saat dia hendak memegangnya kartu tersebut tak bisa ia raih. Entah apa yang terjadi.
Seketika Bi Teti jatuh pingsan, untung langsung ditahan Pemuda tersebut. Dan langsung di dudukannya pada kursi di sebelah Zefanya.
"Ada apa dengan Aku. Kamu kenal Aku di mana? Apa yang sebenarnya terjadi? Semua baik-baik saja tadi." ucap Gadis itu sambil menangis.
"Kamu sekarang sedang koma Zefanya. Sekilas Aku tidak mengenali Kamu, tapi setelah mendengar pengakuanmu. Aku jadi teringat dengan kartu nama ini. Kalian mengalami kecelakaan saat hendak memasuki Desa. Aku dan Teman-temanku yang menemukan Kalian, beruntung Lokasinya tak jauh dari Puskesmas."
"Tapi kenapa Bibi dan Kamu ... bisa melihatku? Bagaimana dengan Teman-temanku?"
"Mungkin karena Kamu belum sadar atas apa yang terjadi, Aku juga tak tahu pasti. Yang Aku tahu, hanya Kamu yang selamat dari kecelakaan itu. Kedua Temanmu ... telah tiada."
Seketika Zefanya merasa Dunianya runtuh, ia bahkan tak tahu apa yang terjadi. Tapi semakin lama, tubuhnya terasa sakit. Terutama jatungnya serasa akan meledak, ia harus menutup matanya karena tak tahan dengan rasa sakit yang mendera.
Saat membuka mata, Zefanya mendapati Tubuhnya telah terpasang berbagai macam alat. Namun, tak lama kemudian ... semuanya terasa gelap ... dan ... menghilang.
SELESAI
--------------------------
__ADS_1
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊