
Rindu ini semakin membuncah di dada, sesak seakan hendak meledakkan semua rasa yang ada. Hanya bisa membayangkan senyum si Sulung Adit kala ingin mengajak bermain, hanya bisa berharap bisa menggendong si Bungsu Alifah yang masih berumur dua tahun. Iya, satu tahun delapan bulan sudah Aku di tanah rantau. berharap bisa merubah nasib keluarga yang sudah semakin sulit di Kampung Terpencil, jauh dari Kota.
"Apa Abang sudah yakin mau ikut Bang Kodir Bang?" tanya Rani istriku waktu itu.
"Iya Dek, kata Bang Kodir emas di sana banyak Dek. Sangat berbeda dengan di sini, yang tinggal sedikit. Banyak yang sudah pulang Kampung dengan hasil yang lumayan, termasuk Iparnya Bang Kodir. Makanya Bang Kodir mau ikut ke sana dan ngajakin Abang, siapa tahu memang rezeki Kita di sana. Abang janji, jika hasilnya sudah cukup Abang langsung pulang Dek .... "
"Terus biaya hidup Adek dan Anak-Anak selama Abang pergi gimana Bang? Biayanya Abang ke sana juga dari mana?" tanya istriku mulai terisak.
"Abang rencanya mau jual Sapi kita Dek, kasian juga Adek harus merawat Sapinya sendirian. Kan Alifa masih kecil? Nanti jika rezekinya sudah ada, akan Abang ganti dengan yang lebih besar Dek. Insya Allah ... " jelasku untuk meyakinkan Rani.
"Yah sudah, jika memang itu keputusan Abang. Tapi janji Abang baik-baik yaa di sana, ingat keluarga di sini Bang."
"Iya Dek. Itu pasti, Abang tidak akan pernah lupa sama Adek dan Anak-Anak. Abang kan pergi merantau ini juga untuk Keluarga? Yang penting Adek jaga diri dan Anak-Anak di sini yaa? Tungguin Abang pulang. Doain Abang juga, biar lancar rezekinya agar bisa segera pulang."
Setelah percakapan dengan istriku yang penuh dengan air mata dan dengan pelukan yang semakin menyesakkan itu, tiga hari kemudian Aku dan bang Kodirpun berangkat ke Timur Indonesia.
Meski berat, namun harus dijalani. Jauh dari keluarga tentu tidak mudah. Namun lebih sulit jika harus melihat Anak - Istriku menahan lapar, karena himpitan ekonomi di Kampung semakin sulit. Jadi penambang tradisional di Kampung sudah tak seperti dulu lagi hasilnya, bercocok tanam pun Aku tak punya Kebun. Jangan tanya soal kerja Kantoran, Aku bahkan tak lulus Sekolah Dasar.
Di sinilah Aku sekarang, bekerja jauh di dalam Hutan Belantara. Tak ada signal telepon, sehingga sulit berkomunikasi dengan Rani. Tapi tak mengapa, semua ini demi keluarga tercinta. Semoga semua harap kan terjawab indah.
*
Hari yang dinantipun tiba, akhirnya Aku bisa pulang. Alhamdulillah kerja kerasku selama di Rantau terbayar sudah. Hasil yang kami dapat cukup besar. Rencananya akan Aku gunakan untuk membeli Sapi dua ekor sekaligus, membeli Kebun dan akan Ku olah sendiri tanpa harus jadi Pekerja harian lagi. Bisa untuk Rani membuka Kios Kelontong di rumah. Ah, sudah tak sabar rasanya melihat senyum bahagia di wajah mereka.
Aku pulang sendiri, karena Bang Kodir masih memilih tinggal. Katanya ingin menambah simpanannya. Jadi kutinggalkan dia di Tanah Rantau. Tak lupa Ku ucapkan terimakasih karena sudah membantuku. Setelah melewati perjalanan panjang, lewat jalur Laut dan Darat.
__ADS_1
Akhirnya kini Aku sudah berada di Bis yang menuju ke Kampung Halamanku, tempat yang selalu kurindukan. Ah, tak sabar ingin segera sampai.
Badan ini tak terasa lelah, mata ini sulit untuk terpejam hanya memandang foto keluarga kecilku. Seperti apa wajah mereka sekarang? apakah Alifa masih ingat ayahnya? semoga saja. Kalaupun tidak, tak masalah. Aku akan menggendongnya selalu agar ia bisa ingat padaku.
Begitupun Adit, Aku akan selalu menemaninya belajar dan bermain. Akan Aku belikan mainan yang ia sukai, tak sabar melihat senyum lebarnya nanti. Dan Rani, istri setiaku kala susah tak pernah mengeluh sedikitpun. Selalu memperlakukanku dengan baik, tak pernah ia menyalahkanku atas keadaannya.
Saat sampai nanti akan kubelikan semua baju yang diinginkannya, apapun yang ia mau akan Aku beri. Tak sabar segera sampai, dan semua rencana-rencana indah lainnya mulai terbayang dalam hayalku hingga sedikit demi sedikit mataku semakin berat dan Aku tertidur.
Sedang asyiknya Aku terbuai dalam mimpi, tiba-tiba terjadi hentakan keras. Seperti terjadi gempa, Braaaak!!! hanya itu yang kudengar.
Mataku terbuka seketika, namun tubuhku tak bisa kukendalikan. Hanya suara teriakan dimana-mana, tubuhku terlempar ke sana-kemari. Entah apa yang terjadi, aku hanya teringat anak istriku saat ini.
Tidak ... Aku harus pulang apapun yang terjadi. Entah bagaimana, yang pasti Bis sudah berhenti berputar. Namun suara tangis dan kesakitan dimana-mana, mataku semakin kabur, dan gelap seketika.
*
Kucoba menggerakan tubuhku. Akhirnya berhasil, kulihat banyak yang menangis dan penuh darah. Mobil ambulance juga sudah ada di luar, Petugas Medis dan warga bergotong royong mengeluarkan penumpang dalam Bis yang sudah terbalik ini.
Aku bergerak dengan susah payah, karena sudah terhimpit di kursi penumpang. Dengan sedikit usaha akhirnya berhasil, Aku pun segera keluar dari Bis.
Di luar semakin banyak warga berkerumun, tapi Aku sudah tak perduli lagi. Aku melihat ke sekeliling tempat kecelakaan ini terjadi, sepertinya Kampungku sudah dekat.
Tak menunggu waktu lagi Aku segera berlari, entah ada kekuatan dari mana yang pasti Aku hanya ingin pulang. Aku berlari meski dengan luka di sekujur tubuhku, Aku akan pulang saat ini juga.
Saat sampai di depan rumah, kulihat banyak orang berkerumun. Apa yang terjadi? Aku masuk ke dalam kerumunan, kucari istriku dengan rasa khawatir. Di sana, yah istriku Rani sedang menangis. Kenapa? Adit? atau Alifa? saat Aku mendekat, Rani langsung berteriak.
__ADS_1
"Abang!! Kenapa Abang pulang seperti ini?"
"Maafkan Abang, Rani ... tadi ada kecelakaan. Tapi Abang baik-baik saja. Rani tidak perlu bersedih."
"Kalau tahu begini, Rani tidak akan pernah mengizinkan Abang pergi!" semakin keras tangisannya.
Akupun semakin mendekat ingin memeluknya. Namun buk Jum tetanggaku, langsung memeluk Rani sambil dan berkata, "Sabar Rani, semua adalah takdir Allah. Tak ada manusia yang bisa melawannya."
Langkahku yang semakin dekat dengan istriku terhenti seketika saat ia menangis semakin histeris dan bukan melihat ke arahku, melainkan pada tubuh yang terbujur kaku di depannya.
Aku tak percaya dengan yang kulihat, tapi itu adalah nyata. Tubuh itu adalah Aku. Tiba-tiba Aku tersadar semua yang ada di rumahku tak ada yang menyapaku, dan rasa sakit yang harusnya kurasakan memang tak pernah ada.
"Bang ... bangun Bang ... Abang udah sampai!" suara Kernet Bis yang kutumpangi mangagetkanku dari tidur panjangku. Mataku langsung terbuka lebar memandang sekeliling, semua baik-baik saja. Keringat dingin mengucur deras di wajahku.
"Astagfirullahhaladzim ... " hanya itu yang bisa Ku ucapkan dengan mengelus dadaku yang terasa semakin terguncang hebat.
Ku pandang sekali lagi suasana dalam Bis, kucubit lenganku. Sakit, masih terasa sakit. Yaa Allah ternyata semua hanya mimpi buruk, langsung kuberdiri dan memeluk Kernet yang hanya terbengong melihat tingkahku.
Aku hanya menangis sambil tertawa dan mengucapkan terimakasih pada Sopir dan Kernet yang masih belum mengerti dengan yang aku lakukan. Aku tak peduli dengan semua tatapan heran penumpang yang juga mulai turun dari Bis. Bagiku yang terpenting sekarang Aku pulang. Aku pulang dengan selamat.
SELESAI
-------------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar author lebih semangat nulisnya🤗. Serta tolong sampaikan kritik dan sarannya juga jika ada kesalahan dalam penulisan. Di tunggu dalam kolom comentarnya yaa… happy reading😊
__ADS_1