Kopi Dan Gula

Kopi Dan Gula
24. Niel's Secret (Part 3)


__ADS_3

"Niel, apa maksud semua ini?" segera kulontarkan pertanyaanku padanya.


"Bukankah itu semua hal yang mereka impikan? Menurutmu mengapa Aku melakukannya?" sambil berjalan mendekatiku yang masih belum beranjak dari tempat tidur.


"Iya, Maksudku ... kenapa?" tanyaku kembali saat ia sudah berada tepat disampingku.


"Agar Kamu tetap bersamaku!" kini tatapannya terlihat --dingin-- membuat Aku bergidik.


"Tentu Aku akan selalu bersamamu, Kamu kan Suamiku Niel? Tanpa Kamu melakukan semua keinginan Orangtuaku, Aku akan tetap di sampingmu!"


Kini Niel menyentuh rambutku, membelainya pelan dan menatapku tajam. Kembali ada perasaan aneh menjalar dari hati ini, tapi bukan perasaan bahagia, entah apa namanya.


"Itu yang Aku mau perjelas padamu Kiara! Jangan pernah berharap lebih padaku untuk menyentuhmu! Jangan tanyakan pula alasannya kenapa! Aku hanya tak ingin! Bersikaplah wajar di depan semua Orang! Terutama di depan Mami! Aku tak ingin Mami kecewa! mengerti?" tajam Daniel memandangku sambil mengangkat daguku agar Aku melihat wajahnya yang terlihat berbeda dari biasanya.


"Maksud Kamu? Niel, Aku ini istri Kamu! Jika hanya sebagai pajangan seperti yang Kamu maksud, untuk apa Kita menikah?" meski coba kutahan air mata ini tetap menetes juga. Daniel kini berbalik ke arah jendela kaca besar di samping tempat tidur. Menatap jauh ke seberang, lalu berbalik seketika memandangku yang tak bisa menyembunyikan semua perasaanku yang beradu sekarang.


"Aku menikahimu karena Mami yang meminta! Lagipula tak ada yang dirugikan disini! Kita akan menjalani kehidupan yang normal, seperti yang lain. Bedanya, Kita tak perlu saling mencintai! Tapi ... jika Kamu sudah mencintaiku sekarang, sebaiknya lupakan saja perasaanmu itu! Karena semuanya akan percuma! Aku tak akan bisa mencintaimu! Carilah Lelaki lain sebagai pelampiasanmu! Aku tak masalah, selama tak ada yang tahu selain kita berdua!"


Aku sudah tak tahan lagi, segera Aku bangkit dari posisiku sekarang dan mendekatinya ... dengan sekuat tenaga Aku menamparnya. Aku benar-benar gusar dengan semua perkataannya pagi ini. Daniel seperti orang yang berbeda dari yang Aku kenal.

__ADS_1


"Tak masalah jika Kamu tidak suka dengan apa yang Aku katakan! Tapi semua kemarahanmu tak akan merubah apa pun Kiara!" Pria itu tersenyum dengan senyuman yang seperti mengejekku sekarang.


"Aku ingin berpisah! Sekarang juga! Kamu sakit Daniel! Sebaiknya Kamu pergi berobat secepatnya bukannya menikah!"


Menanggapi pernyataanku, bukannya tersinggung tapi Daniel hanya tertawa terbahak. Hilang sudah semua perasaan cintaku padanya, berganti benci yang tak terhingga.


"Silahkan saja jika Kau ingin melihat Keluargamu menderita! Kamu pikir Aku memberikan semua yang Orangtuamu inginkan itu secara gratis? Mereka bersedia menandatangani surat perjanjian yang menyatakan, harus mengganti semua biaya yang sudah Aku keluarkan untuk Bisnis mereka jika Putri Mereka mengajukan Cerai Padaku! Sepertinya Mereka sangat yakin bahwa Kamu tak akan melakukannya!"


"Kamu menjebak Aku dan Keluargaku? Mengapa Daniel? Mengapa harus Aku?"


"Karena Kamu begitu naif! Tapi alasan paling utama Aku memilihmu adalah Kamu sudah membuat Mami menyukaimu! Jadi ini semua SALAHMU!" kini ia mulai menudingku, melimpahkan semua kesalahan padaku.


"Apa maumu sekarang Daniel Putra Atmaja?" Aku bertanya dengan gusar, tenagaku serasa telah habis pada pertengkaran yang 'aneh' ini.


Apa yang terjadi sekarang? Mengapa Duniaku sekarang terasa bagai di Neraka? Tidak! ini bahkan lebih buruk dari itu! Rasanya Aku ingin mati saja! Tapi ... Akh ... Aku tak tahu harus bagaimana. Bukan ini yang Aku ingin! Pria yang kini kembali membelakangiku itu sangat berbeda dari yang Aku kenal. Mimpi burukkah ini? Iya, mungkin saja. Segera Aku mencubit lenganku. Awww ... sial sakit sekali rasanya. Ternyata ini memang bukan mimpi. Lihat, Pria Aneh itu bahkan tak menoleh saat mendengar teriakanku tadi. Benar-benar Manusia berhati dingin. Inikah sosokmu yang sebenarnya?


"Bagaimana? Kamu masih ingin berpisah Kiara? Jika ia, bersiaplah untuk kehilangan Keluargamu. Kemungkinan terburuk, mereka bisa Aku penjarakan. Fikirkan tentang perasaan mereka yang hancur! Tapi jika Kamu ingin egois, Silahkan saja. Aku juga tak merasa dirugikan di sini!" masih tanpa melihatku, Pria yang sudah tak ku kenali itu berbicara dengan angkuhnya.


Jika bukan karena Orangtuaku yang sangat kusayangi itu, tentu saat ini Aku lebih memilih berpisah dan menghilang dari kehidupan Orang 'aneh' ini. Tapi apalah dayaku yang tak punya kuasa apa pun, melawan percuma saja.

__ADS_1


Dia yang punya Kuasa atas apa pun tentu bisa membalikkan fakta dengan sangat mudah. Dengan terpaksa kuterima nasibku. Aku setuju dengan keinginannya, tapi dalam hati Aku berjanji akan merebut kembali harga diriku yang sudah diinjangnya. Manusia yang tak punya hati ini, tunggu saja pembalasanku!


*


Keluar dari Hotel, kehidupan baru yang penuh sandiwara di mulai. Pertama tentu saja bertemu dengan Keluarga besar, mereka menyambut Aku dan Daniel dengan suka cita.


Aku benar-benar muak harus berdiri di samping pria yang tak punya hati ini. Ditambah lagi harus tersenyum dengan paksa di depan mereka, sesekali Daniel menggandengku dan tersenyum hangat padaku. Semua orang iri dengan keromantisan yang ia tampilkan, satu hal yang membuatku mual.


Seperti itulah hari-hari yang kujalani sebagai Nyonya Daniel. Hari yang paling menyiksa seumur hidupku. Aku hidup dengan semua kepalsuan, Aku muak dengan semua tingkah lakunya. Di mata semua orang, Daniel adalah sosok suami yang hangat dan romantis. Namun saat bersamaku, dia tak lebih dari Manusia Es. Beku, dingin, dan tak ingin di sentuh.


Di rumah yang megah ini, Kami bahkan tidur terpisah. Aku memang di bantu beberapa Asisten Rumah Tangga, tapi masalah pisah ranjang ini tak ada yang tahu. Kamar Kami berada di lantai dua, tak ada ART yang boleh masuk. Aku yang bertugas membersihkannya. Daniel beralasan Kamar Kami adalah Privasi. Padahal ia hanya tak ingin saja ada yang melihat Kamar rahasianya lengkap dengan ranjangnya yang megah. Aku bahkan sudah tidak perduli lagi dengan yang ia perbuat.


Tak terasa Aku menjalani pernikahan yang melelahkan, karena harus bersandiwara tentang semuanya ini sudah memasuki bulan ketujuh. Sudah mulai banyak yang mempertanyakan soal keturunan. Tak terkecuali Mami, yang ingin segera menimang Cucu dari Niel Anak kesayangan.


Namun bukan Daniel namanya, jika tanpa persiapan akan hal yang seperti itu. Daniel sudah mempersiapkan jawaban diplomatisnya.


"Kami memang sengaja menundanya, Aku masih ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama lagi untuk berdua dulu dengan Kiara. Lagi pula Kami berdua sangat sehat, akan sangat mudah jika menginginkannya nanti. Benar kan Sayang?" sambil menatapku dengan senyuman hangatnya di depan siapa pun yang bertanya, membuatku terpaksa senyum dan mengangguk malu. Tapi dalam hati jangan ditanya lagi soal berapa banyak hewan yang keluar di sana.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


------------------------


Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊


__ADS_2