
Daniel menatapku sesaat dengan tatapan yang ... entahlah, tak bisa kujelaskan maknanya. Kemudian ia menatap pada Maminya dengan senyum terkembang. Lalu segera ia mengangguk dengan pasti.
Tunggu! Niel mengangguk berarti ia ... Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanya, semakin digenggamnya tanganku yang masih ada di dalam genggaman Mami.
"Iya Mi, Niel setuju. Kiara Perempuan yang baik dan sempurna untuk jadi seorang Istri. Selain itu Kiara juga dekat dengan Mami, tak ada alasan untuk menolak permintaan Mami ini. Tapi Niel tidak tahu bagaimana dengan Kiara?" sambil menatapku, seperti sedang menunggu jawabanku. Begitupun dengan Mami yang kini makin menatapku lekat.
"Bagaimana Sayang? Kamu setuju menikah dengan Niel?" lembut tapi penuh harap Mami bertanya padaku yang semakin gugup.
"I ... iya ... Mami ... " hanya itu yang bisa terucap dari bibirku."
Mami langsung menarik tubuhku dan Niel dalam dekapannya yang masih terbaring, namun tampak bahagia dalam wajahnya.
Sebahagia Orangtuaku saat mendengar rencana Pernikahan ini, yang akan dilangsungkan saat Mami keluar dari Rumah Sakit nanti.
*
Pernikahanku digelar dengan sangat meriah, tepat seminggu setelah Mami dinyatakan sehat oleh Dokter dan sudah boleh pulang. Aku Resmi jadi Nyonya Daniel.
Semua Sahabat, Kerabat dan Kolega datang memberikan ucapan selamat dan Doa agar Pernikahan Kami kelak diberikan keturunan yang banyak dan bisa awet hingga Kakek-Nenek. Ucapan dan Doa mereka Ku Aminkan sambil melirik Daniel yang mengangguk dan tersenyum hangat.
Semua berbahagia dan menikmati pesta yang digelar di salah satu Hotel Bintang Lima di Kotaku ini. Hingga saat yang dinanti semua Pasangan Pengantin Baru itu pun tiba. Malam Pertama.
Aku termasuk Perempuan yang masih memegang teguh 'Adat Ketimuran' tentang menjaga 'mahkota' berhargaku hanya untuk Suami. Malam ini akan jadi malam yang panjang, malam yang sudah Kurindukan selama ini. Wajar bukan, mengingat usiaku sekarang?
__ADS_1
Disinilah Aku dan Niel, dalam sebuah Kamar Presidential Suite Room yang sudah disulap jadi Kamar pengantin yang indah dan romantis. Dengan taburan bunga mawar merah dan putih yang menghiasi ranjangnya dan seluruh dekorasi kamar yang dipenuhi mawar dan aneka warna lilin kecil yang menenangkan. Ditambah lagi suguhan pemandangan di balik jendela yang tak kalah menakjubkan, indah, elegan, dan ... menggetarkan jiwa.
Aku segera membersihkan diri di Kamar mandi yang luas dan sekali lagi dihiasi dengan mawar merah dan putih serta lilin beraroma menenangkan. Semakin terasa debaran dalam jantungku, membayangkan apa yang akan kualami nanti.
Saat Aku keluar dari Kamar Mandi, Niel sudah tertidur. Mungkin dia capek, yah ... mungkin saja ... seharian ini memang sangat melelahkan, bukan hanya untuknya, tapi untukku juga.
Kutatap lekat wajahnya yang sangat polos saat tertidur, Aku mendekat dan membelainya lembut. Tak ingin Aku membangunkan tidur nyenyaknya, tapi dalam hatiku sebenarnya Aku juga ingin ia melihatku sekarang.
Niel hanya merespon dengan sedikit menggerakkan badannya ... ke samping, dan tak pernah membuka matanya. Aku menyerah! Sepertinya malam ini tak akan terjadi hal yang telah kubayangkan sebelumnya. Kecewa, tentu saja. Tapi Aku coba mengerti keadaannya. Selamat tidur Suamiku. Kukecup pelan keningnya, hanya sedikit gerakan dari tubuh atletis itu.
Setelah memakai piamaku, Aku pun membaringkan diri di sampingnya. Coba memejamkan mata, namun terasa sulit. Hingga kuputuskan untuk bangkit dari ranjang, duduk di sofa yang ada dalam kamar dan berselancar di dunia maya.
Melihat banyaknya ucapan selamat yang mampir di akun facebook dan instagram, Aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati Aku mengagumi semuanya, terutama Suamiku yang kini entah sedang bermimpi apa. Kembali Aku hanya bisa mengela nafas dalam, menghabiskan waktu yang ... entah sudah berapa lama hingga tanpa sadar Aku tertidur di sofa dengan hape yang masih dalam genggaman.
*
"Pagi Kiara? Udah bangun ya?" suara Niel secara otomatis jadi penyadar bahwa di kamar ini Aku tidak sendiri. Seketika sebuah rol film seperti sedang diputar dalam ingatanku, tentang semua yang terjadi kemarin sampai malam pertamaku yang tertunda. Tiba-tiba Aku malu sendiri saat mendapati sepertinya hanya Aku saja yang peduli akan hal itu, buktinya Daniel sedang menatapku tanpa rasa bersalah.
"Niel? Kamu ... " belum selesai ucapanku, handphoneku berbunyi. Papa yang telepon.
"Kiara Sayang ... Anak Papa yang sudah jadi Nyonya Daniel, sudah bangun ya?" suara Papa terdengar girang. Aku hanya bisa mengerutkan kening heran, menatap Daniel yang sedang menatapku dengan senyuman aneh.
"Kenapa Pa? Suaranya kok seneng banget kayak abis menang lotere ... " kelakarku pada Papa yang disambut dengan tawa lebar.
__ADS_1
"Ini lebih dari menang lotere Kiara ... Bisnis Papa Ki ... Bisnis Papa sekarang sudah buka cabang seperti yang Papa impikan dulu ... semua itu bisa terwujud karena Daniel Suami Kamu. Nanti bilang ke Daniel Terimakasih Papa yang sebesar-besarnya ya Nak ... Terimakasih juga Kamu sudah memilih Daniel, kalo gak ada Kamu Papa gak tahu harus nunggu berapa lama lagi untuk bisa mewujudkan mimpi Papa ini."
Aku tak tahu harus menjawab apa atas kabar yang cukup membuatku bertanya-tanya ini. Kembali kucoba mencari jawaban pada 'Pelaku Utama' di depanku, namun sekali lagi ia hanya tersenyum misterius.
"Kiara ... Kamu tidur lagi ya? Mantu Papa udah bangun juga atau? Ah, sudahlah ... jangan pikirkan Papa, maaf Papa sudah mengganggu ya Nak ... Papa hanya terlalu bahagia sekarang, ya sudah sampaikan saja salam Papa untuk Daniel ya ... " ditutup. Tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirku. Bisa dipastikan Papa terlampau bahagia, hingga tak sadar Anaknya ini bahkan hanya mengucapkan beberapa patah kata diawal.
Daniel duduk dengan santai di sofa depan ranjang, menghadapku masih dengan tatapan itu ... yah tatapan yang tetap terkesan aneh di mataku. Baru saja Aku hendak membuka suara ingim bertanya pada Daniel tentang banyak hal, kembali handphoneku berdering. Kali ini Mama yang menelpon.
"Pagi Kiara Anak tercinta Mama ... udah bangun ya Sayang?" Mama juga terdengar sangat bahagia pagi ini. Aku hanya bisa menjawab, "Iya Ma, Kiara udah bangun. Kenapa Ma? seneng banget ni? Karena bisnis cabangnya Papa ya? Kiara belum sempat bilang selamat tadi Ma. Nanti Mama aja yang sampein ya ....?"
"Iya, nanti Mama sampein. Tapi sebenarnya Mama juga mau bilang makasih sama Kamu dan Daniel terutama."
"Makasih untuk apa Ma?" keningku sudah berkerut untuk kesekian kalinya pagi ini.
"Mama akhirnya bisa punya Butik di salah satu Ruko yang Mama inginkan dari dulu, dan hebatnya lagi Mama gak perlu nyewa Rukonya. Karena sudah atas Nama Mama sendiri Kiara!" dengan suara yang keras, Mama menyampaikan rasa bahagianya. Aku bahkan harus sedikit menjauhkan handphoneku dari telinga.
"Selamat ya Ma .... " hanya itu yang bisa kuucapkan, "Mama yang harus bilang selamat buat Kamu Sayang, karena sudah memilih Lelaki yang tepat -- sangat tepat untuk jadi Suami! Jangan sampe Kamu ngelepasin Daniel Sayang. Okay ... ya sudah, Mama gak mau mengganggu waktu Kamu dengan Niel. Sekali lagi jangan lupa ya, sampein rasa terimakasih Mama untuk Niel. Pagi Sayang ..." ditutup, tanpa jawabanku juga.
Sekarang Aku benar-benar sudah tak tahan lagi untuk menanyakan semuanya pada Pria yang sejak tadi hanya menatapku tanpa kata. Pria yang sudah menjadi Suamiku baru satu hari ini, tapi sudah membuatku harus mengerutkan kening dipagi ini karena rasa bahagia dari Orangtuaku yang sudah diwujudkan mimpi mereka sejak dulu hanya dalam semalam.
Aku benar-benar harus tahu maksud semua ini .... Sekarang!
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
--------------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊