Kopi Dan Gula

Kopi Dan Gula
32. Cinta Brian (Satu)


__ADS_3

Menjadi populer mungkin bisa jadi hal yang menyenangkan bagi sebagian Orang, tapi tidak bagiku. Aku sangat tak suka dengan perhatian berlebih dari orang lain.


Aku bahkan tak ingin berteman dengan siapa pun, tempat yang ramai adalah sesuatu yang sangat Aku hindari. Tertutup dari dunia luar adalah hal yang biasa bagiku. Satu-satunya Sahabatku adalah Musik dan Pensil.


Aku tak suka keramaian, tapi Aku sangat suka musik yang bisa menghilangkan semua kebisingan. Aku juga suka menggambar, semua hal. Aku bisa merasa lega saat menggoreskan pensilku pada sebuah kertas kosong.


Aku masuk kelas lebih dulu dari teman yang lain hanya untuk mencari tempat duduk paling pojok di belakang. Semua teman Kuliahku sudah tahu itu, mereka bahkan memberikan julukan 'Aneh' padaku. Tapi Aku tak masalah, selama mereka tak mengusik kesendirianku.


Aku benar-benar menutup diri dari orang sekitarku, yang Aku tahu hanya Rumah, dan Kelas. Tak ada yang namanya nongkrong di Kantin, Aku selalu membawa roti dan air dalam tas ranselku untuk mengganjal perut.


Seperti hari ini, Aku masuk lebih dulu di kelas pagi. Aku masuk sejam lebih awal dari jadwal, hanya untuk bisa duduk di tempatku. Aku mulai memainkan musik di handphone dan mengenakan headphone dengan volume yang tak terlalu keras, karena Aku hanya sendiri.


Ku ambil kertas kosong, dan mulai menggariskan pensilku.


Karena terlalu serius menggambar, Aku bahkan tak sadar ada yang duduk di sampingku.


"Keren lukisannya," suara seorang Pria mengagetkanku. Aku menoleh ke arah asal suara. Pria yang baru ku lihat.


Meski Aku tak bertutur sapa dengan teman sekelasku, tapi Aku kenal mereka semua. Pria ini siapa? Aku baru melihatnya. Anehnya Dia langsung tersenyum lebar ke arahku.


Aku langsung melihat ke sekitar kelas, hanya ada Kami berdua di sini, "Kok diam? Kenapa? Kaget ya lihat orang keren?" tanya pria itu masih dengan senyuman lebarnya.


Aku tak menggubris ucapannya dan memilih meneruskan menggoreskan pensilku di kertas.


Pria itu masih diam di tempatnya, bahkan kini mulai berceloteh, "Enak ya, sepi kayak gini kelasnya. Gambar Kamu keren lo itu, nanti tolong gambar Aku ya ... kalo Kamu lagi gak sibuk. Oh iya, Aku mau tidur dulu ya. Nanti kalo Dosennya sudah masuk, bisa kan bangunin Aku?" ucap Pria berambut cepak itu sambil mengambil posisi nyaman untuk tidur.


Aku meliriknya sekilas, Dan Pria itu sudah terlelap dengan menggunakan lengannya sebagai bantal di atas meja. Posisi wajahnya mengarah ke arah berlawanan denganku. Tapi di tutupinya dengan kertas yang di ambilnya dari atas mejaku.


Pria aneh, kenapa dia memilih tidur di sampingku? Apa dia mengenalku? Harusnya dia sudah dengar rumor tentang sikapku yang aneh bukan? batinku saat melihat Pria 'aneh'' yang kini bahkan sudah terlihat nyaman seperti di tempat tidurnya saja.

__ADS_1


Aku kembali coba untuk fokus pada gambar yang belum selesai, namun tetap tak bisa. Selain karena merasa terusik dengan kehadiran Pria aneh di sampingku, juga karena suara-suara berbisik dari teman sekelasku yang mulai masuk satu-persatu.


"Si Aneh sudah ada temannya ya?"


"Siapa itu?"


"Apa dia juga aneh? Tapi Aku mau kok, walaupun Dia aneh!"


"Kok Pria itu lebih milih duduk di sampingnya si Aneh?"


"Tunggu ... bukannya itu ... "


Dan masih banyak bisik-bisik mereka yang cukup jelas di telingaku, langsung Aku keraskan volume handphoneku. Agar tak mendengarkan celotehan mereka.


Sepertinya mereka mengenal Pria yang sedang terlelap di sampingku ini. Tapi Aku tak peduli dan tak mau tahu. Ternyata kertas yang menutupi wajahnya terjatuh.


Semakin lama, semakin riuh suara di Kelas. Tapi Pria di Sampingku masih tak memperlihatkan tanda untuk bangun dari tidur lelapnya. Karena tak ada suara apa pun yang ku dengar darinya.


"Makasih ya, udah gak bangunin Aku ... Liana ... by the way ... gambar Kamu keren ... serius. Sayangnya sekarang sudah berisik. Aku pergi dulu ya .... " ucap Pria itu setelah meluruskan tubuhnya, seperti melakukan peregangan untuk pemanasan olahraga, lalu memakai tudung hoodie jumpernya dan beranjak.


Seperti saat sampai tadi, ia pun pergi dengan santai. Tanpa peduli dengan tatapan teman sekelasku yang melihatnya penasaran, dan sebagian besar Gadis di Kelasku seperti kepanasan. Aku tak tahu kenapa, Aku hanya bingung dengan Diriku sendiri.


Sepeninggal Pria aneh tadi, wajahku terasa panas dan jantungku berdebar. Untuk pertama kalinya ada yang menyebut nama asliku yang bahkan hampir Aku lupa. Mungkin itu penyebabnya.


"Kenapa Dia bisa ada di sini?" tanya Reni yang duduk di depanku, setelah menarik kursinya menghadapku. Aku hanya menggeleng.


"Kenapa dia bisa duduk di samping Kamu?" tanya Sera dan teman-teman cewe yang lain sambil mengelilingi tempat dudukku.


Untuk pertama kalinya pula, mereka mendekati tempat dudukku. Semua karena Pria Aneh itu. Aku hanya mengedikkan bahu. Semua mendengus kesal dengan jawabanku yang tanpa suara itu.

__ADS_1


Beruntung tak lama kemudian Dosen masuk ke Kelas, sehingga para Gadis itu kembali ke tempat duduk mereka. Walau masih terlihat jelas raut wajah kesal. Aku tak peduli.


***


Usai kelas pertama, Aku langsung beranjak dari tempat dudukku. Namun belum sampai pintu keluar, Sera menahan tanganku.


"Hei, jangan mentang-mentang Kita gak pernah mengusik Kamu selama ini, terus Kamu bisa secuek itu ya?" Aku menghempaskan tangannya bersiap untuk pergi lagi.


"Jadi Kamu itu cuma pura-pura aneh ya? Buat bisa menggaet Cowok sekeren Brian? Yakin gak kenal Dia? Atau malah jadi pelampiasan na*s*nya Dia? Tapi kalo pun bener, kayaknya tu Cowok perlu periksa mata deh ... bisa suka sama Cewek 'aneh' plus 'katro' kayak Kamu!"


"Udah selesai? Aku mau pulang!" ucapku menatap Gadis ber-makeup tebal itu.


"Kamu mau kemana 'Perempuan Ja*an*? Jangan sok suci Kamu! Dasar penggoda!" ucap Sera yang geram dengan sikap cuekku, Gadis itu mengayuhkan telapak tangannya ke arah wajahku. Aku tak sempat mengelak, dan hanya menutup mataku refleks. Tapi ... tak ada yang terjadi, telapak tangannya tak menyentuh wajahku.


Aku membuka mata, dan di atas sana ... tepat di atas kepalaku, tangan Sera tertahan karena di pegang seorang ... 'pria aneh'. Aku hanya bisa menatapnya yang terlihat ... marah pada Sera dan langsung menghentakan tangan Gadis itu.


"Bri ... Brian. Kamu kok ada di sini?" tanya Sera terlihat gugup sambil memegang pergelangan tangannya.


"Aku bukan teman Kamu! Beraninya mengusik orang lain! Liana Pacar Aku! Jadi jangan ganggu Dia lagi! Mengerti?" jawab Pria aneh yang bernama Brian itu, sambil menggandeng bahuku. Sera dan teman-temannya menatapku tak suka.


Brian mengajakku keluar dari Kelas, sambil mengenggam tanganku. Aku langsung mengikuti langkahnya. Karena memang tak suka dengan cara Mereka menatapku.


Sesampainya di Luar, Aku langsung menarik tanganku yang masih dalam genggaman Brian. Aku berhenti. Pria itu juga menghentikan langkahnya.


"Aku tidak kenal Kamu! Kenapa harus berbohong?" tanyaku pada Pria yang kini sedang tersenyum padaku itu, berbeda saat ia melihat Sera tadi.


"Aku tidak berbohong! Karena Aku memang Pacarmu!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


-------------------------


Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊


__ADS_2