
"Leonid?" tanya Diandra pada Rafa.
"Iya, nama Penulis Novel ini ... Leonid kan? sebenarnya Leonid itu ... Kamu Diandra!" jawab Rafa sembari menatap mata Diandra dalam. Seakan menyelami perasaannya yang tengah gamang atas semua yang terjadi padanya hari ini. Setelah menarik nafa dan menghembuskannya dengan pelan, Diandra akhirnya balik menatap Rafa yang masih setia menunggu tanggapannya.
"Sekarang semua cerita tentang novel ini benar-benar sudah di luar nalar Kak. Serius. Kalo tujuannya untuk melucu, Diandra hanya bisa bilang ini adalah lawakan terburuk yang pernah ada. Pertama. Novel Rafanza ini bisa ada di tangan Di, karena dikasih sama Lana. Kedua. Kita berdua baru saja ketemu dan Kak Rafa langsung bilang kalo Leonid itu Diandra? gimana ceritanya Kak? Diandra emang ...
Suka -- Sangat Suka malah dengan Rafanza, tapi bukan berarti bisa dijadikan bahan lelucon juga. Diandra gak suka Kak!" tukas Diandra yang mulai emosi dengan semua yang ia dengar sekarang.
"Saya mengerti dengan semua keraguan dan emosi yang Kamu rasakan kini. Sangat, mengerti. Jika Saya ada di posisi Kamu saat ini, pasti juga akan merasakan hal yang sama. Karena itu, Saya membawa ini untuk Kamu," sambil menyerahkan sebuah foto pada Diandra, dengan sedikit ragu Diandra menerima foto tersebut, "I ... ini ... Diandra dan ---" sambil tersenyum Rafa mengangguk dan berkata, "Iya Di, Kamu gak salah lihat. Itu saya. Rafanza, Teman Kecil Kamu!"
Diandra hanya bisa tersentak dengan apa yang ia dengar dan kembali melihat lebih seksama foto yang kini tengah ia pegang dengan tangannya yang bergetar.
Di dalam foto yang sepertinya sudah cukup lama itu, ada dua orang Anak yang saling bergandengan tangan dan tersenyum ceria. Sosok pertama adalah Gadis Kecil yang berumur sekitar delapan tahun dengan rambut yang dikuncir dua, jelas Diandra mengenalnya karena itu memang dirinya sendiri. Sosok yang kedua adalah Anak Laki-laki yang lebih tinggi dari Diandra dengan rambut lurusnya dan berponi. Anak Laki-laki itu tak diragukan lagi adalah Rafa.
Semua ini semakin membingungkan Diandra. Diandra langsung menatap Rafa yang membalasnya dengan anggukan sebagai penegasan bahwa itu memang benar. Diandra masih ragu, kembali matanya tertuju pada foto yang sudah usang itu, dan membaliknya. Di belakang foto ada tulisan tangan. Leonid dan Rafanza.
Untuk kesekian kalinya Diandra tersentak, *A*pa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Ia merasa tak mengenal Rafa sebelumnya? Apakah mereka benar-benar berteman? Dan Leonid, mengapa namanya Leonid? Bagaimana mungkin Ia bisa menjadi Penulis sebuah novel yang baru Ia baca? Tapi ... Kenapa ...? Kenapa? Ah ....
Tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Sangat Sakit. Diandra hanya bisa mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya, Rafa yang tepat di sampingnya langsung menahan tubuh Diandra yang langsung jatuh tak sadarkan diri. Diandra Pingsan seketika.
***
Cahaya putih itu seakan menuntun kakinya berjalan, tak ada siapa-siapa di sini. Diandra berjalan seorang diri. Dia ada dimana sekarang? Rafa? Ya ... bukankah tadi mereka sedang duduk di Taman? Kepalanya ... ia menyentuh kepalanya yang terasa sakit tadi, tapi tak ada yang ia rasa.
Meski sedikit bingung, ia tetap berjalan mengikuti Cahaya Putih di depannya. hingga cahaya putih itu semakin menyilaukan matanya, seketika matanya terpejam karena silau. Tapi saat ia membuka mata Diandra ada di sebuah tempat yang asing. Cahaya itu hilang, berganti sebuah Rumah yang sejuk dan nyaman. Setidaknya itu yang Diandra rasakan kala melihatnya.
Pepohonan tinggi yang hijau di sekelilingnya, bunga-bunga yang beraneka warna tumbuh indah di halaman Rumah yang sederhana namun bersih. Diandra tersenyum melihat semuanya, perasaan nyaman itu terasa tak asing. Saat ia tengah menikmati rasa yang memenuhi hatinya, dari dalam Rumah, berlarian dua Anak Kecil yang dilihatnya di foto sebelumnya. Tunggu, itu berarti ... saat Diandra tengah mencerna apa yang tengah berlaku di depan matanya terdengar suara Anak Kecil itu berbicara.
"Rafa, Kamu tau Gak semalam Aku mimpi aneh lagi ... " ujar anak kecil perempuan yang mirip Diandra itu pada anak laki-laki berponi di depannya. Posisi mereka kini tepat di depan Diandra, namun seakan mereka tak melihat sosoknya. Keduanya malah sibuk dengan mainan yang ada di tangan mereka.
"Maksud Kamu mimpi tentang kisah Rafanza?" tanya Rafa sambil memetik bunga mawar yang ada di depannya.
Diandra hanya menatap mereka tak bergeming, ia ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa. Suaranya seakan hilang di tenggorokan. Saat ia ingin menyentuh salah satu bunga, tak bisa ia lakukan. Tangannya tak bisa menyentuh benda apapun, seperti menembus apa yang ia sentuh.
__ADS_1
"Ia Fa, dan Aku merasa bahwa Rafanza itu adalah Kamu. Tapi yang anehnya, Rafanza dalam novel itu hanya bisa merindukan orang yang Ia Sayangi dari kejauhan. Aneh kan?" kembali Suara anak perempuan itu terdengar.
Diandra yang tengah mencari tahu apa yang terjadi pada tubuhnya akhirnya menyerah, dan perhatiannya kini teralihkan pada kedua anak kecil yang sedang tertawa bahagia. Rafa yang memetik salah satu bunga mawar menyerahkan pada Gadis Kecil yang tersenyum bahagia menerimanya.
"Makasih Fa. Aku janji gak akan pernah jadi Dinda, Gadis yang melupakan Rafanza seperti yang ada dalam mimpiku itu. Kita akan tetap berteman selamanya ... " ujar Gadis Kecil itu sambil mencium bunga mawarnya. Diandra yang mendengar apa yang diucapkan gadis kecil itu teringat pada tokoh utama wanita dalam novel yang bernama Dinda.
"Tenang saja Diandra, apa pun yang terjadi Aku akan tetap jadi Sahabat Kamu dan akan menjadi Pendampingmu nanti. Kita memang masih kecil sekarang, tapi kelak saat sudah besar nanti Aku akan menikahimu!" ucap Raffa sambil tersenyum malu, namun terdengar serius untuk ukuran anak sekecil itu. Diandra tersenyum mendengarnya.
Saat tengah asyik-asyiknya melihat tingkah kedua Anak di depannya, tiba-tiba kembali cahaya menyilaukan itu datang lagi menerpa penglihatan Diandra yang refleks menutup matanya. Setelah dirasanya cahaya tadi menghilang ia pun membuka matanya, namun kedua anak tadi sudah tak ada di depannya.
Berganti sebuah Rumah yang lebih besar dari sebelumnya, namun masih dengan Taman Bunga yang sama dan lebih tertata indah. Kali ini Diandra sudah mulai mengerti dengan apa yang ia alami sekarang, sepertinya ia tengah menjelajahi waktu.
Dia mulai mengingat tempat ini, tempat Masa Kecilnya dihabiskan. Ingatannya tentang masa lalunya yang hilang mulai pulih satu per satu. Seperti potongan puzle yang mulai lengkap,
Rumah sebelumnya dan Rumah yang sekarang di depannya sebenarnya sama. Hanya waktu dan bentuk Rumahnya yang sudah berbeda karena Renovasi yang dilakukan Orangtuanya kala itu. Yang paling penting adalah ia mulai ingat dengan tetangganya Rafa. Yaa ... Rafa memang benar, dulu mereka sangat dekat.
Tiba-tiba ia menangis, tapi kembali ia dikejutkan dengan suara dua Orang Remaja. Kali ini ia sangat yakin kedua remaja itu adalah Dirinya dan Rafa.
Keduanya tampak sangat sedih, Diandra juga sudah ingat momen ini. Saat paling menyedihkan dalam hidupnya, yaitu melepaskan Rafa pergi. Rafa dan keluarganya pindah untuk selamanya ke Kota yang lain, karena Bisnis Kuliner mereka yang semakin berkembang di Kota tersebut.
"Aku akan berusaha agar Kamu tidak melupakanku Di, Aku janji. Bagiku Kamu adalah Leonid," sambil menatapnya bingung Diandra bertanya pada Rafa, "Artinya?" sambil tersenyum Rafa menjawabnya, "Hujan Bintang."
***
Kembali Cahaya Putih itu membawa Diandra pada waktu yang lain, sebuah keadaan yang menjawab semuanya.
Diandra yang begitu bahagia mendengar Rafa akan berkunjung ke Kotanya, mengendarai sepeda motornya dengan bahagia sampai tak sadar ada kendaraan yang tengah melaju kencang ke arahnya hingga akhirnya ia kehilangan kendali dan mengalami tabrakan keras dan kepalanya membentur pembatas jalan.
Beruntung ia menggunakan helm yang mengakibatkan cedera di kepalanya tak terlalu parah. Luka di luar mungkin tak terlalu besar, namun guncangan yang keras tersebut nyatanya telah mengakibatkan ia koma selama dua minggu. Saat Diandra sadar, yang diingatnya hanya tentang yang baru saja terjadi, memorinya tentang masa kecilnya hingga alasan yang menyebabkan ia kecelakaan semuanya hilang.
Demi kesembuhannya, Orangtua Diandra membawa Diandra berobat ke Singapura. Rafa yang memang datang untuk mengunjunginya beberapa hari kemudian, tak menemukan Diandra dan keluarganya. Hanya sedikit informasi tentang Diandra berobat ke Singapura, selebihnya tak ada apa pun yang ia tahu.
Saat Diandra pulih, keluarganya memilih untuk pindah ke Kota yang sekarang. Semakin jauh jarak antara mereka, Terlebih saat Rafa lulus SMA ia terpaksa melanjutkan Kuliah ke London sesuai permintaan sang Ayah.
__ADS_1
Namun penantian Rafa pada Diandra tak berakhir. Ia bahkan menulis kembali kisah yang Diandra tulis berdasarkan mimpinya sejak kecil, mencetaknya sendiri dan menunggu untuk ia serahkan pada Diandra suatu saat nanti. Hingga hari itu pun datang juga. Saat tak sengaja ia melihat foto Diandra bersama sepupunya Lana, ia sangat yakin itu Diandra.
***
Kini cahaya putih itu semakin besar dan menyilaukan mata Diandra, matanya terpejam seketika. Dan saat ia membuka matanya, bukan Rumah atau suasana yang seperti sebelumnya ia lihat. Tapi sebuah lampu yang tergantung di plafon sebuah ruangan yang berwarnah putih.
Aroma khas obat-obatan langsung menyergap penciumannya dengan tajam. Dan tubuhnya, kini sedang terbaring di sebuah ranjang. Saat ia tengah melihat sekeliling seseorang berteriak.
"Sayang, Kamu sudah sadar yaa ... jangan banyak gerak dulu ya Sayang. Mama panggilin Dokter dulu," tak lama kemudian masuklah seorang Dokter dan Perawat yang melakukan serangkaian test pada Diandra untuk memastikan keadaannya.
Namun Gadis itu mencari Seseorang, matanya mencari di sekeliling ruangan namun tak ada sosok yang dicari. Ia bahkan tak terlalu mendengarkan apa yang tengah di beritahukan Dokter yang bertugas pada Mamanya.
Setelah Dokter dan Perawat pergi, segera ia bertanya, "Ma, Mama sendiri di sini?" dengan tersenyum Mamanya berkata, "Sekarang Ia sayang, Papa masih ke Kantor bentar ada yang harus di Urus. Kamu jangan gerak dulu ya ... " meski begitu Diandra tetap mencari di sekeliling ruangan dengan matanya, "Ma, gak ada ... em ... orang lain di sini? Selain Mama sama Papa?"
"Maksud Kamu? Rafa? Dia gak ada di sini. Tapi ada di Depan Ruangan Kamu siang dan malam," kali ini Diandra tersentak mendengar apa yang diucapkan Mamanya.
"Ra ... Rafa ada di Depan Ma? Kenapa bukan di Dalam? Terus Diandra sudah berapa lama di sini?" sambil menangis ia meminta jawaban dari Mamanya.
"Mama yang gak ngizinin Dia di sini, semua ini bisa terjadi karena Dia! Kamu sudah di sini selama seminggu. Mama takut hal yang sama terjadi lagi Di ... Mama --- " tak sanggup Mamanya melanjutkan, ia hanya bisa menangis."
Diandra langsung mencoba untuk bangun meski sulit, dengan dibantu Mamanya akhirnya ia bisa duduk juga dan langsung memeluk sang Mama yang semakin terisak.
"Gak Ma, Rafa gak salah. Mama jangan benci sama Rafa. Diandra mohon Ma ... Diandra sudah sembuh, Diandra ingat semuanya ... tentang Masa Kecil Diandra, ingatan Diandra sudah pulih semuanya Ma. Dan itu semua berkat Rafa, Dia gak pernah nyerah untuk menyembuhkan Diandra bahkan saat Ia jauh sekalipun."
"Benar Ma, apa yang dikatakan Putri kita itu. Buktinya Rafa tetap setia menunggu Diandra pulih selama seminggu ini. Meski Mama melarangnya untuk menemui Diandra langsung, ia tidak menyerah. Dia tetap datang setiap hari. Papa juga secara tidak sengaja melihat Ia membelikan makanan untuk semua Perawat dan Dokter yang bertugas merawat Diandra. Semua itu ia lakukan agar Diandra cepat pulih."
Diandra dan Mamanya segera menoleh pada Ayahnya yang masuk sambil menggandeng Rafa yang tengah tertunduk. Meski tak terlihat, namun Diandra tahu Pria itu tengah menahan tangis ...
Diandra langsung memanggilnya untuk mendekat, dengan sedikit ragu Rafa melihat ke arah Mamanya Diandra yang akhirnya mengangguk tanda mengizinkan. Perlahan namun pasti Rafa mendekat pada Diandra yang langsung memeluknya.
Rafa kaget dan malu pada Orangtua Diandra yang tengah melihat mereka. Namun Diandra tak peduli, yang Ia tahu saat ini Ia sangat merindukan Rafa ... ya ... Rafanza ... Sahabat dan Kekasihnya, baik di dalam mimpi maupun dalam kenyataan. Nyatanya Ia sangat mencintai Rafanza, pada kehidupan sebelumnya hingga kehidupannya nanti hanya Rafanza yang bisa mengisi hatinya. Begitupun sebaliknya, bagi Rafanza Diandra adalah Kekasihnya, Hujan Bintangnya.
SELESAI
__ADS_1
--------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar author lebih semangat nulisnya🤗. Serta tolong sampaikan kritik dan sarannya juga jika ada kesalahan dalam penulisan. Di tunggu dalam kolom comentarnya yaa… happy reading😊