Kopi Dan Gula

Kopi Dan Gula
41. SANTET (SATU)


__ADS_3

"Kania pergi dulu ya Buk .... " Gadis manis yang kini duduk di kelas tiga SMA itu pun berpamitan pada Ibu Kostnya. Karena jarak Sekolah yang jauh dari Rumahnya. Mengharuskan Kania tinggal di Rumah buk Kanti, salah satu Kerabat jauh Ibunya.


"Assalamualaikum .... " pamit Kania pada buk Kanti.


"Waalaikuksalam ...." jawab buk Kanti pada Kania.


*


Ibu Kanti terlihat lelah. Ada lingkaran hitam di matanya, pertanda Perempuan Paruh Baya itu tak bisa tidur lagi semalam. Karena harus begadang menjaga Suaminya, Pak Kasim.


Sudah dua minggu kesehatan pak Kasim memburuk, setelah diperiksa ke Dokter tak ada yang salah dengan tubuhnya. Sudah coba di panggil 'Orang Pintar' ke Rumah juga, namun kondisinya tetap sama. Bahkan semakin memburuk.


Kania sedih melihat Pak Kasim yang baik hati itu, harus terbaring lemah di tempat tidur. Hal yang jarang dilakukannya saat sehat. Hanya dalam kurun waktu dua minggu saja, badannya yang berisi itu, langsung kurus kerontang. Karena sulitnya menelan makanan, hanya bisa minum sari nasi yang sudah benar-benar hancur.


*


Selama di Sekolah entah kenapa perasaan Kania tak tenang, ia bahkan tak bisa menyerap pelajaran dengan baik. Selain itu beberapa hari ini Kania sering bermimpi buruk, namun coba ia usir semua perasaan takutnya dengan tetap rajin Shalat. Jika sudah selesai Shalat, hatinya berasa tentram lagi. Namun tak bisa dipungkiri, ada hawa gelap dalam Rumah Buk Kanti dan Pak Kasim yang tak bisa dijelaskan.


Saat perjalanan pulang ke Rumah buk Kanti yang berjarak hanya sekitar dua ratus meter dari Sekolah itu, langkah kaki Kania terasa berat. Sudah banyak Orang berkerumun di depan Rumah. Kania menerobos kerumunan para Tetangga yang mulai sibuk itu. Semakin dekat ke dalam Rumah, suara isak tangis semakin jelas di telinga Kania. Itu suara Buk Kanti dan Putrinya Tari.


Detak jantung Kania, satu-satunya Anak Kost di Rumah itu semakin berpacu. Seiring dengan langkahnya yang semakin cepat seolah berburu dengan waktu. Di dalam Kamar Pak Kasim, sudah banyak Sanak Saudaranya berkumpul. Baik Kerabat dekat maupun yang jauh.


Mereka semua menangis, menatap tubuh Ringkih Pria Paruh Baya yang sudah tak bergerak itu. Tak ada lagi rintihan sakitnya yang seolah tak kenal waktu. Terutama saat tengah malam, teriakannya semakin menyayat hati.

__ADS_1


Kania hanya bisa menangis tanpa suara, segera ia mendekat pada Buk Kanti yang terlihat sangat terpukul. Kania hanya bisa memeluk Perempuan yang semakin terlihat tua dari usianya itu. Mereka hanya bisa menangis, Tari juga langsung memeluk Kania. Gadis kelas tiga SMP itu sangat kehilangan Bapaknya.


*


Kania terbangun dari tidurnya karena 'panggilan alam' yang mendesak. Gadis yang berambut pendek tersebut, segera bangun dari tempat tidurnya menuju ke Kamar Mandi yang berada jauh di bagian Rumah paling belakang.


Kania tak tahu jam berapa sekarang, tak ada waktu untuk mencari tahu. Ia hanya mengikuti nalurinya untuk segera ke Kamar Mandi. Usai menuntaskan 'hajatnya' Kania pun keluar dari Kamar Mandi yang entah kenapa terasa semakin dingin.


Tepat saat ia hendak kembali ke Kamar Tidurnya, Kania melihat sekelebat bayangan tengah melintas ke Ruang tengah. Gadis itu mengucek matanya, tapi tetap tak ada yang terlihat. Kania berjalan lurus ke depan, selangkah demi selangkah kakinya berjalan. Kamarnya sudah di depan mata, namun entah kenapa Kania merasa seperti berjalan di tempat.


Suara lolongan Anjing semakin memekakkan telinga, memecah kesunyian malam yang terasa semakin mencekam. Kania masih berdiri di tempatnya, ia melangkah tapi tak pernah sampai di Kamarnya.


Udara semakin terasa dingin menyentuh kulit putihnya, Kania semakin merapatkan sweeternya agar terasa hangat. Tapi rasa dingin itu tak juga hilang, malah semakin berasa. tiba-tiba terasa suatu cairan menetes dari atas loteng Rumah, ke dahinya.


Cairan kental itu langsung tercium bau anyir. Darah. Tak salah lagi itu darah. Tapi, kenapa ... Kania mengangkat kepalanya pelan, sangat pelan melihat ke atas dan ....


"Ibu ... sejak kapan Ibu ... " Kania menatap wajah Ibunya yang sedang tersenyum, "Anak ini, Kamu lupa ya? Ibu kan sudah lama di sini? Ayo cepet bangun!" Kania hanya bisa mengangguk pada Ibunya.


Kania pun segera bangun, namun seolah terhenti langkahnya di depan pintu Kamar. Karena tepat berhadapan dengannya ada sosok yang sangat dikenalnya tengah menatapnya pilu, sambil mengangkat tangannya yang kurus pak Rahman seolah memberi isyarat pada Kania untuk mengikuti langkahnya.


Entah mengapa, tak ada rasa takut dalam hatinya kini. Ia pun berjalan mengikuti langkah Pria yang terlihat sangat pucat tersebut. Pelan tapi pasti, mereka tiba di samping Rumah.


Pria tersebut menunjuk pada tanah yang terlihat seperti ada bekas galian, hal yang tak pernah diperhatikan Kania sebelumnya. Padahal Kania sering menyapu di sekitar Rumah. Saat Kania sedang memperhatikan tanah tersebut, tiba-tiba tubuhnya seperti terguncang.

__ADS_1


*


"Kania, Kamu kenapa Nak? Ayo bangun! Kamu tidurnya lama sekali dan mengigau! Bangun Nak .... " terdengar suara buk Yuni, ibunya Kania yang sangat cemas melihat Anaknya yang tak bangun juga dari tidur panjangnya. Gadis itu bahkan seperti bercerita dalam tidurnya dengan suara yang sangat pelan, tapi bisa didengar buk Yuni.


Dengan panik buk Yuni mengguncang tubuh Putrinya, yang dengan pelan membuka matanya dan langsung bangun terduduk dari di ranjang.


Kania seperti sedang menghembuskan nafasnya yang tercekat lama secara berulang.


Ibunya langsung memeluk Kania dan menangis karena lega dan cemasnya yang masih terasa hingga kini. Kania membalas pelukan ibunya dengan erat. Ia mengucapkan Ististighfar berulang kali dalam hati. Satu-satunya Orang yang berharga dalam hidup Kania itu semakin menangis dalam pelukan Putrinya.


Setelah tenang, Kania bertanya pada ibunya apa yang sebenarnya terjadi, "Kita ada di mana Buk?" sambil menangis buk Yuni menjelaskan, "Kita ada di Rumah Sakit Sayang. Sudah seminggu Kamu di sini, gak sadarkan diri ... tapi sejak semalam, Kamu sudah bisa bersuara ... dalam keadaan yang belum sadar, seperti Orang yang mengingau ... Ibu takut Kamu kenapa-kenapa!"


"Seminggu? Tapi seingat Kania, Kania ada di Rumahnya Buk Kant. Karena Pak Rahman ... " belum selesai Kania bicara, terdengar beberapa Orang yang masuk ke Ruangan Kania.


"Assalamualaikum .... " Buk Kanti dan Putrinya masuk dan langsung menyalami Buk Yuni, sambil menyerahkan sekeranjang buah yang di bawah mereka. Setelah itu keduanya, mendekat pada Kania sambil tersenyum.


"Ibu baik-baik saja? Maaf Buk, Kania .... "


"Alhamdulillah Kania sudah sadar ya ... Bapak turut senang ya Nak, Kamu harus lebih hati-hati lagi."


Kania langsung menatap pada Pria yang berjalan ke arahnya, Pria Paruh Baya itu terlihat bugar. "Pak Rahman?" Kania merasa sakit dikepalanya tak tertahankan, dan Gadis itu pun kembali jatuh pinsan ....


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


--------------------


Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊


__ADS_2