
"Fio? Kamu Fiona kan? Mana Wina? Kata Wina Kamu sudah pergi?" tanyaku dengan sedikit girang karena melihat Fiona, meski ada sedikit keraguan sebelumnya tentang sosok di depanku. Wajahnya memang sama persis dengan Fiona, tapi penampilannya jauh berbeda dengan Fiona. Gadis ini tampak sangat percaya diri, dan ... mengintimidasi.
"Tutup mulutmu Salsa, atau akan kubungkam dengan paksa. Akan ku buat Kau menyesal telah membuka mulutmu itu! Aku Wina! Kakaknya Fiona!"
"Tidak, Kamu jelas Fiona! Fi, tolong lepaskan Aku ... Janji, Aku tak akan menganggumu lagi."
Gadis itu menatapku penuh amarah. Dengan langkah pasti, ia mendekat ke arahku. Menggores wajahku dengan pisaunya, dengan gerakan yang sangat lembut seperti sedang memahat sebuah patung. Aku hanya bisa berteriak kesakitan.
"Tenanglah Salsa, Aku akan membuat pahatan wajahmu agar lebih cantik lagi. Tapi Aku suka teriakanmu, suaramu yang kesakitan terasa sangat merdu ditelingaku. Lagi pula tak akan ada yang mendengarnya dari luar sana. Karena Ruangan ini sudah dibuat kedap suara. Aku dan Fiona yang membuatnya. Untuk menyambut orang-orang yang sepertimu."
"Aku tak mengerti Fi ... kenapa? Kenapa Kamu seperti ini? Tolong sadarlah Fi, tak ada Wina di sini, hanya ada Kau dan Aku ... ini Aku sahabatmu Salsa!"
Tiba-tiba Gadis itu memegang kepalanya sambil berteriak kesakitan, hingga pisau yang berada ditangannya terlepas. Setelah itu ia jatuh dan tak sadarkan diri. Aku coba membangunkannya dengan menyentuh tubuhnya dengan kakiku. Saat ia membuka mata, Gadis itu tampak berbeda dari sebelumnya.
Dengan sikap kikuknya, Gadis itu kembali terlihat seperti Fiona yang selama ini Aku kenal. Dengan gerakan yang sedikit linglung, ia langsung bangun dan melepaskan ikatanku dengan sangat terburu-buru, "Fi, Kamu kenapa Fi?" hanya itu yang bisa terucap dari bibirku sekarang.
"Bukankah sudah kubilang untuk jangan pernah datang menemui Wina? Tapi Kau tetap memaksa! Lihat wajahmu, Wina memang tidak suka dengan wajah yang terlihat bersih. Terlebih karena Kau berteman denganku, itu membuat ia marah. Segera Kau pergi dari sini Salsa!"
Tinggal satu ikatan lagi, namun kembali Gadis itu merasa kesakitan ... dengan sekali hentakan, ikatan tersebut terlepas dari tubuhku. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk segera kabur. Aku langsung lari ... namun Aku bingung harus ke mana. Terlalu banyak ruangan dalam Rumah yang semakin seram di dalamnya ini.
Di belakangku terdengar langkah kaki semakin mendekat, diikuti suara yang menggema di seisi rumah, "Salsa ... di mana Kau? Ayolah, Aku tidak sedang ingin bermain petak umpet. Jika tak ingin semakin sakit, sebaiknya Kau menyerah saja. Mana keberanianmu yang datang menemuiku di sini!"
Aku terpaksa sembunyi di salah satu ruangan. Hampir saja Aku jatuh pingsan saat melihat isi ruangan tersebut. Ada dua tubuh perempuan dengan wajah yang rusak tercabik-cabik dan organ tubuh lainnya yang sudah terkoyak di atas tempat tidur.
Hampir saja Aku muntah, namun coba kutahan. Aku tak ingin Wina menemukanku lagi. Langkah Kaki di luar terdengar mendekat ke kamar di sebelahku. Saat merasa yakin Wina berada di Kamar, Aku segera lari seketika.
Aku terus berlari menyusuri lorong yang terasa sangat panjang itu, Aku tak peduli lagi dengan suara teriakan di belakangku. Aku hanya berfikir untuk bisa keluar dari tempat mengerikan ini.
Tak sia-sia olahraga lari yang kugemari, Akhirnya Aku sampai juga di depan Rumah. Segera kunyalakan motorku dan berlalu dari Rumah Tua yang menyeramkan tersebut.
Sesampainya di Rumah, Aku menceritakan semuanya pada Bapak dan Ibu. Aku benar-benar ketakutan sekarang. Tapi Aku lebih takut lagi jika Wina sampai lepas. Bapak segera menghubungi Sahabatnya yang merupakan salah satu petinggi di Kepolisian.
__ADS_1
Petugas segera menuju ke Rumah yang kusebutkan sebelumnya. Saat mereka sampai, Fiona sedang berusaha menyakiti dirinya sendiri. Satu tangan memegang sebilah pisau, hendak menikam jantungngnya dan tangan yang satunya lagi menahan tangan tersebut. Lebih tepatnya Fiona sedang bertengkar dengan dirinya sendiri.
Dengan kewaspadaan penuh, para petugas Polisi yang juga datang dengan beberapa Tenaga Medis tersebut berhasil meringkuk Fiona. Gadis itu dilumpuhkan dengan obat bius. Selanjutnya ia di bawa ke Rumah Sakit khusus untuk Pasien yang Terganggu Jiwanya.
*
Dua Minggu Kemudian
"Bagaimana Kabar Salsa Mbak?" tanya Rini saat mengunjungi Rumah Kakaknya, buk Ratih yang merupakan Ibunda dari Salsabila.
Wanita yang masih terlihat menawan diusia senjanya itu tampak lelah dengan semua masalah yang menimpa Putrinya.
"Salsa masih terjebak dengan dunianya sendiri Rin. Mbak gak tahu harus bagaimana lagi .... " Ratih mulai terisak. Semua beban itu ditumpahkannya lewat air mata yang kini makin deras mengalir.
Rini merasakan kesedihan Kakaknya dan segera mendekat pada sang Kakak serta memeluknya. Kakak-Beradik itu larut dalam kesedihan.
*
Syila yang berperawakan kecil itu langsung terpental dari atas motor dan jatuh ke tengah jalan, terlindas kendaraan yang melintas. Tak terelakkan Gadis kecil itu tewas di tempat. Sedangkan Salsa mengalami benturan keras di kepalanya, beruntung Gadis itu menggunakan helm hingga menyelamatkannya dari kerusakan di kepala lebih parah lagi.
Mengalami koma selama sebulan penuh, nyatanya saat sadar Salsa menjadi trauma dan ketakutan. Ia merasa sangat bersalah pada Syila, yang harus pergi untuk selamanya saat harus menemaninya untuk membeli perlengkapan kuliahnya nanti.
Karena mentalnya yang masih sedikit terganggu, Salsa di rawat di Rumah Sakit Jiwa. Dalam satu ruangan khusus. Setahun di rawat, Salsa menunjukan progres yang cukup signifikan dari sebelumnya.
Sikapnya sudah lebih tenang, ia bahkan sudah bisa menerima kepergian Syila untuk selamanya. Salsa juga sudah bisa berbicara dengan Orangtuanya dengan normal. Salsa terlihat sudah kembali seperti dia yang dulu.
Hingga Dokter menyatakan Salsa sudah boleh pulang, namun tetap harus dalam pengawasan.
Beberapa bulan kemudian, Salsa ikut ujian penerimaan Mahasiswa Baru, Gadis yang memang cerdas tersebut, berhasil masuk dengan nilai yang cukup tinggi. Semakin meyakinkan Ratih dan Suaminya, bahwa putri mereka benar-benar sehat.
Hingga suatu hari, seorang Gadis bernama Fiona datang berkunjung ke Rumah. Ratih merasa senang, karena Salsa sudah memiliki Seorang teman. Namun saat Ratih menanyakan soal Fiona pada Salsa ia tak menjawabnya, mungkin karena saat itu Salsa sedang terburu-buru untuk menemui temannya itu, sampai tak mendengar pertanyaan Ibunya. Ratih tak merasa itu aneh.
__ADS_1
Puncaknya adalah pada satu malam Salsa pamit pada Ibunya pergi ke Rumah Fiona, untuk belajar bersama. Karena baru jam delapan malam, Ratih pun mengizinkan.
Namun yang membuat Ratih dan Suaminya khawatir adalah saat ia pulang dari Rumah Fiona dalam kondisi terluka, di bagian leher dan wajahnya ada bekas sayatan pisau.
Setelah Salsa menceritakan semuanya, Segera Ratih meminta sang Suami pergi bersama untuk mengecek kebenaran cerita Putri mereka bersama Polisi dan Petugas Medis. Betapa tercengangnya mereka, saat sampai di Rumah Kosong yang disebutkan Salsa.
Di rumah itu hanya ada seorang gadis yang telah terikat di kursi dan tampak lemah. Gadis itu mengalami luka sayatan yang cukup banyak di wajahnya. Dia adalah Fiona. Teman Salsa.
Ratih langsung menatap wajah Salsa yang tiba-tiba tertawa dan menunjuk Fiona. Dia mengatakan bahwa itu bukan temannya, itu adalah Wina yang menyamar sebagai Fiona.
Mereka langsung membawa Fiona pergi untuk di rawat, begitu pun Salsa yang mulai tak terkendali. Beruntung banyak Petugas yang di arahkan ke Rumah yang ternyata milik dari salah satu sahabat Ratih yang sudah tidak dihuni lagi. Ratih bahkan sudah lupa tentang Rumah itu, namun Salsa yang sering bermain kesitu waktu sekolah dulu ternyata masih sangat mengingatnya.
Setelah lebih tenang, Fiona memberikan keterangannya pada Polisi dengan menangis ketakutan ia mengatakan bahwa Salsa yang menjemputnya di Rumah. Katanya ia akan mengajak Fiona belajar di Rumahnya, namun ternyata Salsa berbohong. Mereka ke Rumah Kosong itu.
Salsa memukulnnya dengan benda keras saat ia mencoba kabur, yang lebih membuatnya takut adalah Salsa sering berbicara sendiri. Kadang ia menyebut nama Wina, kadang ia merasa dirinya Fiona dan kadang ia menjadi Salsa yang teraniaya.
Kembali Fiona menangis ketakutan. Salsa seperti tiga orang yang berbeda setiap beberapa waktu, ia akan mengalami sakit kepala hebat jika akan menjadi pribadi yang lain.
Semua penjelasan Fiona itu bisa dibuktikannya dengan ponselnya, semua pesan yang dikirim Salsa ada di sana. Begitupun dengan penjelasannya saat Salsa menjemput ia di Rumah, Ibunya yang membenarkan. Karena Fiona dan Salsa Pamit pada sang Ibu untuk belajar bersama.
Petugas Polisi dan Dokter juga sudah memeriksa ponsel Salsa yang membuat mereka makin tercengang dengan pesan yang ia ketik dan dikirimnya sendiri ke nomor handphonenya.
Gadis itu kini harus menghabiskan waktunya dalam sebuah Ruangan yang Kosong dan Putih disemua sisinya. Kadang ia menangis tersedu, kadang ia akan tertawa sangat keras, namun kadang ia akan sangat pendiam.
Orangtuanga hanya bisa menangis melihat Putri mereka yang kadang memanggil Bapak dan Ibu, kadang memanggil Om dan Tante, kadang ia diam seperti tak mengenal mereka ... dan Dirinya Sendiri.
SELESAI
-------------------------
Terimakasih telah membaca novel ini, jika suka mohon dukungannya dengan like, rate dan vote yaa… biar Author lebih semangat nulisnya🤗 Ditunggu dalam kolom Komentarnya yaa… happy reading😊
__ADS_1