
Dokter Morgan duduk di samping zombie yang baru belajar bicara, berusaha menjelaskan konsep yang menakjubkan tentang kota ajaib. Dia ingin memperkenalkan zombie itu pada keajaiban dunia di luar ruang laboratorium, terutama tentang kota ajaib yang bisa memberikan kenyamanan kepada penduduknya.
"Dengar baik-baik, anakku," kata Dokter Morgan dengan semangat. "Kota ajaib adalah tempat yang luar biasa di mana keajaiban teknologi terwujud. Di sana, penduduknya hidup bebas dari ancaman zombie. Kota-kota di dalam kota ajaib dirancang secara khusus untuk melindungi dan memberikan kehidupan yang aman bagi warganya."
Zombie itu memperhatikan dengan ketertarikan, matanya berbinar-binar. Ia ingin tahu lebih banyak tentang kota ajaib ini.
"Selain itu, kota ajaib juga memiliki mesin makanan instan yang luar biasa," sambung Dokter Morgan. "Penduduknya dapat menikmati makanan seperti sebelum kehadiran para zombie. Mesin-mesin itu bisa menciptakan makanan dengan rasa autentik dari berbagai negara. Jadi, mereka bisa merasakan kelezatan hidangan khas dari berbagai belahan dunia."
Zombie itu tampak terpesona dengan konsep tersebut. Ia memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Dokter Morgan, mencoba memahaminya dengan lebih baik.
"Dan yang lebih menakjubkan lagi," kata Dokter Morgan dengan penuh kekaguman, "kota ajaib mampu memberikan ilusi kepada penduduknya bahwa kehadiran para zombie hanyalah mimpi. Mereka dapat hidup tanpa rasa takut dan kecemasan akan serangan zombie."
Zombie itu menatap Dokter Morgan dengan intensitas. Ia mencoba menangkap setiap kata yang diucapkan, berusaha memahami semua hal yang sedang diajarkan oleh penciptanya.
"Dalam kota ajaib, kita dapat menemukan keselamatan, kenyamanan, dan makanan yang lezat. Penduduknya dapat hidup seperti sebelum kejadian mengerikan itu terjadi," lanjut Dokter Morgan dengan nada penuh harapan.
Zombie itu melihat ke arah Dokter Morgan, matanya dipenuhi dengan rasa syukur dan pemahaman yang sedikit demi sedikit terbentuk dalam dirinya. Ia merasa beruntung bisa belajar dan berkomunikasi dengan dokter yang begitu peduli dengannya.
Dokter Morgan menyadari betapa pentingnya pengenalan zombie itu terhadap kota ajaib. Ia ingin memberikan harapan kepada makhluk ciptaannya itu, bahwa ada dunia di luar sana yang penuh dengan keajaiban dan peluang baru.
"Anakku, kita akan terus menjelajahi dunia di luar bersama," kata Dokter Morgan dengan penuh kasih sayang. "Aku akan memastikan bahwa kamu mendapatkan pengalaman yang penuh makna dan peluang untuk mengembangkan diri."
Dokter Morgan duduk di dekat zombie, ekspresi kecewa terlihat jelas di wajahnya. Ia ingin menyampaikan pandangannya tentang dunia di kota ajaib kepada zombie tersebut.
"Dengar, anakku," kata Dokter Morgan dengan nada kecewa. "Aku tidak menyukai dunia seperti ini. Sebelum kedatangan para zombie, manusia hanya manusia biasa. Mereka tidak memiliki kemampuan yang luar biasa seperti mengendalikan api, air, kayu, udara, bahkan bumi."
Zombie itu memperhatikan Dokter Morgan dengan antusias, mencoba memahami pesan yang ingin disampaikan oleh penciptanya.
"Tapi, ketika para zombie datang, manusia mulai memiliki kemampuan yang luar biasa tersebut," lanjut Dokter Morgan dengan suara bergetar. "Mereka belajar dan mengeksplorasi kekuatan yang diberikan oleh para zombie ini. Tapi apa yang terjadi setelah adanya kota ajaib? Manusia malah mengandalkan teknologi, mesin, dan perangkat buatan manusia untuk segalanya. Mereka telah kehilangan fokus pada kemampuan yang diberikan oleh para zombie."
Zombie itu tampak terpesona dengan pernyataan tersebut. Ia memperhatikan Dokter Morgan dengan intensitas, mencoba memahami betapa pentingnya menghargai kemampuan yang mereka miliki.
"Manusia di dalam kota ajaib telah melupakan esensi dari kekuatan yang diberikan oleh para zombie," kata Dokter Morgan dengan suara penuh kekecewaan. "Mereka tidak lagi menghargai dan mempelajari kemampuan yang telah diberikan kepada mereka. Mereka telah menjadi terlalu tergantung pada teknologi dan terlepas dari hubungan alami yang mereka miliki dengan kekuatan alam."
Zombie itu merasa rasa syukur dan pemahaman sedikit demi sedikit tumbuh dalam dirinya. Ia merasa terpanggil untuk membantu manusia memahami kembali kekuatan yang telah mereka dapatkan dari para zombie.
"Aku berharap manusia di kota ajaib bisa kembali menghargai dan mempelajari kemampuan yang telah mereka miliki," ujar Dokter Morgan dengan lembut. "Aku berharap mereka bisa kembali menyadari betapa berharganya kekuatan alam yang mereka dapatkan dari para zombie. Mereka harus belajar berterima kasih dan memanfaatkan kekuatan itu dengan bijak."
Zombie itu menatap Dokter Morgan dengan tekad dalam matanya. Meskipun masih terbatas dalam kemampuan berkomunikasi, ia merasa tertantang untuk membantu manusia memahami dan menghargai kembali kekuatan yang telah mereka terima.
Dokter Morgan tetap berbicara dengan zombie yang terikat di atas meja pemeriksaan, tetapi kali ini dengan ekspresi serius dan keprihatinan yang terpancar dari wajahnya.
__ADS_1
"Kamu harus mengerti, anakku," ucap Dokter Morgan dengan suara lembut namun tegas. "Meskipun video-video itu menunjukkan manusia yang bahagia, mereka tidak sepenuhnya menghargai kemampuan yang diberikan oleh para zombie. Mereka telah melupakan bahwa kekuatan itu datang dengan harga yang besar."
Dokter Morgan berjalan mendekati zombie tersebut, memperhatikan matanya yang kosong. "Melihat manusia tertawa dan bahagia dalam video itu hanyalah ilusi semu," kata Dokter Morgan dengan nada penuh keprihatinan. "Mereka telah mengalihkan perhatian mereka dari nilai-nilai sejati yang diberikan oleh kehadiran para zombie."
Ia melanjutkan, "Manusia seharusnya menghargai kemampuan unik yang mereka miliki. Mereka seharusnya menggunakan kekuatan alam dengan bijaksana, bukan mengandalkan teknologi semata. Namun, dalam kota ajaib, manusia telah terjebak dalam keserakahan dan ketergantungan pada mesin makanan instan."
Dokter Morgan menghela nafas panjang, lalu melanjutkan, "Saya harap, sebagai zombie yang telah disempurnakan, kamu akan memahami nilai sejati dari kemampuanmu. Kamu memiliki potensi besar untuk mengubah dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Kamu adalah bukti bahwa manusia bisa menghargai dan memanfaatkan kekuatan yang diberikan oleh para zombie secara bijaksana."
Dengan penuh harap, Dokter Morgan memandangi zombie tersebut, berharap bahwa pesannya dapat mencapai ke dalam pikirannya yang sedang berkembang. Ia ingin membantu zombie itu memahami tujuan sejatinya dan berperan dalam membawa perubahan positif bagi dunia yang mereka tinggali.
Namun, dalam diamnya yang tak bergerak, zombie itu masih mencermati kata-kata yang diucapkan oleh Dokter Morgan, mencoba memahami maknanya yang mendalam.
Dalam keadaan terikat di atas meja pemeriksaan, zombie itu mulai memahami apa yang dikatakan oleh Dokter Morgan. Namun, pemahamannya berjalan dalam arah yang terbalik, menyebabkan ia menyukai kota ajaib karena melihatnya sebagai ladang makanan yang melimpah.
Zombie itu menatap Dokter Morgan dengan mata yang memancarkan hasrat memangsa. Tatapannya bukanlah tatapan kagum seperti yang diduga oleh Dokter Morgan, melainkan sebuah nafsu yang ganas. Namun, dokter tidak menyadari akan makna sebenarnya dari tatapan itu.
Dokter Morgan, dengan wajah yang cerah dan penuh harapan, menganggap zombie itu sedang menunjukkan rasa kagum seperti seorang anak yang sedang mengagumi ayahnya. Dia tidak menyadari ancaman yang sebenarnya dihadapinya.
"Kamu benar-benar luar biasa," ucap Dokter Morgan dengan suara lembut, percaya bahwa zombie itu akan menjadi bukti keberhasilannya sebagai ilmuwan.
Namun, dalam pikiran zombie, ia melihat dokter sebagai makanan yang menggugah selera. Meskipun terikat dan tidak bisa bergerak, naluri makan yang kuat menguasai dirinya.
Zombie itu merasakan kehausan yang tak tertahankan akan daging manusia. Ia merasa kesenangan yang tak terbendung ketika melihat manusia-manusia di kota ajaib, seolah-olah mereka adalah hidangan lezat yang menanti untuk disantap.
Dalam pikiran zombie, kota ajaib adalah tempat di mana ia bisa memuaskan kehausannya dengan bebas. Ia melihat manusia-manusia di kota sebagai sumber makanan yang tak terbatas, dan Dokter Morgan sendiri adalah hidangan yang menggiurkan di depannya.
Dokter Morgan, dalam kebodohannya, masih berpikir bahwa zombie itu hanya menatapnya dengan kekaguman. Ia tidak menyadari bahwa ia berada di hadapan makhluk yang haus darah, siap untuk menerkamnya kapan saja kesempatan muncul.
Sementara itu, Dokter Morgan berdiri di depannya dengan kegembiraan yang tak tergoyahkan, tidak menyadari ancaman yang nyata yang ada di hadapannya.
Dalam keadaan terikat di atas meja pemeriksaan, zombie itu mulai memahami apa yang dikatakan oleh Dokter Morgan. Namun, pemahamannya berjalan dalam arah yang terbalik, menyebabkan ia menyukai kota ajaib karena melihatnya sebagai ladang makanan yang melimpah.
Zombie itu menatap Dokter Morgan dengan mata yang memancarkan hasrat memangsa. Tatapannya bukanlah tatapan kagum seperti yang diduga oleh Dokter Morgan, melainkan sebuah nafsu yang ganas. Namun, dokter tidak menyadari akan makna sebenarnya dari tatapan itu.
Dokter Morgan, dengan wajah yang cerah dan penuh harapan, menganggap zombie itu sedang menunjukkan rasa kagum seperti seorang anak yang sedang mengagumi ayahnya. Dia tidak menyadari ancaman yang sebenarnya dihadapinya.
"Kamu benar-benar luar biasa," ucap Dokter Morgan dengan suara lembut, percaya bahwa zombie itu akan menjadi bukti keberhasilannya sebagai ilmuwan.
Namun, dalam pikiran zombie, ia melihat dokter sebagai makanan yang menggugah selera. Meskipun terikat dan tidak bisa bergerak, naluri makan yang kuat menguasai dirinya.
Zombie itu merasakan kehausan yang tak tertahankan akan daging manusia. Ia merasa kesenangan yang tak terbendung ketika melihat manusia-manusia di kota ajaib, seolah-olah mereka adalah hidangan lezat yang menanti untuk disantap.
__ADS_1
Dalam pikiran zombie, kota ajaib adalah tempat di mana ia bisa memuaskan kehausannya dengan bebas. Ia melihat manusia-manusia di kota sebagai sumber makanan yang tak terbatas, dan Dokter Morgan sendiri adalah hidangan yang menggiurkan di depannya.
Dokter Morgan, dalam kebodohannya, masih berpikir bahwa zombie itu hanya menatapnya dengan kekaguman. Ia tidak menyadari bahwa ia berada di hadapan makhluk yang haus darah, siap untuk menerkamnya kapan saja kesempatan muncul.
Di bawah cahaya laboratorium yang suram, situasi menjadi semakin menegangkan. Zombie yang baru lahir masih terikat di atas meja pemeriksaan, tak dapat bergerak, tetapi pikirannya penuh dengan keinginan makan yang tidak terpuaskan.
Dokter Morgan mengalihkan perhatiannya pada zombie yang masih terikat di atas meja pemeriksaan. Dia melangkah mendekat dengan senyum bangga di wajahnya.
"Dengarlah, sayangku," ucap Dokter Morgan dengan nada penuh kekaguman. "Aku telah berhasil membersihkan DNA-mu sepenuhnya. Tidak ada detektor di kota ajaib yang akan bisa mendeteksi bahwa dirimu adalah seorang zombie."
Zombie tersebut menatap Dokter Morgan dengan tatapan kosong, mata merahnya bersinar dalam kegelapan ruangan. Dia tampak memahami apa yang dikatakan, meskipun belum bisa merespons dengan kata-kata.
"Dengan pencapaian ini, kau akan menjadi satu-satunya zombie yang mampu masuk ke dalam kota ajaib dengan bebas," lanjut Dokter Morgan dengan penuh kebanggaan. "Mereka tidak akan pernah curiga padamu. Kita akan bersama-sama, menjelajahi kota ajaib ini tanpa ada yang menyadari asal usulmu."
Dokter Morgan meraih tangan zombie itu dengan penuh kasih sayang, memandanginya dengan penuh harap. Namun, di balik kebahagiaan dan kebanggaannya, ada kegelisahan yang melintas di pikirannya. Dia bertanya-tanya apakah dia telah membuat keputusan yang tepat atau terjebak dalam konsekuensi yang tidak terduga.
"Kini, kita akan bersama-sama, sayang," kata Dokter Morgan dengan suara lembut. "Kota ajaib menunggu kita, dengan kehidupan baru yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya."
Zombie itu hanya menatapnya dengan mata kosong, tetapi dalam keheningan ruangan itu, mungkin ada sedikit keinginan yang membara di balik tatapan itu.
Dokter Morgan menatap zombie dengan ekspresi penuh kasih sayang seorang ayah. Dia melihat zombie itu sebagai hasil dari penelitiannya yang rumit, sebagai ciptaannya yang kini hidup di hadapannya. Dalam matanya, terlihat keinginan untuk mengerti dan memahami makhluk yang ada di depannya.
Namun, di sisi lain, zombie menatap dokter Morgan dengan pandangan yang tersembunyi di balik ketiadaan emosi dan kehausannya. Pandangannya seperti orang yang menatap ayam panggang yang menggiurkan, dengan keinginan untuk memuaskan nafsu makannya.
Dokter Morgan, dalam kebersahajaannya, tidak menyadari makna sebenarnya di balik pandangan zombie tersebut. Bagi dokter, itu hanya sebuah tatapan yang penuh rasa kagum, seolah-olah zombie itu melihatnya sebagai sumber perlindungan dan kehangatan.
Sementara dokter Morgan melanjutkan tatapannya dengan kasih sayang dan kebaikan hati, dia tidak menyadari ancaman yang ada di hadapannya. Dia tidak tahu bahwa pandangan zombie itu bukanlah rasa kagum, tetapi nafsu yang tak terkendali.
Ketidaktahuan dokter Morgan membuka ruang bagi bahaya yang tak terduga. Dia tidak menyadari bahwa dirinya adalah target yang menarik bagi zombie itu. Kehadiran zombie di atas meja pemeriksaan adalah pengingat yang menggugah bahwa bahaya selalu mengintai di dalam kegelapan yang tersembunyi.
Dalam adegan tatap menatap ini, ada ketegangan yang terasa di udara. Dokter Morgan dan zombie saling menatap, tapi dengan persepsi yang berbeda. Bagi dokter Morgan, itu adalah tatapan sayang dan rasa kebapakan sebagai pencipta, sementara bagi zombie itu adalah tatapan yang melambangkan keinginan makan dan kehausannya yang tak terpuaskan.
Tatapan itu berbicara banyak hal, tetapi dokter Morgan tidak menyadari arti sebenarnya yang tersembunyi di balik matanya. Keberadaan zombie ini menjadi peringatan bagi dokter Morgan bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang perlu ia hadapi.
Tapi ketika dokter Morgan menyadari hal ini ,itu semuanya sudah terlambat untuk dirinya.
Perlahan-lahan namun pasti zombie itu memiliki kemampuan mental yang tinggi.
Ditambah lagi di tempat lakuan dari dokter Morgan yang membuat Dia memiliki IQ seperti remaja 17 tahun.
Usia di mana manusia sedang mencari jati diri dan memiliki keingintahuan yang kuat.Mereka haus akan ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman yang memacu adrenalin.
__ADS_1
Tapi jika ini dijatuhkan dengan zombie, maka hasilnya akan berakibat buruk.