
Aiden Morgan yang telah mengadopsi identitas manusia, berdiri sekitar 100 meter dari pintu gerbang kota ajaib. Wajahnya, yang dulunya terlihat mengerikan sebagai zombie, telah berubah menjadi lebih manusiawi. Kulitnya yang pucat mulai kembali berwarna, bekas luka dan tanda-tanda kebusukan perlahan memudar.
Sekarang, wajah Aiden menampilkan ciri-ciri manusia yang jelas. Matanya yang dulunya kosong dan merah, kini berwarna cokelat dengan kilau yang hidup. Rambutnya yang sebelumnya kusam dan acak-acakan, kini terlihat rapi dan berkilau, menambah kesan keteraturan dalam penampilannya.
Meski ada sedikit tanda-tanda kelelahan dan keausan di wajahnya, Aiden tetap memancarkan aura yang menarik. Ekspresi di wajahnya mencerminkan keingintahuan dan tekad yang kuat. Dia telah berlatih untuk meniru perilaku manusia, termasuk ekspresi wajah yang sesuai dengan situasi.
Saat memperhatikan antrian panjang di pintu gerbang, Aiden mengambil posisi di tengah-tengahnya. Ia ingin mengamati dan meneliti suasana sekitar sebelum memasuki kota ajaib. Dia berusaha agar tindakannya terlihat seperti manusia biasa yang antusias untuk memasuki kota.
Dalam antrian, Aiden melihat berbagai macam manusia dengan berbagai penampilan dan pakaian yang unik. Ada yang berbicara dan tertawa riang, sementara yang lain terlihat tegang atau tak sabar menunggu giliran mereka. Aiden mencoba meniru sikap dan gerakan mereka, berusaha untuk menyatu dengan kerumunan yang beragam.
Walaupun ada kegembiraan dalam dirinya, Aiden juga merasakan kecemasan dan ketegangan. Dia menyadari bahwa identitasnya sebagai zombie harus tetap terjaga dengan hati-hati, agar rahasianya tidak terbongkar di hadapan manusia. Namun, semangatnya untuk mengejar kehidupan di kota ajaib mengalahkan rasa takut itu.
Saat antrian bergerak maju, Aiden melihat dengan cermat setiap gerakan dan interaksi yang terjadi di sekitarnya. Dia belajar dari tingkah laku manusia di sekitarnya, memperhatikan bahasa tubuh dan ekspresi wajah mereka. Aiden berusaha untuk menyerap pengetahuan dan pengalaman manusia agar semakin sempurna dalam berperilaku.
Dengan setiap langkah maju dalam antrian, Aiden semakin dekat dengan gerbang kota ajaib yang memancarkan pesona magis. Dia merasa campuran antara kegembiraan, harapan, dan kegelisahan.
Saat Aiden mengantri dengan sabar, tiba-tiba seorang pria berpakaian mencolok berdiri di sebelahnya. Pria itu tersenyum ramah dan melihat ke arah tangan Aiden yang kosong, tanpa gelang yang menjadi identifikasi penghuni kota ajaib.
"Hai, maaf mengganggu. Saya tidak bisa membantu tetapi memperhatikan bahwa Anda tidak memiliki gelang di tangan Anda. Apakah Anda baru di kota ajaib?"
Aiden merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Dia menyadari pentingnya gelang sebagai identifikasi dan alat komunikasi di kota ini. Namun, sebagai seorang zombie yang telah mengambil identitas manusia, dia belum sempat memperoleh gelang tersebut.
Aiden menjawab dengan senyum tipis, mencoba mempertahankan keteraturan bicaranya.
"Ya, saya memang baru di kota ajaib ini. Masih dalam proses untuk mendapatkan gelang dan kartu identitas.
Pria itu mengangguk pengertian, tetapi masih ada kecurigaan di matanya.
"Baiklah, saya harap semuanya berjalan lancar bagi Anda. Jika Anda memerlukan bantuan apa pun, jangan ragu untuk bertanya pada penduduk lokal. Mereka biasanya sangat ramah dan bersedia membantu orang baru."
Aiden mengangguk sopan sebagai tanda terima kasih.
"Terima kasih atas nasihatnya. Saya akan mengingatnya"
Pria itu memberikan senyuman persetujuan sebelum berpaling dan melanjutkan mengamati antrian. Aiden merasa lega bahwa dia berhasil meyakinkan orang tersebut, namun dia juga menyadari bahwa dia harus segera mendapatkan gelang dan kartu identitas sebagai langkah penting dalam menjaga rahasianya dan menciptakan identitas manusia yang sempurna.
Dengan hati yang bersemangat, Aiden melanjutkan mengantri dengan penuh harapan.
Semakin lama mengantri tiba-tiba antrian memendek, baru setelah itu Aiden Morgan bisa melihat ada sesuatu yang berdiri tegak di depan.
Ada dua buah robot tinggi besar yang berdiri di masing-masing pintu gerbang. setiap orang yang lewat harus melalui robot tersebut.
Ketika ada orang yang lewat nama mereka akan dibacakan oleh tersebut robot itu. Entah apa maksudnya tapi manusia dilepaskan begitu saja setelah melewatinya.
"Pasti ini adalah teknologi yang memindai manusia yang mengalami infeksi virus zombie, aku harus mencari tahu lebih detil" pikir Aiden Morgan.
__ADS_1
Aiden memanfaatkan kesempatan ketika ia berada di antrian depan untuk bertanya kepada pria yang berdiri di depannya tentang keberadaan robot-robot penjaga di pintu masuk.
"Maaf, bisa saya tahu mengapa ada robot penjaga di pintu masuk? Apa fungsi dan kemampuan mereka?"
Pria itu tersenyum gembira mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan.
"Tentu saja! Robot-robot penjaga ini adalah salah satu kemajuan teknologi tercanggih di kota ajaib ini. Mereka memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca DNA setiap individu yang melewati pintu gerbang. Tidak hanya itu, mereka juga terhubung dengan sistem teknologi manusia sebelum hari kiamat, sehingga mereka dapat mengakses informasi tentang 10 tahun terakhir sebelum bencana terjadi."
Aiden tiba tiba saja tidak nyaman dengan penjelasan pria itu. Dia menyadari bahwa robot-robot penjaga ini bukan sekadar mesin biasa, tetapi memiliki kemampuan yang luar biasa dalam melacak dan memahami individu.
"Jadi, mereka mampu membaca DNA dan memberikan informasi tentang masa lalu seseorang?"tanya Aiden dengan hati-hati.
Pria itu mengangguk dengan penuh kebanggaan.
Pria: "Ya, tepat sekali! Mereka dapat mengidentifikasi siapa pun berdasarkan DNA mereka dan memberikan informasi tentang perjalanan hidup mereka sejak 10 tahun terakhir. Itu adalah salah satu alasan mengapa kami begitu bangga dengan keberadaan robot-robot ini di kota ajaib. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai pemegang sejarah dan identitas setiap individu."
Wajah pria itu berseri-seri saat ia menjelaskan hal tersebut, menunjukkan betapa ia sangat menghargai dan menganggap robot penjaga ini sebagai aset berharga bagi kota ajaib.
Aiden merasa gugup dan cemas melihat dua robot penjaga yang berdiri tegak di depan pintu gerbang. Rasa takut menyelinap dalam dirinya karena ia khawatir bahwa identitasnya sebagai seorang zombie akan terungkap oleh robot-robot tersebut.
Pikiran Aiden mulai melayang ke masa lalu, mempertanyakan pengalaman apa yang ia miliki 10 tahun sebelum hari kiamat. Ia ingat bahwa sebagai zombie, hidupnya tidak seperti manusia pada umumnya. Ia telah mengalami perjuangan dan kesulitan yang berbeda dengan kebanyakan orang. Ia juga menyadari bahwa jika robot-robot ini mampu membaca dan mengungkap informasi tentang masa lalunya, maka identitasnya sebagai zombie bisa terbongkar.
Dalam keadaan yang penuh keraguan, Aiden merenung sejenak. Ia tahu bahwa memasuki kota ajaib adalah sebuah pilihan besar yang akan membuka banyak kesempatan, tetapi juga berisiko. Ia harus memutuskan apakah ia akan mengambil risiko itu atau menghindari kemungkinan pengungkapan identitasnya.
Setelah mempertimbangkan segala kemungkinan dan risiko, Aiden akhirnya mengambil keputusan. Ia memilih untuk tidak mengabaikan kesempatan yang ada di kota ajaib. Meskipun ada risiko terungkapnya identitasnya sebagai zombie, ia merasa bahwa peluang dan pengalaman yang mungkin ia dapatkan di dalam kota jauh lebih berharga daripada ketakutan dan keraguan saat ini.
Sebuah kesempatan harus selalu diiringi dengan risiko setidaknya itu yang dia pelajari oleh Aiden Morgan saat ini.
Berdiri di antrian Ini saja sudah sulit untuk dirinya yang selalu menghirup aroma enak dari manusia-manusia yang lewat.
Bayangkan saja jika dirinya mampu menguasai kota ajaib Bukankah itu artinya dia tidak perlu memikirkan tentang makan di masa depan.
Jumlah manusia-manusia saat ini yang keluar masuk dari kota ajaib saja sudah tidak bisa dihitungnya lagi.
Jadi Aidin Morgan masih tetap berpikir untuk berdiri di sana dalam antrian untuk masuk.
Robot penjaga pintu masuk kota ajaib memiliki bentuk yang futuristik dan canggih. Mereka tampak besar dan berdiri tegak di sisi kanan dan kiri pintu gerbang, sepertinya tak tergoyahkan. Tubuh mereka terbuat dari paduan logam yang ringan namun kuat, dengan permukaan yang halus dan bersih.
Bentuk robot ini menyerupai manusia, namun dengan ciri-ciri yang lebih menonjol dan teknologi yang terintegrasi dengan sempurna. Mereka memiliki tinggi sekitar 2 meter, dengan bentuk tubuh yang atletis dan ramping. Kepala mereka dilengkapi dengan sensor dan kamera yang dapat menghasilkan gambar yang jernih dan akurat.
Bagian wajah robot penjaga memiliki tampilan yang menyerupai manusia, dengan mata yang terbuat dari layar holografik berwarna biru yang tampak begitu realistis. Bibir mereka, meskipun tidak bergerak, terlihat rapi dan tampak seperti tersenyum dalam ekspresi yang canggih.
Di bagian dada, terdapat sebuah panel transparan yang memperlihatkan bagian dalam robot. Panel ini berfungsi untuk menunjukkan teknologi canggih yang terpasang di dalamnya, termasuk perangkat pendeteksi DNA yang sangat sensitif.
Tangan robot penjaga dilengkapi dengan sensor dan sentuhan yang halus, mirip dengan tangan manusia. Pada tangan mereka, terdapat sensor sidik jari yang digunakan untuk mengenali individu berdasarkan DNA mereka.
__ADS_1
Secara keseluruhan, robot penjaga ini menciptakan kesan kekuatan dan kecerdasan yang luar biasa. Meskipun tampak seperti manusia, mereka memiliki kelebihan teknologi yang membuat mereka mampu membedakan antara manusia dan zombie dengan akurasi tinggi berdasarkan analisis DNA.
Aiden memandang robot-robot ini dengan kekaguman dan juga sedikit kekhawatiran. Ia menyadari bahwa keberadaan mereka adalah bentuk perlindungan dan pengawasan yang ketat di kota ajaib. Dengan teknologi yang mereka miliki, robot penjaga ini mampu menjaga keamanan dan mencegah ancaman dari makhluk yang tidak diinginkan, termasuk zombie seperti dirinya.
"Ahh gawat kalau sampai aku ketahuan, gimana ini ya?"pikir Aiden Morgan lagi.
"Hem Paman, Aku adalah orang awam dan baru pertama kali masuk ke kota ajaib boleh tolong jelaskan bagaimana cara kerja robot robot itu?"tanya Aiden pada pada pria yang berdiri di antrian depan.
Pria ini tadi sebelumnya sudah menjawab pertanyaan dari Aiden dan sekarang dia masih menjawab pertanyaan ini lagi dengan sama antusiasnya seperti sebelumnya.
"Ohh rupanya kamu baru pertama kali masuk kota ajaib Oke Paman akan jelaskan bagaimana cara robot itu bekerja"kata nya.
Saat seseorang mendekati pintu gerbang, robot penjaga secara otomatis mengaktifkan sensor dan perangkat pendeteksinya. Mereka memindai DNA individu melalui sensor sidik jari yang terdapat pada tangan mereka.
Proses pendeteksian DNA dilakukan dengan sangat cepat dan akurat. Robot penjaga menganalisis pola DNA yang unik dan membandingkannya dengan database yang tersimpan dalam sistem mereka. Database ini berisi informasi identitas lengkap setiap penduduk kota ajaib, termasuk nama, usia, dan kemampuan khusus yang dimiliki oleh individu tersebut.
Setelah analisis selesai, robot penjaga akan menampilkan hasilnya di layar holografik di depan mereka. Informasi tersebut meliputi identitas lengkap orang yang masuk, seperti nama lengkap, tanggal lahir, dan kemampuan khusus yang dimilikinya.
Mereka juga dapat memberikan peringatan jika seseorang teridentifikasi sebagai zombie, dengan menampilkan pesan "Status: Zombie" yang terpampang jelas di layar holografik. Robot penjaga akan segera mengambil tindakan untuk menghentikan zombie masuk ke dalam kota ajaib.
"Dengan cara kerja yang efisien dan akurat, robot penjaga memastikan bahwa setiap individu yang masuk ke kota ajaib memiliki identitas yang terverifikasi dan aman. Identitas lengkap yang diungkapkan oleh robot penjaga ini menjadi penting untuk menjaga keamanan dan keselamatan penduduk kota serta mencegah potensi ancaman yang mungkin timbul"kata pria itu yang tidak bosan menjelaskan tentang keajaiban Kota ajaib.
Dia terlihat senang dan mengagung-agungkan kota ajaib berbeda jauh dengan keberadaan Aiden Morgan yang bertambah pucat ketika mendengar penjelasan itu.
"Jadi apa yang dilakukan oleh robot Ketika seseorang didapati terkena virus zombie?" tanya Aiden serius.
Dia sangat ingin tinggal di kota ajaib karena ingin makan tentunya tapi sebelum itu dia juga harus memastikan jika dirinya selamat dalam prosesnya.
Berpikir lagi tentang canggihnya teknologi yang digunakan oleh kota ajaib .Aiden Morgan malah berpikir ulang untuk masuk ke dalam kota.
"Ohh biasanya robot penjaga akan memberikan lampu merah sebagai tanda jika orang ini adalah orang yang berbahaya"jawab pria itu lagi.
"robot penjaga ini mampu mendeteksi tingkat virus meskipun hanya satu persen saja di dalam tubuh manusia. jadi ketika kedapatan orang ini memiliki mutasi zombie. akan datang robot ke khusus yang akan menarik pria tersebut dan merendamnya ke dalam kolam di sana"
"Ohh kolam itu adalah kolam yang terbaik yang pernah ada di hari kiamat. itu pulang bukan kolam untuk orang berenang tapi itu adalah kolam untuk membakar segala DNA DNA yang sudah terjangkit oleh virus zombie" kata nya bangga.
"Mem.. membakar nya?ma... maksudnya apa"tanya Aiden yang langsung pucat mendengarnya.
Dia pikir hanya dirinya lah yang kejam tapi rupanya manusia juga lebih kejam. Mereka mengancam untuk membakar zombie hidup-hidup tidak.
"Hem itu bukan kolam biasa itu adalah sebuah kolam yang memiliki zat-zat tertentu untuk membakar virus-virus itu sampai habis.Kau tau air di dalam kolam itu akan meresap sampai ke pori-porimu lalu membakar semua virus-virus itu sampai ke tingkat sel. Lalu semuanya akan di bakar terus-menerus sampai virus-virus itu tidak ada lagi di dalam tubuh"
Sampai di sini Aiden tercengang lagi dan mau tidak mau mundur satu langkah sehingga orang di belakangnya sedikit.
Tidak.. Ini tidak mungkin.
__ADS_1