Kota Baru Di Hari Kiamat

Kota Baru Di Hari Kiamat
258


__ADS_3

Zombie itu memperhatikan dokter Morgan dengan seksama, mata yang semula kosong mulai berbinar dengan kehidupan yang baru. Bibirnya yang kaku dan patah-patah mulai bergerak, mencoba merangkai kata-kata dengan susah payah.


"Da... dok... dokter," gumam zombie dengan suara yang masih lirih dan terputus-putus. Namun, dengan setiap percobaan yang dilakukannya, kemampuannya untuk berbicara semakin membaik.


Dokter Morgan menatap zombie dengan kagum, terpana oleh perubahan yang sedang terjadi. Dia menyadari bahwa zombie itu, meskipun awalnya terbatas dalam kemampuan bicara, sedang mengalami perkembangan yang mengejutkan.


"S... saya... b...i...s...a... b...e...r...b...i...c...a...," lanjut zombie dengan suara yang semakin teratur dan jelas. Bibirnya yang kaku mulai bergerak dengan lancar, menghasilkan kata-kata yang dapat dipahami dengan baik.


Dokter Morgan tersenyum dengan bangga, mengetahui bahwa zombie itu mampu menguasai bahasa manusia meskipun dengan sedikit kendala. Dia menyadari potensi yang ada dalam zombie itu, potensi untuk menjadi makhluk yang lebih dari sekadar pemangsa.


"Da...lam... Wak..tu..ini," kata zombie dengan suara yang semakin mantap. "Sa...y...a... te...rus ...


Dokter Morgan mendekati zombie dengan hati-hati, takjub akan perubahan yang terjadi. Dia ingin memastikan bahwa zombie itu benar-benar mengerti apa yang dia bicarakan. Dia menganggukkan kepala dengan lembut sebagai tanda pengakuan atas usaha dan kemajuan zombie itu.


"Sangat bagus," ucap dokter Morgan dengan suara lembut. "Kamu benar-benar telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa. Kami akan terus belajar bersama, dan siapa tahu apa yang bisa kita capai di masa depan."


Dokter Morgan melihat zombie dengan kebanggaan dan kekaguman yang jelas terpancar dari matanya. Dia merasa terkesan dengan kemampuan zombie untuk belajar dengan cepat, meskipun fokus zombie itu pada permintaan pertamanya membuatnya sedikit terkejut.


"Dengan semua pengetahuan yang kamu miliki sekarang, apa yang kamu inginkan sebagai permintaan pertamamu?" tanya dokter Morgan dengan rasa penasaran yang tulus.


Zombie itu memandang dokter Morgan, matanya yang kelaparan mencerminkan keinginannya yang sederhana. Dia menjawab dengan tegas, "Makan."


Dokter Morgan mengangguk, memahami kebutuhan dasar zombie itu. Dia menyadari bahwa meskipun zombie telah menunjukkan kemajuan yang mengesankan dalam pemahaman dan komunikasi, naluri makan mereka tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari diri mereka.


"Sangatlah wajar," kata dokter Morgan dengan suara lembut. "Kamu perlu makan untuk mempertahankan kehidupanmu. Mari kita cari jalan yang tepat untuk memenuhi kebutuhanmu."


Dia mempertimbangkan apa yang akan cocok dengan kebutuhan zombie , sambil memperhatikan bahwa zombie ini akan pergi ke kota ajaib setelahnya.


"Dia akan masuk ke kota ajaib, jadi menu yang tepat adalah seperti manusia biasa," gumam dokter Morgan dalam keheningan ruangan.


Dokter Morgan duduk kembali ke meja kerjanya, memikirkan dengan sungguh-sungguh menu apa yang akan diberikan kepada zombie sebagai makanan. Dia mencoba mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kebutuhan gizi zombie dan batasan etika yang harus dia ikuti.


Namun, di tengah pemikirannya, zombie yang terikat di meja pemeriksaan terus menatapnya dengan pandangan yang kelaparan. Dokter Morgan tidak menyadari bahwa zombie tersebut sebenarnya memikirkan apa rasanya dirinya, dokter Morgan, sebagai makanan.


Tiba-tiba, zombie itu menitiskan air liur dari sudut bibirnya ketika memikirkan tentang hal itu. Namun, dokter Morgan masih sibuk memikirkan menu dan tidak menyadari perubahan dalam ekspresi zombie tersebut.


Dokter Morgan merasa kebingungan dan sedikit terganggu oleh perilaku zombie tersebut, meskipun dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pikirannya kembali ke tugasnya yang penting, mencari solusi terbaik untuk memberikan makanan yang sesuai bagi zombie kesayangannya.


Dalam kebimbangan yang tidak disadari oleh dokter Morgan, zombie terus merasa tergoda dengan kehadirannya, memikirkan rasa daging manusia yang mungkin bisa didapatkan darinya. Namun, zombie ini masih terikat dan tidak dapat mengungkapkan pikirannya dengan kata-kata.


Di ruangan yang sunyi, dokter Morgan terus memutar pikirannya, tanpa menyadari gelagat aneh zombie yang terus menatapnya dengan pandangan yang kelaparan.


Dokter Morgan duduk di meja kerjanya, masih dalam lamunannya tentang menu makanan untuk zombie yang terikat di meja pemeriksaan. Tanpa disadari, zombie itu menggunakan kemampuan mentalnya yang kuat untuk mempengaruhi pikiran dokter Morgan.

__ADS_1


Tiba-tiba, dokter Morgan merasa terdorong oleh kekuatan yang tidak terlihat. Seperti terhipnotis, dia merasa tertarik untuk mendekati zombie tersebut. Matanya terfokus pada zombie yang masih terikat, seolah-olah sesuatu yang tak terduga sedang terjadi.


Dengan gerakan yang terkontrol oleh pengaruh zombie, dokter Morgan perlahan berdiri dari meja kerjanya dan melangkah menuju meja pemeriksaan. Rasanya seperti ada kekuatan magnetik yang menariknya ke arah zombie tersebut.


Dokter Morgan tiba di samping zombie, dengan pandangan penuh kebingungan namun juga penasaran. Dalam keadaan yang terpukau, ia mengulurkan tangannya dan dengan ragu-ragu membuka ikatan yang mengikat zombie ke meja.


Saat ikatan terlepas, zombie bebas dan langsung melontarkan pandangannya ke dokter Morgan dengan sorot mata yang kelaparan. Namun, dokter Morgan masih belum menyadari bahwa dia telah dipengaruhi oleh zombie, dan ia tidak merasakan ancaman yang sebenarnya.


Tapi segera saja dokter Morgan dalam keadaan terkejut dan panik karena menyadari bahwa dirinya berada di bawah pengaruh mental zombie.Dia segera berusaha untuk memanfaatkan kemampuan mentalnya sendiri untuk melawan balik.


Dokter Morgan memusatkan pikirannya, mengumpulkan kekuatan mentalnya, dan dengan keras berpikir tentang keinginan untuk membebaskan diri dari pengaruh zombie. Dia merasakan energi mentalnya yang terkonsentrasi dan membangkitkan kemampuan mentalnya yang telah lama ia latih.


Dengan tekad yang kuat, dokter Morgan membalas serangan mental zombie dengan serangan mental yang sama kuatnya. Dia mengarahkan pikirannya pada zombie, berusaha memutuskan pengaruh yang mengikatnya.


Sementara zombie terus melangkah mendekat, terlihat terkejut oleh upaya dokter Morgan untuk melawan. Dia merasakan kekuatan mental yang tumbuh dalam diri dokter Morgan, sebuah perlawanan yang tidak diharapkan.


Dalam suasana yang tegang, dokter Morgan dan zombie saling menghadapi dengan kekuatan mental yang bertentangan. Mereka berperang dalam dimensi pikiran, memanfaatkan kemampuan mereka untuk mencapai tujuan masing-masing.


Dokter Morgan memfokuskan semua energi mentalnya, mengirimkan serangan balasan yang kuat pada zombie. Dia berbicara dalam pikirannya, mencoba untuk mengendalikan pikiran zombie dan melepaskan kendali yang dimilikinya.


Dalam percakapan pikiran yang intens, dokter Morgan mengungkapkan ketegasannya. "Zombie, kamu tidak bisa menguasai pikiranku! Aku adalah pencipta mu,dokter Morgan, aku punya kekuatan dan kemampuan mental yang sebanding denganmu!"


Zombie terkejut mendengar suara dokter Morgan dalam pikirannya. Ternyata dokter Morgan memiliki kekuatan mental yang sama kuatnya. Namun, dalam kehausannya yang tak terbendung, zombie terus berusaha mempengaruhi dokter Morgan dengan pikiran kelaparannya.


Perlahan-lahan, pengaruh zombie mulai memudar. Dokter Morgan merasakan kembali kendali atas pikirannya sendiri, dan serangan mental zombie terhenti. Dia mengambil napas dalam-dalam, merasa lega bahwa ia berhasil melawan pengaruh yang membelenggunya.


Dokter Morgan, dengan keyakinan yang tumbuh di dalam dirinya, merasa yakin bahwa ia bisa mengalahkan zombie tersebut. Namun, ketika zombie itu bergerak maju dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, keyakinan dokter Morgan mulai meragukan.


Zombie itu tampak berbeda dengan zombie-zombie biasa. Tubuhnya yang sebelumnya terikat di atas meja pemeriksaan, kini berdiri tegak dengan sikap yang anggun. Kulitnya yang dulunya pucat dan berkeriput, sekarang terlihat lebih segar dengan warna kulit yang memudar ke abu-abu kebiruan.


Rambut zombie itu panjang dan kusut, terurai dengan bebas di sekeliling wajahnya yang pucat. Matanya yang dulunya kosong dan tanpa ekspresi, kini memancarkan kecerdasan dan tekad yang misterius. Pupilnya berwarna merah darah, menyiratkan kehadiran kegelapan di balik kehidupan yang kembali padanya.


Bentuk tubuh zombie itu tampak kuat dan tegap. Punggungnya tegak lurus, menggambarkan kekuatan yang tak terbendung. Tangan-tangannya yang dulunya terikat, kini bebas mengayunkan langkahnya dengan mantap.


Walaupun dokter Morgan sebelumnya percaya bahwa ia bisa mengalahkan zombie tersebut, saat ini dirinya merasa kagum dan sedikit terintimidasi oleh aura yang memancar dari zombie itu. Zombie itu berjalan dengan penuh kepastian, melangkah dengan langkah yang tenang namun memikat.


Dalam kegelapan ruangan yang terisi oleh keheningan dan rasa takut yang melingkupinya, dokter Morgan merasakan getaran kekhawatiran yang semakin membesar di dalam dirinya. Dia merenung tentang konsekuensi dari tindakannya yang menghasilkan zombie sempurna ini, dan penyesalan mulai merayap di dalam hatinya.


Dokter Morgan memandang zombie yang ada di hadapannya dengan mata yang penuh dengan penuh ketakutan. Di balik kesempurnaan fisik dan kekuatan mental zombie itu, ia melihat hasil dari eksperimennya yang berubah menjadi mimpi buruk yang hidup. Dia merasa bersalah atas penciptaan yang membawa potensi untuk dirinya sendiri.


"zombie Aku adalah ayahmu Aku bukan makanan?"katanya dengan gugup.


"Ayah hehehe,ayah beri aku makan"kata zombie itu yang terus aja maju ke depan. Dia bahkan sudah tidak berbicara terputus-putus, tapi berbicara dengan sempurna.

__ADS_1


"Tidak, Aku adalah ayahmu bukan makanan, aku ada penciptamu, apa kau ingat?"


Perasaan penyesalan melanda pikiran dokter Morgan saat ia mengingat saat-saat ketika ia berjuang dengan semangat untuk mencapai hasil yang dia impikan. Namun, dalam pengejaran ambisinya, ia mungkin telah melupakan pertimbangan moral dan etika yang melibatkan penciptaan makhluk seperti zombie ini.


Dalam hening yang mencekam, dokter Morgan mengakui kesalahannya. Dia merasa bertanggung jawab atas segala penderitaan yang mungkin timbul akibat keberadaan zombie tersebut.


Dengan tekad yang membara dan adrenalin yang memenuhi tubuhnya, dokter Morgan berhasil merebut kembali kendali atas tubuhnya yang sejenak terlepas dari pengaruh zombie. Dia menyadari bahwa ini adalah kesempatan langka untuk melarikan diri dari situasi yang mematikan.


Dokter Morgan dengan cepat memanfaatkan momen itu dan dengan gerakan yang gesit, ia berusaha melepaskan diri dari ikatan yang mengikatnya. Dengan setiap usaha dan kekuatan yang tersisa, dia berhasil membebaskan diri dari belenggu yang mengikatnya. Napasnya terengah-engah, dan pandangannya fokus pada pintu keluar yang ada di hadapannya.


Tanpa berpikir dua kali, dokter Morgan melompat dari ruang pemeriksaan dan berlari menuju pintu dengan kecepatan yang penuh adrenalin. Setiap langkahnya adalah upaya untuk menjauh dari zombie yang ganas dan bahaya yang mengintainya di ruangan itu.


Dia berlari melewati lorong-lorong gelap dengan kecepatan yang luar biasa, mengatasi rasa ketakutan yang masih merayap di dalam dirinya. Setiap langkah membawanya lebih dekat ke pintu keluar yang berarti kebebasan.


Namun, dengan ketajaman pendengarannya yang luar biasa, zombie itu mendeteksi suara langkah kaki bergerak cepat yang menjauh. Dalam sekejap, dia melompati meja pemeriksaan dan mulai mengejar dokter Morgan dengan gerakan yang cepat dan mematikan.


Sementara itu, dokter Morgan mencapai pintu keluar dan dengan kekuatan terakhirnya, dia membuka pintu itu dan melompat keluar. Dia merasakan udara segar yang memenuhi paru-parunya, memberinya sedikit kelegaan dan harapan akan keselamatan.


Namun, sebelum dia dapat benar-benar melepaskan diri, zombie itu tiba di ambang pintu, mengintai dengan tatapan yang lapar dan penuh kehausan. Keduanya saling menatap, memperebutkan momen yang menentukan.


Dengan kekuatan mentalnya yang terakhir, dokter Morgan mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya dan dengan cepat menutup pintu di depan zombie itu. Dalam sekejap, zombie itu terperangkap di sisi lain pintu, hanya beberapa sentimeter dari memakan mangsanya.


Dokter Morgan, masih terengah-engah dan penuh dengan kelegaan, melihat kembali ke pintu yang memisahkan mereka.


Dokter Morgan menutup pintu dengan cepat, berharap bisa membatasi gerakan zombie yang terus mendekat. Dia merasa sedikit terlindungi di balik pintu tersebut, percaya bahwa itu akan memberinya sedikit waktu untuk berpikir dan mencari jalan keluar.


Namun, saat itu, suara keras menggema di sepanjang lorong. Ketukan berulang-ulang dan getaran pintu menunjukkan bahwa zombie itu tidak akan berhenti sampai mendapatkan mangsanya. Dalam sekejap, pintu pecah menjadi serpihan kayu dan puing-puing, membuka akses untuk zombie yang ganas.


Dokter Morgan memandang dengan ketakutan saat zombie itu masuk ke dalam ruangan. Tubuhnya yang terdistorsi dan wajahnya yang kelaparan menjadi lebih menakutkan saat terlihat dari dekat. Zombie itu melangkah maju dengan langkah yang mantap, matanya terfokus pada dokter Morgan yang ketakutan.


Dokter Morgan merasa jantungnya berdegup kencang, kesadarannya mengingatkannya bahwa dia harus segera keluar dari situasi ini. Dia mencari peluang untuk melarikan diri, melihat sekeliling ruangan untuk menemukan jalan keluar yang mungkin ada.


Namun, zombie itu bergerak dengan cepat. Dalam sekejap, dia mencapai dokter Morgan dan meraih tangannya dengan cengkeraman yang kuat. Dokter Morgan merasakan sakit yang menusuk saat gigi zombie menggigitnya. Dia mencoba melawan dan melepaskan diri, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan zombie itu.


Saat itu, dokter Morgan merasakan keputusasaan merayap dalam pikirannya. Dia menyadari betapa bodohnya dia ketika menciptakan monster yang berbahaya tanpa memikirkan konsekuensi yang akan datang. Dia menyesali pilihannya dan berharap bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah segalanya.


Namun, dalam keadaan terjepit, semangat perlawanan yang kuat tumbuh dalam diri dokter Morgan. Dalam upaya terakhirnya untuk bertahan hidup, dia mencoba memanfaatkan kemampuan mentalnya yang belum sepenuhnya hilang. Dalam kekacauan pikiran, dia memusatkan energi dan mencoba membalikkan pengaruh yang zombie berikan padanya.


Dokter Morgan merasa sedikit gemetar saat kekuatannya mulai memuncak. Dia mengarahkan kemampuannya pada zombie itu, mencoba mempengaruhi pikiran monster itu dengan kekuatan mentalnya sendiri. Perlawanan melawan kendali zombie itu menjadi perang antara dua kekuatan yang saling bertentangan.


Seketika itu, zombie itu terhenti sejenak. Matanya yang merah berkedip-kedip, menunjukkan tanda-tanda kebingungan. Namun, itu hanya sekejap saja. Kekuatan zombie lebih kuat dari yang dokter Morgan perkirakan, dan kontrol yang dia coba pertahankan hanya bertahan sebentar.


Dengan gerakan yang cepat dan ganas, zombie itu melepaskan diri dari pengaruh mental dokter Morgan. Dia menyerang dengan kekerasan, meraih tubuh dokter Morgan dengan cengkeraman yang mematikan. Dokter Morgan merasakan gigi zombie yang mendekat, menjanjikan kesakitan dan kehancuran.

__ADS_1


Saat itu dalam keadaan terjepit, dokter Morgan merasakan kombinasi ketakutan penyesalan dan kengerian.


__ADS_2