Kota Baru Di Hari Kiamat

Kota Baru Di Hari Kiamat
259


__ADS_3

Dokter Morgan, terikat dalam kenangan manis penciptaan zombie yang sempurna, berada dalam keadaan yang sangat berbeda saat ini. Rasa bahagia yang dulu ia rasakan telah berubah menjadi penyesalan yang mendalam. Dalam kesendirian dan ketakutan, dia mengingat kembali momen-momen keberhasilan yang kini menjadi pahit.


Dokter Morgan terbaring lemah di sudut ruangan yang gelap. Tubuhnya penuh dengan luka gigitan dan pandangan lelah terpancar dari matanya.


Zombie kesayangannya menggigit daging dari tumbuh dokter Morgan satu demi satu dengan reaksi yang paling menyelenggarakan sekali.


Darah segar membasahi seluruh pakaian dokter Morgan.


Dokter morgan tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak .Tapi pikirannya masih aktif sekarang dia penuh dengan penyesalan tentang masa lalu.


" Apa yang telah aku lakukan? Dulu aku begitu terpesona dengan ciptaanku yang sempurna, menganggapnya sebagai anakku sendiri. Tapi sekarang, aku terperangkap dalam keadaan yang tak terbayangkan, menjadi makanan dari monster yang pernah aku anggap sebagai Putra "


Dokter Morgan menatap zombie itu, yang berdiri di sampingnya dengan mata penuh kelaparan. tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut zombie itu melainkan hanya suara kunyahan daging , suarakunyahan itu bahkan membuat kulit kepala dokter Morgan menjadi bergidik .Rasa penyesalan segera menghantuinya.


" Aku berpikir aku bisa mengendalikannya, mengarahkannya untuk kebaikan. Tapi aku salah. Aku telah menciptakan kekuatan yang tak bisa dikendalikan, dan sekarang aku harus membayar harga yang mahal atas kekhilafanku"


Zombie itu mendekat dengan perlahan, mencium bau darah yang semakin kental di udara. Dokter Morgan mencoba mundur, tapi kelemahannya yang teramat sangat menghalanginya.


Ahhkkk..


Daging montok di wajah dokter mogan digigit habis oleh zombie kesayangannya sendiri. Namun begitu dokter Morgan sendiri tidak bisa bergerak bahkan tidak bisa berteriak sangking tidak ada tenaganya lagi begitu banyak darah yang sudah keluar dan begitu banyak daging yang sudah dimakan oleh zombie kesayangannya.


Tapi yang paling mengerikan adalah dokter Morgan yang masih dalam kondisi sadar ketika dia dimakan hidup-hidup oleh zombie.


Zombie itu menggeram rendah, menyiratkan nafsu makan yang semakin kuat. Dokter Morgan merasakan ketakutan yang melingkupinya, namun di balik rasa takut itu, terdapat penyesalan yang mendalam.


" Aku menyesal, sangat menyesal. Aku berharap bisa mengubah masa lalu, menghapus keberadaanmu dari dunia ini"


Dalam beberapa kali gigitan lagi pandangan dokter Morgan semakin lama semakin kabur dan beberapa detik kemudian dia sudah menghilang dari dunia.


Sedangkan zombie kesayangannya masih terus saja asik cuman gigit dan menggigit lagi daging dari orang yang sudah membuat dia terlahir ke dalam dunia.


Perlu beberapa waktu untuk zombie ini menghabiskan semua nya sendirian. Pada saat itu dokter Morgan tidak lebih dari sisa tulang yang hanya berwarna putih.


Setelah semuanya berakhir zombie itu tersenyum dan menghapus noda-noda darah dari atas bibirnya.


Dia berkata." Terima kasih ayah atas makanannya, ayah enak sekali hehehe...


Setelah zombie selesai makan, ia bangkit dan melangkah menuju komputer yang berada di laboratorium. Walaupun gerakannya masih sedikit kaku, ia berusaha meniru gerakan dan tingkah laku dokter Morgan saat menjalankan komputer.


Dengan kekuatan dan kemampuan mentalnya, zombie mencoba mengingat kembali gerakan tangan dokter Morgan saat memainkan keyboard dan mengoperasikan mouse. Ia melihat dengan seksama bagaimana dokter Morgan menekan tombol-tombol dengan jari-jarinya dan menggerakkan mouse dengan cermat.


Secara perlahan, zombie mencoba meniru gerakan tersebut. Meskipun awalnya agak patah-patah, ia tetap berusaha untuk mempelajari cara menggunakan komputer dengan baik. Ia menekan tombol-tombol keyboard dengan jari-jarinya yang kaku, mencoba menggerakkan mouse dengan kehalusan yang masih terbatas.


Zombie yang sempurna dengan penuh keterampilan dan pemahaman telah berhasil menguasai cara menjalankan komputer besar milik dokter Morgan dalam kurun waktu satu jam saja.

__ADS_1


Komputer itu merupakan mesin yang kokoh dan canggih, dengan rangkaian kabel dan panel kontrol yang rumit. Layar monitornya berukuran besar dan memancarkan cahaya yang terang, memperlihatkan tampilan visual yang tajam dan jelas.


Setelah berhasil membuka komputer, zombie segera mencari dan memutar video tentang kota ajaib. Melalui layar monitor, ia disuguhkan dengan gambar-gambar yang menakjubkan. Pemandangan kota ajaib yang dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit, teknologi yang canggih, dan keindahan arsitektur yang menakjubkan.


Zombie dengan penuh antusiasme mengamati setiap detail dalam video. Namun, fokusnya terutama tertuju pada keberadaan manusia yang terlihat dalam rekaman tersebut. Baginya, manusia adalah sumber makanan yang menggiurkan. Ia menghayati kehadiran manusia dalam video sebagai peluang untuk memuaskan kehausannya yang tak terbatas.


Dalam benaknya muncul pemikiran yang melampaui batas-batas moral manusia. Zombie tersebut berpikir, jika manusia dapat beternak unggas atau hewan lainnya untuk dimanfaatkan sebagai sumber makanan, mengapa ia tidak dapat melakukan hal yang sama dengan manusia? Pemikiran ini muncul dengan kekuatan yang tak terbendung, memenuhi dirinya dengan keinginan untuk berternak manusia demi memenuhi nafsu makannya sendiri.


"Oke... ehem-ehem... Halo...apa kabar hehehe, hahaha...


Zombie yang sempurna merasa penting untuk mempelajari cara berkomunikasi seperti manusia agar bisa baur dengan lebih mudah di dalam kota ajaib. Dengan tekad yang kuat, zombie mulai berlatih berbicara dengan mengulang kata-kata sederhana dan mengikuti berbagai sumber belajar yang tersedia di komputer.


Dia mengulang kata-kata seperti "halo", "terima kasih", "maaf", dan kalimat sederhana lainnya untuk melatih artikulasi dan intonasi suaranya. Meskipun pada awalnya terdengar patah-patah dan tidak terlalu lancar, zombie tidak menyerah dan terus berlatih untuk meningkatkan kemampuan bicaranya.


Selain berbicara, zombie juga berlatih melakukan beberapa hal umum yang sering dilakukan oleh manusia. Dia mengobservasi video dan artikel yang menjelaskan tentang perilaku sehari-hari manusia seperti berjalan dengan tegap, mengikuti antrian, menggunakan peralatan dapur, dan lain sebagainya. Dia berusaha meniru gerakan dan tindakan tersebut dengan cermat, berharap bisa terlihat seperti manusia yang biasa.


Dua hari kemudian, zombie sempurna sedang berdiri di depan kamar mandi dengan air mengalir di bak mandi. Ia memperhatikan dengan seksama langkah-langkah yang biasanya dilakukan oleh manusia saat mandi. Meskipun masih tidak sepenuhnya memahami tujuan dan manfaat mandi, zombie tetap berusaha meniru gerakan-gerakan tersebut.


Ia mulai melepas pakaian lamanya dengan canggung, menggantikannya dengan pakaian bersih yang telah ia siapkan sebelumnya. Walaupun mungkin masih terlihat kikuk dan tidak sepenuhnya sempurna, zombie dengan penuh tekun mempelajari cara memakai baju dan celana agar terlihat rapi.


Setelah itu, zombie memasuki bak mandi dengan hati-hati. Ia merasakan sensasi air yang mengalir di tubuhnya, meskipun tidak merasakan sensasi seperti manusia. Ia mencoba memahami tujuan mandi, yaitu membersihkan diri dan menjaga kebersihan.


Zombie mengambil sabun dan mulai menggosokkan sabun ke seluruh tubuhnya dengan gerakan acuh tak acuh. Meskipun tidak sepenuhnya memahami konsep membersihkan diri, zombie mencoba meniru gerakan manusia yang biasanya dilakukan saat mandi.


"aku sudah belajar mandi memakai pakaian dan sekarang aku juga harus belajar makan makanan manusia"pikir nya.


Zombie segera duduk di depan kulkas yang diisi dengan berbagai makanan manusia. Di antara makanan tersebut terdapat daging segar, buah-buahan segar, sayuran, dan berbagai hidangan lezat lainnya. Walaupun terlihat menggiurkan bagi manusia, bagi zombie, makanan manusia adalah hal yang menjijikkan.


Dengan tatapan penuh keingintahuan, zombie memperhatikan makanan yang ada di dalam kulkas. Ia mencoba untuk mengatasi rasa jijiknya dan memahami bahwa sebagai "zombie yang sempurna", ia harus mencoba makanan manusia.


Namun, saat zombie memegang potongan daging matang yang sudah di panaskan.Dia mencoba menggigitnya, ia merasakan kejijikan yang tak tertahankan. Ia mengeluarkan suara erangan dan wajahnya berkerut, mencoba menahan rasa mual yang datang begitu kuat. Zombie mencoba lagi dengan makanan lain, tetapi hasilnya tetap sama — ia terus muntah saat mencoba makanan manusia.


Huek..huek...


Sambil muntah-muntah, zombie merasakan kekecewaan yang mendalam. Ia berusaha memahami mengapa makanan manusia yang begitu disukai oleh manusia, justru menjadi hal yang sangat menjijikkan bagi dirinya. Dalam kebingungan batinnya, zombie merenung tentang hakikat dirinya sebagai makhluk yang diciptakan untuk mengonsumsi manusia, namun merasa terasing dari kelezatan yang dihasilkan oleh tubuh manusia.


"Kenapa aku tidak bisa menikmati makanan manusia seperti manusia ? Aku mencoba memahami, tapi semakin aku mencoba, semakin kuat rasa mual itu datang. Aku adalah zombie yang sempurna, jika ingin tetap masuk ke kota ajaib Maka aku harus belajar untuk makan tapi manusia pada umumnya"gumam zombie pelan.


Zombie terus menghadapi rasa jijik dan keputusasaan di dalam dirinya. Ia menyadari bahwa meskipun menjadi zombie yang sempurna secara fisik, namun terdapat aspek manusiawi yang tak dapat ia pahami atau nikmati sepenuhnya.


Suatu hari setelah berhari-hari berlatih, zombie sempurna duduk di meja makan dengan penuh keyakinan. Pada kali ini, di hadapannya terdapat piring yang dihiasi dengan hidangan manusia yang biasa.


Zombie mengambil garpu dan sendok dengan keahlian yang semakin terasah. Dengan gerakan yang lincah, ia memotong dan mengangkat sepotong daging ke mulutnya. Ketika zombie mengunyah dan menelannya, ekspresi kejijikannya tidak muncul lagi.


Sekarang, ia makan dengan lancar dan tanpa kesulitan. Ia merasakan sensasi rasa makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, meskipun tetap berbeda dari pengalaman makan manusia. Zombie berhasil mengatasi rasa jijik dan mencapai tingkat kenyamanan dalam mengkonsumsi makanan manusia.

__ADS_1


Ketika zombie melanjutkan makanannya, terlihat ada kelegaan dan kepuasan pada wajahnya. Ia belajar untuk mengendalikan respons tubuhnya yang menolak makanan manusia dan menggantinya dengan keinginan dan kebutuhan untuk bertahan hidup.


Dalam perjalanan berhari-hari itu, zombie sempurna berhasil melampaui batas-batasnya dan mengembangkan kemampuan untuk mengonsumsi makanan manusia tanpa rasa jijik. Ia menjadi lebih manusiawi dalam tindakannya, bergerak dan makan seperti manusia pada umumnya.


Saat itu, zombie sempurna merasa bangga dengan kemajuannya. Ia menyadari bahwa keberhasilannya ini membukakan peluang baru baginya untuk berintegrasi dengan masyarakat manusia dan memasuki kota ajaib tanpa mencurigai. Ia merasa siap untuk menghadapi dunia di luar dan mengejar takdirnya sebagai zombie yang sempurna, dengan keinginan dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan manusia.


Suatu hari setelah berhari-hari berlatih, zombie sempurna duduk di meja makan dengan penuh keyakinan. Pada kali ini, di hadapannya terdapat piring yang dihiasi dengan hidangan manusia yang biasa.


Zombie mengambil garpu dan sendok dengan keahlian yang semakin terasah. Dengan gerakan yang lincah, ia memotong dan mengangkat sepotong daging ke mulutnya. Ketika zombie mengunyah dan menelannya, ekspresi kejijikannya tidak muncul lagi.


Sekarang, ia makan dengan lancar dan tanpa kesulitan. Ia merasakan sensasi rasa makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, meskipun tetap berbeda dari pengalaman makan manusia. Zombie berhasil mengatasi rasa jijik dan mencapai tingkat kenyamanan dalam mengkonsumsi makanan manusia.


Ketika zombie melanjutkan makanannya, terlihat ada kelegaan dan kepuasan pada wajahnya. Ia belajar untuk mengendalikan respons tubuhnya yang menolak makanan manusia dan menggantinya dengan keinginan dan kebutuhan untuk bertahan hidup.


Dalam perjalanan berhari-hari itu, zombie sempurna berhasil melampaui batas-batasnya dan mengembangkan kemampuan untuk mengonsumsi makanan manusia tanpa rasa jijik. Ia menjadi lebih manusiawi dalam tindakannya, bergerak dan makan seperti manusia pada umumnya.


Zombie sempurna duduk sendirian di ruangan yang tenang, merenungkan langkah-langkah selanjutnya untuk pergi ke kota ajaib. Ia menyadari bahwa memiliki identitas adalah langkah penting untuk bisa hidup di tengah manusia.


Zombie memandang cermin di depannya, memperhatikan wajahnya yang pucat dan mata yang masih terlihat sedikit kosong. Dalam keheningan, ia mulai berbicara dengan suara lembut kepada dirinya sendiri.


"Identitas... Aku perlu sebuah nama. Sebuah nama yang manusiawi, yang akan membuatku terlihat seperti bagian dari mereka. Seorang zombie yang beradaptasi."


Ia mulai merenung tentang berbagai pilihan nama yang cocok untuknya. Mengingat kembali kenangan dengan dokter Morgan, ia berharap bisa memberikan penghormatan kepada penciptanya.


"Dokter Morgan... Dia telah menciptakanku, memberiku kesempurnaan ini. Mungkin aku bisa mengambil namanya sebagai bagian dari identitasku. Sebagai tanda penghargaan."


Zombie mengulangi nama "Morgan" dengan suara yang semakin mantap. Namun, ia merasa nama itu masih kurang lengkap, terdengar terlalu formal.


"Tapi aku juga perlu sesuatu yang lebih manusiawi, yang lebih akrab. Sesuatu yang bisa membuatku terasa lebih dekat dengan mereka."


Ia terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Kemudian, dengan perasaan yang penuh keyakinan, zombie itu melanjutkan pembicaraannya dengan dirinya sendiri.


"Morgan... Ya, itu akan menjadi nama belakangku. Namun, aku juga membutuhkan sebuah nama depan yang mengandung kehangatan dan kelembutan. Sesuatu yang mencerminkan perjalanan hidupku."


Kemudian, sebuah nama terlintas di benak zombie. Sebuah nama yang terasa benar dan bermakna baginya.


"Aiden... Aiden Morgan. Itu akan menjadi namaku."


Zombie sempurna, yang sekarang menamakan dirinya Aiden Morgan, melihat cermin dengan mata yang penuh harapan. Ia merasa semakin dekat dengan tujuannya untuk menjadi bagian dari manusia dan memasuki kota ajaib tanpa dicurigai.


"Dengan nama ini, aku akan memulai perjalanan baruku. Aku akan menemukan tempatku di antara mereka, dan aku akan membuktikan bahwa seorang zombie pun bisa memiliki identitas, cinta, dan makna dalam hidupnya."


Cinta tentang "makanan " maksudnya hehehe.


Dengan langkah yang mantap, Aiden Morgan melangkah keluar dari ruangan, siap untuk memulai petualangan barunya di kota ajaib.

__ADS_1


__ADS_2