
Sunyi, mendekap erat dalam keheningan malam. Suara derik binatang malam menjadi melodi indah dalam kesunyian. Di sepertiga malam yang tenang. Nuril bersujud di atas hamparan sajadah panjang. Mengakui dosa pada setiap laku yang salah, memohon pengampunan atas khilafnya sebagai manusia. Mendekatkan diri pada sang pemilik raga.
Di sepertiga malam dalam kesunyian, tangan menengadah mengharap belas kasihan dari pemilik nafas kehidupan. Agar di beri keberkahan dalam setiap liku laku langkahnya. Memohon seberkas cahaya untuk menuntunnya menuju keridhoan Nya. Agar rumah tangga yang baru ia bina selalu dalam lindungan Allah. Di limpahi dengan cinta dan kasih Nya. Hingga menjadi keluarga Sakinah mawadah warahmah hingga surga Nya kelak.
Usai bermunajat kepada sang pencipta, Nuril membaca Al-Qur'an. Melafalkan ayat-ayat suci dengan Tartil yang menenangkan hati yang mendengar suara merdu itu. Khusu' lelaki itu membaca setiap ayat, hingga tak menyadari seseorang yang telah berada di belakangnya. Menatap dengan tatapan memuja di sorot matanya.
Risda , masih berdiri di balik punggung kokoh yang sedang duduk bersila melafazkan ayat Al-Qur'an dengan indahnya. Sudut bibir itu tertarik, membentuk sebuah senyum tipis.
Sungguh ,ia sangat bersyukur atas nikmat yang telah Allah titipkan di hidupnya. Memiliki pasangan solih adalah nikmat yang tiada terhingga. Melebihi titipan limpahan materi.
Risda menghamparkan sajadah di belakang sang suami. Mengenakan mukena untuk melaksanakan sholat sunah di sepertiga malam. Nuril yang telah menyadari keberadaan sang istri sejenak menoleh ke belakang dan tersenyum menatap wajah yang terbingkai mukena. Risda tampak mengangkat kedua tangannya, Nuril kembali pada Al-Qur'an yang masih ada di hadapannya.
Setelah beberapa saat, Nuril mengakhiri membaca Al-Qur'an. Ia masih duduk di tempat. Menunggu sang istri yang masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Nuril tersenyum seorang diri. Bersyukur Allah mempertemukan dirinya dengan wanita sholihah yang tidak menuntut apapun darinya. Dalam hati tersemai sebuah harapan. Akan ia perjuangkan senyum dan kebahagiaan untuk sang wanita.
'' Bang !," panggil Risda yang telah selesai dengan sholat malamnya. Nuril tersenyum dan menatap sang istri. Kedua bola mata itu saling beradu tatap. Sesaat diam merajai diantara mereka, hanya pancaran mata yang berbicara tanpa kata.
Sampai adzan subuh terdengar menggema. Keduanya beranjak dari duduknya,menata tempat untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Usai sholat subuh, keduanya kembali dalam kamar. Risda merapikan tempat tidur yang tadi belum sempat ia rapikan. Nuril mengekor sang istri,duduk di tepi ranjang sembari mengamati kegiatan istri jelitanya.
__ADS_1
'' Abang mau di masakin apa ?,'' tanya Risda yang sedang melipat selimut.
'' Apa aja dek, soal makan apa aja Abang mau. Apalagi adek yang masak,'' ucap Nuril membuat sang istri menoleh sekilas sembari mencebikkan bibir. Nuril tersenyum melihat ekspresi sang istri, kemudian ia bangkit dan memeluk Risda yang sedang merapikan sprei dari belakang tubuh wanita itu.
Nuril mengecup tengkuk Risda yang masih tengah membungkukkan badan.
'' Makan kamu, Abang lebih suka,'' bisik Nuril yang sukses membuat Risda merinding.
'' Abang,'' rengek Risda manja sembari memukul pelan tangan sang suami yang melingkar di perutnya. Nuril tergelak , gemas dengan wajah malu-malu istrinya.
Nuril membawa tubuh sang istri menghadap dirinya. Dengan lembut ia membelai pipi wanitanya. Menatap dengan begitu dalam dan penuh cinta. Keduanya saling bertatapan, memperlihatkan cinta yang sedang tumbuh subur diantara mereka.
'' Apapun yang adek masak pasti abang makan,'' tutur Nuril, Risda tersenyum seraya mengangguk.
'' Nanti saja,'' sahut Nuril. Risda menjauhkan tubuhnya dari suaminya, mengambil jilbab instan dan mengenakannya. Keluar dari kamar di bawa tatapan sang suami yang tak lepas menatap kepergiannya hingga menghilang dari penglihatan.
Setelah Risda menghilang dari hadapannya, tampak Nuril menghela nafas panjang. Ada rasa iba setiap kali melihat istri tercintanya. Wanita yang di besarkan dengan limpahan materi kini harus hidup dengan dirinya dengan segala kekurangan yang di miliki.
Nuril cukup tahu kehidupan Risda yang serba mudah, mungkin wanita itu jarang masuk dapur. Ia pun memaklumi jika masakan sang istri rasanya belum pas di lidahnya. Ia sudah cukup bersyukur bahwa wanita itu tak pernah mengeluhkan segala pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya. Padahal ia tahu,di rumah orang tuanya, wanita itu tinggal tunjuk dan segala kebutuhan telah tersedia dengan baik.
__ADS_1
'' Maafkan abang ,dek,'' lirih Nuril. Dalam hatinya tersemat tekad untuk selalu membahagiakan istrinya. Setelah mengganti pakaian yang tadi di gunakan untuk sholat dengan pakaian santai. Nuril mengangkat keranjang berisi pakaian kotor dari dalam kamar.
'' Lho bang,itu pakaian kotor mau di bawa kemana ?,'' tanya Risda yang berpapasan dengan sang suami di dapur.
'' Di cuci dong sayang,'' sahut Nuril santai sembari melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
'' Risda kan mau masak bang, nyucinya nanti aja,'' ujar Risda yang membawa daun bayam di tangannya. Nuril tersenyum menatap sang istri.
'' Sayangnya Abang masak aja,biar ini jadi urusan Abang,'' sahut Nuril.
'' Tapi Bang,'' protes Risda .
'' Kata orang berat sama di pikul ringan sama di jinjing. Gak ada salahnya kan abang ngerjain pekerjaan rumah ?. Ini juga bukan kewajiban adek,jadi kita kerja sama mengerjakannya,'' tutur lembut Nuril yang sukses membuat Risda mengembangkan senyum.
'' Terima kasih ya Bang ,'' ujar Risda.
'' Untuk ?,''
'' Semuanya,'' jawab Risda sembari mendekati sang suami dan...
__ADS_1
cup
Sebuah kecupan kecil di pipi Nuril membuat lelaki itu terperangah. Dan tak menyadari jika sang istri telah berlalu pergi dengan langkah cepatnya. Nuril memegang pipinya dengan senyum terkembang. Baginya sentuhan kecil dari sang istri sangatlah istimewa.