Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Rencana Lisna


__ADS_3

Harsa duduk tak tenang di balik meja kerjanya. Lelaki yang menjabat sebagai manajer di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang tekstil itu tampak memijit kepalanya yang terasa pening. Pertemuannya dengan Nuril pagi ini cukup membuat moodnya buruk.


Harsa mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Lelaki itu mencari kontak seseorang sebelum akhirnya menelepon nomer tersebut. Tak berselang lama, suara di seberang sana mengangkat panggilan Harsa


'' Assalamualaikum,ada apa Sa ?,'' suara wanita di seberang telepon.


'' Wa'alaikumussalam Lis,aku mau kamu siang ini siapin makan siang aku sama Risda,'' titah Harsa yang langsung membuat kepala Risda berdenyut.


'' Gimana caranya ?,'' tanya Risda putus asa .


'' Ya terserah kamu,aku mau dapat kabar baiknya sebelum makan siang, assalamualaikum,'' tuuut dan secara sepihak Harsa memutus panggilan telepon. Lelaki itu menyandarkan punggungnya, senyum smirk tergambar di wajah lelaki itu .


Sedang di lain tempat, Lisna menatap teleponnya yang sudah menggelap layarnya. Panggilan telah berakhir sepihak.


'' Wa'alaikumussalam,'' wanita itu masih menyahut salam yang di ucap Harsa meski kini lelaki itu telah memutuskan panggilan.


Lisna menelungkup kan kepalanya di atas meja kerjanya. Ia merasa seperti mucikari yang sedang menjual sahabatnya. Ia memang tidak terlalu setuju dengan pernikahan sang sahabat dengan lelaki yang dianggapnya tidak sederajat dan sekelas dengan Risda. Namun ia juga tak mengharapkan sahabatnya berselingkuh dengan Harsa. Tapi lelaki itu terus merongrong dirinya untuk terus mendekatkan dengan Risda.


Wanita itu hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang menyetujui kesepakatan dengan lelaki yang menjadikan perasaan cinta sebagai obsesi itu. Uang yang sudah Harsa gelontorkan untuk tempat les itu pun tak sedikit. Butuh waktu lama untuk bisa mengembalikan modal yang di tanam oleh Harsa.

__ADS_1


Tok tok tok


Suara ketukan pintu, membuat Lisna mengangkat kepalanya.


'' Assalamualaikum,'' suara Tama terdengar dari gawang pintu yang terbuka lebar daun pintunya.


'' Wa'alaikumussalam, masuk Tam,'' pinta Lisna,Tama yang datang membawa map di tangannya masuk dan duduk di hadapan Lisna.


'' Gimana ?,'' tanya Lisna sembari menegakkan badan. Tama menyerahkan map yang di bawanya. Lisna membuka laporan yang di buat Tama. Wanita itu tampak mengangguk-anggukan kepala.


'' Jadi semua udah oke ya ,'' ucap Risda , seraya menutup map yang baru ia baca.


'' Oke, berkas ini kamu tinggal aja, nanti biar aku yang bicara sama Harsa. Kamu tolong handle buat bikin iklan di radio aja,'' tutur Lisna , wanita itu menyimpan map di atas meja kerjanya.


'' Oke, aku keluar dulu,'' pamit Tama yang di sambut anggukan kepala Lisna.


Selepas kepergian Tama dari ruangannya, Lisna tersenyum lega. Ia punya alasan untuk meminta Risda menemui Harsa siang ini.


'' Ris,ke ruangan ku dong,'' pinta Risda to the point saat memanggil Risda lewat sambungan telepon.

__ADS_1


Tak menunggu jawaban Risda, Lisna telah mematikan sambungan telepon. Wanita itu tampak mengetuk-ngetuk kan pulpen di atas meja.


Tak berapa lama,suara salam disertai ketukan di daun pintu ruangan Lisna terdengar. Muncul wajah Risda dari luar sana. Wanita itu masuk setelah Lisna menjawab salam dan mempersilahkannya untuk masuk.


'' Ada apa Lis ?,'' tanya Risda yang sudah duduk di hadapan sang sahabat .


'' Aku mau minta tolong sama kamu,tolong berikan berkas ini ke Harsa. Ada yang perlu dia cek. Aku udah bikin janji sama dia,tapi hari ini aku mesti ketemu sama calon pengajar. Barusan orangnya telpon aku, bisanya hari ini,'' terang Lisna, seraya menyodorkan map pada Risda. Dengan ragu wanita itu menerimanya.


'' Harus aku banget Lis yang ketemu Harsa ?,'' ujar Lisna yang terdengar enggan bertemu dengan Harsa.


'' Gimana dong Ris,aku gak bisa,Tama ada janji temu sama orang radio buat bikin iklan,'' jelas Lisna dengan wajah memelasnya. Risda hanya bisa menghela nafas dalam.


'' Ya udah deh,'' ucap Risda pasrah. Lisna menahan senyum di bibirnya. Rencananya akan berjalan dengan lancar. Risda berpamitan pada Lisna dengan membawa berkas yang Lisna berikan.


'' Sorry ya Ris ,''ucap Lisna setelah Risda keluar dari ruangannya.


Wanita itu mengambil ponsel dan mengabarkan rencananya pada Harsa. Membuat senyum lelaki di seberang sana mengembang dengan lebar.


Berbeda dengan Risda yang terlihat gusar. Risda telah kembali ke ruang kerjanya, namun resah hatinya mengganggu konsentrasi untuk bekerja.

__ADS_1


'' Positif thinking Ris,ini murni pekerjaan,'' gumam Risda pada dirinya sendiri. Rasanya ia benar-benar tak nyaman jika harus bertemu dengan Harsa hanya berdua saja.


__ADS_2