
Risda mengejar langkah sang suami yang memasuki kamar mereka. Tampak lelaki itu mengenakan jaket., tanpa menoleh pada istrinya yang baru saja menyusul.
'' Bang ,'' panggil Risda lirih. Nuril menoleh dan tersenyum meski terlihat di paksakan. Lelaki itu menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya. Menatap wajah sendu wanitanya. Kemudian ia membawa sang istri dalam pelukan.
'' Maafin ibu bang,'' ucap Risda yang tahu jika suaminya tersinggung atas apa yang ibunya lakukan.
''Gak apa-apa ,'' ucap Nuril seraya mengusap lembut punggung sang istri.
''Abang ada perlu, abang keluar dulu sebentar ya ,'' ijin Nuril, Risda mengangguk dalam pelukan suaminya.
'' Abang pergi dulu,'' pamit Nuril , kemudian mengecup kening sang istri dan berlalu tanpa menunggu istrinya menyalami dirinya.
Risda tertegun, lidahnya terasa keluh saat menyadari sang suami bahkan tak mengucapkan salam. Hatinya mencelos, luruh air mata tanpa permisi. Wanita itu tergugu dalam tangis tanpa suara, telapak tangannya menutupi mulut yang terisak. Ia tahu suaminya kecewa.
Sedang Nuril dalam kekalutan pikirannya, berkendara tak tentu arah. Pikirannya melayang pada kerisauan hati yang mengungkung batinnya. Ia merasa begitu kerdil,kecil dan tidak berharga.
Nuril menghentikan laju motornya di tepi sungai yang tampak sepi. Lelaki itu menuruni tapak jalan yang sedikit curam. Sampai ia di sebuah batu besar,duduk dirinya menatap pantulan diri dari dalam air.
Terlihat rahang lelaki itu mengeras, rasa tak percaya diri muncul seketika. Nuril memejamkan mata, menikmati desau angin yang berhembus. Mengantarkan hawa sejuk menyapa pada permukaan kulitnya.
'' Astaghfirullah hal'adzim,'' lantunan istighfar terus terucap dari bibir Nuril. Berusaha menentramkan hati yang resah dan harga diri yang terluka.
'' Ya Allah, ampuni hamba ya Allah,'' lirih Nuril seraya menengadah, menatap langit yang tampak terang dengan cahaya matahari . Awan putih tipis, berarak mengikuti arah angin. Nuril menghirup nafas dalam, menenangkan batinnya yang bergejolak termakan amarah.
__ADS_1
'' Astaghfirullah ,'' lagi ia beristighfar menyebutkan asma Allah. Berharap rasa kecewa dan marahnya luruh dari dalam hati.
Cukup lama lelaki itu berdiam diri , duduk di atas batu besar itu. Merenung, mencoba berdamai dengan ego yang terus saja bergejolak. Merasa di remehkan dan tak di anggap. Bukankah itu adalah bentuk kesombongan diri ?. Bahwa alam bawah sadarnya tak terima karena ia pun merasa mampu ?. Bukankah itu adalah pengingkaran rejeki ?,saat ia tak terima pemberian dari sang ibu mertua. Bukankah jalan rejeki kita tidak tahu darimana asalnya. Mungkin saja rejeki dari Allah untuknya di titipkan pada mertuanya,dan datang padanya dalam bentuk pemberian itu.
Rasa direndahkan karena ia belum mampu, namun belum tentu itu maksud dari sang mertua. Kalau pun iya, bukankah itu urusan mereka dengan Tuhannya ?.
Nuril bangkit dari tempatnya duduk, berdiri dengan dua telapak tangan masuk dalam saku celananya. Menatap hamparan air yang mengalir di bawah kakinya. Tampak jernih dan menyejukkan mata. Nuril tersenyum seorang diri. Menertawakan hati yang begitu dangkalnya terhasut amarah.
Ia beranjak dari sana, menaiki undakan tepi sungai. Kembali menaiki motornya. Perasaannya sedikit tenang. Ikhlas, seharusnya rasa itu yang ia tanamkan dalam hati. Atas dasar apa pun yang ibu maksudkan seharusnya ia bisa menerima.
Nuril mengendarai sepeda motornya kembali ke rumah. Lelaki itu mencoba melapangkan dada. Menerima, menghilangkan hasutan amarah yang justru semakin menenggelamkan dirinya dalam kubangan penuh kecewa.
'' Assalamualaikum ,'' Nuril berucap salam sembari memasuki rumah yang memang tak di kunci pintunya. Tak ada sahutan dari sang istri. Nuril melangkah semakin ke dalam.
'' Dek !," panggil Nuril , namun tak ada sahutan. Sampai di ruang tengah pun tak di jumpai istrinya.
Risda tampak meringkuk di atas ranjang. Nuril melangkah semakin mendekati sang istri. Hatinya mencelos, melihat air mata yang mengering di pipi Risda. Nuril mengusap pelan wajah sang istri. Kemudian ia berjongkok , berdiri dengan lututnya tepat di depan wajah Risda. Lelaki itu membelai rambut wanitanya dengan lembut.
'' Maafin abang dek ,'' ucap Nuril, tatapan lelaki itu tak lepas dari wajah terlelap sang istri. Ia mengecup kening istrinya dengan penuh kasih. Karena ego dirinya,ia telah membuat wanitanya bersedih. Nuril merebahkan kepalanya di samping sang istri dengan badan terduduk di lantai. Menatap wajah terlelap di hadapannya.
Tak terasa lelaki itu ikut tenggelam dalam alam mimpi. Dengan sebelah tangan menggenggam telapak tangan sang istri.
Kumandang adzan Dzuhur membangunkan Risda dari lelap tidurnya. Tangannya terasa berat. Wanita itu membuka matanya dan mendapati sang suami yang terpejam dengan menggenggam tangannya.
__ADS_1
Risda mengusap rambut sang suami dengan lembut, namun membuat tidur lelaki itu terusik. Nuril mengerjapkan mata, menyesuaikan penglihatan hingga pandangannya tertumbuk pada wajah sendu yang sedang menatap dirinya.
'' Sayang ,udah bangun ?,'' tanya Nuril tersenyum lembut pada istrinya yang justru kembali menangis tanpa suara. Nuril mengusap air mata sang istri dengan ibu jarinya.
'' Ssst, jangan nangis lagi sayang, maafin abang ya ,'' tutur Nuril sembari meraih tangan Risda dan mengecupnya. Risda justru semakin tersedu.
'' Maafin Risda bang ,'' suara Risda terdengar serak. Nuril tersenyum, lelaki itu naik ke atas tempat tidur. Memeluk tubuh istrinya, membawa kepala sang istri bersandar di dadanya.
'' Adek gak salah,abang saja yang terlalu tinggi hati. Seharusnya abang bisa menerima dengan pikiran terbuka,maksud ibu pasti baik. Abang saja yang terlalu sombong. Maafin abang ya,'' tutur Nuril lembut. Ia mengecup kepala sang istri berkali-kali. Dengan tangan tak henti mengusap lembut punggung Risda. Suara isak tangis Risda mulai reda. Nuril mendekap erat tubuh itu beberapa saat.
'' Makasih ya bang ,'' ucap Risda yang sedikit memberi jarak pada suaminya. Menengadah menatap wajah tampan yang selalu bisa memberinya kenyamanan.
'' Sama-sama,anggap saja ini rejeki dari Alloh yang di berikan pada kita lewat ibu. Maaf ya abang sempat berpikiran sempit ,'' lanjut Nuril sambil merapikan rambut Risda.
Wanita itu tersenyum lega, memajukan wajah dan memberikan kecupan manis di bibir lelakinya.
'' Risda sayang abang ,'' ujar Risda, Nuril mencubit hidung istrinya.
'' Abang lebih sayang sama Adek ,'' balas Nuril. Keduanya berpelukan erat di atas tempat tidur. Tak perduli dengan panas yang menyengat di luar sana.
Suara adzan Dzuhur mulai sepi. Nuril melepaskan pelukan pada tubuh sang istri.
'' Sholat dulu yuk dek !," ajak lelaki itu sembari bangun dari tidurannya.
__ADS_1
'' Iya bang ,'' jawab Risda yang ikut bangun dari tempat tidur. Keduanya keluar kamar untuk mengambil wudhu dan melaksanakan ibadah wajib empat rakaat di siang hari.
Sholat berjamaah berdua, berserah pada setiap takdir yang di tetapkan sang Ilahi. Memohon kekuatan untuk mampu melewati setiap ujian yang Allah berikan pada mereka. Pada akhirnya tak ada tempat paling tepat untuk berserah selain pada sang pencipta.