
Risda menyiapkan segala keperluan sang suami yang hendak di bawanya ke tempat kerja. Charger,tak lupa Risda selipkan dalam tas punggung yang hendak di bawa sang suami.
'' Bang, perlu bawa perlengkapan sholat sendiri gak ?,'' tanya Risda setelah memasukkan bekal makan siang. Makanan yang sama yang mereka masak tadi. Empat porsi lauk Risda siapkan untuk sang suami dan teman-temannya yang bekerja di sana.
'' Boleh dek,'' sahut Nuril yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tangannya. Risda beranjak mengambil peralatan sholat sang suami dari dalam lemari. Dimasukkannya ke dalam tas punggung yang biasa Nuril bawa saat bekerja.
'' Oh ya bang, nanti Risda mulai datang ke tempat les. Untuk mempersiapkan tempat dan keperluan lainnya,'' ujar Risda sembari menatap sang suami yang kini sedang menyisir rambut setengah basahnya.
'' Iya, nanti kalau motor abang sudah jadi, pulangnya insyaallah abang jemput,'' ucap Nuril dengan seulas senyum tipis. Risda balas tersenyum sembari mengangguk kecil.
Setelah selesai mempersiapkan keperluan sang suami Risda mengantar Nuril sampai teras rumah.
'' Abang berangkat, assalamualaikum,'' pamit Nuril, Risda meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangan itu.
'' Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati bang,'' jawab Risda, Nuril meraih kepala sang istri dan menyematkan kecupan di kening wanitanya.
'' Iya kamu juga hati-hati,'' ujar Nuril, kemudian laki-laki itu melangkah meninggalkan istrinya yang masih menatap kepergiannya.
'' Bang,'' suara Risda memanggil suaminya yang belum jauh melangkah pergi.
'' Ya, kenapa dek ?,'' tanya Nuril sembari berbalik menatap istrinya yang masih berdiri di tempat semula.
'' Kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin. Itu di tas sudah Risda siapkan charger,'' tutur Risda menjelaskan .
__ADS_1
'' Iya sayang,'' sahut Nuril dengan sebuah senyum sembari melambaikan tangan kemudian berbalik dan berjalan menjauh. Risda masih menatap punggung kokoh hingga hilang dari penglihatan.
Setelah sang suami hilang dari penglihatan, Risda kembali masuk ke dalam rumah. Wanita itu mengecek ponsel dimana ada pesan datang dari Lisna. Wanita itu mengatakan sebentar lagi akan datang menjemput dirinya.
Risda bergegas membersihkan diri,tak butuh waktu lama. Wanita itu telah bersiap dengan atasan tunik berwarna pink dengan rok panjang berwarna hitam. Pasmina berwarna senada dengan atasan yang dipakainya, mempercantik wajah berpoles makeup tipis.
Dengan tas selempang yang ia sampirkan di bahu, Risda berjalan keluar rumah. Ia memakai flatshoes tertata rapi di rak sepatu di teras rumah. Belum selesai wanita itu mengenakan sepatu, suara klakson mobil berbunyi . Risda menoleh sejenak ke arah suara. Tampak dahi wanita itu mengernyit dalam. Pasalnya bukan mobil milik Lisna yang berhenti di depan rumahnya.
Usai memakai dua sepatunya, Risda berjalan mendekati mobil yang tak asing di matanya. Kaca pintu mobil itu terbuka dan benar saja bukan sang sahabat yang duduk di balik kemudi. Tampak lelaki tersenyum lebar menatap dirinya.
'' Assalamualaikum Ris ,'' sapa lelaki yang tak lain adalah Harsa.
'' Wa'alaikumussalam,Lisna mana ?,'' tanya Risda yang sudah berdiri di samping mobil Harsa.
'' Lisna sedang ke toko buku,ada yang harus dia beli. Makanya aku gantiin dia buat jemput kamu,'' ujar Harsa , Risda tampak menghela nafas panjang. Namun tak urung mengitari mobil tersebut untuk masuk ke dalam mobil. Harsa telah membukakan pintu dari dalam.
'' Kenapa ?,'' tanya Harsa yang membuat Risda tampak bingung, wanita itu menoleh ke arah Harsa yang sedang menyalakan mesin mobil.
'' Apanya ?,'' Risda mengembalikan pertanyaan pada Harsa yang mulai melakukan mobilnya dengan perlahan.
'' Gak nyaman gitu kelihatannya, takut suami kamu marah ?,'' sambung Harsa Tanpa menoleh ke arah Risda.
'' Lebih dari itu,kita bukan mahram dan harus satu mobil bersama. Bisa saja akan menimbulkan fitnah,'' tutur Risda,ia benar-benar merasa tak nyaman dan ia pun merasa bersalah. Tapi menolak untuk tidak ikut satu mobil dengan Harsa ia takut menyinggung lelaki itu.
__ADS_1
Harsa tampak tersenyum miring. Matanya tertuju pada jalanan di hadapannya.
'' Aku gak ngapa-ngapain, kenapa harus jadi fitnah ?,'' lelaki itu seolah tak paham maksud dari ucapan wanita di sampingnya.
'' Kalau harus ngapa-ngapain dulu, terus di tuduh orang itu namanya bukan fitnah dong,'' sahut Risda berusaha dengan nada bicara yang santai.
Harsa menoleh sesaat ke arah Risda yang sedang memperhatikan jalanan di depan sana.
'' Kenapa sih,aku ngerasa kamu tuh menghindari aku ?,'' setelah beberapa saat terdiam pertanyaan itu meluncur dari bibir Harsa.
'' Perasaan kamu aja kali,dari dulu aku emang gini kan ?, mungkin bedanya ya sekarang aku gak terlalu sering bisa kumpul-kumpul sama kalian. Bukan karena aku menghindari kamu,tapi aku punya kewajiban lain. Aku sudah jadi istri sekarang,'' jelas Risda, ada sesak yang tiba-tiba menghimpit dada Harsa. Tak ada lagi kesempatan untuk mendekati wanita itu, status istri yang baru di sampaikan oleh Risda seakan menusuk hatinya. Ia belum bisa menerima kenyataan, wanita yang dicintainya telah memiliki lelaki lain.
'' Apa kamu bahagia ?,'' pertanyaan yang keluar dari bibir Harsa membuat Risda mengerutkan keningnya.
'' Pernikahan mu,apa kamu bahagia ?,'' Harsa memperjelas pertanyaannya saat melihat raut bingung di wajah Risda.
Risda tampak mengangguk mantap, senyum terukir di bibir tipis wanita itu. Terbayang di pelupuk matanya sang suami yang selalu bisa membuatnya tersenyum.
'' Aku bahagia, bahagia banget dengan pernikahanku. Aku bersyukur di pertemukan dengan lelaki yang bisa melindungi dan mengayomi ku dengan kasih sayangnya. Dia lelaki tepat yang Allah siapkan untukku,'' sahut Risda dengan tatapan menerawang.
Sekelebat bayang wajah tampan sang suami hadir. Menumbuhkan rasa rindu dalam hatinya. Padahal belum lebih dari satu jam ia berpisah dengan lelaki itu. Harsa tampak tersenyum kecut, melihat raut wajah Risda yang menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta.
'' Aku ikut bahagia, kalau seperti itu,'' pungkas Harsa. Tak ada yang perlu lagi ia ragukan tentang kehidupan pernikahan Risda. Ia berpikir Risda terpaksa menerima pernikahan tersebut. Namun dari raut wajah wanita itu terlihat jelas,ia menerima dengan tangan terbuka. Tergambar jelas di wajah sang wanita, jika cinta sedang tumbuh subur di hati wanita itu.
__ADS_1
Harsa menghirup nafas dalam, memasok udara dalam dadanya yang terasa sesak. Cintanya bertepuk sebelah tangan,tak mungkin ia gapai wanita di sampingnya. Melepaskan dengan ikhlas akan lebih memudahkan hatinya untuk menerima.
Harsa menyadari,bahwa cinta tidaklah bisa ia paksakan. Ia harus bisa menerima kenyataan ini. Terkadang hidup memang tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Tapi yakinlah Allah menyiapkan hal yang sesungguhnya kita butuhkan. Harsa tidak di takdir kan untuk bersama Risda. Namun pasti ada wanita lain yang telah di persiapkan untuknya.