
Ketika rejeki datang , maka yang tak tersisa adalah waktu luang. Begitulah yang kini sedang terjadi pada Nuril, kerja samanya dengan Fadil mulai berjalan. Permintaan mulai datang. Kini mereka merekrut dua tenaga baru. Kerja sama dengan kontraktor perumahan pun mulai dikerjakan.
'' Gak nyangka bakal langsung banyak customer ,dulu waktu aku buka sendiri butuh bertahun-tahun untuk dapat pelanggan. Tapi saat aku kehabisan modal dan tutup habis semuanya. Dan sekarang kita sudah di banjiri pesanan. Rejeki kamu emang bagus Ril,'' tutur Fadil seraya menumpuk besi yang baru saja datang.
'' Alhamdulillah rejeki kita Dil,'' sahut Nuril yang juga sedang mengerjakan pekerjaan yang sama. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Namun mereka masih bekerja. Ponsel Nuril sudah berkali-kali berdering, namun kesibukan membuat lelaki itu sedikit melupakan benda pipih yang tersimpan di tas pinggangnya.
Dia bahkan lupa mengabari sang istri bahwa hari ini ia bekerja lembur. Hampir jam delapan malam, pekerjaan mereka baru saja selesai. Nuril mengambil tas pinggang yang ia simpan di atas meja.
'' Astaghfirullah,aku kok lupa ngabarin Risda,'' ucap Nuril seraya merogoh tas pinggangnya dan mengambil benda pipih tersebut. Begitu banyak pesan masuk begitu juga dengan panggilan tal terjawab.
'' Maafin abang dek,'' lirih Nuril sembari menekan nomor sang istri. Belum panggilan itu masuk ponselnya sudah menggelap. Baterai ponselnya lowbat
'' Ya Allah,'' gumamnya sembari mengguyar rambutnya. Terbayang di pelupuk matanya betapa sang istri pasti di buat khawatir oleh dirinya.
'' Kenapa Ril ?,'' tanya Fadil yang melihat raut wajah gelisah sang sahabat.
'' Aku lupa ngabarin istri ku,'' sahut Nuril sembari memakai jaket dan buru-buru menaiki motor miliknya.
'' Aku balik dulu, assalamualaikum,'' seru Nuril sebelum mengenakan helm dan menghidupkan mesin motor.
'' Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,'' jawab Fadil yang masih berdiri menatap kepergian sang sahabat.
Nuril menarik gas motor cukup dalam, membuat laju motor itu cukup cepat,ia hanya ingin segera sampai di rumah. Menemui sang istri yang pasti sedang menunggu dengan cemas.
__ADS_1
Sampai di persimpangan jalan menuju,arah pulang. Lampu motornya meredup dan gas tidak berfungsi dengan baik. Perlahan motor itu melambat lajunya. Dan akhirnya berhenti total.
'' Astaghfirullah,'' ucap Nuril,lemas sudah rasanya. Di jalanan yang cukup sepi kini motornya harus mogok. Nuril turun dari motor dengan panik, otaknya susah untuk di ajak berpikir. Bahan bakar masih mencukupi namun beberapa kali di hidupkan tak juga kunjung menyala mesin motor itu. Ia mencoba memeriksa gigi namun sepertinya tak ada masalah. Lelaki itu menghela nafas dalam.
Nuril tampak mondar-mandir, pikirannya tak lagi tenang, bayang istrinya terus menghantui. Rasa bersalah menggelayut hebat di hatinya.
Sebuah mobil silver berhenti tepat di sampingnya yang sedang berdiri dengan gusar menatap motornya yang tak juga mau menyala. Seseorang membuka kaca mobi. Tampak perempuan cantik dengan dandanan full make up melambaikan tangan pada Nuril.
'' Hai Nuril kan ?, kenapa ?,'' tanya wanita itu, Nuril sedikit membungkukkan badannya untuk melihat dengan jelas siapa yang berada di dalam mobil.
'' Yuna ,'' ujar Nuril, wanita itu tersenyum lebar sembari mengangguk. Kepala wanita itu menjulur ke luar melihat lebih jelas apa yang terjadi pada temannya itu.
'' Mogok ?,'' tanya Yuna yang di angguki oleh Nuril.
'' Buruan naik, hujan nih,'' ujar Yuna sembari mendorong pintu untuk masuk Nuril. Dengan sedikit rasa tak nyaman Nuril menerima tawaran Yuna, selain di tempat motornya mogok jauh dari bengkel ,ia juga ingin segera sampai di rumah secepatnya.
'' Thanks Yun,dari mana ?,'' tanya Nuril sekilas menatap wanita berpakaian seksi di sampingnya, namun cepat-cepat lelaki itu memalingkan wajah. Tak mungkin ia menatap paha mulus yang hanya yang tersaji di sampingnya. Rok mini sepuluh senti di atas lutut membuat paha Yuna terpampang jelas.
'' Pulang kerja, kamu sendiri ?,'' Yuna balik bertanya sembari menoleh sekilas pada Nuril yang kini duduk tegak menatap jalanan gelap di depan sana.
'' Sama, pulang kerja juga. Oh ya, instalasi yang aku pasang kemarin gimana ,ada kendala ?,'' tanya Nuril basa-basi.
'' Gak,gak ada masalah semua bagus. Boleh dong aku minta nomer hp kamu,biar nanti kalau ada apa-apa aku gampang hubungi kamu,'' ujar Yuna seraya meraih ponsel di dasbor mobil dan mengulurkan pada Nuril. Nuril mengambilnya dan segera memasukkan nomer kontak miliknya.
__ADS_1
''Oh ya,nomer bengkel yang bisa ambil motor bisa aku simpen ?,'' tanya Nuril yang masih memegang ponsel milik Yuna.
'' Udah gampang,aku aja nanti yang menghubungi. Kamu tinggalin aja kuncinya,'' ucap Yuna seraya meraih ponsel miliknya di tangan Nuril. Nuril sedikit tersentak dengan tindakan Yuna. Reflek ia melepaskan dengan cepat ponsel Yuna, untung Yuna sigap menggenggamnya.
'' Santai aja kali Ril,tegang gitu,'' ucap Yuna. Nuril hanya tersenyum kecut, kemudian mengambil kunci di saku jaket miliknya.
'' Ya udah aku titip kunci, nanti kamu kasih aja nomerku ke orang bengkel. Nanti kalau udah jadi,aku ambil motornya,'' ucap Nuril sambil meletakkan kunci di dasbor.
'' Oke,ini arah rumah kamu kemana ?,'' tanya Yuna yang sedari tadi hanya berjalan lurus.
'' Lurus ada simpang di depan ambil kanan,'' Nuril memberi petunjuk. Yuna tampak mengangguk mengikuti arahan Nuril. Sampai di persimpangan yang di maksud Nuril ia mengikuti arahan lelaki di sampingnya. Jalanan lebih sempit namun perumahan tampak banyak berjejer di sana.
'' Di depan berhenti,itu rumah ku ,'' ujar Nuril seraya menunjuk rumah miliknya. Yuna mengangguk dengan mata mengikuti arah telunjuk Nuril. Sampai di tempat yang di tunjuk Yuna menginjak pedal rem. Menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah sederhana di mana ada seorang wanita yang berdiri di teras dengan tatapan mengarah pada mobilnya.
'' Thanks ya Yun,mau ikut turun ?,aku kenalin sama istri aku,'' ucap Nuril sembari mendorong pintu mobil.
'' Lain kali deh udah malem,''sahut Yuna dengan senyum manis terukir di bibirnya.
'' Ya udah, sekali lagi. Makasih,'' sambung Nuril yang kemudian turun dari dalam mobil. Yuna membalik arah laju mobilnya , ia membuka sedikit kaca mobil dan membunyikan klakson sebelum melajukan kembali mobilnya.
Risda yang melihat sosok wanita di dalam mobil yang mengantarkan sang suami sudah memberengut kesal. Segala pikiran buruk menari-nari di benaknya.
'' Assalamualaikum sayang,'' ucap Nuril dengan senyum terkembang dan langkah cepat menghampiri sang istri.
__ADS_1
'' Wa'alaikumussalam,'' ketus Risda yang kemudian bergegas masuk tanpa menyambut sang suami. Hatinya sudah diliputi dengan kekesalan.