Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Obrolan Sebelum Tidur


__ADS_3

Duduk bersandar di dada bidang sang suami. Menjadi sebuah kenyamanan yang tak terbantahkan. Setelah pulang dari musholla sepasang suami istri itu telah berada di dalam kamar. Risda duduk bersandar pada sang suami. Sedangkan sang lelaki duduk bersandar pada kepala ranjang dengan tangan yang tak berhenti mengusap lembut rambut panjang Risda.


'' Tadi siapa yang nganterin makanan dek,ibu kesini sendiri ?,''tanya Nuril , sesekali lelaki itu mengecup puncak kepala sang istri. Risda tampak mengerucutkan bibir. Ia mengingat bagaimana sang ipar merendahkan sang suami.


'' Mbak Nayra,ibu belum bisa datang nunggu Ayah sempat,'' ucap wanita itu yang kemudian terdiam. Menikmati belaian lembut sang suami. Tapi terkadang wanita itu menghela nafas dalam.


'' Kenapa ?, kangen rumah ?,'' tanya Nuril yang melihat perubahan sang istri. Risda menggeleng pelan, wanita itu semakin mengeratkan pelukan pada suaminya.


'' Sayangnya Abang kenapa ,hmm ?,'' tanya Nuril sembari menundukkan wajah untuk melihat istrinya yang tampak cemberut.


'' Kenapa sih Bang, orang selalu melihat dari materi ?,''


'' Ada apa ini, kenapa sayangnya abang, galau begini ?,'' timpal Nuril seraya menangkup pipi sang istri, membuat bibir mungil wanita itu mengerucut dan terlihat menggemaskan.


Risda menatap ke dalam mata sang suami. Wanita itu meraih telapak tangan lelaki yang begitu mudahnya mencuri hatinya.

__ADS_1


'' Risda gak suka aja,ada orang menilai semua berdasarkan materi. Apa ukuran kebahagiaan itu hanya di lihat dari materi ?,'' sungut wanita itu, Nuril tersenyum tipis menyadari ada yang mengusik wanitanya. Nuril mencubit pelan hidung mancung sang istri.


'' Sebenarnya mereka yang menilai segala sesuatu lewat materi menurut abang gak salah. Mereka berpikir realistis,bahwa semua hal di dunia ini hampir semuanya melibatkan uang. Tapi bukan berarti kita harus berpikir sama dengan mereka. Karena kebahagiaan itu di sini,''tutur Nuril dengan tatapan yang begitu lembut tertuju pada istrinya. Nuril membawa tangan Risda di dadanya. Di mana hati berada.


'' Jadi gak perlu untuk mendengarkan apa yang orang katakan. Karena yang terpenting apa yang kita rasakan,'' lanjut Nuril di sambut senyum manis istrinya.


''Dan istri abang harus tahu meski Abang bukan dari keluarga berada. Abang akan selalu berusaha yang terbaik yang Abang bisa. Karena abang tidak akan pernah membuat orang yang Abang sayang susah,'' sambung Nuril tak lepas dari tatapan matanya yang begitu dalam.


Risda tampak tersipu, wanita itu menunduk sambil mengulum senyum. Nuril yang melihat wajah merona sang istri saat di tatap intens tersenyum tipis . Merapikan helaian rambut panjang itu. Menyelipkan di belakang daun telinga sang istri . Kemudian mengecup kening Risda dengan lembut.


'' Abang tidak harus selalu ada setiap waktu, tapi ada di setiap Risda butuh. Abang yang selalu melindungi Risda. Dan Abang yang akan selalu menyayangi Risda,'' lanjut wanita itu tanpa berani menatap Nuril yang sudah mengembangkan senyum lebar di bibirnya. Lelaki itu segera meraih tubuh sang wanita dan di bawanya dalam pelukan.


'' Pasti, ingatkan Abang jika Abang lupa diri,'' ucap Nuril , Risda yang merasa nyaman dalam pelukan dada bidang itu mengangguk kecil.


Nuril berpikir pernikahan ini tak akan berjalan mudah. Ia pikir akan sulit membawa istrinya masuk ke dunianya. Wanita yang dilahirkan dari keluarga kaya dengan segala fasilitas mudah sejak lahir, Dan kini di bawanya wanita itu memasuki kehidupan dirinya bahkan yang masih berada dalam tahap berjuang.

__ADS_1


'' Maaf abang belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kamu. Sampai kamu harus mendengar perkataan orang yang menyakiti hati kamu. Temani abang berjuang, untuk dunia dan akhirat. Mau kan tetap di samping Abang ?,'' tanya Nuril seraya melepaskan pelukannya dan membawa wajah cantik itu menengadah dan bertemu tatap dengannya.


'' Risda insyaallah akan selalu di samping abang dalam segala keadaan. Ingatkan Risda jika melakukan salah,'' balas Risda yang kini mampu menatap langsung wajah sang suami. Nuril mengangguk seraya membawa telapak tangan Risda untuk di kecupnya.


'' Mari saling mengingatkan jika ada di antara kita yang salah. Tapi jangan pernah saling melepaskan dan meninggalkan,'' ujar Nuril .


'' Iya Bang,'' sahut Risda pendek. Kedua bola mata sepasang suami istri itu saling tatap penuh kasih. Ada debaran di dada keduanya yang baru mereka rasakan kini. Oh inikah cinta yang sering mereka dengar dari orang-orang ?.


Sungguh sebuah perasaan asing yang menghampiri dada mereka. Sebuah rasa yang membuat dada terasa mengembang berisi kebahagiaan t membuncah. Mereka tidak pernah menyangka cinta akan secepat itu menghampiri hati mereka.


Ternyata perasaan itu cepat tumbuh saat hati merasa menemukan sosok yang tepat untuk berlabuh. Dan kini keduanya telah dianugerahi sebuah rasa cinta yang indah. Cinta yang tumbuh setelah terikat dalam ikatan sakral pernikahan.


Malam semakin larut, Nuril membawa tubuh sang istri dalam pelukan saat mereka hendak tidur. Nuril mengusap lembut punggung sang istri yang meringkuk di dadanya. Tak berapa lama, wanita itu telah masuk dalam mimpi.


Nuril tersenyum melihat wajah polos sang istri yang semakin hari di rasa semakin cantik di matanya. Nuril mengagumi ciptaan Allah di pelukannya. Wanita cantik yang tidak hanya fisiknya tapi juga hati dan akhlaknya.

__ADS_1


'' Aku mencintaimu istriku ,'' gumam Nuril, menyatakan cinta pada kekasih halalnya yang telah terlelap .


__ADS_2