
Belum ada kata yang terucap dari bibir Nuril setelah pengakuan sang istri. Ia masih mengendalikan emosi dalam dirinya. Ia sudah tahu itu, namun mendengar pengakuan langsung dari Risda, justru lebih terasa menusuk hatinya.
Risda mengigit bibir bawahnya, dadanya berdebar kencang. Melihat suaminya terdiam dengan wajah mengeras membuat rasa bersalah itu bercampur dengan rasa takut.
'' Risda minta maaf Bang,'' Risda berusaha memulai kembali percakapan. Melihat diamnya sang suami semakin menambah rasa bersalah dalam hatinya.
Nuril memejamkan mata, mencoba menepis segala egonya. Bukankah manusia tempatnya salah ?,ia pun banyak melakukan kesalahan. Bolehkah ia menghakimi satu kesalahan istrinya yang pergi tanpa ijin ?, bukankah itu berarti ia tak menyayangi istrinya karena ia tak bisa memaafkan ?. Lelaki itu menghirup nafas dalam. Kemudian mengeratkan kembali pelukannya pada sang istri.
'' Boleh abang tahu, kenapa kamu pergi dengan lelaki tanpa bilang ke abang ?,'' tanya Nuril sembari menyibak rambut panjang istrinya.
'' Awalnya aku gak tahu yang jemput aku pagi tadi bukan Lisna tapi Harsa, karena gak enak aku ikut aja . Malah gak taunya dia ngajak ke coffe shop dulu. Dan...,'' Risda tak meneruskan ucapannya,ada keraguan di wajah wanita itu untuk meneruskan ucapannya.
'' Kenapa ?,'' tanya Nuril sembari mengusap lembut rambut sang istri. Risda menghirup nafas dalam. Menatap wajah suaminya,raut wajah itu telah berubah,tak sekeras tadi. Sudah tampak melembut. Risda menyandar kepala di dada suaminya. Dapat ia rasakan debar di dada Nuril lebih cepat dari biasanya.
'' Dia bilang suka sama Risda,'' lirih Risda tanpa berani menatap wajah sang suami.
'' Dia bilang apa ?,'' syara Nuril sedikit mengeras, tangannya reflek mendorong tubuh sang istri. Untung tak membuat Risda terjatuh, wanita itu langsung berdiri.
Terlihat jelas wajah masam Nuril dengan tatapan tajam di tujukan pada Risda yang tertunduk.
__ADS_1
'' Maaf bang, Risda juga gak tau,dia bakal bilang kayak gitu,'' jelas Risda sudah dengan nada bergetar dan mata berkaca-kaca karena menahan tangis.
'' Dia tahukan kamu sudah menikah ?,'' tanya Nuril dengan tatapan dingin. Risda mengangguk cepat.
'' Udah bang,dia udah tau kok,''
'' Dasar laki-laki tak beradab,kamu juga mau-maunya pergi sama dia. Kamu tahu kan itu salah ?,'' cercah Nuril, Risda tak bisa lagi menahan air matanya. Butir bening itu mengalir tanpa permisi dari pelupuk matanya.
Ia sadar ia salah,tapi mendapat kemarahan dari sang suami sungguh membuat sesak dadanya.
'' Maaf bang,'' ucap Risda dengan isak tangisnya. Nuril tak menjawab, lelaki itu justru berdiri dan beranjak dari tempat duduknya meninggalkan sang istri yang masih menangis.
Baru saja lelaki itu , meminta sang istri jangan hilang akal karena cemburu. Nyatanya saat rasa itu menghampiri dirinya,ia pun tak bisa berpikir dengan jernih. Risda melangkah meninggalkan ruang makan,ia berjalan dan masuk ke dalam kamar. Tak ada suaminya di sana. Ia menjatuhkan diri di atas ranjang , tidur telungkup dengan tangis yang tak lagi terbendung.
Ingin rasanya,ia mendatangi lelaki itu dan menghajarnya karena telah berani mengganggu miliknya.
'' Aaarrrgghh,'' teriak Nuril mengeluarkan emosi yang mengendap di dadanya. Ia mengusak kasar rambutnya, kemudian menghembuskan nafas berat. Ternyata sesakit itu rasa cemburu.
Matahari mulai menyelinap turun perlahan, meninggalkan semburat jingga di kala senja. Nuril memejamkan mata, menenangkan hatinya yang dilanda resah . Beberapa saat dalam kesendirian cukup bisa membuat hatinya yang bergejolak mulai terasa tenang.
__ADS_1
Tampak lelaki beranjak dari tempatnya ia duduk. Masuk kembali ke dalam rumah. Ia menghampiri sang istri yang masih sesenggukan seraya tidur miring. Hati Nuril terasa sesak melihat wanitanya menangis karena dirinya. Ia naik ke atas tempat tidur. Memeluk tubuh sang istri dari belakang.
'' Maafin abang dek,'' ucap Nuril sembari mencium rambut sang istri. Ia tahu istrinya tak mungkin mengkhianati dirinya, namun ternyata rasa cemburu itu lebih menggelapkan batinnya.
'' Risda gak suka bang sama Harsa, Risda juga tahu apa yang Risda lakuin itu salah. Risda minta maaf,'' ucap wanita itu masih dengan tangisnya. Nuril membalikkan tubuh istrinya. Membuat posisi keduanya saling berhadapan.
Nuril membawa wajah sang istri untuk menatap wajahnya, membuat tatapan keduanya bertemu. Nuril menghapus air mata yang masih saja mengalir dari mata sang istri. Lalu ia mengecup kening istrinya dengan lembut.
'' Maafin abang ya, sudah marah-marah,'' ucap Nuril sembari menatap wajah Risda, wanita itu mengangguk. Nuril tersenyum kemudian membawa wanitanya dalam pelukan.
'' Abang percaya sama kamu,abang cuma cemburu saja. Ternyata tak semudah berbicara untuk mengendalikan rasa cemburu. Abang bisa bilang ke adek,agar jangan sampai cemburu menghilangkan akal sehat. Ternyata abang sendiri tidak bisa mengendalikan diri,'' lelaki itu mengeratkan pelukannya. Risda menenggelamkan diri di dada bidang sang suami.
'' Mulai sekarang abang yang akan antar jemput adek,abang gak rela ada laki-laki lain yang mengambil kesempatan mendekati adek,'' ujar Nuril, Risda mengangkat wajahnya dengan senyum tertahan.
'' Bener abang mau antar jemput ?,'' tanya Risda antusias. Nuril mengangguk cepat.
'' Terima kasih,'' ucap Risda sembari menangkup wajah suaminya dengan senyum terkembang lebar. Nuril tersenyum dan kembali mengecup kening istrinya.
'' Maaf ya abang yang sudah lalai, seharusnya abang yang selalu siaga mengantar adek kemana saja. Jadi tidak memberikan ruang pada lelaki lain untuk mendekati istri cantiknya abang,'' ungkap Nuril, Risda mengangguk dengan senyum terkembang.
__ADS_1
Sepasang suami istri itu, masih saling mendekap di atas ranjang saat kumandang adzan Maghrib terdengar. Sampai akhirnya Nuril beranjak untuk membersihkan diri. Meninggalkan istrinya yang duduk menatap sang suami yang menghilang di balik pintu.
Ada kelegaan yang terpancar dari wajah Risda. Memang tak mudah untuk bisa saling memahami apalagi mereka yang menikah tanpa mengenal dulu satu sama lain. Ini adalah proses untuk lebih saling memahami, saling terbuka dan berusaha untuk menekan ego. Menahan rasa yang terkadang bisa saja melukai satu sama lain. Mereka sedang berproses. Untuk menanggalkan aku dan kamu menjadikan kita di antara mereka.